
Ardian mengetuk-ngetuk meja kerja dengan telunjuknya. Ia memikirkan kejanggalan pada saat pembegalan itu terjadi.
Tadi pagi detektif yang bertugas menyelidiki kasusnya menghubungi. Mereka ingin menanyakan pada Nissa bagaimana kejadiannya dari awal, karena saat di perjalanan Ardian tertidur jadi Nissa adalah saksi kunci kasus ini.
"Apa Pak Ardian yakin jika Nissa mengatakan arus lalu lintas di tutup karena ada kecelakaan?" tanya detektif tersebut.
"Saya yakin, saya mendengar dengan jelas Nissa mengatakan hal tersebut pada saya," jawabnya.
Detektif bernama Rama tersebut terdiam, keningnya berkerut. Ardian tahu ada hal mencurigakan melihat sikap Rama.
Rama menghela nafas. "Begini, pak. Anggota saya sudah memeriksa, tidak ada kecelakaan apapun pada malam itu," jelas Rama.
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan kotak hitam yang terpasang di mobil? Bukankah itu bisa membuktikan ucapan Nissa?" ucap Ardian. Entah mengapa ia merasa kesal saat Rama berbicara seperti itu, seolah tidak mempercayai Nissa.
"Rekaman pada kamera tersebut sudah di hapus. Jadi jalan satu-satunya adalah membawa Nona Nissa kemari untuk diperiksa," jelas Rama.
Ardian tertegun mendengar ucapan Rama. Bagaimana rekaman tersebut bisa terhapus, pikirnya.
"Nissa tidak mungkin bisa di bawa kemari, dia sedang dalam masa penyembuhan," ucap Ardian.
"Lalu bagaimana dengan pelakunya?" tanya Ardian lagi.
"Pria itu tidak mau berbicara apa-apa. Dia hanya mengatakan jika mereka membegal karena butuh uang. Tapi melihat kejanggalan yang terjadi membuat saya curiga, ada seseorang dibalik ini semua," jelas Rama.
"Apa anda memiliki saingan atau sedang dalam hubungan yang buruk dengan seseorang?" tanya Rama.
"Tidak, memang apa hubungannya?" tanya Ardian.
"Saya yakin jika seseorang itu adalah musuh anda," tambah Rama.
Ardian menggeleng. Ia yakin tidak memiliki musuh sama sekali. Musuhnya selama ini hanya satu, Nissa. Hanya saja Nissa tidak mungkin melakukan hal seburuk ini, apalagi sampai melukai dirinya sendiri. Ardian yakin akan itu.
"Mungkinkah dia adalah saingan bisnis anda?" tanya Rama.
"Saingan bisnis tentu saja ada, tapi kami bersaing dengan sehat. Jadi saya yakin tidak mungkin salah satu dari mereka melakukan hal seperti itu," jawab Ardian.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Pak Ardian. Tidak ada yang bisa mengetahui isi hati orang lain," ujar Rama.
Ucapan Rama benar. Tidak ada yang bisa menyelami isi hati orang lain. Seseorang yang terlihat baik bisa saja ternyata adalah orang yang ingin mengancurkan kita.
Setelah pulang dari kantor polisi Ardian segera meminta seseorang untuk menyelidiki Nissa. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri jika Nissa tidak terlibat dengan kejadian pembegalan itu.
***
Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Ardian yang saat itu sedang memeriksa laporan kerja karyawannya langsung menutup laptopnya, ia yakin jika orang yang mengetuk pintu adalah Alex, salah seorang peretas paling handal yang ia rekrut untuk bekerja di perusahaannya.
"Masuk," Ardian berseru.
Benar saja, Alex masuk membawa sebuah amplop coklat di tangannya.
"Ini adalah informasi yang anda inginkan, pak," ucap Alex sambil menyerahkan amplop coklat tersebut.
Ardian menerima amplop coklat tersebut dan membukanya. Ia membaca berkas tersebut dengan teliti. Tiba-tiba matanya membulat sempurna. Ia menatap Alex.
__ADS_1
"Apa informasi ini benar?" tanya Ardian penasaran.
"Benar, pak. Saya bahkan sudah memverifikasi langsung dengan bank terkait dan ternyata memang seseorang yang tidak dikenal melunasi semua hutang orang tua Nissa di bank," jelasnya.
