
"Mas..!"Selia menangis memeluk Zay ketika Zay baru pulang dari kantor.
"Kenapa kamu?"Tanya Zay,papa Chelyn.
"Mas...Kita udah kehilangan anak kita."Katanya menangis histeris.
"Apa maksud kamu?"
"Aku keguguran."
"Kok bisa?"
"Ini semua gara-gara Chelyn.Chelyn dorong aku tadi di taman samping rumah.Aku terjatuh dan anak kita....haaaaaa."Selia semakin kencang menangis.
"Chelyn?"Kata papa tidak percaya.
"Mas....Anak kitaaaa."
Papa masuk ke rumah dengan langkah yang cepat.Ia langsung menuju kamar Chelyn.
"Chelyn!"Seru papa menggedor pintu kamarnya.Chelyn terkejut saat ia mengerjakan tugas di kamarnya.
"Papah?"Katanya membuka pintu.
"Benar kamu mendorong Selia tadi di taman samping rumah?"Tanya papa dengan nada suara yang tinggi.
Chelyn terdiam menunduk.
"Jawab papa.Kamu mendorong mama tiri kamu?"
"Iyah pah.Tapi pelan kok."Katanya dengan suara gemetaran karena takut.
"Ohh...Dan kamu ga ngerasa bersalah?Malah bilang pelan kok."
"Lagian dia bentak-bentak bu Hana yang lagi bersihin taman.Ya aku ga terima pah bu Hana digituin."
"Dan kamu tau karena ulah kamu,Selia kehilangan anak di kandungannya.Dia keguguran gara-gara kamu."
"Apah?Keguguran?Ga mungkin pah.Beneran aku tadi dorongnya pelan doang."
"Kalau pelan doang ga akan sampai sefatal itu.Sekarang papa kehilangan calon anak papa.Pembunuh kamu."
"Pah...Papah kok gitu sih ngomongnya sama aku?Lagian yang di kandungannya itu bukan anak papa.Dia penipu!"
"Diam kamu Chleyn.Papa yakin dia anak papa.Selama ini papa bisa maklumin kalau kamu ga bisa nerima dia sebagai mama kamu.Papa maklumin kalau kamu gasuka dengan kehadirannya dia.Dan kamu tau?Setiap malam dia selalu nangis mengadu sama papa tentang kelakuan kamu yang kasar selama papa ga di rumah."
"Ya soal itu kan sama aja pah.Dia juga kasar sama Chelyn.Papa kok jadi gini sih?Papa kok jadi belain dia?Papah bentak-bentak Chelyn cuman gara-gara wanita brengsek itu,wanita yang ga punya malu dan ga punya harga diri itu."
"Jaga omongan kamu Chelyn.Sekarang papa sadar,selama ini papa udah diperdaya sama kamu.Sampai papa ga menghargai Selia sebagai istri papa.Bagaimanapun dia adalah istri yang butuh perhatian suami.Tapi selama ini papa dibutakan sama kamu,perhatian papa semuanya papa habiskan ke kamu.Papa sangat kecewa sama kamu "
"Chelyn yang kecewa sama papa.Papa udah berubah.Papa udah berani bentak-bentak Chelyn kayak gini.Papa udah ga sayang sama Chelyn.Chelyn kecewa bangat sama papa.Kalau roh mama liat ini,pasti mama menangis di sana liat perlakuan papa ini."
"Udahlah,gausah bahas itu.
Sekarang kamu minta maaf sama mama kamu."
"Mama aku udah meninggal."
"Minta maaf kamu sama Selia,mama kamu."
"Dia bukan mama aku.Aku ga sudi punya mama seorang iblis."
"Mulut kamu Chelyn. Bukan dia yang iblis.Tapi tubuh kamu yang lagi dikuasai iblis."
"Papa jahaaattttt."Teriak Chelyn menutup pintu kamarnya kuat-kuat.
...****************...
Bangun pagi,Chelyn langsung menemui Vincent.Semalaman ia tidak tidur.Ia hanya menangis sepanjang malam menunggu terbitnya matahari dan segera menemui Vincent.
