Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Mengapa Sesakit Ini?


__ADS_3

Dengan berurai air mata Nissa melangkahkan kaki keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Hatinya teramat perih mendengar perkataan Ardian pada Ica.


Nissa menyadari perasaannya terhadap Ardian ternyata hanyalah perasaan sepihak. Ia juga menyadari kesalahannya karena telah jatuh hati kepada orang yang salah. Namun siapa yang bisa menebak hati ini akan berlabuh dimana?


Nissa menghentikan sebuah taksi yang melintas. Nissa menyebutkan alamat rumah Dinda saat supir menanyakan arah dan tujuannya. Mungkin berkunjung ke rumah Dinda bisa mengurangi rasa sakit di hati ini, pikirnya.


Rumah Dinda tampak lengang. Apa mungkin Dinda pergi bersama Ridho, batinnya. Namun Nissa tetap menekan bel di pagar rumah tersebut.


"Nissa!" teriakan Dinda mengejutkan Nissa.


Nissa hanya menyunggingkan seulas senyuman. Ia bernafas lega karena ternyata sang pemilik rumah berada ditempatnya.


"Tumben kesini tidak menghubungiku dulu?" tanya Dinda dengan wajah penuh tanya.


"Mau bikin kejutan," jawab Nissa asal, ia mengulas senyuman yang sedikit dipaksakan.


Dinda menyipitkan matanya, ia yakin ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Apalagi wajah Nissa tampak sembab. Suaranya pun terdengar agak sengau.


"Yasudah, ayo masuk," ia menggamit lengan Nissa dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Aku bikinkan minuman dingin dulu, ya," ucap Dinda saat mereka sudah masuk ke dalam.


"Tidak usah repot-repot, Din. Keluarkan saja semua yang kamu punya," sahut Nissa.


"Bisa aja, ni anak," sahut Dinda menimpali gurauan receh Nissa tadi.


Dinda membuat segelas besar es teh untuk tamu kesayangannya ini. Setelah itu ia membawa minuman tersebut di temani dengan satu toples keripik singkong pedas.


"Maaf ya, Nis. Aku cuma punya ini aja," ucap Dinda sambil meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja.


"Terima kasih, Din,"


Nissa mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Ia mencari keberadaan Ridho.


"Ridho mana?"


"Pergi mancing bareng Randy," jawab Dinda.


Nissa membulatkan mulutnya sambil menganggukkan kepala.


"Sekarang kamu bebas cerita sama aku, Nis," ucap Dinda.


Nissa tersentak, ia yakin jika Dinda pasti merasa ada yang tidak beres dengannya. Walaupun ia sudah menutupinya namun Dinda selalu mengetahuinya. Apalagi Dinda tahu jika Nissa bukanlah tipe orang yang pandai berbohong. Jadi lebih baik ia berbicara mengeluarkan isi hatinya.


"Din, apa aku tidak pantas untuk jatuh cinta?" tanya Nissa.

__ADS_1


"Husshh, jangan ngomong gitu, semua orang berhak jatuh cinta," jawab Dinda.


"Tapi kenapa hatiku sakit saat merasakan jatuh cinta. Kata orang jatuh cinta itu bisa buat orang bahagia, tapi kenapa aku jadi sedih?" tanya Nissa dengan tatapan sendu.


Dinda menghela nafasnya perlahan. "Kamu sedang jatuh cinta, Nis?"


Nissa mengangguk. "Pada siapa?" tanya Dinda lagi.


Nissa menunduk, ia ragu untuk mengatakan siapa orang yang telah mengusik hatinya sekaligus menghancurkan perasaannya.


"Kamu jatuh cinta dengan pak Ardian, ya?" tanya Dinda menebak.


Nissa masih tetap menunduk, ia tak sanggup menjawab pertanyaan sahabatnya. Perlahan setetes cairan bening turun membasahi pipinya.


Dinda kembali menghela nafasnya, ia yakin jika pertanyaan yang dilontarkannya tadi memang benar. Terbukti dengan diamnya Nissa saat ini.


Dinda beranjak mendekati Nissa, kemudian ia meraih tubuh sahabatnya ke dalam pekukannya. Seketika tangis Nissa pecah. Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan segala perasaan yang menghimpit dadanya.


"Apa jatuh cinta itu sesakit ini, Din?" tanya Nissa dalam isakannya.


Dinda ikut meneteskan air mata, ia menepuk bahu Nissa, berharap bisa meredakan tangisnya.


"Kata siapa? Jatuh cinta itu indah, Nis," jawabnya.


"Lalu kenapa aku merasa tersakiti? Apa aku tak pantas untuk dicintai, atau aku yang jatuh cinta pada orang yang salah?" tanya Nissa lagi.


"Semua orang berhak untuk jatuh cinta dan dicintai, dan jangan pernah merasa jika kamu jatuh cinta pada orang yang salah. Waktunya saja mungkin yang tidak tepat," ucap Dinda.


"Dia bilang aku tidak pantas bersanding dengannya, dia bilang kami tak selevel, dia bilang aku hanyalah ba-bunya saja, Din," ucap Nissa mengadu. Tangisnya belum ada tanda akan reda.


