
"Hai, Nis,"
"Pak Randy?" Nissa melongo menatap pria bertubuh jangkung yang saat ini berdiri didepannya.
Randy tersenyum melihat raut wajah terkejut milik Nissa.
"Kenapa, Nis? Kamu itu seperti seorang fans yang ketemu dengan sang idola kalau begini," ucap Randy menggoda Nissa.
"Apaan, sih," sahut Nissa malu.
"Siapa, Nis?" terdengar suara Dinda dari arah dapur.
Nissa menoleh kesamping. "Ada Pak Randy," ucapnya berseru.
"Hai, Ran. Aku pikir kamu gak jadi main kerumahku hari ini," ucap Ridho yang kini sudah ada di belakang Nissa.
"Aku tidak pernah mengingkari janji," sahut Randy santai.
Ridho lalu mempersilahkan Randy untuk masuk dan duduk di sofa. Begitupun Nissa, ia ikut duduk di sofa tunggal. Kemudian Dinda keluar membawa minuman serta beberapa camilan seadanya.
"Ayo, silahkan dinikmati. Ini aku buat sendiri, loh," ucap Dinda dengan bangga.
Nissa dan Randy pun mencoba camilan yang di sajikan oleh tuan rumah.
"Gimana rasanya? Enak, kan?" tanya Dinda memaksa.
Nissa mengangguk mengiyakan, sementara Randy hanya mengulas senyum yang seakan dipaksakan.
"Kamu kenapa bisa ada disini, Nissa?" tanya Randy, sebenarnya sudah sejak tadi Randy ingin mengetahuinya, sejak ia melihat Nissa turun dari taksi persis di depan gang.
"Memang salah kalau seseorang mengunjungi sahabatnya?" tanya Dinda.
"Sahabat? Kamu sama istrinya Ridho bersahabat?" tanya Randy heran. Ia melirik Nissa dan Dinda bergantian.
"Tidak disangka, bukan?" celetuk Ridho yang duduk merapat disebelah istrinya.
Randy bersandar kebelakang sambil tersenyum tak percaya. Benar-benar keberuntungan, pikirnya. Randy yang sudah lama memendam rasa pada Nissa seperti mendapat jackpot karena mengetahui jika gadis incarannya adalah sahabat dari istri Ridho, sahabatnya sendiri.
Randy memandangi Nissa yang kini sedang sibuk memasukkan camilan ke dalam mulutnya. Camilan yang menurutnya memiliki rasa yang sangat tidak wajar. Namun Nissa dengan santainya memakan camilan itu.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian larut dalam obrolan santai. Mereka saling menanyakan kabar satu sama lain, tak lupa dengan kegiatan mereka selama ini serta kejadian apa saja yang telah mereka alami.
"Gimana kalau hari ini kita pergi ke WAHANA?" ajak Dinda dengan antusias.
"WAHANA apaan?" tanya Nissa, sebagai warga baru tentu saja ia tidak mengenal arena permainan yang di maksud Dinda.
"WAHANA itu bisa dikatakan sebagai Du*annya Kota B ini," ucap Randy menjelaskan.
"Iya, Din?" tanya Nissa dengan mata berbinar. Dari dulu Nissa memang ingin pergi ke wahana bermain seperti Du*an.
"He-em. Jadi gimana, mau ikut atau enggak?" tanya Dinda mencoba menarik perhatian Nissa.
"Ayo," segera Nissa berdiri, membuat tiga orang yang berada disitu merasa heran dengan perubahan sikap Nissa.
"Ayo, katanya mau pergi ke WAHANA," ajak Nissa yang kini terlihat sangat bersemangat.
Mendengar ucapan Nissa seketika membuat Randy berdiri dari duduknya. Ridho dan Dinda pun sama. Nissa kemudian membantu Dinda membersihkan kekacauan yang mereka buat di ruang tamu sebelum berangkat.
***
Nissa menatap wahana Kora-Kora di depannya dengan takjub. Jantungnya berdetak sangat kencang karena terlalu senang. Kakinya sendiri sudah tidak sabar ingin melangkah ke dalam kapal berayun tersebut. Sementara Randy hanya menatap wajah bahagia Nissa sambil terus tersenyum.
Kini Nissa dan Randy sudah berada di dalam. Nissa memilih duduk di belakang karena ia yakin sensasinya akan lebih terasa bila duduk disana.
"Aaaaaaa!!!" Nissa dan Randy berteriak saat perahu itu berayun tinggi.
Mereka merasakan sensasi yang belum penah mereka rasakan, serasa ada yang menggelitiki perut.
Sementara itu Dinda dan Ridho lebih memilih untuk menikmati wahana yang santai dan tidak terlalu menantang. Seperti saat ini, mereka berdua sedang duduk di atas kuda yang bergoyang naik turun dan berputar. Biasa di tempat author disebut komidi putar.
