
Ardian mendesah pelan, kini ia berbaring diatas ranjang. Pikirannya terus berputar mengingat janji yang ia ucapkan di hadapan sang ibu.
Ibu Marissa berniat menjodohkan Ardian dengan anak dari sahabatnya. Hal itu beliau lakukan karena dua alasan. Yang pertama adalah keinginan Ica yang menikah setelah kakak ke duanya itu lebih dulu mendapatkan pendamping hidup. Yang kedua karena ibu mendapat laporan dari Roli jika Ardian selalu bergonta ganti teman kencan.
Yang ibu takutkan, Ardian akan terjerumus dalam kubangan noda perzinahan. Beruntung Roli tidak menceritakan segala hal tentang seluk beluk Ardian di klub malam. Jika ibu sampai tahu, maka tamatlah riwayatnya.
Dan rencana ibu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Ardian. Wanita yang dia inginkan untuk menjadi pendamping hidupnya hanya satu. Nissa. Namun gadis itu selalu menolaknya.
Ah, aku harus bagaimana?
Ardian bangkit dan meraih ponselnya di atas nakas. Ia memeriksa seluruh pesan yang masuk dari tadi siang. Berkali-kali ia memeriksa namun tak ada satupun pesan singkat yang berasal dari sang pujaan hati.
Ardian melempar ponselnya di atas kasur. Harus dengan cara apa lagi ia meyakinkan Nissa. Disisi lain ia pun telah berjanji pada ibu, ia akan membawa calon istrinya ke hadapan sang ibu dalam waktu satu bulan ini. Jika ia gagal maka Ardian harus pasrah menerima perjodohan yang ditawarkan oleh ibu.
Di tempat lain, Nissa berulang kali memeriksa ponselnya. Entah itu panggilan atau pesan singkat. Namun tak ada satupun panggilan atau pesan yang datang dari si pencuri hati.
Perubahan sikap Ardian beberapa hari yang lalu membawa pertanyaan besar dalam benak Nissa. Nissa merasa terlalu jahat pada Ardian karena selalu menolak pernyataan cintanya.
Kalau boleh jujur, Nissa sangat merindukan pria itu. Ia sangat ingin berkata 'ya, aku mau' pada Ardian. Namun ia harus tetap berpikir realistis. Ia hanyalah seorang ba-bu yang tak pantas bersanding dengan Ardian, level pria itu terlalu tinggi untuk ia raih. Sampai kapanpun tak akan pernah setara.
***
Sudah dua hari mereka berpisah, sudah selama itu pula keduanya saling merindukan satu sama lain. Hanya saja tak ada satupun yang saling mengungkapkannya. Mereka berdua masih tetap pada pendirian masing-masing. Sama-sama mencoba melepaskan namun tak bisa mengikhlaskan.
"Kamu jadi balik ke kota B hari ini, Di?" tanya Hendra, ayah Ardian.
"Iya, yah. Sekalian mau singgah ke dusun TM, ada sedikit masalah yang terjadi dengan proyek disana."
"Kenapa tidak menyuruh pegawaimu saja, bukankah sudah ada divisi yang menangani masalah di lapangan seperti ini?" ibu menimpali.
"Terlalu jauh, jarak dari kota B ke dusun TM memakan waktu yang lama, sementara perjalanan dari kota T kedusun TM hanya dua jam perjalanan saja. Jadi lebih baik Ardi yang kesana dan memeriksanya sendiri," ucap Ardian menjelaskan.
"Tapi ingatlah untuk tetap berhati-hati," ucap ibu menasehati anaknya.
"Ya, Bu."
"Jangan lupa dengan janjimu. Satu bulan," tambah ibu.
"Iya, Ardi pasti ingat," sahutnya menanggapi ucapan ibu yang terkesan memaksa.
***
Ardian sudah tiba di lokasi proyek pembangunan sebuah kantor kepala desa. Kantor yang lama sudah tidak layak pakai lagi sehingga pemerintah setempat memutuskan membuat kantor yang baru.
Selain pembangunan kantor kepala desa, perusahaan Ardian juga menangani pembangunan gedung PUSKESMAS di dusun tersebut. Biasanya Ardian akan mengirim stafnya untuk memeriksa masalah pada proyek yang terbilang kecil ini, namun kali ini ia rela turun tangan menanganinya sendiri.
Setelah menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi Ardian kembali melajukan kendaraannya ke arah jalan pulang.
Entah ada angin apa, Ardian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lama ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang ia duduki. Ia berniat untuk menghubungi Nissa, menanyakan kabarnya. Dua hari ini sungguh menyiksa hati dan pikirannya.
"Halo, tuan."
__ADS_1
Ardian tersentak, baru dering pertama Nissa telah mengangkat panggilannya. Tumben, pikirnya.
"Halo, tuan."
