
Pagi ini Nissa merasa riang gembira, pasalnya tadi malam ia memastikan bahwa gajinya tidak jadi di potong oleh si kucing kepala hitam. Siapa lagi kalau bukan Ardian.
Berbeda dengan Nissa, pagi ini Ardian merasa sangat malu. Apalagi bila ia mengingat kejadian tadi malam. Ardian merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah saat sedang beraksi.
"Selamat lagi, pak," sapa Nissa saat Ardian tiba di meja makan, ia terlihat sudah rapi.
"Heem,"
Pelit sekali, membalas sapaan saja tidak mau.
"Ini sarapannya, pak," ucap Nissa sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Ardian.
"Apa ini?" tanya Ardian.
"Ini nasi goreng, pak?" jawab Nissa.
"Nasi goreng? Kenapa warnanya pucat begini?" tanyanya heran.
"Ini nasi goreng tanpa saus dan kecap," jawab Nissa asal.
"Buang saja, makanan apa ini? Melihatnya saja membuat nafsu makanku hilang," ucap Ardian.
Tanpa ia sadari, ucapannya tadi menyakiti hati Nissa. Bukannya terima kasih, malah mau dibuang.
"Coba saja dulu, pak. Kalau bapak tidak suka bisa bapak berikan pada kucing tetangga," ucap Nissa menyindir.
Ardian hanya bisa diam tanpa menanggapi ucapan Nissa. Jujur ia masih sangat malu dengan kejadian tadi malam. Tapi ia bertekad tak akan melakukan kesalahan yang sama.
"Kalau mau, kau saja yang makan. Setelah itu bereskan kekacauan yang kau buat didapurku. Lalu segera kerjakan tugas yang kuberikan tadi malam," perintah Ardian.
"Siap, pak," ucap Nissa tegas.
Ardian segera keluar dari apartemennya. Ia menuju parkiran dan masuk ke mobilnya. Ardian lalu mengarahkan kemudinya menuju perusahaan.
Sementara itu, setelah Ardian berangkat Nissa segera melaksanakan semua tugas yang diberikan Ardian tadi malam. Setelah ia menghabiskan nasi goreng yang tadi diabaikan Ardian.
Nissa masuk ke dalam kamar Ardian, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Ck ck ck, ini kamar apa kapal terbalik? Mengapa berantakan sekali? Sungguh mengerikan," gerutu Nissa.
Bagaimana Nissa tidak menggerutu, kamar Ardian terlihat sangat berantakan. Pakaian kotor yang teronggok di mana-mana, gumpalan kertas yang berhamburan, kondisi ranjang yang berantakan dengan seprei dan selimut yang berserakan di lantai.
Belum lagi dengan bungkus makanan ringan serta kulit kacang dan minuman kaleng. Ardian seperti habis mengadakan pesta tadi malam.
Nissa menghela nafas melihat pemandangan yang menyakitkan mata ini.
"Ayo, Nissa. Semangat!" ucapnya menyemangati diri sendiri sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal di udara.
Nissa segera membereskan kamar tidur yang ia pikir tak layak huni ini. Nissa mulai mengumpulkan pakaian kotor, lalu merapikan tempat tidur, membersihkan sampah kertas dan sisa makanan.
Hingga semua urusannya selesai dua jam kemudian. Kini Nissa bersiap mandi untuk menyegarkan tubuhnya, padahal ia telah mandi tadi pagi.
__ADS_1
Kriing... kriing... kriing
Ponsel Nissa berdering, ia meraih ponselnya dan melihat 'Bos Aneh' memanggilnya.
"Hallo, pak,"
'Bagaimana tugas yang kuberikan tadi, sudah kau kerjakan atau belum?'
"Sudah, pak,"
'Kalau begitu cepatlah kemari, ada yang harus kau lakukan,'
"Baik, pak. Saya akan segera kesana,"
'Cepatlah, aku sudah mengirim seseorang untuk menjemputmu,'
"Baik, pak. Saya mengerti,"
Nissa meletakkan ponselnya kembali saat sambungan teleponnya sudah terputus.
Ting tong
Bel pintu berbunyi, Nissa keluar dari kamar dan melihat melalui layar siapa yang hendak bertamu. Seseorang bertubuh sedang dan memakai jaket khas ojol berdiri di depan pintu apartemen.
"Cari siapa, mas?" tanya Nissa hati-hati, ia menyembunyikan tangan kanannya di belakang pintu sambil memegang sebuah pisau dapur.
"Saya mencari mbak Annissa," jawab pria tersebut.
"Iya, saya sendiri. Ada apa, mas?" tanya Nissa lagi.
Nissa mengangguk mengerti. Rupanya Ardian mengirim seorang ojol untuk menjemputnya. Perhatian sekali orang itu, aku jadi curiga, ini pasti ada sesuatu.
"Tunggu sebentar, mas. Saya siap-siap dulu,"
"Kalau begitu saya tunggu di bawah, ya," ucap mas ojol.
