
Setelah mengantar Thalita kembali ke rumahnya dengan selamat, Ardian kini mengarahkan kemudi kembali ke kota B. Namun bukan apartemen tujuannya saat ini, melainkan klub malam. Tempat yang selalu menjadi lokasi favoritnya untuk melepas semua permasalahan hidup selama lima tahun ini.
Penjaga pintu di klub malam yang berpenampilan seperti preman itu langsung membukakan pintu saat Ardian tiba. Mereka memperlakukan Ardian sangat istimewa karena selain ia adalah pengunjung tetap namun Ardian juga bersahabat dengan pemilik klub malam ini.
"Selamat malam, Bos Ardian," sapa penjaga pintu itu.
"He-em," sahut Ardian singkat.
Ardian melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang VIP yang memang sudah disediakan khusus untuknya hingga ia tak perlu bersusah payah untuk memesan ruangan tersebut.
Seorang pelayan masuk dan menanyakan apa yang diinginkan pria itu sekarang.
"Selamat malam, Bos. Apa anda ingin memesan sesuatu, seorang gadis cantik misalnya?" tanya pelayan itu genit, dengan belahan dada yang rendah sudah pasti para lelaki akan meneguk liur melihat sepasang bukit kembarnya yang montok menggoda.
"Panggilkan saja Edi kemari," titahnya pada pelayan itu.
Pelayan itu beranjak keluar setelah mendapat perintah Ardian. Namun Ardian memanggilnya sebelum ia mencapai pintu.
"Tunggu sebentar. Berikan aku minuman terbaik disini," titahnya lagi, kali ini lebih mengintimidasi.
Pelayan itu segera keluar dan kembali ke dalam tak lama kmudian. Ia membawa sebotol minuman keras ditangannya.
"Silahkan dinikmati, Bos. Ada lagi yang anda butuhkan?"
Ardian mengibaskan tangannya meminta pelayan itu segera keluar dari ruangannya. Sesaat setelah pelayan itu pergi, Edi sang pemilik klub masuk menemuinya.
"Hai, Di," sapanya kemudian mengambil tempat duduk di dekat Ardian.
Ardian hanya tersenyum tipis untuk membalas sapaan Edi. Edi mengedarkan pandangan ke dalam ruangan kemudian tatapannya tertuju pada meja di depannya.
"Tumben loe minum, Di," ucap Edi heran sekaligus bingung karena tak biasanya Ardian minum minuman beralkohol seperti ini.
"Lagi pengen aja," sahutnya. Tangannya sibuk menuang cairan dari dalam botol bergambar tengkorak ke dalam sloki.
Ardian menenggak minuman itu, rasa manis dan pahit bercampur jadi satu, belum lagi perasaan terbakar di kerongkongannya.
Namun ia kembali meminumnya, walaupun rasanya lebih dominan pahit ia malah penasaran dan menenggaknya lagi, lagi, dan lagi.
"Gue denger hari ini Ana tunangan, Di?" tanya Edi.
"He-em," lagi, Ardian hanya menyahutinya.
"Jangan bilang kalau loe habis dari sana," ucapnya penasaran.
"Gue memang habis dari sana," sahut Ardian ketus.
"Pantesan loe minum," ujar Edi sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Kenapa memang kalo gue minum?" Ardian kembali menenggak cairan berwarna merah kecoklatan tersebut.
"Loe masih cinta sama Ana?" tanya Edi curiga.
"Kata siapa? Gue sudah gak punya perasaan apa-apa lagi sama dia," jawabnya.
"Terus, kenapa loe minum?" tanya Edi lagi. Walaupun persahabatan mereka baru terjalin selama lima tahun tetapi Ardian selalu menceritakan masalah yang di hadapinya pada Edi.
"Gue kesel aja liat dia bahagia, sementara gue hidup menderita karena perbuatannya ngekhianatin gue dulu," ucap Ardian menjelaskan.
"Coba loe berdamai sama masa lalu, Di. Gue yakin loe pasti bisa bahagia juga," ucap Edi menasehatinya.
__ADS_1
"Gue gak tau gimana caranya berdamai sama masa lalu gue, yang ada gue selalu ngerasain sakit hati tiap ketemu sama orang-orang dari masa lalu gue. Apalagi kalau ketemu sama si biang kerok itu, rasanya pengen gue tenggelamin tu anak di kali," tutur Ardian sedikit kesal.
