
Nissa memgedarkan pandangannya ke seluruh ruang rawatnya. Ia baru menyadari jika kini tengah berada di dalam kamar VVIP. Nissa mengetahuinya melalui perabotan yang ada di dalam ruangan ini.
Sebuah televisi, penyejuk udara, sofa, bahkan lemari pendingin pun ada di dalam sini. Nissa menghela nafas perlahan. Pasti biaya perawatannya mahal sekali, tabunganku mana cukup untuk membayarnya.
Pintu ruang rawatnya terbuka, tampak seorang dokter diikuti dua orang perawat berjalan menghampirinya.
"Selamat pagi, Nona Nissa," sapa dokter tersebut.
Nissa tersenyum. "Selamat pagi, dokter," balasnya.
"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Apakah ada keluhan yang lain selain luka di perutmu?" tanya dokter dengan lembut.
"Tidak ada, dok," jawab Nissa sambil menggelengkan kepala dengan pelan.
"Sudah sarapan, Nona Nissa?" tanya dokter itu lagi.
"Sudah, dok."
"Baiklah, saya akan memeriksa jahitan di perutmu," ucap dokter.
Nissa yang paham langsung membaringkan dirinya secara perlahan. Dokter lalu segera melakukan tugasnya. Ia memeriksa jahitan tersebut dengan seksama sekaligus mengganti perbannya.
"Untuk satu bulan ke depan kau harus lebih banyak beristirahat, jangan melakukan gerakan yang tiba-tiba atau melakukan pekerjaan berat seperti mengangkat beban yang besar," ucap dokter menasehati Nissa.
"Dok, bolehkah saya pulang hari ini?" tanya Nissa dengan lirih.
"Maaf, Nona Nissa. Saya tidak akan mengizinkanmu untuk pulang, kondisimu masih lemah, lukamu juga masih basah. Lagipula Pak Ardian pasti akan marah jika saya mengizinkanmu untuk pulang. Pria itu bahkan sudah membayar biaya perawatanmu untuk seminggu ke depan," jelasnya.
Nissa yang memdengar penuturan dokter sontak membulatkan matanya. Bagaimana mungkin laki-laki yang hobi memerintah itu bersikap baik padanya. Ah, iya. Aku ingat sekarang, dia pasti melakukan ini karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang majikan.
"Baiklah, dokter. Saya akan menuruti nasehat anda. Dan terima kasih karena sudah mau merawat saya," ucap Nissa dengan tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, lagipula ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter," balas dokter itu.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dokter beserta kedua perawat tadi keluar. Kini hanya tinggal Nissa sendiri disini. Sebenarnya ia merasa kesepian, ia ingin sekali menghubungi ibu dan menanyakan kabar ayahnya. Selama dua hari berada di rumah sakit Nissa tidak menghubungi mereka sekalipun.
Namun Nissa tak bisa melakukan itu, ia takut tak bisa menahan tangisnya saat mendengar suara ibu. Nissa kini mengingat kejadian tadi malam, saat ia dengan mudahnya menangis di depan Ardian.
Tadi malam Nissa merengek pada Ardian, meminta agar pria itu mengurungkan niat untuk menghubungi orang tuanya. Ardian yang heran dengan sikap Nissa langsung melontarkan pertanyaan padanya.
"Mengapa kamu tidak ingin aku menghubungi orang tuamu? Bukankah akan lebih baik bila mereka tahu keadaanmu?" tanya Ardian.
"Saya tidak ingin membuat orang tua saya cemas dengan keadaan saya," ucapnya lirih.
"Alasan yang terlalu pasaran, apa kamu tidak punya alasan lain selain ini?" tanya Ardian kesal. Mengapa ada gadis yang keras kepala seperti ini, batinnya.
"Tidak ada," Nissa menggeleng. "Hanya saja..."
Nissa menghentikan ucapannya hingga membuat Ardian bertambah kesal. Ia mendekatkan wajahnya kewajah Nissa. Matanya menyorot gadis itu dengan tajam.
"Hanya saja, apa?" tanya Ardian berbisik di depan wajah Nissa.