Nissa mengangguk dan menutup pintu setelah pengemudi ojol tersebut pergi. Nissa segera bersiap. Ia membersihkan diri dengan cepat.
"Ayo, mas. Kita berangkat," ucap Nissa saat ia sudah turun di lobby apartemen.
Mas ojol segera mengendarai motornya melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa mobil yang terjebak kemacetan bisa dengan mudah dihindarinya, hingga mereka tiba di gedung Sanjaya Building hanya dalam waktu dua puluh menit.
"Kenapa baru datang!" hardik Ardian saat Nissa masuk ke ruangannya.
"Saya...,"
"Ikuti Roli," perintahnya memotong Nissa.
"Kemana, pak?"
"Tidak usah banyak bertanya, cepat ikuti saja," ucapnya.
__ADS_1
Akhirnya Nissa keluar ruangan, disana sudah ada asisten Roli menunggunya.
"Mari ikut saya,"
"Sebenarnya kita mau kemana, pak?" tanya Nissa, ia sangat penasaran dengan tujuan mereka saat ini.
Roli hanya diam tak menjawab pertanyaan Nissa. Ya ampun, bos dan asistennya, sama. Sama-sama suka membuat aku kesal.
Mereka berdua pergi ke sebuah tempat dengan mengendarai mobil. Nissa tertegun membaca papan nama tepat di atas sebuah ruko.
"Nissa, perkenalkan. Ini Pak Heru, orang yang akan mengajarimu mengendarai mobil," ucap Roli.
Nissa memperhatikan orang di depannya. Seorang pria paruh baya tersenyum padanya.
"Perkenalkan, saya Heru. Saya yang akan memjadi pelatihmu sampai kau bisa mengendarai mobil dengan baik," ucap Pak Heru sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Nissa, terima kasih sudah mau melatih saya," balas Nissa sambil menjabat tangan pak Heru.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit," ucap asisten Roli.
Ia beranjak meninggalkan Nissa dan pak Heru. Namun beberapa langkah kemudian ia berhenti dan berbalik.
"Ehhm, Nissa. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari Pak Ardian. Kamu harus menyelesaikan pelatihan ini tidak kurang dari 3 kali pertemuan. Bila lebih dari itu maka biaya pelatihannya akan menjadi tanggunganmu," setelah itu asisten Roli pergi dan segera memasuki mobil.
Nissa hanya melongo tak mampu berkata apa-apa. Tuh, kan. Feelingku bener, pasti ada sesuatu.
Hari itu Nissa berlatih dengan serius, sangat serius. Tiba-tiba saja otaknya mampu menerima semua pelatihan dalam bentuk teori maupun praktek.
Dalam waktu satu hari itu pula, Nissa sukses dan mampu mengendarai mobil. Bahkan pak Heru pun di buat tercengang dengan kemampuan Nissa.
"Wah, Nissa. Kamu benar-benar hebat. Sangat jarang ada orang yang mampu mengendarai mobil dengan baik hanya dalam waktu beberapa jam," ucapnya.
"Terima kasih, pak. Ini semua juga berkat bapak, saya seperti ini pun karena memiliki guru yang hebat seperti bapak," ucap Nissa merendah.
"Tapi itu benar, Nis. Kamu tahu, bahkan Ardian yang jenius itu saja harus berlatih sampai satu minggu hingga ia bisa mengemudikan mobil dengan benar," ucap Pak Heru.
Nissa langsung antusias saat mendengar ucapan Pak Heru tadi. Ia sangat penasaran dengan bos anehnya itu. Aku komporin ah, biar bisa dapatkan kelemahan si Ardian.
"Masa sih, pak? Pak Ardian itu hebat loh, saya saja pernah diajaknya kebut-kebutan di jalan,"
Pak Heru terkekeh. "Sekarang saja dia bisa seperti itu, dulu saat pertama kali belajar, Ardian bahkan sampai menabrak sebuah pohon mangga milik tetangganya. Bahkan pohon itu baru saja berbuah, hingga pak Hendra harus membayar ganti rugi karena perbuatan Ardian," jelas pak Heru.
"Dan di hari berikutnya, ia menabrak pagar rumah tetangganya yang lain, hingga pak Hendra kembali merugi karenanya. Pak Hendra bahkan mengeluarkan banyak biaya saat memperbaiki bagian depan mobil yang rusak," tambahnya.
Sontak Nissa tertawa mendengar penuturan pak Heru. Akhirnya ia mendapatkan bahan ledekan untuk Ardian.
Lihat saja, pak Ardian. Akan kubuat kau mengingat masa-masa jahiliyahmu bila kau mengusikku nanti.
Hahahahaha (Nissa tertawa jahat dalam hati)
🌿🌿🌿🌿🌿
__ADS_1
BERSAMBUNG
Hai gengss, jangan lupa like and comment ya, supaya mbak tika makin semangat berkarya. Terima kasih 🥰🥰