Dinda terperanjat saat mendengarnya. Dalam hati ia mengumpat Ardian habis-habisan. Kalau saja Ardian berada di dekatnya mungkin sudah ia cincang saat itu juga.


"Apa dia sendiri yang berbicara seperti itu padamu?" tanya Dinda.


Nissa menggeleng, "aku mendengarnya saat ia mengatakan itu pada adiknya," jawabnya.


"Apa kamu yakin jika dia membicarakanmu?" tanya Dinda, ia hanya takut jika Nissa telah salah paham.


"Aku yakin, Din. Aku mendengar semuanya," jawab Nissa.


"Lalu, apa pak Ardian mengetahui perasaanmu?" tanya Dinda lagi.


Nissa menggeleng. Dinda kembali meraih Nissa ke dalam pelukannya. Ia kembali menepuk bahu Nissa, perlahan tangis gadis itu pun reda.


"Kamu sabar ya, Nis. Kalau pak Ardian memang jodohmu pasti suatu saat dia akan sadar dengan perasaanmu. Tapi kalau memang bukan, cobalah untuk melupakannya. Dan bukalah hatimu untuk orang lain," ucap Dinda menasehatinya.

__ADS_1


Nissa menganggukkan kepala. Mungkin akan sulit, karena dia adalah orang pertama yang meluluhkan hatiku sejak peristiwa kelam itu, pikirnya.


"Lagipula kamu kok bisa jatuh cinta sama pak Ardian, sih? Bukankah dia selalu berbuat semena-mena padamu, dan kamu pun sangat membencinya," ucap Dinda heran.


Nissa diam, ia hanya mengedikkan bahunya. Melihat itu jiwa-jiwa netizen Dinda pun meronta.


"Dasar aneh, katanya benci tapi sekarang nangis-nangis bilang cinta. Jelas-jelas orang itu jahat banget sama kamu, tapi kamu malah jatuh cinta sama dia," cibirnya.


"Hatiku yang memilihnya, walaupun tubuh dan pikiranku menolaknya," sahut Nissa.


"Cinta memang gila," sahut Dinda menimpali.


Nissa terkekeh geli, padahal tadi Dinda sendiri yang mengatakan jika jatuh cinta itu indah. Kini perih di hatinya berkurang sedikit. Walaupun masih terasa namun setidaknya Nissa sudah bisa menerima kenyataan jika cintanya bertepuk sebelah tangan.


Kriin kriing


Ponsel Nissa berdering, ternyata Ardian yang memanggilnya. Nissa menatap nanar pada layar ponsel yang kini menampilkan nama Ardian yang sudah berganti dengan 'Pak Bosku'.


Nissa sengaja tak mengangkatnya, hatinya masih sakit atas kejadian tadi. Walaupun Ardian tidak mengatakan padanya namun ia mendengar sendiri ucapan tersebut keluar dari mulut pria yang memiliki hatinya. Setelah itu Nissa menonaktifkan ponselnya dan menyimpannya ke dalam tas.


Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Bel rumah Dinda berbunyi. Dinda pun keluar di ikuti Nissa.


Ternyata Ridho pulang dari kegiatan memancingnya bersama Randy. Randy tersenyum sumringah melihat Nissa yang berdiri disamping Dinda.


Hari ini Ridho membawa banyak sekali ikan dari hasil memancingnya tadi. Dinda segera membersihkan ikan-ikan tersebut di bantu Nissa. Sementara Ridho membersihkan diri di kamarnya. Randy pun sama, ia memang sudah membawa pakaian ganti dari rumahnya.


Selepas Maghrib mereka berempat makan malam dengan lauk ikan bakar hasil memancing tadi. Di temani lalapan dan sambalnya mereka makan dengan lahap. Sejenak Nissa melupakan kesedihannya.


Pukul delapan malam Nissa meminta izin untuk pulang, ia juga berterima kasih atas makanan yang ia nikmati tadi.


Nissa berjalan keluar gang dan berniat pergi ke halte bus. Namun tanpa ia sadari seseorang mengikutinya dari belakang.


"Nissa," panggilnya.


Nissa menoleh kebelakang. "Loh, Kak Randy kenapa ada disini, bukannya tadi masih ngobrol sama Ridho?"


"Aku sudah selesai ngobrol kok, gak enak lama-lama di rumah pengantin baru," ucap Randy.


"Mau kuantar pulang, tidak?" tanya Randy memberanikan diri.


"Tidak perlu, kak. Saya bisa naik bus," jawab Nissa menolak dengan sopan.


"Tidak baik anak gadis keluar malam hari seperti ini, berbahaya," sahut Randy.


"Kak Randy ngeremahin saya, ya. Masa lupa kalau saya jago beladiri," ujar Nissa membanggakan diri sekaligus kode untuk penolakannya.

__ADS_1


"Iya, kamu jago. Tapi bolehkah aku mengantarmu pulang untuk sekali ini, saja?" pintanya.


__ADS_2