
"Nak,papa mau bicara sama kamu."Papa menghampiri Chelyn yang sedang membaca majalah di kursi ruang tamu.Chelyn yang tadinya berbaring sambil membaca majalah mengganti posisi menjadi duduk.
"Bilang aja pah.Kayak sama siapa aja."Katanya meletakkan majalahnya di meja.
"Ehem..."Papa terlihat ragu-ragu.Seperti ada yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa pah?Papa mau bilang apa?"Chelyn menatap papa penasaran.
"Papa..." Papa tidak melanjutkan kata-katanya.
"Papa kenapa? Kok kayak takut gitu ngomongnya?"
"Nak,jadi papa mau bilang ke kamu kalau papa mau nikah lagi."
"Apa?Nikah?" Tanya Chelyn tidak percaya.
"Iyah nak."
"Papa ga salah mau nikah lagi?Ini baru 6 bulan mama meninggal.Segitu cepatnya papa mau mencari pengganti mama?"Sahut Chelyn dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan begitu nak."
"Kecewa Chelyn sama papah.sampai kapanpun ga ada yang bisa gantiin posisi mama di keluarga ini." Chelyn menangis.
"Papa janji mama baru kamu adalah mama tiri yang baik buat kamu dan bisa mengurus keluarga kita dengan baik.Papa bisa pastikan itu."
"Pah,Chelyn ga mau punya mama baru.Chelyn mungkin bisa nerima seseorang dan menganggapnya sebagai keluarga.Tapi kalau untuk hal menggantikan posisi di keluarga kita,Chelyn ga mau,Chelyn ga bisa terima."
"Nak,ini juga buat kebaikan kita kan? Umur papa akan terus bertambah.Papa butuh seseorang buat dampingin papa.Papa butuh seseorang yang setiap harinya bisa siapin pakaian yang akan papa pakai ke kantor.
Belum lagi kamu udah dewasa nak.Kamu juga akan menikah dan tinggal bersama suami kamu nanti.Papa akan kesepian kan?"
Chelyn terdiam.Ia bisa membenarkan tentang papanya yang akan merasa kesepian setelah ia menikah nanti.
"Aku akan tinggal di rumah ini sama suami aku nanti biar papa ga kesepian.Pokoknya Chelyn ga mau papa menikah."Chelyn berlari ke kamar meninggalkan papanya dan mengurung diri di kamar.
...****************...
Dari kemarin sore semenjak papa Chelyn Zay Wijaya membahas tentang pernikahan,Chelyn tidak mau keluar dari kamar.Ia juga tidak mau makan.Ia tidak perduli pada siapapun yang mengetuk pintu kamarnya.Sepanjang waktu ia hanya terdiam di kamar.
"Gimana Chelyn nya bu?Dia udah mau keluar kamar?Udah mau makan?"Tanya papa cemas pada bu Hana sepulang dari kantor.
"Belum pak.Dari pagi saya ketuk pintu kamarnya tapi nak Chelyn sama sekali tidak menyahut.
"Gimana ini bu?Udah satu hari Chelyn ga makan.Saya khawatir dia sakit.Apa jangan-jangan dia pingsan?"Kata papa berlari menaiki tangga menuju kamar Chelyn.
"Nak...Chelyn...Kamu baik-baik aja kan nak?Buka pintunya nak."Kata papa mengetuk pintu kamar.Namun Chelyn tidak menyahut.
"Nak,buka pintunya.Papa mohon sama kamu.Kamu jangan kayak gini sayang.Papa khawatir."
"Aku mau sendiri,aku ga mau ngomong sama siapa-siapa "
"Nak,kamu harus makan,nanti kamu sakit."
Karena Chelyn tidak menyahut lagi,akhirnya papa turun menemui bu Hana yang juga sangat khawatir dengan keadaan Chelyn.
"Ini salah saya bu.Harusnya saya ga bilang gitu sama Chelyn."
"Menurut saya bapak juga ga salah sepenuhnya.Cuman mungkin buat Chelyn ini terlalu cepat."
"Trus gimana sekarang bu?Saya ga mau Chelyn kenapa-napa."
"Atau kita coba aja yah pak minta nak Vincent yang bujuk dia buat keluar kamar.Setahu saya Chelyn sangat dekat dengan nak Vincent.Dia juga sering cerita-cerita kalau Vincent selalu bisa kasih solusi buat masalahnya dia,Vincent selalu bisa nenangin dia."
"Oh yah? Ibu tau dimana rumah Vincent?"
"Saya kurang tau juga pak.Tapi kata Chelyn sih Vincent sering ngabisin waktu di gereja yang dulu ia ngajak bapak dan Chelyn beribadah sama-sama."
"Oh gereja itu.Kalau gitu saya ke sana sekarang bu.Semoga Vincent ada di sana."
"Iya pak.Semoga aja."
Papa langsung buru-buru keluar rumah dan mengambil mobil.Ia menyetir mobil sendiri dan tanpa body guard, tidak seperti biasanya yang kemana-mana selalu diantar sopir dan dikawal oleh Body guard nya.