"Apakah kau mendapatkan informasi tentang orang tersebut?" tanya Ardian.
"Saya tidak bisa mendapatkan informasi siapa orang itu. Orang itu membayar dengan uang tunai dan sengaja menghindar dari tangkapan kamera di dalam bank tersebut," jelas Alex lagi.
"Baiklah, kau boleh keluar," perintah Ardian.
Kening Ardian berkerut, ia pernah menyuruh Roli memeriksa Nissa dulu, tapi hanya sebatas untuk membuktikan siapa Nissa sebenarnya, apakah gadis pembuat onar itu atau bukan.
Dan sekarang Ardian benar-benar terkejut. Ia baru tahu jika ternyata orang tua Nissa memiliki hutang yang begitu besar di sebuah bank. Lalu setelah kejadian pembegalan itu tiba-tiba saja ada seseorang yang melunasi hutang tersebut.
Ardian menjadi curiga dengan semua ini. Apakah ini hanya sebuah kebetulan, ataukah Nissa memang sengaja dikirim seseorang untuk melukainya, tapi mengapa baru sekarang, pikir Ardian bingung.
Ardian mengepalkan tangannya. Ia ingat sekarang, sebulan lalu ia berhasil mengalahkan saingannya dalam sebuah proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan.
Pimpinan perusahaan saingannya itu tampak sangat kesal saat perusahaan yang Ardian pimpin memenangkan tender tersebut. Ia bahkan memukul pintu kaca ruangan meeting hingga retak.
"Aku harus menanyakan pada Nissa, jika memang ia terbukti terlibat dengan kasus ini, aku tidak akan mengampuninya," ucapnya geram, tangannya terkepal sementara raut wajahnya berubah dingin, sangat dingin.
Ia meraih jas yang tergantung di kursi lalu memakainya. Dengan tergesa ia melangkah keluar. Roli yang sedang duduk di kursi kerjanya memeriksa jadwal Ardian segera merapikan pekerjaannya dan berlari mengekor Ardian dari belakang.
"Anda mau kemana, pak?" tanya Roli saat mereka berada di dalam lift.
Ardian tak bergeming, ia hanya menatap lurus kedepan dengan tangan masuk ke dalam saku celananya.
Ardian segera memasuki mobil, Roli yang bingung hanya bisa pasrah dengan sikap Ardian saat ini.
Tanpa banyak bicara lagi Roli segera mengarahkan mobil menuju rumah sakit tempat Nissa dirawat saat ini.
Sementara itu Nissa kini sedang beristirahat sambil menonton video lucu di channel tutup milik mail si plastik. Ia baru saja menyelesaikan makan siang dan minum obat dibantu oleh perawat yang didatangkan oleh Roli atas perintah Ardian.
"Nona Nissa mengapa tersenyum seperti itu?" tanya perawat bernama Sinta.
"Ini loh, saya lagi nonton video lucu," jawab Nissa sambil memperlihatkan video tersebut pada Sinta.
"Oh, saya kira mikirin pak Ardian," ujar Sinta tersenyum.
"Ah, mbak Sinta ini ngomong apa, sih," ucap Nissa, pipinya kini merona karena mengingat Ardian yang ternyata telah barbaik hati memberikan fasilitas terbaik untuk perawatannya.
"Tuh, pipinya merah loh sekarang," ujar Sinta lagi.
Nissa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Nissa kembali mengingat ucapan ibunya tentang hutang yang sudah dilunasi itu. Ia yakin jika Ardian yang melunasinya.
"Mbak, bagaimana cara kita mengungkapkan terima kasih pada seseorang, saya ingin yang saya lakukan nanti tampak sangat berkesan di matanya," ucap Nissa.
"Lakukan saja yang Nona Nissa bisa," jawab Sinta.
"Saya cuma bisa berantem, mbak," ucapnya terkekeh geli.
"Kalau begitu ucapkan saja kata terima kasih dengan tulus, atau berikan sesuatu yang kecil tapi berkesan," sahut Sinta.
__ADS_1
Nissa mengangguk. Untuk sekarang ia akan mengucapkan terima kasih saja dulu, selebihnya akan ia pikirkan nanti.
