Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Secangkir Kopi


__ADS_3

Pagi ini Nissa tampak menyiapkan sarapan pagi untuk Ardian seperti biasanya. Kejadian tadi malam saat Ardian menyiram dan menghinanya tak menyurutkan niatnya untuk tetap melakukan tugasnya sebagai pelayan di apartemen ini.


"Selamat pagi, pak," sapa Nissa saat Ardian tiba di meja makan.


Ardian yang sudah berpakaian rapi itu hanya diam tanpa membalas sapaan Nissa. Mendapati tatapan mematikan dari majikannya membuat Nissa menundukkan kepala.


Nissa meletakkan secangkir kopi hitam dan sepiring omelet di hadapan Ardian duduk saat ini. Tadi malam sebelum ia kembali tidur Nissa menyempatkan diri melihat video tutorial membuat omelet enak dan sehat melalui aplikasi Tutub.


"Silahkan dinikmati, pak," ucapnya sambil tersenyum manis.


Ardian masih dengan sikapnya yang hanya diam dan tatapan menyorot tajamnya. Ardian meraih kopi dan meminumnya.


Brruuussstt


"Kopi apa ini? Mengapa rasanya seperti ini? Dasar pelayan b***h, membuat secangkir kopi saja tidak becus, percuma aku menggajimu dengan tinggi!" ucap Ardian setelah ia menyemburkan kopi yang diminumnya tadi.


"Maaf, pak. Saya akan membuatkan kopi yang baru untuk bapak," ucap Nissa dengan rasa bersalah karena sudah menyajikan minuman yang buruk.


Nissa kembali meraih cangkir kopi dan membawanya kedapur. Segera Nissa membuat secangkir kopi yang baru. Setelah itu ia meletakkannya didepan Ardian. Semoga yang kedua ini tidak mengecewakan, batinnya.


Ardian meraih kopi yang baru Nissa buat. Ia mencium aroma kopi tersebut. Keningnya berkerut membuat Nissa yang melihatnya menjadi was-was.


"Kopi macam apa ini? Dari aromanya saja sudah bisa dipastikan kopi itu tidak enak," ucap Ardian sinis setelah ia meletakkan kopi itu ke atas meja dengan kasar, hingga cairannya tertumpah sedikit.


"Tapi ba...,"


"Kamu berani membantahku? Ingatlah, posisimu itu hanya seorang b*bu disini, tugasmu adalah menuruti segala perintahku! Sekarang buatkan aku kopi yang baru!" perintah Ardian dengan sedikit membentak.


Nissa kembali meraih kopi itu lagi lalu pergi kedapur untuk membuat kopi yang baru sesuai perintah Ardian. Ia termenung sembari tangannya mengaduk secangkir kopi didepannya.


Pak Ardian kenapa, ya? Perasaan kemarin dia tidak sekasar ini. Tadi malam juga tiba-tiba dia menyiramku saat aku tertidur di sofa. Apakah aku melakukan kesalahan lagi? Tapi apa?

__ADS_1


"Nissa!! Mengapa lama sekali, aku membayarmu untuk bekerja bukan untuk melamun!" teriakan Ardian membuyarkan lamunannya.


Dengan langkah tergesa Nissa membawa secangkir kopi ketiganya dan meletakkannya di hadapan Ardian. Lagi. Ardian kembali meminumnya. Kali ini ia meneguknya namun meletakkan cangkir itu dengan kasar setelah ia meminum sedikit.


"Apa kau ingin membuatku terserang diabetes, ha!?" bentaknya.


Nissa menjadi ketakutan saat Ardian membentaknya, bahkan kini ia tak berani membalas ucapan Ardian seperti kemarin. Tubuhnya pun ikut bergetar. Nissa menundukkan kepala menghindari tatapan Ardian yang seakan ingin membunuh seseorang.


Ardian yang melihat Nissa menunduk ketakutan malah tersenyum licik. Apalagi saat ia melihat tubuh gadis didepannya ini bergetar yang ia pikir akan menangis membuat Ardian semakin bersemangat melakukan misi balas dendamnya.


"Lalu apa ini? Mengapa kau memberiku makanan yang hanya pantas di makan oleh anj*ng seperti ini? Apa kau pikir aku ini hewan peliharaanmu?"


"Maafkan saya, pak. Saya tidak bermaksud untuk seperti itu," ucap Nissa penuh rasa takut. Nissa bukan takut dengan bentakan Ardian, tapi ia takut kesalahannya membuat gajinya dipotong dan ia akan semakin lama menjadi pelayan pria kejam ini.


