Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Tertangkap


__ADS_3

Ardian menatap heran pada Thalita dan Ica secara bergantian. Batinnya bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada dua wanita ini.


"Sayang, tolong kamu jawab dengan jujur. Ada hubungan apa kamu dengan perempuan laknat ini?" Thalita kembali menunjuk Ica dengan geram. Ia benar-benar tidak terima melihat sang pujaan hati memeluk wanita lain.


Ica menatap Ardian dengan tatapan heran dan bertanya-tanya. Siapa sebenarnya nenek sihir ini?


"Kak, apa hubungan kakak dengan si nenek sihir ini? Mengapa dia bisa kenal dengan kakak?" kali ini Ica ikut bertanya, bahkan lebih garang dari Thalita.


Thalita membelalakkan matanya mendengar pertanyaan Ica pada Ardian. Saking terkejutnya ia bahkan sampai menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


Ha!! Aku tidak salah dengar, kan? Kakak? Apa dia adiknya Ardian?


Ardian bingung harus bagaimana menghadapi kedua wanita ini. Ia sendirian sementara ada dua orang wanita yang menuntut jawaban darinya.


"Baiklah, kalian tenang dulu. Aku akan menjawab pertanyaan kalian satu persatu," perintahnya.


Kedua orang itu segera duduk mengikuti perintah Ardian. Ica menatap Thalita dengan tatapan permusuhan. Sementara Thalita hanya bisa menundukkan kepala menyadari siapa orang yang sudah ia sebut sebagai perempuan laknat itu.


"Sekarang ceritakan, apa kalian saling mengenal satu sama lain?"


Keduanya menggeleng. Ardian menghela nafasnya kasar.


"Lalu mengapa aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada kalian berdua?" tanya Ardian, kali ini ia menaikkan intonasinya membuat dua orang ini ketakutan.


Flashback


Tadi pagi saat Ica baru keluar dari bandara, ia pergi ke sebuah rumah makan karena merasa lapar. Dengan menyeret koper berukuran sedang gadis yang sedang menempuh pendidikan sebagai ahli hukum itu masuk dan memesan Nasi Kuning, menu favoritnya jika ia pulang ke daerah asalnya.


DUGG


Seseorang lewat dan tanpa sengaja menendang kopernya hingga terguling ke lantai. Ica yang saat itu sedang menikmati menu sarapan paginya menjadi terkejut melihat koper bertema Sofia kesayangannya terguling seperti itu.


"Mbak, kalau jalan hati-hati. Apa mbak nggak bisa lihat koper sebesar ini sampai di tendang dan terguling seperti ini?" Ica bertanya pada wanita yang menendang kopernya dengan kesal. Ia mengangkat koper kesayangannya itu.


Thalita menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Ica dan kopernya.


"Oke, kamu mau minta berapa? Tinggal sebut saja berapa harga koper murahanmu itu," ucapnya sinis.


"Saya nggak perlu uangmu," ucap Ica. Ia kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.


Thalita yang diperlakukan seperti itu merasa terhina. Ia melangkah menuju meja Ica. Kemudian ia menendang koper itu dengan sengaja.


"Apa-apaan ini!?" Ica berteriak.


"Sekarang sebutkan berapa harga kopermu, aku akan menggantinya," ucap Thalita menyombongkan diri.


"Wah, anda ini sepertinya tidak memgerti bahasa manusia, ya," ucap Ica dengan kesal.


"Apa kamu bilang?"


"Saya sudah katakan tadi, saya nggak butuh uangmu," ucap Ica ketus.


"Dasar aneh, sudah miskin, sok kaya pula," sahut Thalita dengan nada menghina.


Bagaimana tidak diejek, Ica masuk kedalam rumah makan yang tergolong mewah ini hanya mengenakan kaus dan celana kain sebatas lutut. Selain itu ia memakai kacamata tebal dan sepasang sandal jepit. Belum lagi rambutnya yang dikepang satu di belakang. Ica baru menyadari jika ia belum merubah penampilan culunnya karena tergesa-gesa berangkat ke kota B.

__ADS_1


"Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja, dasar nenek sihir, sahut Ica kemudian.


"Eh, anak kecil. Kamu belum tahu siapa saya?"


"Saya nggak perlu dan nggak mau tahu siapa kamu, bagi saya kamu itu hanya butiran debu yang mengotori udara," sahut Ica sambil tersenyum memgejek.


"Kamu..." Thalita mengepalkan tangan saking geramnya.


"Dasar perempuan laknat!!" teriak Thalita.


Ica hanya menoleh sekilas. Dasar nenek sihir nggak jelas, batinnya. Setelah itu Ica pergi ke kasir dan membayar makanannya. Ia sudah tidak nafsu lagi untuk melanjutkan sarapan disitu.


Sementara Thalita menahan malu karena diperhatikan oleh beberapa pengunjung di rumah makan tersebut. Mereka berbisik membicarakan Thalita, si gadis sombong.


Flashback end


Ardian mendengarkan Ica bercerita dengan serius. Ia ikut kesal mengetahui adiknya diperlakukan seperti itu oleh orang lain.


"Mengapa kau berbuat seperti itu pada adikku?" tanya Ardian pada Thalita. Tidak ada kelembutan dalam nada bicaranya.


