
Nissa mengawali pagi ini dengan senyum cerah secerah mentari yang mulai menghangatkan bumi. Hari ini untuk pertama kalinya ia mengambil jatah libur yang ditentukan yaitu satu kali dalam sebulan.
Dengan semangat membara Nissa membersihkan diri dan bersiap untuk mengunjungi Dinda. Sudah dua bulan lamanya ia tak berjumpa dengan sahabatnya. Biasanya mereka hanya menyapa lewat suara atau pesan singkat saja.
Nissa keluar dari kamarnya sambil bersenandung ria. Ia menghentikan langkah saat melihat Ardian yang kini berada di ruang tamu sambil menonton televisi.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Nissa dengan senyum yang terukir indah di bibirnya tipisnya, bibir yang sudah membuat Ardian sempat lupa diri.
"Mau kemana kamu?" tanya Ardian ketus.
Huft, bukankah tadi malam aku sudah memberitahunya jika hari ini aku akan mengunjungi Dinda? Mungkin dia lupa?
"Mau pergi kerumah Dinda, Tuan," jawabnya.
"Siapa yang memberimu izin?" tanya Mister resek itu lagi.
"Bukankah tadi malam saya telah meminta izin pada tuan, dan anda memberikan izin pada saya," ucap Nissa menjelaskan dengan SABAR.
"Benarkah? Aku merasa tidak pernah memberimu izin, jadi kapan aku mengatakannya?" tanya Ardian lagi, ia pun terlihat mengulas senyum.
Dasar licik, batin Nissa.
"Mungkin anda lupa, Tuan," jawab Nissa lembut.
"Kalau mau libur minggu depan saja, untuk hari ini temani aku," sahut Ardian, benar-benar pria licik.
Nissa melongo mendengar ucapan Ardian, bola matanya membulat. Ia menghela nafasnya dengan perlahan mencoba menahan amarah yang kini membakar hatinya.
"Bukankah hari ini anda tidak memiliki jadwal pertemuan apapun, tuan?" Nissa mengingatkan secara halus.
"Memang tidak ada," ucap Ardian santai.
"Lalu?"
"Aku bosan di rumah sendirian, ingin ke klub tapi dimana ada klub yang buka di pagi hari," jawabnya.
What!! Dia yang bosan mengapa aku yang jadi korban?
"Temani aku jalan-jalan hari ini," pinta Ardian, entahlah, tapi Nissa merasa sikap Ardian tidak seperti hari biasanya. Kali ini Ardian berbicara dengan lembut padanya.
"Lalu bagaimana dengan janji saya pada Dinda?" tanya Nissa khawatir.
"Katakan saja kau ada urusan penting bersamaku, jika sahabatmu marah aku akan memecat suaminya," jawab Ardian dengan sombongnya.
Astaga, orang ini memang minta di hajar rupanya, seru Nissa dalam hati.
"Baiklah, Tuan," akhirnya Nissa mengalah.
"Buatkan aku sarapan dan kopi, setelah itu kita berangkat. Aku akan bersiap-siap," ujar Ardian.
__ADS_1
Dengan berat hati Nissa melangkahkan kaki ke dapur. Niat hati ingin keluar dari apartemen rasa penjara ini, malah gagal total. Tidak bisakah aku menikmati kebahagiaan walaupun hanya sehari? Batinnya memelas.
Nissa kini telah selesai menyiapkan sarapan pagi sekaligus membuat secangkir kopi untuk Ardian. Ia membuat nasi goreng omelet untuk menu sarapan pagi ini. Dan ini adalah kali pertama Nissa membuatkan sarapan pagi untuk Ardian setelah hampir dua bulan lamanya ia dilarang memasak makanan.
Katanya makananku rasanya menjijikkan, mengapa sekarang minta dibuatkan sarapan? Ah, aku baru sadar sekarang, dia itu memang pelupa. Bahkan ia saja tidak pernah mengungkit apa yang pernah dilakukannya malam itu padaku.
"Sudah selesai?" tanya Ardian yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Nissa.
"Sudah, tuan," jawab Nissa cepat. Jantungnya berpacu dengan cepat karena terkejut dengan kehadiran Ardian yang tiba-tiba.
"Bawa ke depan saja sarapannya," perintah Ardian, kemudian ia melenggang menuju ruang tamu.
Nissa mengikuti perintah Ardian tanpa banyak bicara. Ia menata piring dan cangkir yang ia bawa di nampan dengan rapi di atas meja kaca setinggi lutut itu.
"Kamu sudah sarapan, Nis?" tanya Ardian.
"Sudah, tuan,"
"Apa yang kamu makan untuk sarapan tadi?"
"Hanya dua lembar roti tawar diolesi selai nanas, tuan," jawab Nissa.
"Makan roti dua lembar mana bisa membuatmu kenyang,"
Ardian mengambil sebuah piring kemudian membagi nasi gorengnya menjadi dua bagian. Satu bagian ia letakkan di piring yang baru saja diambilnya. Lalu memberikan piring itu pada Nissa.
"Ini, makanlah. Aku tidak mau dibuat repot mengurusi orang pingsan karena kelaparan," ucapnya dingin sambil menyerahkan piring itu.
Mereka berdua makan tanpa ada yang berbicara satupun. Hanya suara televisi di depan mereka yang memenuhi ruangan ini.
