
"Kamu kenapa, Nis?" tanya Ardian ketus.
"Memangnya saya kenapa, tuan?" tanya Nissa heran.
"Dari tadi kamu terus tersenyum, berhentilah. Melihatmu seperti itu membuatku jadi malas makan," sahut Ardian.
"Baik, tuan," dengan berat hati Nissa menuruti perintah Ardian.
Nissa menghela nafasnya perlahan. Sebenarnya ia tersenyum untuk mengekspresikan rasa bahagianya, tetapi Ardian malah tidak menyukainya.
Mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan mereka menikmati sajian yang telah disiapkan Nissa.
"Bagaimana rasanya, tuan?" tanya Nissa.
"Heem, lumayan?" jawab Ardian singkat. Pria itu kembali makan dengan lahap.
Nissa mencebik, hanya lumayan katanya, batin Nissa. Gadis itu menatap Ardian dengan geram, pasalnya Ardian hampir menghabiskan seluruh masakan yang ada namun ia hanya berkata 'lumayan' tentang makanannya.
Selesai makan Ardian duduk santai di sofa sambil menonton televisi. Nissa yang kala itu sedang mencuci piring mencoba mengajak Ardian berbicara. Jarak antara dapur dan ruangan tempat Ardian menonton hanya bersebelahan tanpa ada dinding penyekat sehingga Nissa bisa dengan mudah berbicara pada Ardian.
"Tuan, mengapa anda tidak memberikan barang tersebut pada saya saat itu, mengapa harus dikirim lewat agen pengiriman barang?" tanya Nissa agak nyaring.
Ardian diam tak menjawab pertanyaan Nissa. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Nissa menunggu jawaban Ardian namun pria itu tak kunjung memberikan apa yang ia mau.
Nissa telah selesai mencuci piring. Ia kini melangkah mendekati Ardian dan duduk di sofa tunggal.
"Tuan, mengapa anda tidak menjawabnya?" tanya Nissa lagi, bukan Nissa bertingkah murahan. Hanya saja ia ingin tahu alasan Ardian tidak memberikannya secara langsung. Apalagi saat ini ia memiliki rasa yang lain pada tuannya itu.
Bukannya menjawab Ardian malah bersedekap dan menatap kedua bola mata Nissa dengan tajam. Tatapannya sangat menusuk hingga Nissa merasa salah tingkah.
Ardian mematikan televisi dengan pengendali jarak jauh, setelah itu ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Hati Nissa mencelos mendapat perlakuan seperti itu.
Nissa merasa bingung menghadapi Ardian, kadang baik, kadang jahat, kadang lembut dan mudah di ajak berbicara namun terkadang ia sangat cuek seperti tadi.
Nissa menghela nafasnya perlahan. Mengapa aku bisa jatuh hati padamu tuan? Batinnya.
***
Hari ini Nissa kembali bekerja. Seperti biasa Nissa akan bangun lebih awal, apalagi sekarang Ardian memintanya membuatkan sarapan untuk mereka.
Selesai sarapan mereka segera berangkat. Hari ini adalah hari pertamanya kembali mengemudikan mobil setelah kejadian naas itu. Nissa merasa sangat senang sekali, bahkan ia sudah lupa pada sikap dingin Ardian pada saat ulang tahunnya.
Sesampainya di kantor Ardian segera masuk ke ruangannya sementara Nissa memarkirkan mobil di parkiran. Setelah itu Nissa berjalan perlahan menuju lobby kantor.
"Nissa!" panggil seseorang dari belankang.
"Eh, kak Randy," sahut Nissa.
"Kamu sudah janji kalau akan segera menghubungiku bila kamu kembali ke sini," ucap Randy mengingatkan.
Nissa mengulas senyum tipis. "Maaf, kak. Saya lupa," ucapnya lembut.
Mereka berbicara dengan santai. Tanpa sadar mereka telah sampai di depan lift. Randy segera masuk dan Nissa berniat mengukutinya.
"Ekhemm," suara deheman seseorang mengagetkan Nissa.
Nissa menoleh kebelakang dan mendapati Ardian yang kini telah berdiri bersedekap sambil menatap tajam dirinya.
__ADS_1
"Aku tunggu dari tadi rupanya kau malah berada disini," ucap Ardian sinis.
"Maaf, tuan," sahut Nissa.
"Ayo berangkat," titah Ardian pada Nissa.
"Kemana tuan?" tanya Nissa.
"Tidak usah banyak bertanya," jawab Ardian ketus.
Nissa menghela nafasnya. Ia mengemudikan kembali mobilnya mengikuti perintah Ardian.
Saat ini mereka tiba di sebuah restoran terkenal di kota B. Ardian, Nissa dan asisten Roli berjalan masuk ke dalam dan menunggu klien yang berjanji bertemu hari ini.
Sembari menunggu, Ardian memerintahkan pada Nissa untuk memesan makanan dan duduk di kursi yang lain, tidak jadi satu dengannya. Berhubung belum waktunya makan siang maka Nissa hanya memesan segelas jus buah untuk dirinya.
Tak lama klien yang di tunggu datang. Mereka mulai terlibat dalam perbincangan serius. Nissa menatap wajah Ardian yang kini nampak sangat serius berbicara dengan klien tersebut.
"Ganteng," gumamnya lirih.
Pertemuan itu akhirnya berakhir. Setelah itu Ardian memerintahkan Nissa untuk kembali mengemudikan mobilnya.