...****************...
"Permisi!" Kata Pak Zay Wijaya pada Vincent yang sedang bermain musik keyboard.
"Om?"Katanya berdiri.
"Syukurlah kamu di sini Vincent."
"Ada apa om?Tumben datang ke sini."
"Nak,om mau minta tolong sama kamu,bantu om yah kali ini aja."
"Minta tolong apa om?Kalau saya bisa bantu ya saya pasti bantu."Katanya tersenyum.
"Duduk dulu om."Vincent mengajak pa Zay Wijaya duduk di kursi.
"Jadi gini nak.Aduhh...
__ADS_1
Kemarin sore memang om ngomong sama Chelyn.Om bilang sama dia kalo om mau menikah."
"Menikah?"Sahut Vincent.
"Iyah,saya salah memang.Tidak seharusnya saya bilang begitu sama Chelyn."
"Trus gimana om?"
"Chelyn tidak terima dan sangat kecewa sama om.Dia lari ke kamar dan mengurung diri di sana.Dia juga mogok makan Vincent.Om khawatir terjadi apa -apa sama dia.Om takut dia sakit atau bahkan ngelakuin hal buruk,yah mungkin nyakitin dirinya sendiri."
"Ya ampun Chelyn." Kata Vincent ikut cemas.
"Tolongin om yah nak?"
"Gimana aku bisa tolong om?"
"Ya kamu ikut aja ke rumah,kamu ketuk pintunya sambil ngomong baik-baik biar dia mau bicara dan keluar dari kamar.Om yakin kalau kamu yang minta dia pasti mau."
"Aku ga yakin om.Aku juga bukan siapa-siapanya juga kan,kenapa dia sampai segitunya nurut kata aku."
"Ka bu Hana Chelyn sering cerita tiap dia ada masalah,kamu selalu bisa kasih solusi sama Chelyn.Kamu selalu bisa nenangin dia."
Wajah Vincent memerah.Tak menyangka segitu baiknya dia di mata Chelyn dan orang-orang di rumah itu.
"Ya nak,Kamu bisa bantu om kan?"
"Biar Vincent coba om.Semoga aja Chelyn mau dengerin kata-kata aku."
Vincent dan pak Zay pun naik ke mobil menuju rumah keluarga Chelyn.
...****************...
"Chelyn,kamu disana?"Vincent mulai mengetuk pintu kamarnya.
Chelyn melongo.Ia mengorek-ngorek kupingnya untuk memastikan apakah itu beneran suara Vincent atau hanya halusinasinya.
"Chelyn buka pintunya yok."
"Uhuk...uhuk..."Sahut Chelyn dari dalam.
"Chelyn keluar dong.Masa iya akunya dikacangin.Katanya temen baik.Kalau ada masalah harus saling cerita dan terbuka.Ga boleh ada yang mendam masalah sendiri.Aku pengen dengarin curhatan kamu."
Chelyn tidak menjawab.Suasana di sana hening.
"Beneran nih ga mau buka pintu?
Yauda kalau emang ga mau,aku pamit pulang yah."Lanjut Vincent lagi memancing Chelyn keluar dari kamar.
Tak berapa lama,akhirnya Chelyn membuka pintu.Papa langsung bersembunyi di kamar sebelah.Ia tidak mau ketika Chelyn membuka pintu,kehadirannya disana kembali merusak Mood Chelyn.Setidaknya ia harus menunggu Vincent meredakan hati Chelyn dulu.
"Iya aku mau cerita.Cuman kamu yang selalu ngertiin aku."Katanya.
"Iya aku dengarin,tapi kamu makan dulu yah.Dari kemarin sore kamu ga makan kan?"
"Ga selera."
"Makan dulu ih.Aku ga mau kamu sakit,yah!"
"Ga."
Tak berapa lama bu Hana dan mbak Tiara sudah datang membawa makanan dan minuman ke kamar Chelyn.
"Dimakan yah nak."Kata bu Hana lemah lembut.
"Aku ga mau makan bu!"Chelyn masuk ke kamar dan duduk di pinggir tempat tidurnya dengan kaki bertumpu ke lantai.
"Sedikit aja nak."bu Hana dan Vincent menghampiri.
"Ga bu.Chelyn ga selera.Lagian kalo sakit siapa juga yang peduli.Papa Chelyn aja bentar lagi bakalan sibuk sama wanitanya itu."
"Siapa bilang ga ada yang peduli.Aku,om Zay,bu Hana dan semua orang di rumah ini peduli."Sahut Vincent.
"Di makan yah.nih..."Kata Vincent tersenyum mengambil setengah sendok makan nasi dan menyuap Chelyn.
Entah kenapa,Chelyn tidak bisa menolak suapan itu.Jantungnya berdetak kencang.Rasanya bahagia sekali disuap Vincent seperti itu.