"Sekilas info, seorang pria diringkus oleh kepolisian setempat karena mencabuli kekasihnya hingga hamil. Korban saat ini berada dalam pengawasan lembaga perlindungan perempuan dan anak," sebuah tayangan muncul di televisi menghentikan Nissa yang hendak menyuapkan nasi ke mulutnya.
Nissa menatap nanar layar televisi di depannya. Ia menatap penuh kebencian pada seorang pria yang saat itu tengah berada di dalam kantor polisi dengan kedua tangan terborgol. Korban kali ini tak seberuntung dirinya yang hanya mengalami pelecehan tubuh bagian luar saja, namun rasa trauma yang ditimbulkan sangatlah besar.
"Itu hanya alasan saja, biasanya juga perempuan itu yang mau, setelah hamil baru sadar. Jadi si pria yang jadi sasaran," ucap Ardian dengan sinis.
Nissa beralih menatap Ardian dengan kesal. Bagaimana bisa ada manusia yang tak memiliki hati nurani sepertinya.
"Jika orang terdekat bapak belum pernah mengalami hal seperti itu, maka berikan saja sedikit rasa simpati pada korban. Jangan berbicara seakan kami para perempuan hanya melarikan diri dari kesalahan dan melemparnya pada pria," tutur Nissa, matanya kini menatap tajam menyorot Ardian.
"Tapi memang kebanyakan seperti itu, semua wanita itu sama, sama-sama senang mendapat belaian dari kami para pria," sahut Ardian tak mau kalah.
Nissa meletakkan sendok di tangannya dengan kasar hingga menyebabkan dentingan yang nyaring.
"Tolong jangan sembarang berbicara, tuan. Anda tidak pernah berada diposisi korban, jika tidak bisa bersimpati maka diamlah," ucapnya kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Nissa melangkah masuk kekamarnya, kemudian ia keluar lagi sudah memakai topi dan jaket. Ardian yang melihatnya menjadi heran dengan perubahan sikap Nissa, menurutnya Nissa terlalu berlebihan menanggapi berita tadi.
"Maaf, tuan. Saya tidak bisa menemani anda pergi hari ini, permisi," ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Ardian yang masih terpaku di tempatnya.
__ADS_1
Brakk
Suara debuman pintu yang cukup keras menyadarkan Ardian dari kondisinya yang sedang terpaku saat ini.
"Beraninya dia melawan perintahku," serunya seraya meraih ponselnya dari atas meja.
Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan.
Hanya dijawab oleh operator seluler saat Ardian mencoba menghubungi Nissa.
"Nissa, beraninya kau menolak panggilanku. Tunggu saja, aku akan memberimu pelajaran!" ucap Ardian dengan geram. Ia bahkan mengepalkan tangannya karena tidak terima dengan sikap Nissa yang memberontak melawan perintahnya.
Sementara itu Nissa berlari meninggalkan unit apartemen tersebut. Setelah sampai di luar bangunan berlantai 10 itu, Nissa segera menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas di area tersebut. Tujuannya saat ini hanya satu, rumah Dinda.
***
"Dinda!" seru Nissa saat ia telah tiba di depan pagar rumah Dinda.
Dinda yang kebetulan berada di teras rumah pun berlari kecil menyambut kedatangan Nissa. Segera ia membuka pagar setinggi dada orang dewasa itu. Setelah pintu pagar terbuka Nissa masuk dan langsung memeluk Dinda dengan erat.
"Aku kangen banget sama kamu, Din," ucapnya.
"Sama, aku juga kangen sama kamu," balas Dinda.
Mereka berdua kembali berpelukan seakan tak mau melepaskan satu sama lain. Sudah lama sekali mereka tidak berjumpa, apalagi Nissa yang selama ini sangat kesepian tanpa ada seseorang yang bisa ia ajak berbicara layaknya sahabat.
Jangankan berbicara, yang Nissa dapatkan selama ini hanyalah perintah dan bentakan dari Ardian. Hingga ia selalu berkhayal ingin menguasai Ardian dan memerintahnya seperti yang ia lakukan pada Nissa.
"Duh, yang lagi kangen-kangenan. Sampai lupa sama suami," terdengar suara Ridho mengagetkan dua wanita yang kini masih berpelukan itu.
"Ah, mas Ridho gangguin aja, deh," sahut Dinda kesal sekaligus manja.
"Bagaimana kabarmu, Nis?" tanya Ridho.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja walaupun sedikit bosan," jawab Nissa jujur.
Dinda kemudian mengajak Nissa masuk kedalam rumah. Namun baru saja mereka masuk bel pintu di rumah ini berbunyi.
"Biar aku aja yang bukain pintunya, Din," ucap Nissa menawarkan diri.
"Ya sudah, kalau begitu aku mau ke dapur dulu bikin minuman untuk sahabatku yang super ini," kata Dinda, ia pun berlalu ke dapurnya ditemani Ridho.
Nissa melangkahkan kakinya ke pintu dan membukanya. Alangkah terkejutnya Nissa melihat siapa yang tadi memencet bel pintu rumah Dinda.
"Hai, Nis," ucap pria itu, terukir sebuah senyum di bibirnya.
BERSAMBUNG
Hayooo, siapa yang datang dan bikin Nissa kaget?
__ADS_1
Jangan lupa like and comment ya readers, supaya Mbak Tika tambah semangat berkarya 🥰🥰