Love Beyond Reason

Love Beyond Reason
Empat Puluh Tujuh


__ADS_3

Sepulang kuliah,Chelyn langsung menuju cafe.Seperti biasa cafe mereka selalu ramai,baik pengunjung maupun yang mengorder dari rumah.Cepat-cepat Chelyn menuju ruang ganti dan mengganti pakaiannya.Chelyn menggunakan baju seragam cafe itu serta jaket yang akan melindunginya dari paparan sinar matahari langsung.


"Kamu makan dulu Chelyn,abis itu langsung anter makanan.Orderan lumayan ramai hari ini."Kata bu Gisel.


"Baik bu."Katanya menurut.


Setelah makan siang,Chelyn langsung mengambil makanan yang akan diantar serta alamat tujuan makanan.Ia langsung bergegas mengantarkan makanan itu ke alamat tujuan.


Di depan sebuah rumah yang cukup mewah,Chelyn menghentikan motornya sambil memeriksa kembali alamat yang ada di kertasnya.


"Bener nih alamatnya.Okey...berarti ini rumahnya."Gumamnya.Chelyn turun dari motor dan memasuki halaman rumah itu.


"Permisi...pak..bu..."Katanya dengan suara lembut.Seorang pria membuka pintu rumah.


"Iya mbak?"Kata pria yang tinggi badannya lebih tinggi dari Chelyn namun masih menggunakan seragam SMA.


"Ini pesanan makanan dari special cafe ,atas nama Darrel Ferdiansyah."Kata Chelyn dengan sopan.


"Oh iya mbak.Darrel temen saya yang punya rumah,cuman tadi lagi ke toilet."


"Siapa Cho?"Kata seseorang dari dalam rumah.


"Ini Rel,nganterin makanan."


"Ohh..Mbak dari special cafe?"


"Iyah mas.Silakan tanda tangan untuk tanda terimanya."Kata Chelyn menyodorkan kertas dan pulpen.


Pria yang bernama Darrel Ferdiansyah itu menandatangani kertas itu lalu mengembalikannya pada Chelyn.


Chelyn masih berdiri di depan pintu memperhatikan pria tampan yang tadi membuka pintu.


"Kenapa mbak?Kok mbak liatin saya gitu?"Kata pria itu penasaran.


"Mbak tertarik sama temen aku?Iya sih gantengan dia dikit dari pada aku."Kata Darrer bercanda.


"Hehehe...Engga kok..Cumann..."


"Cuman apa mbak?"Sahut keduanya bersamaan.


"Aku kayak ga asing sama mas nya."


"Mbak ga usah manggil mas.Panggil aja adek."


"Oh iya dek.


Emm...Kamu Nicho?Kamu ngapain disini?"Kata Chelyn menatap pria yang sedang berdiri di samping Darrel.Darrel dan pria itu saling berpandangan.


"Iya aku Nicho.Aku lagi kerja kelompok sama temen aku.Kok mbak tau nama aku?Mbak kenal sama aku?"


"Nicho anak dari yang punya cafe di dekat SMA Harapan kan?"Tanya Chelyn lagi memastikan apakah itu adalah orang yang ia maksud.


"Iya mbak.


Mbak ini siapa yah?Kok tau tentang aku?"Kata Nicho merasa aneh.Selama ini ia belum pernah bertemu dengan wanita yang berada di hadapannya itu."


"Kenalin,nama kaka Chelyn,pacarnya kakak kamu."


"Pacar kakak kamu?"Kata Darrel dan Nicho bersamaan dan saling berpandangan.


"Ohh...Kakak salah orang pasti.Aku emang Nicho anak yang punya cafe dekat SMA Harapan,tapi aku bukan orang yang kakak maksud.Pantes aja aku juga kayak ga pernah liat kakak."


"Kamu adeknya Vincent kan?"


"Aku ga punya saudara laki-laki ataupun perempuan.Aku anak tunggal di keluarga Pratama."Jelas Nicho.

__ADS_1


"Apa?Ini gimana sih?


Tante Widya?Dia siapa kamu?"


