Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Meminta Maaf


__ADS_3

Nissa berdiri di depan meja kompor. Gadis itu sedang mempersiapkan makan sore untuk dirinya sendiri. Dengan earphone terpasang di telinganya ia bersenandung lirih.


Air di dalam panci kini mendidih, Nissa memasukkan satu bungkus mie instan yang sempat di belinya saat ia kembali dari rumah sakit siang tadi. Selama seminggu ini hanya makanan inilah yang menemaninya.


Sejujurnya, Nissa juga ingin memakan makanan yang lebih sehat. Tapi keuangan yang menipis membuatnya harus bisa berpasrah diri dengan keadaan.


Nissa mengetukkan ujung jari telunjuknya pada pinggiran meja. Gadis itu berharap makanan yang kini ia masak dapat segera matang. Ia sungguh takut berlama-lama di luar kamar apalagi Ardian telah memintanya untuk tidak pernah menampakkan wajah di hadapannya selama ia belum terbukti tidak terlibat dalam pembegalan malam itu.


Tit tit tit tit


Terdengar suara seseorang menekan tombol untuk membuka pintu dari luar. Nissa terkejut bukan kepalang. Ia melihat jam dinding yang terpasang di dapur.


Astaga, bagaimana ini? Orang itu sudah pulang. Bagaimana jika ia melihatku? Nissa bergegas mengambil mangkuk dari dalam lemari. Kemudian ia menuang mie instan yang masih setengah matang itu.


KLIK


Pintu terbuka bertepatan dengan Nissa yang sudah sampai di depan pintu kamarnya. Ardian terpaku melihat Nissa yang ketakutan karena kedatangannya.


"Maaf, tuan. Lain kali saya tidak akan muncul tiba-tiba," ucapnya.


Ardian mendesah. Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf, tapi aku, Nis. Batinnya menjerit ingin berkata seperti itu, namun lidahnya terlalu kelu.


Nissa segera masuk kedalam kamarnya. Huft, selamat. Untung dia nggak marah. Nissa melatakkan semangkuk mie yang masih panas itu di atas meja kecil di samping kasurnya. Lalu ia mulai menikmatinya.


Sementara itu Ardian menatap pintu kamar Nissa yang kini tertutup rapat. Ia melangkah mendekati pintu kamar tersebut. Ardian mengangkat tangannya bersiap untuk mengetuk pintu, namun ego sekaligus rasa malu membuatnya mengurungkan niatnya.


Ardian pergi ke dapur. Ia hanya ingin mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Penglihatannya menangkap sebuah panci kecil yang tadi dipakai Nissa untuk memasak mie instan namun belum sempat ia cuci.


Entah ada angin apa, Ardian membuka tempat sampah yang berada di bawah meja. Perasaan bersalah kembali menyelimutinya saat melihat betapa banyaknya bungkus mie instan di dalam kantong hitam ini.


Apa hanya ini yang bisa dia makan? Ck, dasar gadis bodoh. Lalu untuk apa upahnya yang sudah kubayar selama 6 bulan itu?


Ardian meraih benda pipih dari saku jaanya. Kemudian ia menghubungi seseorang.


"Halo, masih bisa delivery, tidak?"


"Maaf, saya berbicara dengan siapa?"


"Ardian Sanjaya," sahutnya ketus.


"Oh, pak Ardian. Tentu saja bisa. Apa anda ingin memesan menu melalui restoran kami?"


"Ya, buatkan menu sehat untuk pasien dalam masa penyembuhan setelah melakukan operasi, kirim ke alamatku segera," perintahnya.


"Baik, pak. Akan segera kami antar kesana,"


Ardian memutus sambungan teleponnya segera tanpa mengucapkan terima kasih. Benar-benar pria angkuh.


Ia beranjak ke kamarnya di lantai atas. Kemudian Ardian membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai ia kembali ke lantai bawah.


Ardian duduk di sofa ruang tamu, ia memainkan ponselnya berselancar di dunia maya sambil menunggu kedatangan pengantar makanan dari restoran langganannya.

__ADS_1


Ting tong


Bel pintu berbunyi. Ardian bangkit dan bergegas membuka pintu. Setelah membayar semua makanannya ia pergi kedapur yang bersebelahan dengan ruang tamu. Ardian memasukkan makanan tersebut ke dalam piring.


Tok tok tok


Ardian mengetuk pintu kamar Nissa. Tak lama pintu terbuka. Nampak wajah pucat Nissa yang sedang berbalut mukenah.


"Ada apa, tuan?" Nissa bertanya dengan takut. Ia menundukkan kepalanya agar tak melihat wajah Ardian yang ia pikir akan memarahinya atau bahkan akan memghinanya lagi.


"Cepat keluar, aku menunggumu di meja makan," sahut Ardian datar.


Ardian segera meninggalkan Nissa yang kini berdiri terpaku. Nissa memandang punggung Ardian yang berjalan ke meja makan dengan tatapan heran. Tak mau tuannya itu menunggu lama dan marah-marah lagi, Nissa segera melepas mukenah yang dipakainya dan melipat lalu memasukkannya ke dalam laci.


