Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Aku Serius


__ADS_3

Nissa turun dari mobil kemudian ia berjalan perlahan menuju pantai berpasir putih tersebut. Ardian yang merasa di abaikan pun keluar dan mengikuti jejak Nissa.


Pantai ini berbeda dengan pantai lain yang sudah terjamah oleh para wisatawan. Pantai yang di kunjungi oleh Nissa dan Ardian ini merupakan pantai tersembunyi, hanya warga setempat dan beberapa orang tertentu saja yang mengetahuinya. Nissa sendiri tahu tentang pantai ini dari Dinda.


"Tuan tadi mengapa memukuli pak Randy?" Nissa bertanya pada Ardian yang kini berjalan bersisian dengannya.


"Karena aku benci dengan yang namanya pengkhianatan," jawab Ardian tegas.


"Memang siapa yang berkhianat?" tanya Nissa lagi.


"Tentu saja Randy, memang siapa yang kupukul tadi kalau bukan dia," ujar Ardian sewot.


"Memang pak Randy mengkhianati anda, tuan?" tanya Nissa, seulas senyum terlukis di bibirnya.


"Ya tentu saja kamu, aku melakukannya tadi demi kamu," ucap Ardian dengan jujur.


"Tapi saya tidak merasa pak Randy mengkhianati saya, kok," ujar Nissa.


Ardian menatap Nissa dengan heran, ia sungguh tak habis pikir ada perempuan yang terlalu polos seperti Nissa.


"Kamu tahu, Nis? Kamu itu adalah perempuan paling bodoh yang pernah kutemui selama ini. Bagaimana bisa kamu tidak merasa dikhianati sementara pacarmu sedang berselingkuh tepat di depan matamu?" Ardian kesal sekali, gadis yang ia suka ternyata sungguh bodoh.


"Kata siapa kalau pak Randy itu pacar saya, tuan?" tanya Nissa penasaran.


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu kencan dengan si Randy set*n itu?" Ardian bertanya dengan nada penuh amarah.


"Kencan belum tentu pacaran, kan?" ujar gadis itu.


Ardian menoleh seketika, ia pun menghentikan langkahnya menyusuri pantai.


"Jadi hubungan kalian itu apa? Teman tapi mesra? Begitu maksudmu, kan?" cecar Ardian.


Nissa menghela nafasnya perlahan. Ia menatap kedua bola mata Ardian dengan intens.


"Saya tidak memiliki hubungan apapun dengan pak Randy," ucapnya kemudian.


Ardian membelalakkan matanya, ia terkejut sekaligus merasa tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Nissa. Benarkah? Pikirnya.


"Kamu yakin?" tanyanya memastikan.


"Iya, tuan. Saya yakin sekali," ucap Nissa sembari menampilkan senyum cerianya.


Ardian ikut tersenyum senang, namun senyumnya pudar seketika kala mengingat hal tadi.


"Kalau kamu memang tidak punya hubungan apapun dengannya, lalu untuk apa kamu tadi ingin pergi mendatanginya?" tanya Ardian penasaran.


Nissa mengerutkan keningnya. "Kapan?" tanyanya.


"Bukankah tadi kamu ingin melabrak Randy? Karena itulah aku menggantikanmu," ucap Ardian menjelaskan.

__ADS_1


"Saya mau melabrak pak Randy?" tanya Nissa heran.


"Memang benar, kan?"


"Bukan, tuan. Anda sepertinya sudah salah paham pada saya," ucap Nissa.


"Lalu tadi itu apa?" Ardian mulai kesal.


"Saya tadi melihat penjual Milk Boba, dan kebetulan saya haus. Waktu saya ingin pergi pergi ke kedai tersebut tuan malah menawarkan diri, saya kira tuan yang akan membelinya, jadi saya hanya pasrah saja, lumayan, ngirit uang jajan," ucap Nissa sambil terkikik geli.


Ardian kembali membelalakkan matanya, dan kini rahangnya terbuka dengan lebar. Ia benar-benar tak percaya dengan semua ini.


"Jadi, tadi itu...?" Ardian menggantung kalimatnya.


Nissa mengangguk dengan mantap, seolah meyakinkan Ardian jika yang terjadi tadi hanya salah paham saja.


"Astaga Nissa! Kenapa tidak bilang dari awal, sih?!" Ardian menggeram kesal.


"Tuan tidak bertanya pada saya, malah menyimpulkan semuanya sendiri," ucap Nissa, gadis itu kembali terkekeh geli.


"Karena kamu marah padaku," sahut Ardian ketus.


"Tuan pikir saya marah?" tanya Nissa.


"Kalau kamu tidak marah lalu untuk apa kamu mendiamkanku selama seminggu?" sahut Ardian.