"Mama aku.Kok kakak bisa tau juga soal mama?"


"Jujur,aku bingung bangat.Ini sebenarnya gimana sih ceritanya?Kamu adalah Nicho anak dari yang punya cafe,mama kamu bernama Widya,dan kamu bilang kamu adalah anak tunggal di keluarga itu.


Lalu Vincent?"Chelyn kebingungan.


"Oohhh..."Nicho melebarkan matanya.Chelyn menunggu Nicho mengatakan sesuatu.Itu seperti hal penting.


"Gimana?"Tanya Chelyn.


"Mending sambil duduk aja mbak ngobrolnya."Sahut Darrel menuju kursi yang berada di teras rumah.Chelyn dan Nicho pun ikut ke sana.


"Sebenarnya aku anak tunggal kak.Tapi sekitar setahun yang lalu mama aku bawa anak cowo udah dewasa gitu.Aku juga ga tau dia siapa.Kadang-kadang dia bantuin ngelayanin di cafe,kadang juga menghilang sampai beberapa hari.Aku juga sibuk terus kan mbak soalnya sebentar lagi aku mau lulus SMA dan melanjut ke perguruan tinggi,jadi aku ga terlalu urusin hal-hal yang ga terlalu berhubungan ke aku.


Dibilang pelayan di cafe,engga juga sih"


"Namanya Vincent?"


"Iyah mbak.Kak Vincent."


"Berarti Tante Widya bukan mamanya Vincent?"


"Bukan mbak.Widya itu mama aku."


"Ohh gituuu...Makasih yah informasinya."Kata Chelyn dengan senyum kecewa.


"Tadi mbak bilang ka Vincent pacarnya mbak?"


"Hem iya.Kalau gitu mbak pulang dulu yah.Maaf udah mengganggu waktu kalian."


"Iyah,gapapa kok mbak.


"Adek bisa aja."Chelyn tersenyum.


"Darrel..Kamu tuh yah.Dia itu pacarnya kak Vincent."


"Kan baru pacar,belum juga menikah."Sahut Darrel.Keduanya tertawa,Chelyn ikutan tertawa.


"Tunggu dulu deh."Kata Darrel tiba-tiba menghentikan tawanya.


"Kenapa Rel?"Tanya Nicho menatap Darrel.


"Aku kayak ga asing deh sama muka mbak nya."Darrel menyipitkan matanya mencoba mendeteksi wajah Chelyn.


"Nama mbak siapa?"Tanyanya.


"Helehh..Bilang aja mau kenalan, Sok-sokan bilang ga asing sama mukanya."Kata Nicho.


"Iya sih sekalian,tapi beneran aku kayak pernah liat mbaknya."


"Nama mbak Chelyn dek."


"Chelyn Wijaya?"Sahut Darrel.


"Iya.Kamu tau?"Tanya Chelyn.


"Pantes aja dari tadi aku kayak ga asing gitu.Aku follow kakak di Instagram loh."


"Hehehe. .Makasih yah."


"Emm..Aku manggil kakak aja deh.Ga nyangka bangat bisa ketemu sama kakak.mana kakak langsung datang ke rumah aku lagi."

__ADS_1


"Chelyn Wijaya anak pengusaha kaya raya itu yah?"Tanya Nicho.


"Iya brayyyy.."Jawab Darrel kegirangan.


"Kak,kita poto bareng yuk.Sekaliiii aja,please!! Aku ngefans bangat sama kakak.Aku selalu komen postingan kakak,aku selalu bales story kakak,aku selalu tanggapin poto dan Video kakak,aku juga sering bangat coba-coba dm kakak walaupun ga pernah dibales.Sumpah deh kak,aku senang bangat bisa ketemu sama kakak."


"Yauda boleh."Kata Chelyn tersenyum.Darrel sampai gemetaran memegang hpnya.


"Nicho,kamu potoin dong aku sama kak Chelyn."


"Tapi gantian yah."Nicho mengambil handphone Darrel.


"Makasih yah kak.Nanti aku posting di akun instagram aku gapapa kan kak?"


