
"Jadi, kamu beneran adiknya Nissa, kan?" tanyanya memastikan.
"Iya, om siapa?"
"Aku calon kakak ipar kamu," jawab Ardian bangga.
Dini melebarkan matanya seketika, ia menelisik tampilan Ardian dari atas ke bawah.
"Pffttt hahahahaha!" gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.
Roli pun ikut terbahak dibuatnya. Sementara Ardian hanya bisa memaki dalam hati sambil bersungut-sungut.
"Dasar gila," ucap Dini, seketika gadis itu berlari meninggalkan Ardian dan Roli.
Ardian dan Roli pun ikut berlari mengejar Dini. Namun langkah mereka berdua kalah cepat dari gadis remaja berusia tiga belas tahun tersebut.
"Lari kemana dia?" gumam Ardian, sementara nafasnya sudah tak beraturan karena kelelahan.
"Di, mendingan kita pulang aja. Lagian Nissa juga pasti balik, kan," ucap Roli.
"Gak, gue gak bakal pulang kalau gak ketemu sama Nissa hari ini," sahutnya.
"Ya sudah, terserah loe," ucap Roli. Kemudian ia berjalan ke arah penjual es kelapa muda tidak jauh dari situ.
Ardian kembali mengedarkan pandangannya mencari sosok Nissa. Barangkali keberuntungan berpihak padanya kali ini.
Gerakannya terhenti saat kedua netranya melihat sosok yang sangat ia rindukan selama 4 hari ini. Sosok yang dulu sering ia hina dan bentak-bentak demi ambisi balas dendamnya. Sosok yang rela terluka demi melindunginya walaupun sudah banyak perbuatan buruk yang dilakukan Ardian pada dirinya.
Ardian berjalan perlahan mendekati Nissa. Ia tersenyum melihat wanita pujaannya yang tampak cantik dan menawan dalam balutan kaus berlengan panjang berwarna krem dengan rok kulot berwarna hitam sebatas lutut.
DEGG DEGG
Jantung Ardian mulai berdebar tak karuan. Ada rasa lain yang menjalar dalam dadanya. Ia sadar dengan apa yang ia alami saat ini karena ia pernah merasakannya dulu saat bersama Ana. Namun perasaan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Ia menoleh ke kanan dan kekiri mencari keberadaan Dini, namun ia tak menemukannya. Dengan langkah mantap ia semakin dekat.
"Nissa!" panggilnya.
Nissa menoleh ke arah sumber suara tadi. DEGG, pandangan mereka bertemu. Jantung Nissa tiba-tiba berdetak sangat kencang. Senang? Tentu saja, Ardian adalah sosok yang ia rindukan selama ini. Walaupun ia bertekad untuk melupakan rasa cintanya pada Ardian namun tetap saja rasa itu masih bercokol dengan kuat didalam sana.
Sedetik kemudian Nissa kembali mengingat ucapan Ardian yang sangat menyakitkan pada hari itu. Kemudian ia menghela nafasnya. Sadar Nissa, ayo sadar. Dia bukan orang yang tepat untukmu. Batinnya berbicara.
"Kok bisa ada disini?" Nissa bertanya dengan santai, berusaha menutupi rasa senang, benci dan gugup yang bercampur jadi satu.
__ADS_1
"Tentu saja bisa, aku kemari kan ingin menjemputmu," jawab Ardian.
DEGG.
Ucapan Ardian tadi membuat jiwa baper Nissa meronta. Apa? Dia sengaja kemari karena ingin menjemputku? Astaga, apa dia tidak salah bicara?
"Menjemput saya? Kenapa? Bukankah saya izin selama satu minggu. Sedangkan ini baru empat hari," sahut Nissa bernada sinis.
Namun jauh dilubuk hatinya ia berharap Ardian menjawab sesuai dengan apa yang ia inginkan. Sementara Ardian tampak kikuk. Ia bingung harus menjawab apa.
Masa aku harus jujur jika aku sangat merindukannya? Tapi jika aku berkata jujur aku takut Nissa akan menganggapku aneh dan malah semakin jauh dariku.
Kemudian Ardian teringat ucapan Roli tempo hari. Wanita itu jangan dikejar, kalau dikejar dia bisa lari. Oke, akhirnya Ardian mengambil keputusan.
"Aku takut kamu kabur dariku, kamu kan tau kamu masih hutang beberapa bulan bekerja padaku. Lagipula dalam kontrak perjanjian itu kamu hanya diizinkan libur selama satu hari setiap bulannya. Jadi sekarang cepat kembali. Aku tidak mau rugi karenamu. Sudah baik aku tidak memotong gajimu karena melanggar kontrak," jawab Ardian akhirnya.
Fiks, hatiku tidak akan pernah kubuka lagi untukmu. Nissa menelan air liurnya dengan kasar. Ia menahan perih yang kembali menyerang hatinya. Ia menertawakan betapa bodoh dirinya karena masih berharap Ardian datang karena merasakan hal yang sama dengannya.
Sementara itu Roli yang dari tadi mencuri dengar pembicaraan mereka hanya bisa mendesah karena kesal dengan sikap Ardian.
Dasar Ardian b*go!! Rutuknya dalam hati.
"Pulanglah, saya akan kembali besok pagi. Tuan tenang saja, saya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab," ucap Nissa. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang hampir menetes itu.
"Tidak, aku tidak akan pulang dengan tangan kosong. Kamu harus ikut denganku," ucap Ardian.
