Love Beyond Reason

Love Beyond Reason
Empat


__ADS_3

Anak-anak di kampus itu sudah berpulangan.Terlihat Chelyn sedang duduk di kursi taman kampus sambil memegangi Handphone nya.Air mata bercucuran di pipinya.


"Nangisin cowo itu lagi?"


"Vincent?" Kata Chelyn menhapus air mata di pipinya dengan telapak tangannya.


"Ini."Vincent menyodorkan sapu tangan pada Chelyn.Chelyn menatap Vincent dan tidak mau mengambil sapu tangan yang ditawarkan Vincent.Vincent mengelap air mata di pipi Chelyn dengan sapu tangan itu.Jantung Chelyn berdetak kencang tak karuan sambil matanya terus memandangi Vincent.


"Ngeliatin akunya biasa aja kali."Kata Vincent menyadarkan pikiran Chelyn yang sudah melayang kemana-mana.


Ehm..iya em.."Chelyn gugup.


"Kenapa?Terpesona sama aku?"Tanya Vincent percaya diri.


"Apa sih?Kepedean bangat jadi orang."Chelyn mengelak.


"Bilang iya aja susah.Bohong itu dosa."


"Tau ah.."Kata Chelyn merebut sapu tangan itu dari tangan vincent.


"Aku bisa sendiri."Katanya mengelap pipinya yang sudah memerah dan keningnya yang keringat dingin.


"Nangis kenapa?"


Chelyn malah menangis semakin kencang sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hei ...Kenapa?"Tanya Vincent lembut sambil berusaha menurunkan tangan Chelyn.


"Mamanya Tania udah meninggal.Padahal udah dibawa berobat sampai ke luar negeri."


"Tania siapa?"


"Tania sahabat aku dari kecil."


"Oh gitu.Kasian bangat dia.Emm..Kamu yang sabar yah.Semoga Tania juga bisa sabar dan kuat menghadapinya.Ya mau gimana lagi.Semua manusia emang bakalan mati kan?Hanya beda waktu dan beda proses."


"Setelah ini Tania bakalan tinggal di luar negeri bareng tantenya.Aku bakal kehilangan sahabat terbaik aku yang selalu ada buat aku."Katanya menangis sesenggukan.Vincent merangkul Chelyn lembut dan membuat Chelyn bersandar di bahunya.Ia berusaha menenangkan Chelyn sambil mengelus bahunya.


"Patah-tumbuh,hilang-berganti." Kata Vincent.


"Maksudnya?"


"Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.Dan setiap yang pergi akan ada yang menggantikan."


Chelyn mengangguk.


"Udah yah,jangan nangis lagi.Aku akan gantiin posisi Tania sebagai teman baik kamu."


"Kamu serius?"


"Aku serius."Jawab Vincent tersenyum manis.


"Tapi kamu ngeselin,Tania ga ngeselin."


"Hahaha...Setip orang emang beda sifat dan setiap orang juga bisa berubah kan?"


"Kamu bakalan berubah jagi ga ngeselin lagi?"


"Hum..Aku usahain."Jawab Vincent mengangguk.


"Ayo salaman."Chelyn mengulurkan tangannya dan keduanya berjabat tangan.


"Mulai sekarang kita adalah teman."Kata Chelyn.


"Kita berteman".Sahut Vincent.Keduanya lalu tersenyum.

__ADS_1


"Boleh aku tau dimana rumahmu?"Tanya Chelyn.


"Belum boleh,belum waktunya ".


"Lah...Kok gitu sih?Kita kan teman."sahut Chelyn dengan wajah manyun.


"Iya.Tapi belum saatnya kamu tau.Nanti kalau udah waktunya aku bakal ngasih tau kamu dan bawa kamu jalan-jalan ke rumah aku."


"Beneran yah!" Chelyn bersemangat.


"Iya beneran."


"Kalau kamu mau main ke rumah aku bisa kok.Papa sama mama aku baik bangat."


"Oh iya.Kalau ada waktu aku datang."


"Beneran?"


"Iya beneran.Bohong kan dosa."


"Kamu kayaknya Anak Tuhan bangat deh.Kayaknya kamu dekat bangat sama Tuhan.Kayaknya kamu orang baik-baik."


"Baru sadar?"


"Hehehe..."Chelyn cengengesan.


"Iya sih.Aku selalu berusaha mendekatkan diri sama Tuhan.Berusaha melakukan perintahnya."