Nissa terdiam, bukan itu alasannya ia mendiamkan Ardian selama seminggu ini. Ia hanya kesal dengan sikap Ardian yang selalu memecat orang seenak jidatnya. Selain itu Nissa sedang berusaha jauh dari Ardian. Jadi jika masa kerjanya berakhir ia tidak sakit hati terlalu dalam.


Ucapan Ardian ditanggapi dengan cengiran dari Nissa. Ia sungguh tak tahu harus bagaimana menanggapi pernyataan Ardian tadi.


Mereka kembali terdiam, keduanya sama-sama menikmati semilir angin laut yang berhembus dengan lembut. Suara ombak yang berdebur saling bersahutan. Menambah indahnya suasana yang tercipta.


"Nissa."


"Tuan."


Keduanya memanggil secara bersamaan. Mereka saling melempar senyum. Kini keduanya tampak salah tingkah.


"Kamu duluan," ucap Ardian mempersilahkan Nissa berbicara lebih dulu.


"Terima kasih," ujar Nissa.


Raut wajah Ardian berubah heran. "Untuk apa?" tanyanya.


"Karena sudah menghajar Randy untuk saya," ucap Nissa.


"Kamu bilang kalian tidak ada hubungan apa-apa? Lalu mengapa harus berterima kasih karena aku telah menghajar si set*an itu?" tanya Ardian.


"Karena dia sempat melecehkan dan memghina saya waktu itu, namun saya hanya meninjunya satu kali saja," ujar Nissa.

__ADS_1


Ardian terkejut. "Apa?! Aku tidak salah dengar, kan?! Dia melecehkan dan menghinamu?" tanya Ardian bertubi-tubi.


Nissa mengangguk. "Tapi sudahlah, tuan. Jangan dibahas lagi, lagipula tadi sudah dibayar tuntas juga, kan," ujarnya.


Ardian mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia sangat marah kali ini. Beraninya dia melecehkan dan menghina Nissaku, pikirnya. Senyum iblis terbit di wajahnya. Entah apa yang akan dilakukan pria itu.


"Tuan tadi mau bicara apa?" tanya Nissa, ia mengingat saat mereka memanggil bersama-sama tadi.


"Oh, tidak ada. Hanya penasaran saja."


"Penasaran tentang apa, tuan?"


Ardian terdiam sejenak, ia menoleh ke sampingnya dan menatap wajah Nissa dengan lekat.


"Seperti apa tipe pria idamanmu?" Ardian bertanya tiba-tiba.


Nissa termenung seketika, ia bingung harus berkata jujur atau tidak.


"Tipe pria idaman saya, tuan?"


"Iya, tipe pria idamanmu."


"Eeemm, kalau saya bilang tipe pria idaman saya seperti tuan, apa anda akan percaya?" tanya Nissa.


"Kamu yakin? Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Ardian memastikan.


"Kalau tidak percaya, ya sudah terserah tuan saja," ucap Nissa.


Ardian tersipu, ia tidak menyangka jika tipe pria idaman dari gadis yang ia suka ternyata adalah dirinya sendiri.


"Nissa," bisiknya.


"Heem."


"Kamu mau jadi pacarku tidak?" tanya Ardian, ia tidak mau membuang waktu lagi. Cukup sekali ia kecolongan, yaitu saat Nissa berkencan dengan Randy.


"Saya? Jadi pacar tuan?" tanya Nissa memastikan yang ia dengar tadi.


"Iya, kamu mau tidak?"


Sumpah demi apapun, Nissa ingin berteriak karena merasa gembira sekarang. Siapa yang tidak bahagia jika orang yang telah mencuri hatinya kini mengajaknya untuk berpacaran.


Wajah Nissa kini merona berseri, kalau saja ia sendirian pasti ia sudah berlari kesana kemari sambil berteriak untuk mengungkapkan kegembiraannya. Namun semua itu sirna saat ia mengingat ucapan Ardian tempo hari, jika ia tak pantas bersanding dengan seorang Ardian Sanjaya. Ia hanyalah seorang ba-bu!


"Tidak mau," jawabnya.


"Kenapa? Bukankah kamu bilang tadi jika aku adalah tipe pria idamanmu?" tanya Ardian heran.


"Tuan memang tipe pria idaman saya, tapi belum tentu saya harus menjadi pacar tuan juga, kan? Lagipula tuan ini kalau bercanda berlebihan sekali. Masa iya ada ba-bu yang pacaran sama majikannya, tidak cocok sama sekali," Nissa menjelaskan sekaligus memastikan jika mereka berdua tidak akan bisa bersama.

__ADS_1


"Aku serius, Nis!" seru Ardian karena Nissa sudah berjalan menjauhi Ardian.


Nissa sendiri merasa sakit dengan ucapannya tadi, namun ini lebih baik daripada akan lebih tersakiti di kemudian hari. Dan tekad Nissa sudah bulat, akan menutup pintu hatinya untuk Ardian apapun yang terjadi.


__ADS_2