Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Pindah


__ADS_3

Pagi ini Nissa menemui Ardian di perusahaan sesuai janjinya dua hari yang lalu. Nissa memandang gedung lima lantai di depannya ini sebelum ia memasukinya.


Ding


Pintu lift terbuka di lantai lima dimana ruangan Ardian yang menjadi tujuan Nissa berada.


Tok tok tok


Nissa mengetuk pintu kaca di depannya. Tak jauh dari situ seorang wanita berpakaian seksi menatap sinis padanya.


Bos sama sekretaris kok sama-sama aneh, batinnya heran.


"Masuk,"


Nissa segera membuka pintu tersebut dan melihat Ardian dan asistennya sedang duduk di sofa. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Duduklah," perintah Ardian, ia menunjuk sofa panjang di dekatnya dengan dagunya.


Nissa segera duduk, ia menatap heran pada dua orang yang sedang berbicara dengan serius.


"Baca ini," Ardian memberikan selembar kertas padanya.


"Apa ini?" tanya Nissa heran.


"Baca saja, nanti kau akan tahu," sahut Ardian ketus.


Nissa meraih kertas di tangan Ardian, ia mulai membacanya. Ternyata isinya adalah kontrak perjanjian kerja yang baru.


"Saya akan menjelaskan isi kontrak tersebut, Nona Nissa," ucap Roli mengalihkan perhatian Nissa dari kontrak perjanjian tersebut.


"Pak Ardian Sanjaya selaku pihak satu, dan anda Nona, Annissa Nur Hafizah selaku pihak dua. Disini tertulis bahwa anda selaku pihak dua harus selalu mematuhi perintah pak Ardian selaku pihak pertama.


Pihak kedua dilarang membantah segala perintah pihak pertama, pihak kedua juga harus melakukan segala tugas yang diberikan oleh pihak pertama, kapanpun, dimanapun, dan apapun tugasnya.


Selain itu pihak kedua dilarang mengajukan cuti selama enam bulan pertama, dan pihak kedua dilarang melakukan kontak fisik dengan pihak pertama.


Apa anda mengerti, Nona?" tanya Roli di akhir penjelasannya.


"Saya mengerti, tapi saya ingin menambahkan sesuatu," ujar Nissa.


"Tidak bisa, memang siapa dirimu ini hingga berani merubah kontrak yang sudah kubuat?" ucap Ardian. Ia menatap Nissa dengan sengit.


"Saya pelayan pribadi bapak," sahut Nissa santai.


"Kalau sudah sadar siapa dirimu maka diamlah,"


"Saya hanya ingin menambahkan sesuatu di poin terakhir," ucap Nissa.


Ardian mengambil paksa kontrak di tangan Nissa dan kembali membacanya.


"Memang apa yang mau kau tambahkan?" tanya Ardian sinis.

__ADS_1


"Pihak pertama wajib memberikan libur pada pihak kedua setidaknya satu hari dalam sebulan. Pihak pertama juga dilarang melakukan kontak fisik terhadap pihak kedua,"


"Itu saja?" tanya Ardian.


"Heem," sahut Nissa singkat.


"Baiklah, aku setuju. Tanpa kau meminta pun aku tak akan mau menyentuh tubuhmu," ucap Ardian meremehkan.


"Kalau begitu silahkan tanda tangani kontrak perjanjian kerja ini," ucap Roli.


Nissa segera membubuhkan tanda tangannya pada bagian yang telah tertera namanya.


Setelah Nissa selesai kini giliran Ardian yang melakukan seperti yang Nissa lakukan tadi.


"Oh, iya. Saya hampir lupa," ujar Roli sambil membenarkan letak jasnya.


Nissa menatapnya dengan raut wajah curiga.


"Mulai hari ini anda pindah ke apartemen pak Ardian," mata Nissa melotot mendengar ucapan Roli.


"Tidak mau, kenapa saya harus pindah kesana?" sengit Nissa.


"Apa anda sudah lupa dengan tugas anda, Nona Nissa?" tanya Roli.


"Kau itu pelayanku, artinya kau harus melayani segala kebutuhanku saat di apartemen. Kau juga pengawalku, artinya kau harus selalu menjagaku dimanapun dan kapanpun, bahkan saat aku tidur sekalipun," ucap Ardian menjelaskan.


"Itu artinya kau harus selalu ada di sampingku 24 jam dalam sehari. Jadi lebih praktis kalau kau tinggal di apartemenku dari pada harus bolak balik ke kosanmu yang mengerikan itu," sambungnya.


Sejenak Nissa terdiam mendengar penuturan Ardian.


"Untuk apa aku pergi ke kosanmu yang jelek itu," sahut Ardian kesal.