"Apa aku harus ngambek terus biar bisa kayak gini?"Katanya berbisik.
"Apa?"Sahut Vincent yang tadi mendengar ucapannya samar-samar.
"Gapapa."Sahut Chelyn dengan wajah memerah.Niatnya tadi dia berbicara dalam hati,tapi suaranya malah keluar.
"Ini suapan kedua,a..."Kata Vincent memperlakukan Chelyn seperti anak kecil.Bu Hana dan mbak Tiara tersenyum melihatnya.
"Kalau gitu kamu lanjut makan yah nak.Ibu dan nak Tiara turun dulu."
"Iyah bu."
Tak disangka Chelyn dapat menghabiskan nasi yang dibawa bu Hana tadi.
"Anak pinter!"Kata Vincent setelah Chelyn menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Aku bukan anak-anak."
"Biasanya yang disuap makan anak-anak ga sih?"Vincent sedikit menggoda.
Papa yang sedari tadi memperhatikan mereka tersenyum.Ia salut juga pada Vincent yang dengan mudah membujuk Chelyn membuka kamar bahkan menghabiskan makanannya.
"Aaaaa."Kata Chelyn manja.
"Chelyn kenapa ngurung diri?Sampai mogok makan segala lagi." Tanya Vincent.
"Vincent,aku kesel bangat sama papa.Masa iya papa mau nikah.Padahal mama baru meninggal enam bulan lalu.Secepat itu papa nyari pengganti mama.Aku ga terima.Sampai kapanpun ga akan ada yang bisa gantiin posisi mama di keluarga ini."
"Aku ngertiii bangat perasaan Chelyn.
Emang kamu ga mau ngomong baik-baik sama om Zay?
Emm...Kamu ga terima karna ini terlalu cepat atau takut punya ibu tiri yang galak,atau gimana?"
"Iyah semuanya.Intinya aku ga suka punya mama baru."
"Chelyn!"Papa menghampiri Chelyn dan Vincent.
Chelyn langsung melarikan pandangannya keluar jendela.
"Ngapain papa ke sini?
Papa udah ga sayang sama Chelyn juga kan."
"Papa sayang bangat sama kamu nak."
"Bohong.Papa udah ga sayang sama Chelyn.Buktinya papa mau nikah lagi.Papa juga waktu itu marah-marah sama Chelyn."
"Ga nak.Kamu putri papa satu-satunya.Kamu segalanya buat papa.
Papa ga akan menikah."
Chelyn melihat papanya.
"Papa serius?"
"iyah nak."
"Makasih yah pah."Chelyn memeluk papa.
"Iya nak.Maafin papa yah udah bikin Chelyn sedih."
"Chelyn juga minta maaf pah."
"Nah,gini kan enak.Kalau om Zay ga sayang sama kamu mana mungkin om sampai bela-belain nemuin aku dan minta aku ke sini bujukin kamu!"
"Papa yang minta kamu datang?"Tanya Chelyn keheranan.Vincent mengangguk tersenyum.Ia menaik-naikkan alisnya.
"Katanya Chelyn suka cerita sama bu Hana tentang aku.Kalau lagi sedih atau punya masalah pasti cerita sama Vincent karena Vincent selalu bisa nenangin Chelyn dan kasih solusi.Beneran ga sih Chelyn suka ceritain aku"
"Aaaaa...Apaan..."Kata Chelyn menyiku vincent pelan.
Vincent dan papa tertawa.
...****************...
"Om tau ga?"Kata Vincent sebelum pulang.
"Tau apa?"
"Chelyn udah pernah hampir bunuh diri dari lantai empat kampusnya!"
"Apa?"Papa Chelyn sangat terkejut.
"Iyah,saat itu aku lagi jalan dari sana dan liat dia udah naik ke pagar pembatas dan hampir lompat ke bawah.Trus aku tarik aja sampai akhirnya dia jatuh nimpa aku."
"Ya Tuhan.."Kata papa tidak menyangka.
"Itu kejadiannya saat Chelyn abis diputusin sama Rayhan.Kayaknya dia ga bisa sakit hati atau kecewa gitu deh om.Takutnya dia malah nyakitin diri sendiri atau yang lebih parahnya yah itu,bunuh diri."
"Ya ampun.Jadi kamu yang nyelamatin anak om?
Makasih banyak yah nak.Kalau bukan berkat kamu ada disana mungkin saya udah kehilangan anak saya.Saya mungkin udah ga punya siapa-siapa lagi sekarang."
"Iyah om.Ini berkat Tuhan melalui aku.Berterimakasih sama Tuhan om."
"Syukur Tuhan!
Sekali lagi makasih yah nak.Kamu emang pembawa berkat untuk saya dan keluarga saya."
"hehe..Sama-sama om.
Kalau gitu Vincent pamit yah om."
"Yakin ga mau diantar nak?"
"iya om yakin.Aku pulang sendiri aja.Mari om."Kata Vincent meninggalkan rumah Chelyn.
__ADS_1