Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Pertunangan Ana


__ADS_3

Seorang gadis berjalan perlahan sambil bersenandung di sebuah taman. Hari ini ia sangat senang karena bisa bebas dari kegilaan tuannya setelah seminggu penuh ia tersiksa mengikuti kemauan laki-laki paling menyebalkan dalam hidupnya.


Dengan earphone terpasang ditelinganya ia bersenandung mengikuti alunan musik yang saat ini ia dengarkan. Sementara matanya sibuk memperhatikan anak-anak yang bermain disini.


Senyum manis selalu terukir manakala melihat keceriaan anak-anak tersebut. Ingin rasanya ia ikut berlarian kesana kemari, namun Nissa sadar jika itu tidak mungkin ia lakukan mengingat usianya yang sudah menginjak 21 tahun.


Sementara hari ini Ardian pergi ke Hotel Nusa, salah satu hotel berbintang di kota ini. Ardian menghadiri pertunangan David Prasetyo, rekan bisnis yang sudah bekerja sama dengannya selama dua tahun ini. Dan Anandita Wijaya, mantan kekasihnya.


"Sayang, tempatnya romantis, ya?" ujar Thalita meminta pendapat Ardian.


Ardian memang menghadiri acara pertunangan ini ditemani oleh Thalita. Gadis yang sudah dua tahun ini menjalin hubungan dengannya.


Entah bisa dikatakan sebagai apa karena Ardian sendiri tidak pernah mengungkapkan perasaan pada Thalita, sementara Thalita sudah merasa jika hubungan yang mereka jalani saat ini sama seperti pasangan pada umumnya. Apalagi mereka selalu bercumbu mesra dan penuh hasrat bila bertemu, walaupun tidak pernah melakukan hubungan suami istri.


"Sayang, kamu dengar gak, aku ngomong apa tadi?" rengeknya manja sambil bergelayut di lengan kekar Ardian.


"He-em," sahut Ardian singkat.


"Kalau kita menikah nanti, aku ingin suasana yang romantis seperti ini," ucap Thalita.


"Kita lihat saja nanti," balas Ardian sambil tersenyum dan menoel hidung mancung gadis yang mengenakan dress berwarna baby pink ini.


"Ah, sayang," sahut Thalita manja. Siapa yang tidak berbunga-bunga saat pasangannya memperlakukan dengan manis seperti itu.


"Selamat malam para undangan yang kami hormati. Kami ucapkan terima kasih banyak karena menyempatkan diri menghadiri acara pada malam ini. Pesta pertunangan Anandita Wijaya dan David Prasetyo akan digelar sebentar lagi," ucap seorang laki-laki yang di pastikan adalah pembawa acara malam hari ini.


Tak lama kemudian seorang gadis cantik memakai gaun malam berwarna putih dengan punggung terbuka dan kerah berbentuk V berjalan dengan anggun memasuki aula.


Semua mata menatap kagum padanya, baik pria maupun wanita. Aura bahagia terpancar dari wajahnya. Senyuman manis menemani langkahnya menuju ke arah sebuah panggung mini di tengah-tengah aula.


Tak terkecuali Ardian, walau sudah lima tahun berlalu namun Ana masih tetap sama. Masih tetap gadis yang sangat menawan dimatanya. Nama Ana masih terpatri di hatinya. Ada sedikit rasa menyesal pada dirinya. Seandainya saja....


David berdiri dengan gagah di atas podium. Pria yang saat ini mengenakan tuksedo berwarna biru navy itu mengumbar senyum ke segala penjuru. Para wanita disana bahkan berdecak kagum memuja ketampanan pria yang akan bertunangan itu.


David mengulurkan tangan dan disambut oleh Ana. Mereka berdua kini berada di atas panggung di saksikan oleh semua tamu undangan.


David berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuannya. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna putih dan membukanya. Di dalamnya nampak sebuah cincin berlian yang sangat elegan.


"Ana, aku bukanlah pria sempurna. Tapi bersamamu aku merasa sempurna. Aku bukanlah pria romantis, tapi denganmu aku selalu ingin bersikap romantis. Aku bukan pria yang mudah jatuh cinta, tapi saat melihatmu di jembatan waktu itu aku yakin aku telah jatuh cinta padamu,"

__ADS_1


"Ana, aku ingin hidup dan menua bersamamu. Membangun kehidupan rumah tangga yang dipenuhi tawa ceria anak-anak kita. Ana, maukah kau menjadi istriku?" pertanyaan David barusan langsung dijawab anggukan oleh Ana.


Para tamu undangan bertepuk tangan dan bersorak. Beberapa sahabat David yang hadir bahkan berteriak meminta pasangan itu untuk berciuman.


