Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Pantai Mutiara Indah


__ADS_3

Hari ini adalah hari ke empat Nissa berada di kampungnya. Kebetulan hari ini adalah hari libur nasional. Nissa mengajak kedua adiknya untuk berlibur di pantai. Sebenarnya ia juga mengajak kedua orang tuanya, namun mereka menolak.


Tujuan Nissa dan kedua adiknya adalah pantai Mutiara Indah, salah satu tujuan wisata yang baru beberapa tahun ini di buka oleh pemerintah setempat. Perjalanan untuk menuju pantai tersebut tidaklah mudah. Setelah sampai di lokasi kita masih harus menaiki kapal untuk sampai di pulau kecil yang terletak agak ke tengah laut. Di pulau itulah pantai Mutiara Indah berada.


Begitu turun dari kapal Diki dan Dini langsung berhambur berlarian menyusuri pantai. Nissa pun turun, namun ia tidak ikut berlari, hanya berjalan perlahan.


Suasana di pantai ini sungguh menenangkan. Pasirnya putih dan airnya jernih. Namun wisatawan diharap untuk berhati-hati dan tidak berenang melewati batas yang ditentukan.


Beberapa pengunjung nampak bermain di pinggiran pantai. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, ada juga yang mencari komang untuk dibawa pulang.


Tidak jauh dari situ ada gerombolan orang memakai kaus yang sama bertuliskan SMA Negeri 1 Loa Kulu. Mungkin mereka adalah para alumni yang mengadakan reuni.


Nissa memejamkan kedua matanya, ia menikmati hembusan angin yang menerpa wajah, tangan dan kakinya. Aroma segar angin laut mampu menenangkan hatinya yang kini tengah berkecamuk. Sungguh menyenangkan jika bisa merasakan hal ini setiap hari, pikirnya.


***


Sementara itu dua orang pria kini berdiri di depan sebuah rumah. Mereka tampak bingung mengingat ini adalah pertama kali mereka datang kesini.


"Cari siapa?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Permisi, Bu. Bolehkah kami bertanya?"


"Iya, silahkan?"


"Kami mencari rumah Nissa, tepatnya Annissa Nur Hafizah," ucap Roli.


"Untuk apa kalian mencari anak saya?" tanya wanita yang ternyata adalah ibunya Nissa.


Ardian dan Roli saling berpandangan. Entah kebetulan ini bisa dianggap berkah atau musibah.


Ardian menelan salivanya, jika tadi ia sangat bersemangat untuk menyusul Nissa, kali ini nyalinya mengkerut saat berhadapan langsung dengan ibu dari gadis pujaannya secara langsung.


Apa yang akan beliau katakan jika ia mengetahui aku pernah berbuat jahat pada anaknya? Begitulah pikiran Ardian saat ini.


"Kami adalah teman kerjanya, Bu," ucap Ardian tiba-tiba. Roli yang berada di sebelahnya hanya bisa mendengus.


"Oh, teman kerjanya Nissa, ya. Ayo masuk dulu," pinta ibu dengan sopan.


Ardian dan Roli pun mengikuti ibu masuk. Mereka melewati pekarangan kecil yang ditumbuhi berbagai macam rempah. Ada kunyit, laos, serai, jahe, kencur, temulawak, dan masih banyak lagi. Ibu memang wanita yang kreatif, pekarangan sekecil itu bisa ia manfaatkan dengan sebaik mungkin.


Ibu mempersilahkan mereka duduk dan masuk kedalam. Beliau membuat teh hangat untuk kedua tamunya tersebut.


"Maaf, ya. Ibu cuma bisa menyediakan ini saja," ucap ibu dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Bu. Kami yang seharusnya berterima kasih karena telah disambut dengan baik," sahut Ardian tak kalah lembut.


"Jadi kalian berdua ini teman kerjanya Nissa?" tanya Ibu.


"Benar, Bu," jawab Ardian, sementara Roli masih setia menjadi pendengar untuk kebohongan Ardian selanjutnya.

__ADS_1


"Lalu ada perlu apa kalian kemari?" tanya Ibu lagi.


Ardian terdiam sejenak, ia memikirkan jawaban apa yang tepat untuk ibunya Nissa.


"Kebetulan kami mendapat tugas untuk mengecek pekerjaan di salah satu desa di kecamatan T, dan kebetulan kami mengetahui jika Nissa sedang mengambil cuti. Oleh karena itulah kami kemari," jawabnya kemudian.


"Tetapi maaf, Nissa sedang tidak ada dirumah saat ini," jawab ibu merasa tidak enak hati.


Ardian tampak kecewa, padahal niatnya hari ini adalah menyusul Nissa dan mengatakan isi hatinya dengan jujur.


"Kalau boleh tahu, dimana Nissa sekarang, Bu?" tanya Roli, ia berinisiatif menanyakan keberadaan Nissa karena melihat wajah kecewa Ardian.


"Nissa saat ini mengajak kedua adiknya pergi ke pantai, kalau tidak salah nama pantainya Pantai Mutiara Indah," jawab ibu.


Mendengar hal itu Ardian kembali bersemangat. Ia tahu letak pantai yang disebutkan ibu tadi karena ia pernah pergi berwisata kesana.


