
"Kenapa harus di pecat?" tanya Nissa heran.
"Ya karena... karena... karena..." Ardian bingung memikirkan jawaban apa yang tepat untuk alasannya.
"Kenapa tuan senang sekali memecat orang yang dekat dengan saya? Apa sebesar itu kebencian tuan pada saya?" tanya Nissa, air mata sudah menggantung di pelupuk matanya. Ia heran sekali dengan sikap Ardian yang memecat siapapun yang dekat dengannya.
"Bukan itu maksudku," ujar Ardian, ia merasa bersalah jika mengingat perlakuannya pada Nissa dulu.
"Sudahlah, saya mau istirahat," ucap Nissa, kemudian ia masuk ke dalam kamar dan meninggalkan Ardian yang masih berdiri menyesali ucapannya tadi.
"Astaga, kenapa gak bilang aja kalo loe cemburu, Di. Dasar be*o loe," gumamnya memaki dirinya sendiri.
Ardian mengetuk pintu kamar Nissa, berkali-kali ia mengetuk namun hasilnya nihil. Nissa tak mau membuka pintunya. Akhirnya ia keluar dari unit Nissa dan kembali ke unitnya sendiri. Sementara tanpa ia tahu Nissa di dalam sedang melaksanakan ibadah sholat Isya'.
***
Sudah seminggu sejak kejadian itu namun Nissa masih enggan bertegur sapa dengan Ardian. Ardian pun sama ia ragu untuk memulai percakapan lebih dulu. Roli yang melihat mereka berdua hanya bisa geleng-geleng. Mereka seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar saja, pikirnya.
Hari ini Ardian kembali merecoki Nissa di dalam apartemennya. Ardian merasa masalahnya harus segera diselesaikan hari ini juga. Tidak nyaman rasanya saat orang yang ia inginkan menjadi pasangannya itu mengabaikannya selama seminggu ini.
Walaupun Nissa mengabaikannya dan tak mau berbicara dengannya namun ia selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Nissa tak pernah absen menyiapkan sarapan untuk tuannya itu. Ia juga masih setia mengawal Ardian kemana-mana.
"Nissa, kamu masih marah sama aku?" tanyanya.
Nissa menoleh sekilas, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya mencuci piring.
"Nissa, kamu kenapa mendiamkanku terus?" tanya Ardian lagi.
Nissa tetap diam tak menggubris pertanyaan Ardian. Ia masih setia dengan kegiatannya. Hingga selesai, Nissa melanjutkannya dengan pekerjaan yang lain. Kali ini ia mengambil vacum cleaner dan mulai memyedot debu-debu di sofa tempat Ardian duduk saat ini. Seolah memberi kode pada manusia bermulut lemes itu untuk segera pergi.
Ardian menjadi kesal diperlakukan seperti itu. Ia bangkit dan merebut vacum cleaner tersebut dari tangan Nissa kemudian mematikannya. Setelah itu ia meraih tangan Nissa dan menggenggamnya.
"Ayo," ucap Ardian.
"Saya sibuk," sahut Nissa. Ia menghempas tangan Ardian hingga genggamannya terlepas.
"Sudah ikut saja," ucap Ardian lagi, ia kembali meraih tangan Nissa dan menyeret gadis itu keluar dari apartemen.
Nissa mau tidak mau hanya bisa mengikuti keinginan dari tuan yang tidak bisa dibantah itu. Mereka masuk ke dalam mobil. Kemudian Ardian melajukan kendaraan tersebut membelah jalanan menuju suatu tempat.
***
Mall XX, melihat bangunan tinggi di depannya ini membuat Nissa mengingat perlakuan buruk Randy padanya. Ada rasa enggan untuk memasuki pusat perbelanjaan tersebut.
"Ayo masuk," ucap Ardian.
Sebelum Nissa sempat menolak ia sudah lebih dulu meraih tangan Nissa dan menyeret kembali gadis itu masuk. Nissa pun akhirnya hanya bisa bersungut-sungut memaki perlakuan Ardian yang semaunya sendiri itu.