Nissa memundurkan wajahnya. Kemudian ia menunduk, sementara jemarinya meremas selimut yang digunakannya.
__ADS_1
"Orang tua saya tidak tahu bila saya bekerja sebagai pengawal anda, mereka hanya mengetahui bila saya bekerja di perusahaan sebagai seorang karyawan kantor biasa," ucapnya lirih.
"Lagipula, orang tua mana yang rela bila putri kesayangan mereka terluka seperti ini, mungkin mereka akan mengamuk dan menyeret saya agar kembali ke kampung. Lalu bagaimana cara saya menyelesaikan permasalahan uang yang sudah saya minta lebih dulu bila itu terjadi?" tambahnya, gadis itu bahkan telah menangis sesenggukan.
"Apa kamu juga berbohong soal uang yang kuberikan padamu di awal itu?" tanya Ardian penasaran.
Nissa mengangguk cepat, melihat itu Ardian segera menghela nafasnya kasar. Nissa kini menatap Ardian, air matanya sudah mulai berkurang. Ardian sendiri menatap Nissa dengan tatapan yang tak bisa di artikan oleh Nissa.
Ah, sungguh memalukan. Bagaimana aku bisa menangis seperti itu di depannya? Apa aku sudah berubah jadi cengeng? Nissa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nissa meraih ponselnya, tujuannya saat ini ialah menghubungi Dinda. Ardian tadi pagi sempat menghubunginya dan mengatakan jika Dinda serta Randy berkali-kali menelpon hingga menggangu ketenangannya dalam bekerja saat Nissa masih dalam masa observasi kemarin.
"Halo, Din," sapa Nissa.
"Nissa! Kamu kemana aja sih kemarin, aku hubungi kok gak diangkat?" Dinda menyambut dengan omelan khasnya.
"Maaf, Din. Aku kemarin pulang mengunjungi orang tuaku. Ponselku ada di dalam tas lupa aku cek," jawab Nissa berbohong. Nissa tidak mau Dinda mengetahui kondisinya saat ini, sahabatnya itu pasti akan panik.
"Astaga, Nis. Aku pikir pak Ardian marah sama kamu karena kamu jalan ke rumahku," ucap Dinda dengan perasaan lega.
"Enggaklah, Din. Mana bisa dia marah, kemarin itu memang jatah liburku," sahut Nissa.
"Sekarang kamu dimana?" tanya Dinda.
"Kan aku sudah bilang tadi, aku di rumah orang tuaku," jawab Nissa lagi, ia kembali berbohong.
"Beneran, kamu gak bohong, kan?" tanya Dinda menyelidik.
"Ish, gak percayaan banget sih sama sahabat sendiri," ucap Nissa berpura-pura kesal. Biasanya jika sudah seperti ini Dinda akan berhenti menanyakan ini dan itu padanya.
"Iya, nanti di sampaikan."
"Nis, buruan deh kamu hubungin Randy. Itu anak nanyain kamu terus. Kasihan mas Ridho gak bisa istirahat gara-gara diteror sama dia," ucap Dinda bernada sewot.
"Iya, Din. Nanti aku hubungi dia,"
"Yasudah, kamu hati-hati ya disana, cepat balik. Nanti gajimu dipotong sama pak Ardian kalau kelamaan libur," ucap Dinda mengejek.
"Ah, emang dasar kamu, Din," Nissa terkekeh kecil.
Selesai menghubungi Dinda, Nissa kini mengirim pesan pada Randy. Ia mengatakan bahwa ia sedang berada di rumah orang tuanya sekaligus meminta maaf karena telah mengabaikan panggilannya. Ia ingin menghubungi Randy secara langsung namun ia yakin itu tidak memungkinkan mengingat saat ini masih berada di jam kerja.
Nissa meletakkan ponselnya kembali. Ia merebahkan dirinya dan ingin tidur. Rupanya obat yang ia minum tadi telah menunjukkan reaksinya.
Ponselnya berdering saat ia mulai memejamkan matanya. Nissa meraih ponselnya tanpa ada niat untuk bangkit dari posisinya saat ini.
Ibu? Keningnya berkerut melihat siapa yang menghubunginya. Apa ada masalah, pikirnya.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"Wa'alaikum salam, Nis," balas ibu.