Chelyn duduk menunggu kedatangan Vincent.Mungkin sepagi ini Vincent belum sampai di sana atau memang hari ini dia tidak ke sana.
"Chelyn,kamu ga masuk kuliah?"Tanya Vincent menghampiri Chelyn yang duduk di teras tanpa alas.
"Vincent."Katanya menoleh.
"Mata kamu sembap gitu.Kamu habis nangis?"Vincent memandang wajah Chelyn.
"Papa aku udah berubah.Dia sekarang udah berpihak sama wanita iblis itu.Kemarin sore dia bentak-bentak aku tanpa rasa kasihan.Dia benar-benar berubah.Dia udah kemakan omongan wanita itu.Wanita itu udah jelek-jelekin aku di depan papa setiap malam,dan papa malah percaya sama dia.Dan sekarang aku dituduh menggugurkan kehamilannya.Vincent,aku ga ngelakuin itu."Chelyn menjelaskan berderai air mata.
"Ya ampun Chelyn,kasian bangat kamu."
"Sekarang aku udah ga takut mati.Aku udah siap.
Malaikat pencabut nyawa....ambil saja nyaw..."Vincent tiba-tiba menutup mulut Chelyn.
"Hey ..Jangan kayak gini.Masih banyak yang sayang dan peduli sama kamu.Papa kamu juga sayang sama kamu.Cuman dia lagi kebawa emosi aja."
"Ga Vincent.Dia memang udah bukan papaku yang dulu lagi.Satu minggu terakhir ini juga dia kayak dingin aja sama aku.Kadang dia pulang kantor malah cuekin aku yang lagi duduk di ruang tamu.Ga ada lagi yang sayang sama aku.Aku mau mati aja."
"Aku sayang sama kamu.aku sayang bangat sama kamu."Vincent memeluk Chelyn.
"Aku sayang sama kamu dan ga akan pernah berubah."Vincent menghapus air mata Chelyn.Chelyn terdiam.
"Semua orang bisa berubah."Katanya kemudian.
"Iya,tapi enggak dengan aku.
Udah yah,jangan nangis lagi.Mata kamu udah sampai sembap gitu.Sttttt....Udahhh...Tenangin hati kamu,tenangin pikiran kamu.Lupain dulu masalah kemarin.Sekarang kamu ikut aku."
"Ke mana?"
"Ada deh.Mobilnya ditinggal di sini aja ya.Kita berangkat naik angkot."
"Naik angkot?"Sahut Chelyn.
"Iya,kamu ga muntah kan kalau naik angkot?"
"Emm...Ga tau sih.Belum pernah naik angkot."
"Nah...Kebetulan dong yah.Biar pernah.Kamu mau?"
"Mau."Jawab Chelyn mengangguk.
"Senyumnya dulu dong.Mana senyumnya?"
"Heemm."Chelyn tersenyum.
__ADS_1
"Eh..Tunggu.Masa aku pakai baju kayak gini perginya?"
"Kenapa emang?"
"Ya ini pakaian rumahan aku Vincent."
"Tetep cantik kok."
"Cantik apaan kayak gini.Aku belum mandi."Katanya malu.
"Oh yah?"
"Sisiran aja enggak.Ntar deh aku sisiran di mobil."
"Mau aku bantu sisirin?"
"Mau bangatttt...."Teriak Chelyn dalam hati.
"Ga.Aku bisa sendiri."Sahutnya.
"Emm..Okeee."
...****************...
"Kita sampai..."Kata Vincent turun dari angkutan.
"Pantai?Kamu ngajak aku ke pantai pagi-pagi gini?"
"Eh...Ga boleh yah?"
"Hahahah..."Chelyn tertawa mengakak.
"Nah,aku sengaja bawa kamu kesini biar kamu ketawa."Kata Vincent asal.
"Helehh...Alasan aja."
"Makan aja dulu yuk.Tiba-tiba aku laper." Kata Chelyn memegang perutnya.
"Hayuk.Tapi yang dekat-dekat sini aja yah.Ga ada duit buat bayar angkot."
"Siap!"Sahut Chelyn tertawa.