"Gapapa dek."


"Makasih yah kak.Ternyata bener kak Chelyn Wijaya itu baik dan ga sombong."Kata Darrel setelah mengambil beberapa poto bersama Chelyn.


"Tapi,kakak kok jadi kurir makanan sih?Ini emang sengaja ngeprank kita apa gimana?Jangan-jangan ada kamera tersembunyi disini."Celocos Darrel.Nicho dan Darrel melihat ke sekelilingnya memastikan ada kamera atau tidak.


"Enggak nge'prank. Kakak emang kerja di cafe itu."


"Hah?Kok bisa?"Tanya keduanya melotot.


"Gapapa,cuman pengen mandiri aja.Selama ini kakak suka bangat foya-foya pakai uang orang tua kakak,beliin ini itu padahal ga penting.Dan sekarang kakak pengen ngerasain gimana susahnya nyari uang.Supaya kakak bisa lebih menghargai dan lebih baik lagi memanfaatkan uang."


"Bukan karena mama tiri kakak kan?"Tanya Darrel lagi.Selama ini memang ia suka mencaritahu informasi-informasi tentang Chelyn dan keluarganya saking sukanya ia pada Chelyn.


"Kakak masih banyak kerjaan nih.Lain kali kita lanjut ngobrol yah.Bye..byee...." Kata Chelyn tidak mau memperpanjang penbahasan dengan kedua pria itu.Ia tidak mau nama baik papanya buruk karenanya.


...****************...


Malam sepulang kerja,Chelyn langsung menuju rumah Vincent.Ia ingin mendengar langsung penjelasan dari Vincent mengenai keluarganya.


Sampai di cafe sekaligus tempat tinggal Vincent dan keluarganya,Chelyn begitu kaget melihat keadaan cafe yang terobrak-abrik.Banyak piring pecah di lantai,meja dan kursi berserak kemana-mana.


Chelyn langsung berlari ke lantai dua rumah itu.Dilihatnya tante Widya sedang menangis di sofa.Di sampingnya ada Vincent dan Nicho yang duduk menunduk.


"Tante?Tante kenapa?Kenapa cafenya berantakan kayak gitu?"Chelyn duduk di samping tante Widya.


"Chelynnnn..."Kata tante menangis.


"Iyah tante?"


"Bukannya tante ga suka sama kamu,tapi tante harap kamu ga usah datang-datang lagi ke sini."


"Maksud tante?


Kenapa tante ngomong kayak gitu?"Chelyn ikut menangis mendengar tante Widya melarangnya datang kesana.Padahal selama ini tante Widya selalu menanti-nanti kedatangannya.


"Biar Vincent yang jelaskan nak."Kata tante terus menangis.


"Tante tau kok,Chelyn ini anak baik."Tante Widya memeluk Chelyn.


"Aku ga ngerti kenapa jadi gini.Trus gimana dengan hubungan aku dan Vincent?Apa tante juga bakal minta aku dan Vincent udahan?"


"Ga nak.Itu urusan kalian berdua.Cuman tante ga mau lagi terlibat dengan hubungan dan masalah kalian."


"Tante jangan gini dong.Tante bilang waktu itu Chelyn anggap aja keluarga Vincent sebagai keluarga Chelyn juga."Chelyn terus menangis.


"Sebenarnya Vincent bukan anak tante.Untuk lebih jelasnya kamu bisa tanya sama Vincent.Udah yah,tante mau ke kamar dulu."Tante Widya berdiri dan berjalan masuk ke kamar,lalu mengunci kamarnya.


"Ini semua gara-gara kak Vincent.Pergi kakak dari sini!"Teriak Nicho menangis.


"Kakak minta maaf.Maafin kakak."Sahut Vincent dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku bilang pergi kak."Bentak Nicho.Chelyn hanya menangis melihat hal itu.


Vincent berlari keluar meninggalkan Chelyn dan Nicho di ruang tamu.Chelyn mengejarnya namun tidak menemukan Vincent.


__ADS_2