Nissa menatap beberapa makanan yang kini tersaji di atas meja dengan takjub. Air liurnya hampir menetes jika ia tak segera menutup mulutnya.


"Duduklah," Ardian menarik kursi kebelakang sebagai tanda agar Nissa duduk di situ.


"Saya?" tanya Nissa, ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.


"Apa ada orang lain selain kita berdua?" tanya Ardian.


Nissa menggeleng. "Kalau begitu cepat duduk. Kalau makanan ini dingin sudah tidak nikmat lagi," ucap Ardian dengan lembut.


Tunggu, aku nggak salah denger, kan. Ini beneran si manusia paling menyebalkan yang ada di depanku, kan? Bukan duplikatnya dari alam semesta lain, kan?


"Kenapa bengong? Kamu pikir saya mau meracuni kamu, ya?" tanya Ardian yang jengah melihat Nissa masih betah berdiri.


"Kalau begitu cepat duduk, atau aku-,"


"Iya, tuan. Saya akan duduk," sahut Nissa cepat. Ia yakin tuannya ini pasti akan mengucapkan kata-kata keramat itu, apalagi kalau bukan 'aku potong gajimu'.


Ardian tersenyum melihat tingkah Nissa. Entah mengapa hatinya menghangat melihat tingkah polos gadis ini.


"Makanlah," ucapnya, kini ia duduk persis di depan Nissa.


"Ha?"


"Makanlah, aku memesannya khusus untukmu," ucap Ardian lagi.


"Untuk saya?" Nissa menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, makanlah agar kau bisa cepat pulih," ucap Ardian.


Nissa tertegun mendengarnya. Tanpa sadar ia menggigit sendoknya. Apa benar dia ini Ardian si menyebalkan itu?


"Aku membutuhkanmu," ucap Ardian tiba-tiba.


GLEK


Nissa terkejut untuk kesekian kalinya, dan sendok yang di gigitnya pun jatuh kelantai. Menimbulkan bunyi dentingan antara sendok dan lantai berbahan keramik tersebut.

__ADS_1


"Jangan salah paham. Kau harus cepat pulih. Karena aku membutuhkanmu sebagai pengawalku. Kau baru beberapa bulan bekerja padaku, jadi masih tersisa beberapa bulan lagi jika ingin hutangmu padaku lunas. Jangan membuatku mengeluarkan uang untuk hal yang sia-sia," ucap Ardian.


"Ah iya, tuan. Saya paham," sahut Nissa kemudian.


Nissa mengambil makanan di depannya dengan perasaan kesal. Ia pikir Ardian tulus melakukan ini, ia pikir Ardian tulus menginginkannya cepat pulih. Ternyata ia salah. Ardian hanya tidak ingin ia melupakan tugasnya sebagai pelayan pribadinya. Sekali br*****k akan selamanya begitu, tak akan pernah berubah.


Sementara itu Ardian merutuki kebodohannya sendiri. Bukan itu yang ingin ia katakan tadi. Tetapi entah mengapa mulut dan hatinya tak sejalan. Dasar mulut yang tak peka, tak bisa diajak kompromi. Tak bisakah mulut ini berhenti berkata angkuh seperti tadi?


Ardian memaki dalam hati sembari menghela nafas kasar. Pandangannya kini menatap lekat pada gadis yang sedang menikmati makanan dalam keheningan.


Ardian mencoba untuk memecah kebisuan, ia berinisiatif mengajak Nissa berbicara lebih dulu, agar lebih santai.


"Nissa," panggilnya.


"Iya, tuan."


"Bagaimana menurutmu rasa makanannya?" tanya Ardian.


"Enak," sahut Nissa singkat. "Tuan tidak makan?" tanya Nissa.


"Tidak, aku sudah kenyang," jawabnya.


Suasana kembali hening. Hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring. Ini terlalu canggung, batin Ardian.


Ardian memberanikan diri untuk kembali mengajak Nissa berbicara. Kali ini ia meyakinkan diri untuk mengungkapkan permintaan maaf pada gadis yang sedang makan itu.


"Nissa," panggilnya.


"Iya, tuan," Nissa meletakkan sendoknya, ia mengambil gelas berisi air putih yang sudah disediakan Ardian tadi.


"Aku ingin... Ehmm..."


"Ingin apa, tuan?" tanya Nissa yang penasaran.


"Aku ingin..."


Nissa menatap Ardian dengan serius. Apa dia mau minta maaf? Batin Nissa meronta-ronta karena penasaran.


"Aku ingin kau habiskan makananmu segera, setelah itu rapikan meja ini. Aku mau istirahat," ucap Ardian, ia lalu beranjak pergi ke lantai atas menuju kamarnya.


Nissa melongo tak percaya. Benar-benar diluar dugaan, batinnya.


Sementara itu Ardian kini tengah merasa frustasi di dalam kamarnya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa mulutnya ini berkata seperti itu.


Aaarrrggh, dasar mulut laknat!! Rutuknya kesal.


BERSAMBUNG


Maaf ya baru bisa up, lagi dapat deadline dari sekolah anak.


See u next chapter gengss

__ADS_1


Luv u all 🥰🥰


__ADS_2