"Ekhem," Ardian berdehem. Ia menghela nafas mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Apa kabar, Nis?"
"Baik, tuan."
"Kenapa tidak pernah menghubungiku?"
"Saya sibuk, tuan."
"Sibuk apa? Selama dua hari ini kan kamu kuliburkan."
"Saya sibuk merindukan seseorang."
"Siapa? Siapa yang kamu rindukan?" Ardian kembali merasa kesal.
"Yang pasti bukan tuan."
Ardian berdecak pelan. "Nissa, aku akan menanyakan untuk terakhir kalinya," ucapannya terhenti, keongkongannya serasa tercekat.
"Maukah kamu menjadi kekasihku? Ah, bukan. Lebih baik aku ganti. Nissa, maukah kamu menerimaku menjadi suamimu?"
"Tuan, saya-."
"Jangan jawab sekarang, tunggu aku pulang."
***
Wajah Nissa kini merona karena lamaran dadakan yang di lakukan Ardian tadi. Nissa menangkup kedua pipinya, panas. Tubuhnya juga ikut kepanasan, padahal pendingin ruangan di kamar ini baik-baik saja.
"Apa-apaan dia itu! Diajak pacaran saja aku tolak, malah sekarang mengajak menikah?" gumamnya lirih.
"Eh, tunggu dulu. Dia tadi ngelamar apa gimana, sih?" gumamnya lagi.
"Yang tadi itu benar terjadi, kan?"
"Dia benar-benar serius melamarku, kan?"
"Itu tadi bisa disebut sebagai lamaran atau tidak, sih?"
"Dia tadi bercanda tidak, ya?"
"Lamaran itu seperti tadi, ya?"
"Apa memang seperti ini rasanya dilamar?"
Nissa bergumam berulang kali memikirkan hal yang baru saja terjadi padanya. Ia masih tidak percaya jika Ardian melamarnya.
__ADS_1
Nissa menyunggingkan senyum bahagia. Apakah ini yang namanya bahagia setelah badai. Nissa memang berniat untuk menutup hatinya dari Ardian. Namun sikap Ardian yang berubah drastis selama beberapa hari belakangan ini malah membuatnya merindukan Ardian yang jahil dan hobi marah serta memerintah.
***
Nissa berulang kali melirik jam dinding di kamarnya. Harusnya Ardian sudah tiba sejak tiga jam yang lalu, namun sampai saat ini belum jua tampak batang hidungnya.
Apa ia mampir ke tempat Edi dulu? Atau ke tempat pak Roli?
Berulang kali Nissa memeriksa pesan yang tadi ia kirimkan kepada Ardian. Tapi masih sama, hanya centang satu.
Nissa mendesah perlahan. Masih belum aktif, pikirnya.
Rasa khawatir mulai menjalar di benaknya. Ia takut terjadi hal-hal yang tak dia inginkan.
***
Kriing Kriing
Dering ponsel membangunkan Nissa. Gadis itu mengerjabkan matanya, ia menyadari tempatnya tertidur saat ini. Ia tertidur di sofa apartemen Ardian.
Nissa menguap, matanya masih ingin kembali terpejam. Namun ponselnya kembali berdering.
"Halo, Nissa."
Nissa memicingkan matanya berusaha menangkap nama yang tertera pada layar.
Pak Roli?
"Nissa, kamu dengar, kan? Halo?"
"Halo, pak Roli," Nissa berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Nis, kamu sudah dapat kabar dari pak Ardian?"
"Belum."
"Pak Ardian kecelakaan. Mobil yang ia kendarai masuk ke dalam jurang. Aku akan kesana untuk melihat lokasi kecelakaannya. Kamu mau ikut tidak?"
Nissa tercekat, ia tak mampu untuk menjawab. Semua ini terjadi begitu tiba-tiba. Tubuhnya kaku seketika, begitu juga lidahnya.
"Halo, Nis. Kamu mau ikut apa tidak?"
"Sa-saya ikut, pak," sahutnya terbata.
"Kamu bersiap saja dulu, aku akan menjemputmu."
Nissa segera bersiap. Ia segera mengganti pakaian yang dikenakannya. Tak lupa ia memakai jaket karena hari juga sudah larut malam.
Nissa melakukan semuanya dengan terburu-buru. Yang ada dalam otaknya saat ini hanya satu. Ardian!!
"Jangan mati, bre**sek! Kamu bilang mau mendengar jawabanku, kan? Kalau kamu mati aku akan menolak lamaranmu, jadi kumohon, tetaplah hidup untukku."
__ADS_1
Tanpa sengaja ia terantuk pinggiran meja. Sontak Nissa terduduk lemas. Tubuhnya luruh, begitu pula dengan air matanya kini jatuh tak terbendung. Tangis itu akhirnya pecah, terdengar pilu dan menyayat hati yang mendengarnya.
Kembalilah, bre**sek!!