"Mantan selingkuhan si Ana, ya?" tanya Edi menebak.
Ardian menggeleng. "Bukan, tapi cewek yang jadi awal dari semua permasalahan gue sama Ana," jawabnya.
"Siapa? Loe gak pernah cerita ke gue soal ini,"
"Ada pokoknya," sahut Ardian singkat.
"Loe jangan nyalahin orang lain yang gak tau apa-apa, Di," saran Edi.
"Tapi kalau dia gak bikin masalah waktu itu gak bakalan Ana selingkuh," sahut Ardian kesal.
"Denger, Di. Gue gak tau apa masalah loe sama cewek itu, yang gue tahu dan gue yakin, kalo Ana memang setia sama loe, dia gak bakal selingkuh dengan alasan apapun. Jadi gue harap loe gak berbuat sesuatu yang bakal loe sesali nantinya," jelas Edi panjang lebar.
Ardian yang mendapat nasehat dari sahabatnya itu malah semakin kesal. Ia merasa tidak ada satupun orang yang memahami perasaannya.
"Mendingan loe keluar deh, gue lagi pengen sendiri," ucap Ardian sambil mengibaskan tangannya.
Edi yang paham dengan kondisi Ardian memilih keluar menuruti permintaan sahabatnya itu. Ia mengerti betul dengan sifat Ardian yang tidak mau menerima pendapat orang lain.
Setelah Edi keluar, Ardian kembali menenggak minuman itu langsung dari botolnya. Entah mengapa semua orang membuatnya kesal hari ini.
Mulai dari acara pertunangan Ana, Thalita yang meminta kepastian hubungan, lalu Edi yang mencoba ikut campur dengan urusannya dan Nissa.
Ardian kembali menenggak minuman tersebut hingga tandas tak tersisa. Kemudian ia kembali memanggil pelayan dan meminta minuman itu lagi.
Lagi dan lagi, Ardian seperti tidak merasa puas dengan minumannya. Lagipula semakin ia minum, semakin ia merasa kekesalannya perlahan berkurang.
Satu Jam Kemudian.
"Nissa... pelayanku yang cantik. Hek... Hek...." ucap Ardian diselingi dengan cegukan.
Setengah jam yang lalu Ardian sempat menghubungi Nissa sebelum ia mabuk berat seperti saat ini. Ardian menyuruh Nissa untuk menjemputnya karena ia merasa tidak sanggup pulang dan mengendarai mobil sendiri. Dan sebagai pelayan yang multitalenta tentu saja Nissa segera datang karena memang sudah menjadi tugasnya memastikan tuannya itu pulang dengan selamat.
"Kamu siapa?" tanya Edi ketika ia masuk kembali ke ruang VIP tersebut dan melihat Nissa yang duduk tak jauh dari Ardian.
"Saya Nis..."
"Dia cewek yang gue maksud tadi, hek... hek," sahut Ardian cepat.
Edi menatap Nissa dan Ardian bergantian. Kemudian ia tersenyum.
"Gue paham sekarang, Di. Jadi ini cewek yang loe anggap biang kerok itu?" tanya Edi.
Ardian hanya mengangguk sementara matanya sudah terpejam, namun cegukannya tak kunjung berhenti. Sementara Nissa hanya menatap sebal pada makhluk yang kini telah menikmati sensasi mabuknya. Apa-apaan ini, kenapa aku dibilang biang kerok? Batinnya.
"Terus kenapa kamu ada disini?" tanya Edi pada Nissa.
"Saya supirnya Tuan Ardian," jawab Nissa.
"Apa? Supir?" tanya Edi tak percaya. Edi melongo menatap Nissa. Mana ada supir secantik dan seimut ini, batinnya.
"Iya, saya supir," jawab Nissa sekali lagi.
"Dasar loe makhluk gak tau terima kasih, Di," kata Edi sambil menatap Ardian yang kini menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Hek... hek," hanya suara cegukan Ardian yang menyahuti ucapannya barusan.
__ADS_1
"Kamu kok mau dijadikan supir sama Ardian?" selidik Edi. Ia sangat penasaran mengapa ada gadis seperti Nissa yang mau bekerja dengan sahabatnya itu. Apalagi Ardian tadi mengatakan jika ia ingin menenggelamkan gadis ini.