Mereka makan di warteg terdekat.Orang-orang yang sedang sarapan di sana memperhatikan mereka berdua.
"Itukan Chelyn Wijaya."Terdengar desas desus.Chelyn dan Vincent hanya tersenyum mendengarnya sambil menikmati makanan mereka.
"Berapa bu?"Tanya Vincent setelah makan.Ibu pemilik warteg menjumlahkan semua makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Lima puluh delapan ribu mas."Katanya kemudian.Marcel mengambil uang dari kantong hodienya.Matanya terbelalak.
"Kenapa Vin?"Bisik Chelyn.
"Uang aku tinggal tiga puluh empat ribu."Sahut Vincent juga berbisik.
"Duhh...Gimana dong?"Lanjutnya lagi.
"Tenang,pakai uang aku aja dulu."Kata Chelyn tersenyum.
"Duh..Aku jadi ga enak.Kan aku yang ajak kamu jalan."
"Gapapa kali,santai aja.Ntar kalau kamu udah gajian bayar ke aku."Kata Chelyn bercanda.
"Canda ih."Sahut Chelyn.
"Yauda,nih tambahin duit aku.
Eh tunggu!"Kata Chelyn.
"Kenapa Chelyn?"
"Tas aku mana? Ya ampun tas aku ketinggalan di mobil aku Vin."
"What?" Sahut Vincent.
"Duh gimana dong?"Chelyn mulai panik.
"Hum...Aku juga bingung."
"Bu."Panggil Chelyn pada pemilik warteg.
"Iyah mbak?"
"Jadi gini,uang kita tuh kurang.ehm...Duh...Gimana kalau nanti kita antar kurangnya ke sini.Tas aku ketinggalan di mobil."
"Ah.Modus ini mah.Udah sering kejadian kayak gini.Ujung-ujungnya kabur ga mau bayar."
"Engga bu,Kita serius."
"Emang cantik dan ganteng kayak gini keliatan kayak penipu bu?"Sambung Vincent.
"Percuma ganteng,ga berduit mas."
"Eh..Sembarangan...Tas ketinggalan di mobil loh bu,di mobil bukan di gerobak.Liat tuh teman saya dari muka dan penampilan aja keliatan kalau dia orang kaya."
"Iya.Tapi kalau beneran kabur gimana?
Gini aja deh mas,mbak.Kalian bantu-bantu saya jualan setengah hari di sini.Nanti saya anggap lunas makanan dan minuman kalian tadi.Ini uang yang kurang saya kembaliin gimana?"
"Bantu ngapain bu?"Tanya Chelyn.
"Nyuci piring,layanin pelanggan,banyak kerjaan."
"Aku aja deh bu.Kasian teman saya.Dia kan cewe."Kata Vincent.
"Lah..Saya juga cewe kok.Hubungannya apa coba?"
"Maksud aku tadi apa sih Chelyn?"Kata Vincent pada Chelyn.Chelyn menutup mulutnya menahan tawa.
"Udah,sana bawa piring kalian ke belakang.Sekalian piring-piring kotor di sana dicuciin."
"Iya deh bu."Kata Chelyn tanpa protes.
Ia mengambil peralatan makan yang ia dan Vincent pakai tadi dan membawanya ke belakang untuk dicuci.
Setelah beres mencuci piring yang jumlahnya cukup banyak,Chelyn dan Vincent kembali ke depan.
"Udah bu."Kata Vincent.
__ADS_1
"Lama bangat.
Tuh layanin pembeli.Antar makanan ini ke meja nomor empat."Celocos pemilik warteg.
Chelyn mengambil makanannya dan membawa ke meja nomor empat.
"Eh,kamu Chelyn Wijaya kan?Anaknya pak Zay Wijaya pengusaha terkenal itu?"Kata pelanggan yang berada di meja empat.
Chelyn hanya tersenyum.
"Kerja disini apa gimana?Kok bisa kerja di sini sih?Kalian kan keluarga konglomerat."Katanya lagi.
"Gapapa pak.Cuman nemenin teman saya yang kerja disini,jadi aku bantuin aja."Katanya berbohong.