Thalita menundukkan kepalanya semakin dalam. Kini ia merutuki kebodohannya sendiri yang tidak bisa menjaga sikapnya terhadap orang lain.


"Jawab!" bentak Ardian yang membuat Thalita tersentak kaget.


"Aku minta maaf atas sikapku tadi pagi, aku tidak ada maksud apa-apa, hanya sedang banyak masalah saja," ucap Thalita sok memelas. Ia memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat.


Heh, dasar nenek sihir licik. Ica merengut, ia menatap Thalita dengan tajam.


"Sayang, maafkan aku, ya. Aku tidak tahu jika perempuan cantik ini adalah adikmu," ucap Thalita sambil memegang jemari Ardian.


"Thalita, sepertinya ada yang harus kita luruskan disini. Kita tidak memiliki hubungan apapun, jadi berhenti memanggilku seperti itu," ucap Ardian yang kini mulai jengah.


"Stop, jangan panggil kakakku dengan sebutan sayang lagi. Lebih baik kamu segera pergi dari sini," ucap Ica. Ia merasa di atas angin karena kakaknya tidak menganggap wanita ini.


Thalita kembali memandang wajah Ardian. Tidak ada penolakan disana, menunjukkan Ardian setuju dengan ucapan adiknya.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan kembali lagi kesini, sampai kau mau memafkanku," ucap Thalita.


Thalita berdiri, ia beranjak meninggalkan ruangan Ardian. Kini tinggalah Ardian dan Ica di sana.


"Lebih baik kamu pulang, Ca," perintah Ardian.


"Aku baru aja datang, malah mau diusir," sahut gadis itu.


"Terus kamu mau ngapain lama-lama disini?" tanya sang kakak.


"Aku mau ketemu sama pengawalmu, kak," sahutnya.


"Jangan sekarang, nanti saja kalau dia sudah sehat akan kupertemukan dengannya,"


"Janji, ya," ucap Ica, wajahnya kini menghiba.


"Iya, janji. Sudah sana pulang. Kakak akan panggilkan supir perusahaan untuk mengantarmu pulang ke kota kita,"


"Lalu bagaimana dengan rencana kakak menemui pacarku?" tanya Ica lagi.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Kakak pasti akan menemuinya,"


Setelah mengantarkan Ica sampai masuk ke mobil Ardian kembali melangkah menuju ruangannya. Ia melihat asisten Roli berjalan tergesa-gesa kearahnya.


"Ada apa?" tanya Ardian.


"Dalang pembegalan itu sudah tertangkap. Polisi meminta kita segera kesana," ucap asisten Roli menjelaskan.


Tanpa menunggu lama Ardian segera berlari menuju parkiran mobil. Asisten Roli yang mengikutinya dari belakang sampai kewalahan.


Ardian memerintahkan asisten Roli untuk mempercepat laju kendaraannya. Pria tampan itu sungguh tidak sabar ingin mengetahui dalang pembegalan yang di alaminya.


Di perjalanan ia melihat Nissa berdiri di sebuah halte bis di dekat rumah sakit. Ia menatap Nissa dari dalam mobil dengan kesal sekaligus geram. Ia juga bisa melihat Nissa menenteng satu kantong plastik berisi beberapa bungkus mie instan.


Ck, dasar gadis keras kepala, cibirnya. Ardian kembali mengingat laporan Asisten Roli dua hari yang lalu. Saat itu Nissa dengan tegas memberikan kesaksian jika ia benar-benar melihat arus lalu lintas ditutup. Itulah yang membuatnya mengambil jalan alternatif kearah lain.


Mereka berdua kini telah tiba di kantor kepolisian. Ardian melangkah dengan tergesa dan segera menemui detektif yang menangani kasusnya.


"Apa benar jika pelaku utamanya telah tertangkap?" tanya Ardian. Ia sungguh tidak sabar lagi.


"Benar, pak. Otak dari pembegalan itu berhasil kami amankan di rumahnya. Informasi yang diberikan oleh tiga orang begal yang lebih dulu kami ringkus ternyata benar," jawab detektif tersebut.


"Apa dia sudah mengakuinya?"


"Benar, pak. Pelaku sudah mengakui jika ia telah membayar tiga orang pria untuk melukai anda," jelas detektif itu lagi.


"Lalu apakah ia mengatakan alasannya mengapa ia ingin melukai saya?" tanya Ardian lagi.


"Karena cemburu,"


"Apa? Cemburu?" tanya Ardian tak percaya.


"Benar, pak. Karena cemburu," ucap detektif itu meyakinkan Ardian.


"Bolehkah saya menemuinya, pak?" tanya Ardian.


"Silahkan, tapi harus dipantau oleh anggota saya, pak."


Berbekal izin dari ketua tim, Ardian masuk kedalam ditemani salah satu detektif. Ardian terkejut dan membelalakkan matanya melihat siapa dalang dari pembegalan itu.


"Kau..."


BERSAMBUNG


Sambil nunggu lanjutannya, baca juga karya author keren ini gengss






Maaf ya kakak author, karyanya saya lampirkan tanpa izin.

__ADS_1


See u next chapter gengss


Luv u all 😍😍


__ADS_2