"Karena saya butuh pekerjaan," jawab Nissa singkat.
"Tapi kenapa harus supir? Apa kamu tidak mencari pekerjaan yang lebih cocok untuk gadis sepertimu?"
"Saya bekerja sesuai dengan keahlian saya," jawab Nissa.
Edi tak bisa berkata lagi setelah Nissa menjawab seperti itu.
"Bisa tolong bantu saya membawa Tuan Ardian ke mobil?" pinta Nissa.
"Bisa."
Edi lalu membantu Nissa membawa Ardian ke mobil. Ardian di baringkan di kursi penumpang di bagian belakang. Setelah Nissa mengucapkan terima kasih ia segera melajukan mobil itu pulang ke apartemen. Sementara Edi hanya bisa menatap kepergian mereka dengan senyuman yang tak bisa diartikan. Hanya Author yang tahu.
***
Nissa kini sudah berada dalam ruang tamu setelah tadi ia susah payah menyeret tubuh Ardian seorang diri dari parkiran ke dalam unitnya. Nissa membaringkan tubuh Ardian ke dalam sofa.
Nissa melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Ardian. Lalu ia mengambil air hangat dan membersihkan wajah Ardian dengan mengelapnya. Ia juga mengelap tangan dan kakinya. Benar-benar romantis, Nissa sudah seperti seorang istri yang mengurus suaminya yang sedang mabuk.
Nissa naik ke lantai dua mengambil selimut di kamar Ardian. Lalu Nissa menutupi tubuh Ardian dengan selimut.
GREP
Ardian meraih pergelangan tangan Nissa dan menariknya hingga Nissa jatuh ke atas tubuhnya. Nissa yang terkejut mencoba untuk bangun namun tubuhnya ditahan oleh Ardian dengan tangannya yang lain.
"Diam, Nis," ucapnya dengan suara serak.
Ardian membuka matanya perlahan, ia menatap wajah Nissa dengan lekat. Sementara Nissa sendiri kini telah merona.
"Aku benci kamu, Nissa," ucapnya.
Nissa yang mendengar hanya bisa menghela nafas perlahan.
"Kalau itu saya sudah tahu tanpa anda mengatakannya, Tuan Ardian," ucapnya polos.
"Aku benci kenapa kamu harus memiliki wajah secantik ini," ucap Ardian lagi.
Nissa melongo mendengar perkataan Ardian tadi.
CUP
Ardian mengecup bibir Nissa dengan singkat. Nissa yang dicium tiba-tiba seperti itu langsung geram karena tidak terima.
CUP
Belum sempat Nissa menyalurkan amarahnya Ardian kembali mencium bibir merah muda milik Nissa membuat sang empunya menjadi bertambah geram.
Entah ada angin apa Ardian mengarahkan tangan kanannya kebelakang kepala Nissa dan kemudian tiba-tiba membawanya mendekat pada wajahnya hingga mereka kembali menyatukan bibir untuk ketiga kalinya.
Kali ini bukan hanya kecupan singkat, tapi sebuah ******* Ardian berikan pada bibir tipis ini. Nissa berusaha berontak namun Ardian menahan kedua tangan Nissa dengan satu tangannya.
Ardian membalik tubuh mereka hingga kini posisinya berada diatas Nissa. Bibirnya kembali melahap bibir Nissa. Nissa yang tidak pernah merasakan ciuman berusaha mengatupkan bibir namun bukan Ardian namanya bila ia tak bisa menaklukkan si pemilik bibir ini.
Perbuatan Ardian terhenti saat ia melihat air mata mengalir di wajah Nissa. Sesaat kemudian ia menyadari perbuatannya lalu segera bangkit dan beranjak masuk ke kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Nissa yang kini telah menangis sesenggukan.
Bukan, bukan karena ciuman itu yang membuatnya menangis. Tapi karena perbuatan Ardian tadi membuatnya kembali mengingat peristiwa kelam yang pernah terjadi padanya saat ia berumur 13 tahun. Peristiwa kelam yang membuatnya harus merasakan hinaan dan perundungan dari tetangga dan teman sekolahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Hai readers, jangan lupa like and comment ya 🥰 Supaya Mbak Tika semakin bersemangat dalam berkarya.