Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Isi Hati Ardian


__ADS_3

POV Ardian


Pengkhianatan yang di lakukan Ana membuat hatiku sungguh terluka. Aku memutuskan pergi di hari pernikahan kami karena aku takut jika hanya saling menyakiti di sepanjang biduk rumah tangga yang akan kami jalani.


Aku pergi ke kota B, disana aku bersembunyi dari semua orang yang mengenalku. Setiap malam aku menghabiskan waktu di klub malam. Di tempat itulah aku pertama kali merasakan nikmatnya bibir seorang wanita.


Setelah itu klub malam menjadi tempat favoritku. Para wanita disana sangat memanjakanku. Beberapa dari mereka bahkan pernah bertela**ang di depanku. Menampakkan kedua bukit kembar mereka yang padat berisi dan dua buah b*k*ng mereka yang sangat sintal.


Jika kalian berpikir aku tergoda, maka jawabannya benar. Memang siapa yang tidak tergoda di sajikan 'makanan' yang menggugah selera seperti itu. Apalagi mereka tak meminta bayaran dariku. 'Tester Gratis' katanya.


Namun jika kalian berpikir aku bersikap seperti seorang ********, maka jawabannya adalah SALAH BESAR. Aku tak akan semudah itu menyerahkan kejantananku pada wanita murahan seperti mereka. Bahkan sampai sekarang aku masih perjaka, ya walaupun tangan dan bibirku telah travelling kemana-mana.


Di klub malam itulah aku bertemu dengan Edi. Pria misterius yang selalu hadir membantuku. Di dekatnya aku merasa nyaman dan berani mengungkapkan semua permasalahnku.


Jangan pikir jika kami adalah salah satu 'PELANGI'. Kami adalah pria normal yang hanya mencoba saling curhat. Walaupun lebih banyak aku yang curhat. Dan Edi sudah ku anggap sebagai kakaku sendiri.


Beberapa bulan kemudian keluarga mengetahui keberadaanku. Padahal aku sudah tidak pernah melakukan transaksi digital lagi untuk menghindari mereka.


Kak Hendri datang membawa kabar buruk. Ibu sakit keras hingga harus dirawat di rumah sakit. Mendengar wanita yang telah melahirkanku sakit aku bergegas pulang ke kota T, kota yang penuh kenangan namun sangat menyakitkan.


Ibu sakit karena terlalu merindukanku. Karena beliau pikir aku hidup dalam kubangan penderitaan. Padahal aku bahagia karena dikelilingi para wanita cantik dan seksi.


Malam itu aku menginap di rumah sakit. Hatiku pedih melihat banyaknya selang yang menempel di tubuhnya. Aku merasa gagal menjadi seorang anak. Seharusnya aku menghubunginya jika aku baik-baik saja. Namun aku malah bersembunyi.


Aku memang sakit dan terluka karena pengkhianatan Ana, namun hal itu hanya kurasalan sesaat. Aku telah melupakannya. Buat apa aku memikirkan perempuan seperti dia, yang tidak memiliki rasa setia pada pasangannya. Aku bersyukur karena mengetahui belangnya sebelum kami sah menjadi pasangan suami istri.

__ADS_1


Pedih yang kurasakan saat Ana berkhianat tak seberapa dibanding saat melihat ibu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku menciumi tangannya, memanggilnya berkali-kali berharap ia segera terbangun.


Semalaman aku tak bisa tidur dan terus berada disamping ibu. Kuucapkan kata maaf berkali-kali. Aku berjanji akan membahagiakan ibu jika ia sadar nanti.


Beberapa hari kemudian ibu terbangun dari komanya. Beliau menangis melihatku berada di sampingnya. Hatiku kembali teriris melihat ibu berurai air mata seperti itu, padahal selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Bisa kurasakan betapa ibu sangat merindukanku, anak yang menyusahkan orang tua ini.


Beberapa minggu berlalu dan kondisi ibu pun semakin baik. Pagi ini aku kembali ke rumah sakit membawakan buah jambu kristal permintaan ibu. Aku membuka buah jambu yang terbungkus koran itu. Tanpa sengaja aku melihat berita yang tertera di koran tersebut.


Tanganku mengepal, rahangku mengeras. Wajahku terpampang nyata di koran itu. Aku ingat, gara-gara berita ini bisnis perhotelan keluargaku hampir bangkrut. Saat itu pernikahannku tinggal beberapa bulan lagi, tapi karena masalah ini aku mengalihkan perhatianku dan memilih fokus memperbaiki citra hotel yang telah dibangun susah payah oleh ayahku.


Akibatnya Ana berselingkuh di belakangku. Ia merasa aku mengabaikannya hingga ia mencari perhatian pada orang lain. Bahkan ia juga berani melakukan hal yang aku sendiri enggan untuk melakukannya.


