Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Meminta Maaf (Part 2)


__ADS_3

Setelah Ardian meninggalkannya di meja makan, Nissa kembali menikmati makanan yang telah dipesan khusus untuknya. Jika tadi Nissa makan terburu-buru karena ingin cepat selesai dan berlalu dari hadapan Ardian. Kini Nissa menikmatinya perlahan. Ia mengunyahnya dengan lembut, menikmati rasa makanan yang sudah lama tidak pernah dimakannya.


Perlahan air matanya menetes, ada kerinduan di dalam hatinya. Kerinduan akan rasa dan aroma masakan ibunya. Terakhir kali Nissa pulang saja ia tak bisa meminta ibunya memasak karena kondisi ayah yang sedang kritis di rumah sakit.


Selain itu Nissa juga terharu dengan perubahan sikap Ardian. Walaupun tuannya itu mengucapkan kata-kata yang tidak menyenangkan tadi, namun setidaknya pria tampan itu masih mau peduli pada kesembuhannya.


Selama dua minggu sejak kejadian pembegalan itu, ini adalah pertama kali ada seseorang yang peduli padanya. Mengingat kejadian tersebut tidak di ketahui sahabatnya, Dinda, dan juga orang tuanya.


Dan selama dua minggu ini pula Nissa melakukan semuanya seorang diri, walau kadang rasa nyeri bekas luka jahitan menggangunya. Mengingat itu membuat Nissa semakin tersedu, isakannya terdengar meskipun sudah sekuat tenaga ia tahan.


Ardian keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Ia berniat ingin kembali menemui Nissa dan meminta maaf padanya dengan tulus. Selain itu ia juga ingin berterima kasih karena telah melakukan tugasnya dengan baik.


Di bawah tangga Ardian berdiri terpaku, ia emggan melanjutkan langkahnya. Kedua bola matanya melihat punggung Nissa bergetar, ia bahkan bisa mendengar isakan yang tertahan dari gadis itu.


Mengapa ia menangis? Astaga, bodohnya aku, tentu saja ia menangis. Seharusnya aku meminta maaf tadi, bukan malah mencecarnya dengan kata-kata lain. Ah, dia pasti sangat bersedih sekarang.


Ardian kembali melanjutkan langkahnya, ia menarik kursi di sebelah Nissa. Nissa begitu menghayati tangisannya hingga ia tak menyadari kehadiran Ardian yang kini telah duduk tepat di sampingnya.


"Maaf," ucap Ardian.


Seketika Nissa mengangkat kepalanya yang tadi tengah tertunduk. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Maaf, Nis," ucap Ardian sekali lagi.


Nissa menoleh, memandang Ardian dengan tatapan tak percaya. Benarkah itu?


"Maksudnya, tuan?"


"Maafkan aku," ucap Ardian lagi.


"Untuk apa?" tanya Nissa, ia hanya ingin memastikan jika Ardian benar-benar tulus padanya.


"Karena telah menuduhmu tanpa bukti, aku hanya mengikuti petunjuk yang belum jelas benar apa tidak,"


Ardian menghela nafasnya perlahan. Ia menatap tepat pada kedua bola mata Nissa.


"Seharusnya aku berterima kasih padamu karena rela terluka hanya demi melindungi pria egois sepertiku. Tapi aku malah melakukan hal yang sangat tidak pantas. Aku meminta Roli untuk menarik perawat yang seharusnya membantumu, aku meminta Roli untuk memindahkanmu ke bangsal kelas tiga, bahkan aku memintamu untuk bersikap seperti hantu. Aku sungguh meminta maaf atas semua perlakuanku padamu, Nis," ucap Ardian panjang lebar.


Kali ini ia mengucapkan dengan tulus. Nissa pun bisa merasakan ketulusan Ardian. Bukannya menerima permintaan maafnya, Nissa malah semakin tergugu dalam tangisnya.


"Nissa, kumohon. Berhentilah menangis, aku menyadari kesalahanku, kamu boleh membalas sesukamu asalkan mau memaafkanku," ucap Ardian sambil mengusap punggung Nissa.

__ADS_1


"Apa tuan sudah tidak marah lagi?" tanya Nissa sambil sesekali terisak.


"Marah untuk apa?" tanya Ardian heran.


"Bukankah tuan marah pada saya karena tuan mengira saya terlibat dengan kasus ini?" tanya Nissa lagi. Ia mengusap air matanya.


"Kamu itu telmi, ya?" Ardian menatap Nissa dengan heran.