"Lalu mengapa anda mengatakan hal yang buruk pada tempat tinggal saya?" sengit Nissa lagi.


"Bukankah sudah jelas, tidak mungkin kan kalau orang kismin sepertimu tinggal di perumahan atau apartemen," ucap Ardian sombong.


Nissa dibuat geram dengan tingkah Ardian yang menyebalkan. Sabar Nissa, enam bulan saja, kok.


"Baiklah, saya akan pindah ke apartemen bapak," sahut Nissa mengalah, sungguh ia malas harus berdebat dengan pria berparas tampan itu.


"Baguslah, lagipula kau sudah mengambil upahmu selama enam bulan ke depan. Jadi tidak salah kalau aku menyuruhmu tinggal di apartemenku, aku tidak mau kau kabur," ucap Ardian.


Nissa hanya diam mendengar segala penuturan Ardian.


"Apa ada lagi yang harus saya ketahui selain ini?" tanya Nissa pada Roli.


"Untuk hari ini urusan kita sudah selesai, silahkan pulang dan segera bersiap pindah ke apartemen pak Ardian," ucap Roli.


Nissa berdiri dan keluar dari ruangan Ardian. Di depan ruangan rupanya ia sudah di tunggu oleh pria yang ia kenali sebagai supir yang biasa mengantar bos anehnya itu kesana kemari.


Nissa pulang ke kosannya, ia membereskan segala barang-barangnya. Jujur ia enggan untuk tinggal di apartemen Ardian, karena ia akan selalu melihat pria yang dianggapnya sangat br*****k.

__ADS_1


Tapi ia harus mengesampingkan rasa enggannya. Ini semata ia lakukan demi keluarganya, demi upah enam bulan yang sudah ia minta lebih dulu.


Nissa kembali teringat dengan adegan kemarin, saat ibu bertanya dari mana ia mendapatkan uang untuk membayar biaya operasi ayahnya.


"Nissa meminjam uang perusahaan, bu. Kebetulan perusahaan tempat Nissa bekerja memiliki divisi khusus untuk membantu para karyawannya yang memiliki masalah keuangan seperti Nissa," ujarnya berbohong.


"Benarkah, Nissa. Kau tidak bohong, kan?" tanya ibu.


"Tentu saja, siapa yang berani berbohong pada wanita secantik ibu," ucapnya sambil menggenggam tangan ibu.


"Sampaikan ucapan terima kasih ibu pada atasanmu, Nis," ucap ibu sebelum melepas Nissa pergi.


Nissa hanya menganggukkan kepala, ia mencium tangan ibunya. Bila harus memilih, Nissa akan tetap disini sampai ayah siuman.


Tapi Nissa sudah berjanji pada Ardian. Selain itu Nissa juga memiliki kewajiban memenuhi janjinya agar Ridho bisa kembali bekerja.


"Apa anda sudah siap, Nona Nissa?" tanya supir tersebut.


"Panggil Nissa saja, pak. Tidak usah memakai kata Nona, saya ini hanya manusia biasa bukan putri raja," ucap Nissa.


Pak supir tersenyum mendengar ucapan Nissa. Ia lalu membantu Nissa mengangkat barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam bagasi.


Setelah itu pak supir segera melajukan kendaraan roda empat yang dikendarainya menuju apartemen Ardian.


Akhirnya mereka sampai di apartemen setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh menit.


Pak supir segera membuka bagasi mobil dan mengangkat barang-barang Nissa.


"Unit pak Ardian ada di lantai 12, Nis," ucap pak supir yang kini memanggil Nissa tanpa embel-embel Nona.


Nissa hanya tersenyum menanggapi ucapan pak supir. Mereka lalu masuk ke dalam lift.


Ding


Pintu lift terbuka di lantai dua belas, lantai tujuan mereka saat ini.


"Nah, ini unit pak Ardian. Kamu sudah diberi tahu sandi pintu apartemen ini, kan?" tanya pak supir.


"Iya, sudah, pak. Tadi di beri tahu lewat pesan singkat oleh pak Roli," jawabnya.


Nissa masuk setelah berhasil membuka pintu tersebut, awalnya ia kesulitan namun seorang petugas keamanan di apartemen itu dengan sigap membantunya.


Kriing... Kriing... Kriing


Ponsel Nissa berbunyi. Ia melihat siapa yang meneleponnya. Pak Ardian?


"Hal..,"


"Kalau sudah selesai dengan urusanmu cepatlah kemari, aku tunggu di ruanganku!" Ardian langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa memberi kesempatan pada Nissa berbicara.


What the h**l!!!

__ADS_1


*********


BERSAMBUNG


__ADS_2