"Kali ini kita mau kemana, tuan?" tanya Nissa polos.
"Kita ke kota S," jawabnya singkat.
"Wah, jauh sekali. Untuk apa kita kesana, tuan?" tanya Nissa penasaran.
"Ada proyek yang bermasalah disana," jawab Asisten Roli menggantikan Ardian yang kini hanya sibuk menatap ke arah luar melalui jendela mobil di sampingnya.
Nissa mengangguk, matanya melirik Ardian melalui spion mobil. Kemudian ia berbisik pada Asisten Roli yang duduk di sampingnya.
"Mengapa kamu tidak menanyakan sendiri padanya?" tanya Asisten Roli ikut berbisik.
"Saya tidak berani," jawabnya.
"Mengapa?" tanya Asisten Roli lagi.
"Tuan Ardian itu galak dan aneh, sikapnya tidak bisa di tebak," jawabnya jujur.
Asisten Roli terkekeh mendengar ucapan Nissa yang terlalu jujur menurutnya. Di kursi belakang Ardian tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak ada seorangpun yang menyadarinya.
Perjalanan ke kota S memakan waktu yang lumayan lama, sekitar dua jam mereka akhirnya sampai di kota berikon ikan pesut tersebut. Ardian dan Asisten Roli tertidur selama perjalanan sementara Nissa di biarkan mengendarainya sendiri tanpa ada teman berbicara sama sekali. Sungguh keterlaluan.
"Pak Roli, ayo bangun. Kita sudah sampai," Nissa berusaha membangunkan Roli dengan menggerakkan tubuhnya.
Roli terbangun, ia mengerjabkan kedua matanya.
"Cepat sekali sampainya," gumam Asisten Roli.
Asisten Roli mengarahkan Nissa menuju lokasi proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Ia meminta Nissa untuk mengurangi kecepatan mobilnya.
Mobil yang mereka tumpangi kini memasuki area proyek tersebut. Ardian segera turun di ikuti oleh asisten Roli di belakangnya. Nissa pun ikut turun karena penasaran dengan proyek yang sedang di kerjakan Ardian.
Nissa tertegun menatap bangunan yang belum jadi di depannya ini. Ia mengagumi kepandaian Ardian yang mampu menciptakan gedung yang sangat besar dan unik itu. Menurut asisten Roli pusat perbelanjaan yang sedang mereka bangun itu di gadang-gadang akan menjadi ikon kota S yang baru.
Selesai melakukan pemeriksaan secara langsung Ardian kembali ke mobil. Sementara Asisten Roli tidak mengikutinya karena ada tugas lain yang harus di kerjakannya.
__ADS_1
"Mana kunci mobilnya, Nis?" tanya Ardian.
"Ini," jawab Nissa sambil menunjukkan kunci mobil yang kini berada di tangannya.
Ardian meraih kunci mobil tersebut dan berlalu dari hadapan Nissa. Nissa pun melongo melihat sikap semaunya Ardian.
"Ikut aku," perintahnya.
"Kemana, tuan?"
"Bisakah kau menurutiku tanpa harus banyak bertanya?" Ardian kini menatap Nissa dalam-dalam.
Nissa segera mengikuti langkah Ardian dari belakang dan segera masuk ke mobil. Ardian segera menghidupkan mesin mobilnya dan mengarahkannya ke jalan raya.
"Kita ada dimana, tuan?" tanya Nissa, ia heran karena Ardian memghentikan mobil di parkiran sebuah taman. Lampion Garden, Nissa membaca nama taman tersebut.
"Ayo turun," perintah Ardian.
Ardian berjalan memasuki taman di ikuti Nissa. Saat masuk ke dalam Nissa tertegun melihat banyaknya bunga-bunga yang tumbuh dan tertata dengan rapi disini.
Nissa mengedarkan pandangannya ke seluruh taman. Matanya berbinar bahagia melihat pemandangan yang sangat indah dan memanjakan mata ini. Belum lagi aroma semerbak wangi bunga yang menguar mampu menenangkan pikiran.
Nissa melihat sebuah kursi panjang di bawah pohon besar. Ia beranjak kesana dan duduk di kursi tersebut.
Ardian ikut duduk di kursi tersebut, namun ia duduk membelakangi Nissa. Ia menyandarkan tubuhnya pada tubuh Nissa.
Deg deg deg
Jantung Nissa kembali berdetak dengan cepat. Namun tak hanya jantungnya, ia pun bisa merasakan debaran jantung Ardian yang tak kalah cepat.
"Nissa," panggil Ardian.
"Iya, tuan,"
"Aku-,"
Wah, ada apa ini? Apa pak Ardian mau menyatakan cintanya padaku?
"Iya, tuan. Anda kenapa?" tanya Nissa. Ia berusaha tenang.
"Aku mau membicarakan sesuatu sama kamu,"
"Membicarakan apa, tuan?"
"Aku... Aku suka sama kamu, Nis,"
Nissa tercengang dengan penuturan Ardian. Mulutnya menganga sementara matanya membulat sempurna.
"Tuan ini bicara apa?" tanya Nissa tak percaya.
"Aku suka sama kamu, Nissa. Maukah kamu menjadi...?"
BERSAMBUNG
Sudah ya gengss, mbak tika ngantuk.
See u next chapter gengss
__ADS_1
Luv u all 😘😘