"Kalau begitu kami permisi, Bu," ucap Ardian, kemudian ia bangkit dan segera beranjak keluar.


Melihat tingkah Ardian yang tidak ada sopan santunnya pada orang tua seperti itu Roli segera mengucapkan permintaan maaf pada Ibu. Ia juga mengucapkan terima kasih karena ibu telah berbaik hati menerima mereka disini.


"Tunggu sebentar," ibu memanggil mereka berdua.


Ardian yang hampir membuka pintu mobilnya pun mengurungkan niat.


"Ada apa, Bu?"


Ardian menatap heran pada ibu Nissa. Begitu juga Roli.


"Ibu hanya ingin berterima kasih karena telah mau meminjamkan uang pada Nissa. Kalau tidak ada uang tersebut mungkin ayanya Nissa tidak bisa di operasi waktu itu," ucap ibu menjelaskan.


Hati Ardian mencelos mendengarnya. Akhirnya ia tahu alasan Nissa meminta gajinya dibayar enam bulan dimuka waktu itu.


Mengapa kamu tidak berterus terang saja, Nissa. Aku sampai mengira jika kamu adalah wanita murahan yang hanya menyukai uang.


Ardian tersenyum miris, ia meraih dan mencium punggung tangan ibu dengan penuh hormat.


"Nanti akan saya sampaikan ucapan terima kasih ibu pada atasan kami, Bu. Saya harap ibu dan ayah tetap sehat selalu," ucap Ardian dengan tulus.


Ibu menepuk pundak Ardian perlahan. Beliau juga turut mendoakan pria tampan itu agar selalu sukses dalam kehidupannya. Beliau juga berterima kasih karena Ardian mau menyampaikan ucapan terima kasihnya pada sang atasan yang tak lain adalah Ardian sendiri.


Setelah Ardian dan Roli meninggalkan kediaman keluarga Nissa, Ibu masuk kedalam rumah. Tampak Ayah berdiri berpegangan pada sebuah tongkat khusus.


"Siapa itu, Bu?" tanyanya.


"Itu, yah. Teman kerjanya Nissa."


"Kenapa tidak membangunkan ayah?"


"Ayah sangat nyenyak tadi tidurnya, ibu tidak tega membangunkannya," ucap ibu lembut.

__ADS_1


"Siapa tadi namanya?" tanya Ayah.


Seketika ibu menyadari sesuatu. Beliau menepuk jidatnya sendiri.


"Ya ampun, yah! Ibu lupa menanyakan namanya," ujar ibu terkekeh.


Ayah hanya menggelengkan kepala dan ikut terkekeh melihat kelakuan istrinya.


***


Ardian dan Roli kini telah tiba di pantai tujuannya. Jika biasanya perjalanan ke pantai ini akan memakan waktu sampai 3 jam, berbeda dengan mereka berdua yang hanya memakan waktu kurang dari dua jam.


Keinginan untuk bertemu dengan Nissa sangat kuat hingga ia melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Roli saja dibuat ketar ketir karena takut terjadi apa-apa pada mereka berdua.


Ardian langsung melompat turun ketika kapal yang ia tumpangi berlabuh di pelabuhan khusus di pantai tersebut. Ia menyerahkan urusan pembayaran pada sang ahli, siapa lagi kalau bukan Roli.


Ardian segera berlari menyusuri pantai tersebut. Banyaknya pengunjung yang datang menambah kesulitannya mencari keberadaan Nissa. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Namun ia tak menemukan sosok gadis cantik tersebut.


Ardian mengeluarkan ponselnya, kemudian mulai menghubungi Nissa. Namun sayang, keberuntungan tidak berpihak padanya. Nissa ternyata tidak mengaktifkan ponselnya. Hal itu membuat Ardian kesal sekaligus khawatir jika perjalanannya kesini hanya sia-sia karena Nissa sudah pulang.


Hari sudah semakin sore. Pantai sudah mulai sepi karena pengunjung yang berangsur pulang sejak tadi. Namun Ardian masih setia berada disini. Ia berjalan perlahan sambil sesekali menendang angin.


Brrukk


"Aww, maaf om," ucap seorang gadis remaja berambut panjang.


"Tidak apa," sahut Ardian. Ia tak sengaja menatap gadis di depannya ini.


Astaga, anak ini mirip sekali dengan Nissa. Pikirnya. Kemudian ia ingat jika Nissa pergi ke pantai ini dengan kedua adiknya. Ia memang tidak tahu adik Nissa laki-laki atau perempuan. Namun saat melihatnya ia yakin jika gadis ini adalah salah satu adik Nissa.


"Kamu adiknya Nissa?" tanya Ardian langsung.


Dini mengerutkan keningnya, ia heran bagaimana pria ini mengenal kakaknya.


"Om kenal sama kakak saya?" tanya Dini.


Roli yang baru saja tiba mendadak tertawa mendengar Ardian dipanggil dengan sebutan Om.


"Tua banget loe, Di," ledeknya.


Ardian mendengus kesal. Ia kembali menatap Dini.


"Jadi kamu beneran adiknya Nissa, kan?" tanyanya memastikan.


"Iya, om siapa?" tanya Dini.


"Saya calon kakak ipar kamu," sahutnya bangga.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2