"Dasar pelayan bo**h, membuat sarapan saja tidak sanggup. Sungguh manusia menjijikkan," sinis Ardian.


Mendengar hinaan Ardian membuat Nissa mengepalkan tangannya, sungguh ia ingin menghajar mulut pria br*****k ini. Namun apalah dayanya, ia sudah sepakat untuk mematuhi semua poin dalam kontrak yang ditanda tanganinya.


"Mulai besok tidak usah memasak lagi. Aku takut mulutku jadi kotor karena memakan masakanmu," sarkas Ardian.


"Dan jangan memanggilku dengan sebutan bapak, aku bukan bapakmu. Panggil aku Tuan, kau paham?" sambungnya.


"Baik, Tuan. Saya memahaminya," jawab Nissa. Fiks, nasibku bakal sama seperti tokoh dalam novel yang sering dibaca Mbak Tika.


"Mulai hari ini tugasmu mengawalku kemanapun aku pergi. Pakai busana kerja yang sesuai dengan pekerjaanmu," perintah Ardian pada Nissa.


"Saya harus memakai pakaian seperti apa, Tuan?" tanya Nissa. Ia benar-benar tidak tahu pakaian apa yang cocok ia kenakan.


Ardian menghela nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya lalu berkacak pinggang.


"Kamu memang benar-benar perempuan du**u, anj**g saja lebih pintar dari pada dirimu," ucap Ardian mengejek Nissa.

__ADS_1


Nissa kembali mengepalkan tangannya, kali ini lebih erat dari yang tadi. Sungguh ia merasa sangat terhina dengan ucapan Ardian. Kalau saja Nissa lupa ia memiliki hutang pada makhluk berparas rupawan di depannya ini sudah pasti Ardian akan habis di serang olehnya.


"Roli, tolong bawakan satu setel pakaian khusus pengawal wanita ke apartemenku," perintah Ardian pada Roli melalui sambungan telepon.


"Tentu saja untuk titisan nenek lampir itu, mana mungkin aku yang akan memakainya," ucapnya lagi, mungkin Roli menanyakan untuk siapa pakaian tersebut.


Setelah itu Ardian memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku jasnya. Ia kini kembali menatap Nissa. Sementara Nissa hanya bisa menunduk walaupun ia sangat ingin membalas tatapan Ardian.


Ardian duduk di sofa sambil memeriksa email di laptopnya dan sengaja membiarkan Nissa berdiri mematung di dekatnya.


"Sudah kamu bereskan kekacauan yang kamu buat di dapur tadi?" tanya Ardian memecah keheningan yang terjadi di ruang tamu apartemen tersebut.


"Sudah, Tuan," jawabnya.


Suasana kembali hening, Ardian kembali fokus pada laptop di depannya sampai terdengar suara bel pintu.


Nissa bergegas memencet tombol layar di dekat pintu untuk memgetahui siapa yang datang bertamu pagi ini. Tampak Roli diluar sedang berdiri di depan pintu sambil memegang setelan pakaian khusus pengawal wanita di tangannya.


"Ini pakaian yang anda minta tadi, pak," ucap Roli saat ia sudah masuk dan kini berdiri di samping sofa tempat Ardian duduk.


"Berikan pada perempuan b**oh itu," sarkasnya.


Roli segera memberikan pakaian yang terbungkus plastik itu pada Nissa. Nissa pun menghitung berapa banyak setelan yang dibawa Roli.


1 2 3 4 5 6, ada enam setel, tapi mengapa semuanya sama? Apa aku harus memakai pakaian ini setiap hari? Batin Nissa kebingungan.


"Itu semua setelan formal yang wajib kamu pakai setiap hari saat anda bertugas mengawal Pak Ardian. Saya samakan warnanya karena saya rasa warna hitam adalah warna yang sesuai dengan pekerjaanmu saat ini," ucap Roli menjelaskan pada Nissa. Ia membaca raut kebingungan di wajah Nissa.


Nissa mengangguk paham dan segera masuk kekamarnya untuk berganti pakaian. Mereka bertiga lalu segera berangkat menuju perusahaan setelah Nissa siap dengan setelan barunya.


Mereka berangkat dengan dua mobil. Roli memakai mobilnya sendiri, sementara Ardian dan Nissa menggunakan mobil milik Ardian dengan Nissa sebagai supirnya.

__ADS_1


**********


Bab selanjutnya sabar ya gengss, masih Mbak Tika ketik.


__ADS_2