Setelah puas menikmati wahana perahu berayun kini Nissa dan Randy duduk di sebuah bangku sambil menikmati segelas besar es teh manis. Nissa memang bukan gadis kota yang memilih minuman kekinian yang menurutnya lumayan menguras isi kantong.
"Gimana, Nis? Yang tadi seru, gak?" tanya Randy.
"He-em," sahut Nissa, mulutnya masih sibuk menyesap minuman melalui selang plastik berwarna putih itu.
"Beneran?" tanya Randy merasa jawaban Nissa kurang meyakinkan.
"Iya, bener," ucap Nissa kemudian.
__ADS_1
Nissa merasa kekesalan yang dirasakannya tadi pagi seolah sirna setelah berteriak saat wahana yang di naikinya berayun. Ia merasa seolah semua rasa stressnya menguap begitu saja. Ada bagusnya juga Dinda mengajak kesini.
"Nis, waktu itu kamu janji mau memberi penjelasan tentang hubunganmu dengan Pak Ardian," ucap Randy tiba-tiba.
"Oh, tentang itu. Maaf, selama ini belum ada waktu," sahut Nissa.
"Ridho cerita, katanya kamu jadi pelayan pribadinya Pak Ardian. Apa itu benar?" tanya Randy penasaran.
"He-em. Apa yang kamu bilang barusan memang benar. Aku sekarang bekerja sebagai pelayan Tuan Ardian. Tapi kalau di luar aku menjadi supir sekaligus pengawal pribadinya," ucap Nissa menjelaskan.
"Bagaimana bisa?" tanya Randy heran.
"Ya, bisa saja, kan," sahut Nissa singkat. Ia merasa tidak perlu menjelaskan semuanya pada Randy.
"Waktu itu Pak Ardian juga pernah mengatakan kalau kamu itu istrinya, apa itu juga benar?" tanya Randy, sebenarnya ia sangat berharap jika jawabannya adalah tidak.
"Pfftt, hahahahaha!" Nissa tertawa memdengar pertanyaan Randy yang ia pikir sangat konyol.
"Pak Randy ini bagaimana, sih? Bapak itu dikenal sebagai karyawan berprestasi di perusahaan, tapi mengapa bapak malah memberikan saya pertanyaan yang bapak sendiri tau jawabannya.," ucap Nissa panjang lebar.
"Maksudnya, Nissa?" tanya pak Randy lagi.
"Coba bapak pikir. Memang ada seorang suami yang membiarkan istrinya memasukkan sendiri barang belanjaan kedalam mobil sementara dia malah bersantai ria," ucap Nissa lagi.
Randy berpikir sejenak, benar apa yang dikatakann Nissa, pikirnya. Ia melirik gadis yang duduk di sampingnya ini. Berarti aku masih punya kesempatan untuk merebut hatimu, Nissa. Batinnya.
Setelah itu mereka berdua terlibat dalam obrolan santai. Tak lama datang Dinda dan Ridho bergabung bersama mereka. Dinda kembali mengusulkan untuk berjalan-jalan ke pantai yang tak jauh dari kota B. Mereka ingin menikmati hari ini karena jarang sekali mereka bisa berkumpul. Apalagi untuk dua orang sahabat ini, Nissa dan Dinda.
Saat ini Nissa berjalan menyusuri pantai tanpa mengenakan alas kaki setelah tadi ia dan tiga orang tadi singgah ke sebuah warung makan untuk menyantap makan siang.
Randy turut berjalan di sebelah Nissa. Mereka berjalan menikmati keindahan pantai ini, sebuah pantai berpasir putih yang terletak di perbatasan kota. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka berdua. Semuanya larut dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu sepasang suami istri sedang berjalan tak jauh dibelakang sambil bergandengan tangan. Terkadang Ridho mencium punggung tangan Dinda, namun terkadang ia mencuri sekilas kecupan di bibir Dinda, hingga membuat sang empunya merona. Beberapa pasang mata yang menangkap kemesraan sepasang sejoli itu merasa iri, namun ada juga yang menganggap mereka tidak tahu malu.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar berukuran besar seorang pria tengah duduk bersandar di ranjang sambil memegang sebuah tablet.
Ardian yang merasa bosan memilih untuk memghabiskan hari liburnya dengan bersantai di kamar. Dari tadi ia berguling kesana kemari mencoba untuk memejamkan matanya namun ia tak bisa tertidur.
Ia mencoba menghubungi Roli, namun sang asisten ternyata sedang berkencan dengan kekasihnya. Kemudian ia menghubungi Nissa, namun berkali-kali ia mencoba hasilnya nihil. Nissa masih belum menghidupkan ponselnya.
__ADS_1
Akhirnya Ardian meraih tabletnya dan membuat sebuah daftar pekerjaan yang akan diberikan pada Nissa sebagai bentuk hukuman untuknya. Siapa suruh meninggalkanku sendirian di apartemen, batinnya tersenyum licik.
BERSAMBUNG