"Ada apa, Bu?"
__ADS_1
"Ibu hanya ingin menanyakan sesuatu sama kamu, Nis,"
"Soal apa?" tanya Nissa.
"Sebenarnya apa pekerjaanmu di kota B?" tanya ibu tiba-tiba.
Deg
Nissa terkejut, matanya membulat sempurna.
Mengapa ibu tiba-tiba menanyakan hal ini? Apa ibu mengetahui sesuatu, pikirnya dalam hati.
"Memang ada apa, Bu? Nissa disini bekerja seperti kebanyakan karyawan lain," ucapnya berbohong.
"Hanya saja ibu dengar beberapa tetangga menggosipkan kamu, mereka bilang kamu jadi simpanan om-om disana," tutur ibu lirih, ada keraguan yang tersirat.
Nissa sontak tertawa hingga luka di perutnya terasa nyeri. Ia meringis menahan sakit.
"Nissa disini kerja, kok. Buat apa Nissa mau jadi simpanan om-om. Baru didekati aja Nissa udah nolak duluan," ujarnya.
"Selain itu, ibu juga masih ragu dengan uang yang kamu dapatkan untuk membiayai operasi ayah, Nis," ibu kembali berucap.
Nissa menghela nafas perlahan. "Bu, Nissa sudah menjelaskan kalau uang itu didapat dari meminjam perusahaan. Apa ibu tidak percaya?" tanya Nissa dengan lembut, walaupun ada rasa sesak di dada karena sang ibu tak mempercayainya.
"Ibu percaya masalah itu, tapi Nissa, darimana kamu mendapatkan uang untuk melunasi tanah kita di bank?"
Pertanyaan ibu sontak membuat Nissa tekejut bukan kepalang. Ia bahkan sampai bangun dari posisi tidurnya karena terkejut sekaligus merasa tak percaya dengan ucapan ibu tadi.
"Yang bener, Bu?" tanya Nissa.
"Iya, Nis," jawab ibu dengan yakin.
"Nissa saja belum menyetor angsuran untuk bulan ini, apa ibu tidak salah bicara?"
"Kamu pikir ibu berbohong? Nyatanya kemarin sore ada petugas bank yang datang menyerahkan surat kepemilikan tanah ayahmu sekaligus kwitansi pembayarannya," ucap ibu menjelaskan.
"Lalu siapa yang melunasinya, ya?" tanya Nissa heran.
"Oleh karena itu ibu bertanya padamu, ibu pikir kamu seperti yang digosipkan oleh tetangga, kamu nekat jadi simpanan om-om untuk melunasi hutang di bank," ujar ibu.
"Astaga, Bu. Tidak mungkin Nissa berbuat seperti itu. Nissa tahu diri, Bu," sahut Nissa.
Setelah itu mereka melanjutkan perbincangan mengenai hal yang lain. Nissa menanyakan kabar ayah dan adik-adiknya. Sementara Ibu menanyakan alasan Nissa tidak menghubunginya selama dua hari ini.
Nissa terpaksa berbohong pada ibu. Ia mengatakan sedang ada pertemuan di luar kota namun ponselnya tertinggal di kosannya.
Kini Nissa duduk termenung di atas ranjang dalam ruangan yang sepi ini. Ia memikirkan tentang siapa orang yang berbaik hati melunasi hutangnya di bank. Apakah Pak Ardian yang melakukannya, pikirnya dan tanpa sadar ia tersenyum sendiri.
Di tempat lain, seorang pria berparas tampan sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia baru saja dihubungi oleh asistennya yang mengatakan bila tanah Ayah Nissa yang di gadaikan telah berhasil di lunasi. Surat kepemilikan tanahnya juga sudah dikembalikan pada Ayah Nissa.
"Hanya ini yang bisa kulakukan untumu, Nissa. Semoga setelah ini kau selalu bahagia," gumamnya lirih.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Ayo tebak, siapa yang melunasi hutang keluarga Nissa? Apakah Ardian, Randy, atau orang lain?
Hai gengss, jangan lupa like n comment ya, supaya mbak tika semakin semangat berkarya. OK!!