Pintu ruang rawat itu terbuka tiba-tiba. Ardian melangkahkan kakinya kedalam, dari wajahnya tampak ia sangat marah.
"Keluar," perintahnya pada Sinta.
Sinta segera keluar, kemudian Roli menutup pintu itu. Netra Ardian menyorot Nissa dengan tajam. Nissa yang tadinya ingin mengucapkan terima kasih akhirnya memilih mengurungkan niat.
Ada apa lagi ini? Apakah aku melakukan kesalahan lagi? Batin Nissa bergejolak.
"Katakan siapa yang mengirimmu?" tanya Ardian tiba-tiba.
"Maksudnya, tuan?" Nissa yang heran pun balik bertanya.
Ardian berjalan semakin mendekati Nissa dengan tatapan membunuh. Kemudian ia mencengkram bahu Nissa dengan keras hingga gadis itu meringis kesakita.
"Katakan siapa yang mengirimmu untuk melukaiku, katakan!" teriak Ardian.
Tubuh Nissa bergetar, sungguh ia tidak mengerti maksud Ardian menanyakan hal tersebut.
Ardian mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya.
"Apa ini?" tanya Ardian dengan wajah datarnya.
"Ini adalah," Nissa terdiam, ia bukan tak bisa menjawab, hanya saja ia heran memgapa Ardian menanyakan bukti pelunasan hutang orang tuanya di bank jika ia yang melunasinya sendiri.
Mata Nissa membulat sempurna, apa jangan-jangan bukan Ardian yang membayarnya? Pikiran gadis itu melayang pada siapa sosok yang melunasi semua hutang orang tuanya.
"Katakan siapa yang mengirimmu, maka aku akan mengampunimu,"ucap Ardian lagi.
"Saya tidak mengerti dengan maksud anda, tuan," ucap Nissa.
"Polisi sudah menyelidikinya, tidak ada kecelakaan yang terjadi pada malam itu. Kau mengalihkan jalan kesitu karena sudah diperintahkan oleh seseorang, bukankah begitu?" tanya Ardian.
Nissa terdiam, ia masih mencerna ucapan Ardian barusan.
"Kau tiba-tiba merasa curiga dengan keadaan sekitar, sehari setelah pembegalan itu seseorang melunasi semua hutang orang tuamu. Ini terlalu janggal untuk dikatakan sebagai kebetulan. Aku tidak menyangka gadis polos sepertimu mampu melakukan hal murahan seperti ini," ucap Ardian panjang lebar.
Nissa menatap Ardian, kini ia yakin, bukan Ardian yang telah melunasi hutang di bank. Lalu siapa?
"Katakan siapa yang mengirimmu, aku akan membayarmu lebih banyak dari yang orang itu berikan padamu," sarkasnya.
"Saya tidak tahu siapa yang melakukan itu, tapi saya katakan pada anda, saya tidak terlibat dengan ini semua," ucap Nissa tegas.
"Omong kosong!" bentak Ardian.
"Terserah anda mau berkata apa, tapi saya tidak berbohong dengan ucapan saya. Arus lalu lintas memang ditutup malam itu, bukan hanya mobil kita yang tak bisa melintas tapi ada beberapa kendaraan lain yang memutar jalan. Sebelum pembegalan terjadi saya melihat kilatan senjata tajam dari pinggir hutan, itulah mengapa saya sangat waspada. Bukankah tugas saya adalah melindungi anda sebagai seorang pengawal, itulah yang saya lakukan," ucap Nissa menjelaskan.
"Baik, aku akan menerima penjelasanmu. Tapi jika aku mengetahui kau terlibat dengan kasus pembegalan itu, aku benar-benar akan menghancurkanmu, bahkan keluargamu," ancam Ardian.
Setelah itu Ardian pergi keluar dan menutup pintu dengan kasar. Nissa hanya bisa terdiam sambil memikirkan nasibnya, entah kesalahan apa yang ia lakukan dulu hingga mendapatkan hal semenyakitkan ini.
Disaat luka fisiknya masih basah, kini ia harus mendapat ancaman karena sesuatu yang tak pernah dilakukannya.
__ADS_1
Kapan penderitaan ini berakhir.
BERSAMBUNG