Seketika Ardian terdiam. Ia mulai menyadari jika Nissa sedang dalam keadaan hati yang tidak baik. Apalagi tadi Nissa kembali memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Kamu kenapa memanggilku dengan sebutan tuan? Bukankah sudah aku larang?" tanya Ardian.
"Karena pada kenyataannya anda memang tuan saya, kan," jawab Nissa.
Nissa berjalan melewati Ardian. Sontak Ardian pun mengikuti langkahnya dan berjalan beriringan. Dari kejauhan mereka akan tampak seperti dua sejoli yang sedang memadu kasih ditemani indahnya pemandangan pantai di sore hari.
"Nissa, kita sudah berjanji akan menjadi sahabat. Mengapa kamu kembali memanggilku tuan? Apa ada di dunia ini orang yang memanggil sahabatnya seperti itu?" tanya Ardian.
"Ada," jawab Nissa ketus.
"Siapa?"
"Saya," jawab Nissa lagi. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ah, kamu ini kenapa membuatku semakin kesal?" Ardian menghela nafasnya perlahan.
__ADS_1
"Saat kembali nanti saya mau pindah dari apartemen, tuan," ucap Nissa tiba-tiba.
Ardian menghentikan langkahnya, Nissa pun ikut berhenti. Ardian menatap Nissa dengan nanar. Mendapat tatapan seperti itu membuat Nissa menundukkan kepalanya. Ia sudah siap jika Ardian kembali memaki atau menghinanya.
"Kenapa, Nis? Apa apartemenku tidak nyaman untuk ditinggali?" tanya Ardian, dari nada bicaranya Nissa sadar jika pria ini sedang marah.
"Tidak, apartemen anda adalah tempat ternyaman untuk ditinggali, tuan," jawabnya.
"Lalu kenapa kamu ingin pindah, apa karena aku sering berbuat kasar padamu? Apa aku membuatmu kelelahan? Katakan apa alasannya, aku akan mengubahnya," ujar Ardian, perlahan nada bicaranya mulai melunak.
"Tidak," Nissa menggeleng.
"Lalu kenapa?"
Nissa mengangkat wajahnya hingga pandangan mereka bertemu. Ia mencoba untuk menetralkan detak jantungnya.
"Saya yang merasa tidak nyaman, tuan. Apa kata orang nanti jika ada sepasang manusia yang bukan suami istri tinggal dalam satu atap? Saya hanya ingin menghindari cibiran orang," ucap Nissa menjelaskan. Selain itu alasannya ingin pindah adalah agar tak setiap waktu bertemu dengan Ardian. Ia takut tidak bisa melupakan perasaannya jika terus tinggal bersama.
Ardian terdiam meresapi penuturan Nissa tadi. Nissa benar, tidak sepantasnya mereka tinggal bersama. Dan kali ini sepertinya ia harus mengalah agar Nissa tak semakin menjauh darinya. Mengalah untuk menang, pikirnya.
"Baiklah, kamu boleh pindah. Tapi aku yang akan mencarikan tempat tinggal untukmu. Aku tidak ingin kamu tinggal di tempat yang mengerikan seperti kosanmu dulu," ucap Ardian pada akhirnya.
Kini Nissa dapat bernafas lega, setidaknya keinginan untuk mulai melupakan Ardian perlahan terwujud. Ia berharap masa kerjanya selama tiga bulan ini segera berakhir. Tidak sehat berlama-lama didekat Ardian, bisa terserang tekanan darah tinggi, pikirnya.
"Oh, iya tuan. Satu lagi," celetuk Nissa.
"Apa lagi?" ketus Ardian.
"Hubungan persahabatan kita cukup sampai disini saja, saya lebih nyaman saat menjadi pelayan serba guna anda daripada seorang sahabat. Lebih baik hubungan kita tetap seperti dulu saat pertama kali kita bertemu. Anda seorang majikan, dan saya seorang pelayan. Kita tidak berada pada level yang sama untuk menjadi sahabat seperti yang anda inginkan," ucap Nissa, ada rasa sakit yang mendera saat ia mengucapkannya. Kemudian ia berjalan meninggalkan Ardian yang kini berdiri terpaku.
Hati Ardian mencelos mendengar penuturan Nissa. Ia bertanya-tanya mengapa Nissa tiba-tiba berkata seperti itu. Apa ia mendengar pembicaraanku dengan Ica waktu itu? Ardian mengusap wajahnya kasar. Ah, sial!! Rutuknya.
Ardian kembali berjalan mengejar Nissa. Ia ingin bertanya alasan Nissa berkata seperti tadi. Apakah karena mendengar ucapannya di resto waktu itu. Apakah karena itu dia pergi meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut diam-diam.
Roli menahan langkah kaki Ardian. Ia sepertinya mulai paham alasan Nissa pulang ke kampungnya.
"Jangan dikejar, Di. Biarkan dia tenang dulu. Beberapa orang pernah bilang ke gue. yang bisa nyembuhkan luka di hati itu cuma waktu," ujar Roli.
"Tapi gue harus minta maaf sama dia, Rol. Dia pasti tersinggung sama omongan gue waktu itu, dia pasti denger. Kalau gak mana mungkin dia ngomong kaya gitu," ucap Ardian memelas.
"Gue tahu, makanya biarkan dia tenang dulu. Kalau dia sudah tenang loe bisa mulai misi loe. Untuk sekarang penuhi aja keinginannya untuk pindah ke tempat lain," ucap Roli.
Ardian menghela nafasnya perlahan. Pada akhirnya ia hanya bisa pasrah menerima kenyataan.
__ADS_1
***
Makanya punya mulut jangan kelewat lemes bang, nyahok kan sekarang 😅