"Kamu mau nonton film apa?" tanya Ardian.
Kini mereka berada di depan Cinema 24, tempat yang sama dimana ia mendapat perlakuan buruk dari Randy. Nissa menggelengkan kepala membuat Ardian menjadi heran.
"Kenapa? Bukankah kamu suka menonton film? Ayo kita nonton, ada film yang kesukaanmu tayang hari ini," ucap Ardian membujuk Nissa.
Nissa tetap menggeleng, akhirnya Ardian pasrah. Kali ini ia akan menuruti kemauan Nissa asal gadis itu tak mendiamkannya lagi.
"Oke, kalau begitu hari ini spesial untuk pengawal terbaikku, aku akan menuruti semua keinginanmu," ucap Ardian mencoba menarik perhatian Nissa.
__ADS_1
Nissa menaikkan alisnya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas sedikit. Senang? Tentu saja ia senang walaupun ia tahu jika ini salah. Mungkin ia akan menerima sakit hati yang luar biasa setelah ini, tapi untuk kali ini biarlah ia menikmati hari bersama pria yang sudah mencuri hatinya.
"Kita ke sana," ucapnya. Ia menunjuk sebuah arena bermain di salah satu sudut di lantai tiga Mall ini.
"Kesana?" tanya Ardian memastikan.
"Iya, ayo kita ke Amazing, tuan," ajaknya.
Ardian berpikir sebentar. "Baiklah, tapi jangan bermain di arena yang berbahaya untuk bekas operasimu," ucapnya.
"Siap, laksanakan!" sahut Nissa.
Mereka berdua melangkahkan kaki menuju arena bermain tersebut. Setelah membeli kartu dan mengisinya dengan saldo yang cukup banyak Ardian dan Nissa mulai memilih permainan apa yang akan mereka mainkan.
Dan lagi, sifat over protective Ardian muncul. Nissa dilarang bermain ini dan itu. Ia hanya di perbolehkan bermain di arena yang biasanya hanya dimainkan anak-anak. Komidi putar!!
Nissa mendengus kesal. Katanya mau menuruti semua permintaanku, lalu ini apa namanya? Batinnya kesal.
Sementara Ardian, jangan ditanya. Pria itu sibuk bermain di arena yang menguras keringat. Sesekali ia memperlihatkan otot tangannya pada Nissa. Bukannya terpana seperti para tokoh novel yang biasa ia baca, Nissa malah mencibir kelakuan Ardian.
Dasar NORAK!!
***
Setelah beberapa jam bermain di Amazing, Mereka kini berjalan-jalan santai mengelilingi pusat perbelanjaan ini. Sambil membawa camilan di tangan masing-masing mereka meikmati kegiatan yang bisa dibilang menyegarkan mata namun melelahkan kaki.
Langkah kaki Ardian terhenti saat melihat sepasang pria dan wanita sedang bergandengan tangan dengan begitu mesra di depan sebuah toko pakaian khusus pria.
Ardian memang tidak mengenali siapa wanita itu namun ia sangat mengenal si pria. Dia adalah Randy, karyawan sekaligus rivalnya. Segera ia merangkul Nissa dari samping dan memaksa gadis itu berputar badan agar tak melihat 'pacar' Nissa sedang 'berselingkuh' dengan wanita lain.
"Kenapa?" tanya Nissa heran.
"Sudah, jangan banyak tanya," ucapnya memerintah.
Nissa yang merasa curiga melepas paksa rangkulan Ardian dan berbalik. Sedetik kemudian ia berhenti, matanya terpaku. Ardian sadar jika Nissa pasti terkejut melihat keberadaan Randy dan pasangan selingkuhnya, begitulah pikirnya.
"Ayo, Nis. Kita pergi saja," ucap Ardian. Namun Nissa tak bergeming.