Aku mengingat gadis yang menjadi lawan seteruku waktu itu. Darahku mendidih kala mengingat betapa sombong dan beraninya gadis yang kuyakin masih berusia belasan tahun itu. Ah, andai saja aku tak bertemu dengannya. Tapi kalau kupikir lagi, bukan aku yang salah, tapi dia. Dia yang lebih dulu mengajak untuk berseteru denganku.


Dalam hati aku berjanji, akan balas dendam padanya jika aku bertemu dengannya lagi. Aku selalu berdoa, berharap gadis itu tertimpa masalah dan harus bertemu denganku entah bagaimana caranya. Yang kutahu aku tidak akan pernah melepaskannya.


Perusahaan berkembang dengan sangat pesat. Dan di tahun ketiga aku berhasil membangun gedung kantorku sendiri. Tidak menyewa lagi. Aku membuka lowongan pekerjaan untuk menempati beberapa divisi di perusahaan. Targetku adalah putra dan putri daerah yang berprestasi di bidangnya masing-masing.


Aku bahkan memberikan upah diatas standar negeri ini. Menurutku semakin baik upah mereka maka akan semakin giat pula mereka bekerja.


Tiba saat dimana aku memberikan pidato selamat datang pada karyawan baru sekaligus peresmian gedung kantorku yang baru. Baru beberapa menit aku memberikan pidato, mataku menangkap sosok gadis berambut pendek yang berjalan mengendap-ngendap dan masuk ke dalam barisan divisi keamanan.


Roli memang memberitahuku jika ada seorang gadis yang diterima sebagai salah satu petugas keamanan. Awalnya aku tak percaya, bagaimana bisa ada seorang wanita yang bisa diterima sedangkan banyak pria yang gagal dalam tes yang kuberikan.


Aku mengamati wajah gadis yang sepertinya menyembunyikan wajahnya itu. Aku seperti mengenalnya, tapi siapa?

__ADS_1


Dan dihari itu pula aku akhirnya bertemu dengan gadis pembuat onar itu. Dia ternyata adalah gadis yang kulihat di lobby tadi pagi. Aku menebak siapa dirinya, namun gadis itu selalu mengelaknya.


Aku mencari identitasnya. Dan benar. Dia memang si gadis titisan nenek lampir. Hatiku sangat gembira. Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk membalaskan dendamku.


Aku melakukan segala cara agar ia terluka dan menyerah. Mulai dari mengucilkannya, namun ia masih santai seperti hal itu sudah biasa ia rasakan. Aku melalukan cara lain, aku memotong gajinya, namun ia masih bisa memenangkan duel ini dan berhasil membuatku mengakui kekalahan.


Aku mencari kelemahannya lagi, dan akhirnya aku mengetahui jika suami sahabatnya bekerja di divisi yang sama di perusahaan. Aku akhirnya memecat Ridho, suami sahabatnya. Memang caraku sungguh hina, namun aku sangat puas saat berhasil melakukannya.


Nissa akhirnya menyerah, ia memilih mengundurkan diri dengan syarat Ridho bisa kembali bekerja. Aku sungguh salut padanya. Ia rela menderita demi orang yang ia sayang.


Hal itu membuatku semakin penasaran. Aku pun mengubah keputusanku, aku ingin mengenalnya lebih dekat. Dia harus tetap berada didekatku. Lalu kubuat dia menjadi pelayan pribadiku.


Awalnya ia menolak, namun setelah aku mengiminginya dengan gaji yang besar ia menerima dengan syarat aku harus memberikan gajinya selama enam bulan dimuka. Dasar mata duitan, itulah yang ada di benakku.


Selama bekerja padaku ia selalu menuruti segala perintahku. Kadang aku suka tertawa sendiri melihat tingkahnya yang kadang galak, kadang imut, namun tetap polos. Aku tidak pernah tertawa selepas ini setelah kejadian pengkhianatan itu.


Namun berita rencana pertunangan Ana dan David kembali mengingatkanku pada kejadian saat ibu harus terbaring koma di rumah sakit. Awal dari segalanya adalah dia. Dia yang kini menjadi pelayanku adalah dia yang dulu menjadi biang dari segala permasalahanku beberapa tahun lalu. Emosiku kembali memuncak. Aku kembali bersikap jahat padanya.


Hingga pada malam itu, saat aku mabuk setelah pulang dari pertunangan Ana dan David. Aku menciumnya, awalnya hanya kecupan kecil. Namun aku merasakan getaran aneh pada tubuhku.


Sudah banyak wanita yang kunikmati bibirnya, namun berbeda dengan bibir Nissa. Aku kembali mengecupnya, dan yang ketiga kali bukanlah sebuah kecupan lagi. Namun aku melu*atnya, manis, sungguh manis. Mengapa bisa semanis ini? Aku segera kembali pada kesadaranku dan meninggalkannya di sofa begitu saja.


Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku tidak boleh jatuh cinta padanya.


***

__ADS_1


Masih ada ya gengss, hari ini pasti up, tapi jamnya belum pasti.


Sabar ya gengss.


__ADS_2