Chelyn mengangguk.Diam-diam ia kagum juga pada Vincent.Seringkali ucapan yang keluar dari mulut Vincent adalah kata-kata yang membangun .


"Kalau kamu mau ke rumah,datang aja yah.Rumah aku di jal..."


"Iya aku tau."Vincent memotong pembicaraan Chelyn.


"Tau apa?"


"Kok bisa tau?"


"Ya bisa."


"Oh...Berarti selama ini kamu udah buntutin aku sampai ke rumah aku yah? Kenapa ga bilang dari awal sih kalau kamu pengen temanan sama aku."


"Mulai deh kepedeannya."


"Aku bicara apa adanya."


Keduanya terdiam.Tidak ada lagi suara kecuali suara kendaraan yang lalu lalang di jalan.


"Vincent, makasih yah!"


"Makasih buat apa?"


"Buat segalanya."


"Segalanya apa?Aku ga ngasih apa-apa sama kamu".


"Kamu kasih aku hidup."


"Ih apaan sih Chelyn.Hidup kamu itu dari Tuhan bukan dari aku."


"Tapi kan kamu yang udah gagalin aku buat bunuh diri.Kalau ga ada kamu waktu itu pasti aku udah ga ada sekarang.Dan aku gabisa bayangin gimana hancurnya perasaan mama dan papa aku kalau sampai aku meninggal."


"Hadeh...Itu juga atas kehendak Tuhan."


"Pokoknya yang aku tau kamu yang gagalin aku bunuh diri.Dan aku berterima kasih bangat sama kamu."

__ADS_1


"Hadeh...Yaudah deh sama-sama.Jangan diulangin lagi yah!"


"Iya ga akan lagi.Kayaknya waktu itu aku udah dibutakan sama cinta aku ke Rayhan.Sampai aku ga mikirin apa-apa lagi.Aku ga mikirin gimana hancurnya orang tua aku kalau kehilangan aku."


"Nah itu.Papa mama kamu sayang bangat kan sama kamu?Dan kamu malah hampir sia-siain nyawa kamu untuk orang yang ga sayang sama kamu."


"Iya sih Vincent.Aku ini putri tunggal mereka.Anak mereka satu-satunya.Aku disayang dan dimanja bangat sama orang tua aku.Mereka bakal ngelakuin apa aja buat aku.Bahkan mereka bilang aku lebih berharga dari pada semua harta kekayaan yang mereka punya."


"Wahh...Kamu bersyukur bangat dong yah?"


"Aku bersyukur bangat."


"Baguslah kalau sekarang kamu sadar kebaikan Tuhan dalam hidup kamu."


Chelyn tersenyum.


"Chelyn!"


"Hem?"


"Kamu takut mati ga?"


"Takut bangat."


"Takut bangat?Trus kenapa waktu itu kamu hampir bunuh diri?"


"Ga tau.Kayaknya saat itu aku lagi kesambet setan kali yah?"


"Emang apa yang kamu takutin?"


"Kenapa kamu nanya kayak gitu?Kamu ga mau bunuh aku kan?"


Vincent terdiam sejenak.


"Ya enggaklah."Katanya kemudian.


"Jujur aku takut bangat mati sebelum aku bisa baggain mama papa aku.Aku juga takut masuk neraka.Aku masih pengen perbaikin diri aku."


Vincent mengangguk.


"Aku juga masih pengen menikah dan punya anak.Pengen hidup bahagia sama laki-laki yang dari Tuhan bersama anak-anak dan cucu aku kelak.


Aaaa....pokonya aku ga mau mati.Aku juga ga mau bahas ini." Lanjut Chelyn.


"Banyak juga impiannya."


"Iya memang."


"Kalau tiba-tiba Tuhan panggil kamu?"


"Iihhh..Apaan sih?Aku ga mau bayangin itu dan ga mau bahas itu.Ucapan itu adalah doa kan?"Kata Chelyn dengan mata berkaca-kaca.


"Oh iya maaf."


"Aku ngerasa beda deh sama kamu,Vincent."


"Maksudnya beda gimana?"


"Yah ga tau.Agak lain aja gitu,tapi susah dijelasinnya."


"Beda dari semua cowo-cowo yang pernah dekat dan pacaran sama kamu yah?"


"Apaan sih."Kata Chelyn manja memukul bahu Vincent.


"Hahaha...Emang beda sih."Sahut Vincent.

__ADS_1


"Iya iya gausah dilanjut lagi karena akan ada seseorang yang kepedean."


Keduanya tertawa akrab.


__ADS_2