Kemudian tanpa aba-aba Nissa melangkahkan kakinya ke arah keberadaan Randy. Ardian yakin, Nissa akan menghajar pria itu. Jika ini terjadi maka hal itu akan buruk untuk luka bekas operasinya yang belum sembuh sepenuhnya.
"Jangan kesana, biar aku saja," ucap Ardian sambil menahan tangan Nissa.
"Ha?" Nissa mendadak heran. Tampak raut wajah kebingungan di wajahnya.
"Tidak perlu kesana, biar aku saja yang pergi menanganinya," ucap Ardian lagi.
"Yasudah," sahut Nissa.
Ardian melangkah dengan mantap menuju ke tempat Randy dan selingkuhannya berada. Sementara Nissa asik memperhatikan payung warna-warni yang tersusun rapi dari atas plafon Mall.
"Astaga!!"
"Hei, hentikan mereka!"
"Wah, seru!"
"Ada yang berkelahi!"
__ADS_1
Terdengar suara riuh pengunjung Mall, dari yang Nissa tangkap di pendengarannya sepertinya ada yang sedang berkelahi disana.
Nissa mencari sumber keributan tersebut. Seketika matanya membulat sempurna, rahangnya terbuka lebar, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Ardian berkelahi! Tapi tunggu, pikirnya. Dengan siapa pria itu berkelahi? Itulah yang ada dibenaknya saat ini. Nissa segera berlari pergi ke tempat perkelahian tersebut.
"Hentikan, tuan!" Nissa menahan tubuh Ardian agar ia tak lagi memukuli pria yang tadi berada dibawahnya.
"Pak Randy?" Nissa menatap heran pada pria yang kini terkapar di lantai.
Pria yang dipukuli Ardian ternyata adalah Randy. Nissa menoleh Ardian, tampak bibir Ardian yang terluka.
"Ayo pergi, tuan," pinta Nissa.
"Tunggu, aku belum puas memukulinya," ujar Ardian.
Wanita yang bersama Randy tadi tampak sedang berusaha membantunya berdiri.
"Dasar bos bre**sek!" umpatnya.
"Apa kamu bilang? Aku bre**sek?" Ardian kembali naik pitam.
"Ya, kamu memang bos paling bre**sek yang pernah kutemui!" sahut Randy tak mau kalah.
"Ha!! Aku memang bre**sek, tapi aku bukan baj*ngan sepertimu! Kurang apa Nissa hingga kamu tega berselingkuh di belakangnya seperti ini, ha?!" ucap Ardian geram.
Nissa termangu mendengarnya. Jadi pak Ardian berkelahi dengan Randy karena membelaku? Dia pikir pak Randy berselingkuh di belakangku?
Nissa tertawa terbahak-bahak, hingga pengunjung yang berkumpul disitu menatap heran ke arahnya. Tak terkecuali Ardian. Sekarang sepertinya ia harus menyelesaikan kesalah pahaman ini.
"Ayo kita pergi, tuan," Nissa menarik tangan Ardian menjauhi kerumunan. Beberapa pengunjung mencibir mereka.
Nissa membawa Ardian kembali ke mobil. Ia meminta Ardian menyerahkan kunci mobilnya.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Jalan-jalan," jawab Nissa singkat.
"Kemana?" tanya Ardian lagi.
"Rahasia," sahut Nissa.
Nissa melajukan mobilnya ke suatu tempat. Lama kelamaan Ardian sadar jika mobil yang mereka tumpangi saat ini mengarah ke sebuah pantai.
BERSAMBUNG
Hayo, ada yang bisa nebak mereka di pantai mau ngapain? Apakah akan ada pernyataan cinta?
Saya juga mau minta maaf kalau novel ini terkesan lambat dan upnya hanya bisa dua kali dalam sehari, karena memang alurnya seperti itu dan juga saya memiliki kesibukan tersendiri di dunia nyata.
Mohon dimaklumi ya 🤗
See u next chapter gengss
Luv u all 😘😘
Jangan lupa BAHAGIA 🥰🥰
__ADS_1