"Kamu anaknya pak Zay Wijaya?" Ibu pemilik warteg menghampiri Chelyn.
"Iyah bu."Katanya mengangguk.
"Ya ampun.Maaf yah nak.Ibu ga tau tadi."
"Gapapa kok bu.Ibu ga salah."
"Udah,kamu ga usah ngerjain apa-apa lagi.Kamu pulang aja sama temen kamu itu."
"Lah...Ini kan baru jam sembilan bu."
"Iyah gapapa nak.Lain kali ajak pak Zay Wijaya makan disini juga yah.."
"Heheh..Iyah bu.Makasih sebelumnya bu.Tapi nanti saya akan antar uang untuk bayar makanan dan minuman kami tadi.Tas saya ketinggalan di mobil bu."
"Udah gausa.Kan kamu udah bantu ibu juga.Udah,kalau mau pulang kalian pulang aja."
"Kalau gitu makasih yah,bu.Permisi."
...****************...
Sepanjang perjalanan menuju pantai Chelyn dan Vincent tak henti-hentinya tertawa mengingat momen di warteg itu.
"Ini udah kayak di sinetron."Kata Chelyn.
"Hahaha..Iya Chelyn.
Chelyn,sinetron itu apa?"
"Eh?Kamu nanya?Bertanya-tanya?"Sahut Chelyn masih tertawa.
"Aku serius."
"Ya ampun.Kamu makhluk dari mana sih ga tau apa itu sinetron.
Jadi sinetron itu adalah adegan di tv yang dimana orang berekting...Aaaaa ...aku ga bisa jelasin.Intinya orang yang berekting di tv."Sahut Chelyn.
"Hahaha...Sabar."Kata Vincent.
Sampai sore,keduanya masih berada di pantai.Suasana pantai sore itu sangat indah dengan langit berwarna orens.
Chelyn terlihat sangat bahagia.Sayangnya hpnya ketinggalan di tas,jadi tidak dapat mengambil gambar dan Video.
Ia berlari di tepi pantai,berkejaran dengan ombak.Chelyn tertawa bahagia.Vincent tersenyum memandanginya.
"Baru ini aku ke sini bareng seseorang."Kata Vincent.
"Oh yah?Aku dulu pernah ke sini sama mama dan papa.Tapi udah lama bangat sih."
"Chelyn."Kata Vincent pada Chelyn yang asyik bermain pasir.Vincent memegang tangan Chelyn.
"Iyah Vin?"
"Aku...Hummpphh."
"Kamu kenapa?Kamu mau pulang?Yaudah ayok.Lain kali kita ke sini lagi."Sahut Chelyn.
"Bukan,aku.."
"Kebelet?Muka kamu keliatan bangat lagi kebelet."
"Bukan ihh."
"Trus?"
"Aku sayang bangat sama kamu,dan..."
"Dan?"Tanya Chelyn penasaran.
"Dan aku pengen kamu jadi pacar aku."Kata Vincent menutup mata.
"Apa?"Sahut Chelyn tidak percaya.
"Kamu mau ga jadi pacar aku?Aku janji bakal berusaha buat bahagiain kamu.Ga akan kecewain kamu kayak mantan-mantan kamu."
"Kenapa baru sekarang?"
"Maksudnya?"
"Kenapa baru sekarang bilang ini ke aku."
"Yah,baru ini aku yakin kalau aku bisa jadi yang terbaik buat kamu,dan aku bakal berusaha."
"Aku ga bisa Vincent."
"Ga bisa kenapa?Kita akan lalui semuanya bareng-bareng.Aku akan berusaha jadi pria terbaik yang pernah kamu temui."
"Aku gabisa nolak kamu."Lanjut Chelyn tersenyum.
"Kamu terima aku?"
"he'em."
"Kita pacaran?"
"He'em."
Vincent langsung memeluk Chelyn erat-erat.
"Jangan pernah tinggalin aku yah."Kata Chelyn.
"Ga akan.Justru aku yang takut kehilangan kamu."Jawab Vincent.
__ADS_1
Chelyn menangis bahagia.Sudah dari lama ia memendam perasaan pada Vincent dan menunggu momen ini.