"Ha?"


Ardian menghela nafasnya. Ia heran dengan gadis di depannya ini, jelas-jelas tadi ia sudah mengungkapkan permintaan maafnya karena telah menuduhnya tanpa bukti, tapi Nissa masih berpikir seperti itu.


"Apakah permintaan maafku tadi masih kurang jelas?"


Nissa menatap Ardian, kemudian bola matanya berputar seolah ia sedang mengingat sesuatu.


"Jadi?" tanya Nissa kemudian.


"Jadi apa?" Ardian malah balas bertanya.


"Apa tuan sudah tidak mengira saya terlibat dalam kejadian itu?"


"Tidak, aku yakin jika kamu tidak mungkin terlibat dalam hal menjijikkan seperti itu," ucapnya.


"Iya, pelaku utamanya sudah tertangkap," jawab Ardian singkat.


"Siapa pelakunya? Mengapa dia menyerang kita?" tanya Nissa lagi.


"Seseorang, kamu tidak perlu tahu siapa dia. Alasannya hanyalah karena masalah pribadi," jawabnya.


"Benarkah?"


"Iya. Sudah, cepat habiskan makananmu. Jangan menangis lagi, aku kan sudah minta maaf," ucap Ardian.


"Iya, tuan," sahut Nissa.


Ardian berdiri dan meninggalkan Nissa sendirian di meja makan. Ia kembali ke kamarnya sementara Nissa menyelesaikan kegiatannya dengan segera. Dalam hatinya ia sungguh senang karena sekarang tuannya sudah tidak mencurigai dirinya lagi.


Ardian masih duduk bersandar di atas ranjang. Ia memikirkan ucapan David di kantor polisi siang tadi.


Ana membatalkan pernikahannya, tapi mengapa? Pertanyaan itu berputar di otaknya. Berbagai macam kemungkinan terlintas dikepalanya.

__ADS_1


Apa Ana masih mencintaiku? Apa Ana merasa tidak bahagia dengan David? Apa David berperilaku kasar pada Ana? Dan masih banyak lagi kemungkinan yang ia pikirkan.


Ardian lalu mengingat kembali ancaman yang di lontarkan oleh David sebelumnya. Nissa? Matanya membulat mengingat David yang berjanji akan mengejar Nissa jika ia bebas.


Tangannya kini terkepal dengan erat. Entah mengapa Ardian merasa geram saat mengingat ancaman David.


Ardian mulai menghubungi asisten setia sekaligus sahabatnya.


"Rol, bagaimana perkembangan kasusnya?"


"David mengakui semuanya, bro. Jadi dia bakal berada disana lumayan lama,"


"Lalu gimana caranya dia menghapus rekaman di kotak hitam mobil gue?"


"David membayar peretas handal, dan sekarang peretas tersebut jadi buronan polisi. Masalahnya si David nggak pernah ketemu secara langsung sama orang itu,"


"Biarkan saja, gue cuma mau mastikan kalau David bakal lama disana,"


"Kalau itu loe tenang aja, semua sudah beres,"


"Ana gimana? Dia sudah dikabari kalau David lagi di tahan?"


"Gue nggak tahu masalah itu,"


"Yasudah, gue matiin," ucap Ardian akhirnya dan langsung mematikan sambungan teleponnya seperti biasa.


"Kutu kupret!" umpat Asisten Roli yang kini sudah berada di kediamannya sendiri.


Ardian kembali keluar kamar, ia menuruni tangga hendak pergi ke dapur menemui Nissa lagi. Tapi keinginannya sirna karena orang yang ingin ditemuinya sudah tidak ada disana.


Meja makan sudah kosong, kursinya juga sudah tersusun rapi. Piring-piring juga sudah di cuci bersih oleh Nissa. Dan kini pintu kamarnya telah tertutup rapat. Ardian menempelkan telinganya pada daun pintu itu.


Sepi, batinnya. Ardian kembali menghela nafasnya dan kembali ke kamarnya.


***


Ana menatap wajah David dengan seksama. Wajah pria itu kusam, baru semalam ia mendekam disini. David tampak sangat kacau. Ada rasa iba melihat kekasihnya seperti ini.


"Mau apa kau kemari?" David bertanya dengan ketus.


Ana menghela nafasnya saat melihat David tengah memalingkan wajah mencoba menhindari tatapan matanya.

__ADS_1


"Apa kau membenciku?"


BERSAMBUNG


__ADS_2