"Cium! Cium! Cium!"


CUP!


David mengecup kening Ana lalu disambut dengan sorakan dari para undangan. Ana yang mendapat serangan didepan orang banyak saat itu langsung menyembunyikan wajahnya yang kini telah memerah di dada bidang David. Ia malu sekaligus bahagia.


Berbeda dengan Ardian, pria itu merasa kesal dengan pemandangan yang dianggapnya terlalu berlebihan ini. Ardian merasa seperti seorang kekasih yang dua kali dikhianati oleh orang yang sama.


"Kamu kenapa, Yang?" tanya Thalita saat melihat Ardian membuang pandangannya ke arah lain dengan wajah sebal.


"Aku tidak apa-apa," sahutnya dingin.


David saat ini mengajak Ana berkeliling menyapa rekan bisnisnya. Satu persatu ia mengenalkan mereka pada Ana.


"Kenalkan, An. Ini Ardian Sanjaya, sahabat sekaligus rekan bisnisku selama dua tahun belakangan," ucap David memperkenalkan Ardian pada Ana.


Ekspresi terkejut sempat terlihat di wajah Ana, namun ia segera menutupinya dan mengulurkan tangan ke hadapan Ardian.


"Saya Ardian Sanjaya, dan selamat atas pertunangan kalian," ucapnya getir.


"Terima kasih," sahut Ana dan David bersamaan.


Thalita yang merasa diabaikan merasa kesal dan melingkarkan tangan kirinya pada lengan Ardian, sementara tangan kanannya ia ulurkan ke arah Ana.


"Perkenalkan, saya Thalita. Calon istri Ardian Sanjaya," ucapnya dengan sinis.


"Oh, Pak Ardian juga sudah memiliki tunangan, mengapa tidak pernah bercerita pada saya?" tanya David.


Ana membalas jabat tangan Thalita setelah itu David pun melakukan hal yang sama.


"Saya hanya tidak suka mengumbar hal pribadi saya kepada orang lain," jawab Ardian sesopan mungkin agar tak menyinggung David.


Setelah berbicara cukup lama Ana dan David pun meminta izin untuk menyapa undangan yang lain. Tak lupa juga mereka mengucapkan terima kasih kepada Ardian dan Thalita karena mau menghadiri acara pertunangan mereka berdua.


*****

__ADS_1


"Kamu kenapa tidak mengenalkan aku pada mereka tadi?" tanya Thalita dengan nada kesal.


Mereka saat ini berada di mobil dan dalam perjalanan menuju ke kediaman Thalita di kota AB yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari kota B.


"Buat apa?" Ardian bukannya menjawab malah ia balas bertanya.


"Bukankah seharusnya kamu memperkenalkanku kepada rekan bisnismu jika aku ini calon istrimu?" tanya Thalita lagi, masih dengan nada kesal.


"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai calon istriku, bahkan sebagai kekasihku saja tidak pernah," jawab Ardian ketus, pandangannya fokus pada jalanan didepannya.


Sontak Thalita membelalakkan matanya saat Ardian berkata seperti itu.


"Lalu selama ini apa yang kita lakukan itu bukankah menandakan jika kita adalah pasangan kekasih?"


"Memang apa yang telah kita lakukan?" tanya Ardian pura-pura tidak tahu.


"Kita berci..."


"Kau terlalu berharap tinggi, sayang," potong Ardian mengejek.


"Kau pikir aku melakukannya hanya dengan dirimu saja? Apa perlu aku memperkenalkanmu pada semua wanita yang pernah merasakan kenikmatan bersamaku?" ucapnya lagi, kali ini ia menyuggingkan senyum iblisnya.


Dada Thalita bergemuruh menahan amarahnya, kalau saja ayahnya tak memiliki hutang mungkin saja Thalita akan menghabisi pria yang sedang mengemudi saat ini. Sungguh ia merasa dipermainkan sekaligus dimanfaatkan oleh Ardian.


Thalita mengela nafasnya. "Bagaimana bila ibumu mengetahui kelakuanmu, beliau pasti akan sangat bersedih."


"Ck, ibuku akan selalu mendukungku selama aku bahagia," sahut Ardian bangga.


"Kau yakin?"


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Ardian mulai kesal.


"Hanya ingin memastikan saja," ucap Thalita ambigu.


"Kutekankan padamu, jangan mengusik kedua orang tuaku. Bila kau ingin uang, aku sanggup memberikannya padamu,"


Thalita tersenyum licik. Aku tidak hanya butuh uangmu saja, Ardian. Aku menginginkan semua yang ada pada dirimu. Bahkan kekuasaanmu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2