Love Beyond Reason

Love Beyond Reason
Tiga Belas


__ADS_3

"Apa?Usus buntu?" Kata Chelyn yang duduk di sofa.Ia tidak percaya dengan hasil tes nya di rumah sakit.


"Kamu yang sabar yah,nak.Secepatnya kita bakal ngelakuin operasi penyakit kamu."Kata papah merangkul Chelyn.


"Aku takut pah.Selama ini aku belum pernah punya penyakit seserius ini.Apalagi sampai dioperasi segala.Masuk rumah sakit aja ga pernah.Chelyn takut bangat lah."


"Ga usah takut nak.Banyak kok orang-orang yang operasi usus buntu,setelah itu mereka sembuhkan?Mereka sehat.Kamu juga mau sembuhkan?"Papa menepuk-nepuk pelan lengan Chelyn.


"Aku takut dioperasi,aku takut meninggal pah." Chelyn menangis sambil memegangi perutnya.


"Hushhh ..Kamu ngomong apa?Jangan bilang gitu lagi,papa sedih dengarnya.Kamu akan dioperasi di rumah sakit terbaik oleh dokter terbaik juga.Jadi jangan khawatir.Papa pasti akan atur yang terbaik buat kamu nak."


Chelyn terus saja menangis,pikirannya tetap tidak tenang walaupun papanya sudah berusaha menenangkannya.


"Pah,aku izin ketemu Vincent dulu yah.Aku mau curhat sama dia."


"Yaudah,nak.Tapi ga boleh pergi nyetir mobil sendiri.Kamu harus diantarin pak Dito."


"Iya pah."


Chelyn langsung beranjak dari tempat duduk dan meminta pak Dito untuk mengantarkannya ke tempat Vincent.


...****************...

__ADS_1


"Syukurlah kamu di sini." Kata Chelyn menghampiri Vincent yang sedang duduk melamun.Wajahnya menunjukkan seseorang yang sedang punya banyak beban pikiran.


"Karena aku tau kamu bakalan temuin aku ke sini."Jawabnya tanpa menoleh pada Chelyn.


"Vin,Aku mau cerita sama kamu."


"Sini duduk dulu." Ajak Vincent sambil menepuk-nepuk tangannya pada kursi memberi arahan agar Chelyn duduk disitu.


"Sekarang kamu cerita."


"Aku sakit usus buntu dan harus dioperasi."Air matanya mengalir lagi.


"Ya Tuhan."Vincent menghela napas.


"Kenapa takut?Kalau dioperasi berarti bakalan sembuhkan?"


"aku takut rumah sakit,aku takut dioperasi,aku takut operasinya gagal,aku takut mati."


"Stttt...Operasinya akan berjalan lancar.Kamu tenang aja yah."


"Kenapa kamu seyakin itu? Dan aku sama sekali ga liat rasa khawatir di wajah kamu.Kamu ga cemasin keadaan aku?"


"Ya aku percaya kamu bakalan baik-baik aja."

__ADS_1


"Gimana kalau setelah dioperasi aku ga bangun-bangun lagi?"


"Stttt...Chelyn aku kan udah bilang kamu bakalan baik-baik aja."


"Kalau aku mati gimana?"


"Kamu ga akan meninggal karena takdir kamu meninggal bukan dengan cara ini."Nada bicara Vincent semakin tinggi.Ia tidak suka jika Chelyn membahas tentang kematiannya karena Vincent pun sangat takut kalau harus kehilangan Chelyn.


"Vincent,kamu ngomong apa? Apa maksud kamu bilang takdir aku meninggal bukan dengan cara ini?"


"Gapapa.


Chelyn,aku juga ga mau kamu meninggal.Aku ga mau kamu bahas tentang itu juga.Kamu bilang waktu itu kalau ucapan itu adalah doa.Jadi kalau aku bilang kamu ga bakalan kenapa-napa,kamu akan baik-baik aja,kamu akan sembuh ya aku sedang berdoa agar kamu ga kenapa-napa.


Maaf yah kalau nada bicara aku tadi kasar dan bikin kamu sedih."


"Gapapa kok.Sekarang aku paham kenapa dari tadi kamu sebersikeras itu bilang aku akan selamat.Itu karena kamu takut kehilangan aku kan?"


Vincent mengangguk.


"Sekarang aku bisa lebih tenang,karna kamu dekat sama Tuhan pasti Tuhan akan jawab doa kamu.


Makasih yah Vincent.Kamu selalu bisa ngertiin aku.Makasih kamu selalu ada buat aku.Jangan pernah berubah yah?Nanti aku sedih.Cuman kamu yang selalu bisa nenangin aku.Kata-kata kamu selalu kasih aku pengharapan."

__ADS_1


"Iyah Chelyn sama-sama."Sahut Vincent meneteskan air matanya.


__ADS_2