
Ardian benar-benar menepati janjinya mencarikan tempat tinggal untuk Nissa. Namun hal itu malah membuat rasa frustasi seorang Nissa bertambah. Ardian ternyata menyewa sebuah unit apartemen tepat di samping unitnya sendiri.
Dan sekarang Nissa semakin dibuat kesal dengan tingkah Ardian. Waktu mereka berpisah hanya di malam hari. Dan setiap subuh Ardian akan segera bangun dan langsung menuju unit di sebelahnya.
Mulai dari mandi, berpakaian, dan sarapan ia kerjakan disana. Bahkan sekarang ia membawa pekerjaannya ke sebelah hanya agar dapat melihat gadis pujaannya setiap saat. Ardian akan kembali ke unitnya jika sudah tengah malam.
Nissa yang merasa jengah hanya bisa menghela nafas kasar untuk menunjukkan kekesalannya pada sang tuan. Namun hal itu tak di gubris oleh Ardian, entah ia tahu atau memang tidak peka.
Niatku pindah itu untuk mengurangi intensitas pertemuanku dengannya. Kalau begini caranya sama saja bohong. Batinnya.
***
Hari ini adalah hari minggu. Hari libur yang paling ditunggu Randy. Bagaimana tidak senang jika tawarannya untuk mengajak Nissa jalan-jalan diterima oleh gadis itu. Ia sendiri tak menyangka jika Nissa akan langsung mengiyakan ajakannya, ia pikir Nissa akan menolak seperti biasa atau berpikir terlebih dahulu kemudian berakhir dengan penolakan, lagi.
Nissa sendiri kini sudah tampil menawan dalam balutan dress sebatas lutut berwarna peach dengan kerah model sabrina. Nissa mencoba berbagai macam senyum untuk menyenangkan hati pria yang menjadi teman kencannya hari ini karena sesungguhnya ini adalah kencan pertamanya.
Sebenarnya Nissa enggan menerima ajakan Randy kemarin, namun ia terpaksa melakukannya agar bisa segera melupakan perasaannya pada Ardian. Nissa mulai mencoba membuka hatinya untuk orang lain sementara ia berusaha menutup hati dan pikirannya dari Ardian.
Tiin Tiin Tiin
Suara klakson mobil menyadarkan Nissa yang kini berdiri di depan gerbang apartemen.
"Nissa!" seru seseorang dari dalam mobil tersebut.
Nissa melambaikan tangannya pada Randy. Kemudian Randy turun dan membuka pintu mobil di bagian penumpang.
"Silahkan masuk, Nona," ucapnya sopan.
Nissa terkekeh melihatnya, ia segera masuk kemudian mengucapkan terima kasih. Randy menutup pintunya dan kembali ke kursi pengemudi. Sesaat kemudian ia memacu kendaraannya menuju lokasi kencannya pada hari ini.
Mereka berdua kini telah tiba di lokasi kencan yang pertama. Randy ternyata mengajak Nissa ke penangkaran buaya yang terletak di ujung kota ini.
Nissa tampak sangat antusias melihat banyaknya buaya yang dipelihara disini. Apalagi ini adalah kali pertamanya datang ke tempat ini. Disini ia bisa mengenal berbagai macam jenis buaya. Mulai dari biaya muara, buaya air tawar, hingga buaya sumpit.
Kerumunan terjadi di salah satu kolam buaya yang terletak di sudut penangkaran ini. Rupanya ada kegiatan memberi makan para buaya dewasa yang dilakukan oleh penjaga kandang.
Nissa pun tak mau kalah, ia meminta pada penjaga kandang agar memberinya izin untuk ikut memberi makan. Walaupun agak aneh namun sang penjaga kandang mengiyakan permintaan Nissa. Saat Nissa melemparkan makanan buaya tersebut dari luar pagar pembatas para pengunjung seketika bersorak dengan riuh. Hanya Randy yang bergidik ngeri melihat hal tersebut.
"Seru, ya," ucap Randy, kini mereka telah berada di dalam mobil dan menuju lokasi kencan berikutnya.
"Iya, seru banget kak. Kapan-kapan saya mau mengajak Dini dan Diki ke penangkaran buaya tadi," sahutnya.
"Siapa mereka?" tanya Randy.
"Oh, Dini sama Diki?" tanya Nissa.
"Iya," jawab Randy.
"Mereka berdua adik-adik saya, kak," jawab Nissa.
Randy membulatkan mulutnya membentuk huruf O sembari menganggukan kepala.
"Tempatnya seru, tapi sayang, ada yang kurang," ucap Randy.
"Apa yang kurang, kak?"
"Buayanya kurang satu jenis," jawabnya.
__ADS_1
"Memang ada lagi selain jenis buaya yang ada disana?" tanya Nissa penasaran.
"Ada," sahut Randy singkat.
Nissa mengerutkan keningnya. "Buaya apa?"
Randy tersenyum matanya melirik Nissa sekilas.
"Buaya darat," ujarnya.
"Hahahahaha, kalau itu tidak perlu di pelihara sudah tumbuh subur di dunia ini," sahut Nissa yang disambut gelak tawa Randy.
"Nis, aku boleh tanya sama kamu?" tanya Randy tiba-tiba.
"Boleh, mau tanya apa, kak?" tanya Nissa.
"Kenapa kamu mau tinggal bareng sama pak Ardian?" tanya Randy. "Maaf kalau aku lancang," sambungnya.
"Tidak apa, kak. Saya tinggal bersama pak Ardian karena beliau tidak mau saya menjadi repot pulang pergi antara kosan dan apartemen karena selain sebagai pelayan saya juga merangkap jadi supir sekaligus pengawalnya," ucap Nissa menjelaskan.
"Oh, jadi itu alasannya," ujar Randy.
"Iya, kak," sahut Nissa singkat.
Randy tersenyum sinis, entah perasaan Nissa saja atau ada hal lain yang membuat gadis itu merasa ada yang aneh dengan Randy.
Mereka telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Tujuan mereka selanjutnya adalah menonton film di Cinema 24. Film yang ditayangkan disana biasanya adalah film-film yang selalu masuk jajaran box office dunia.
"Kamu tunggu disini, Nis. Biar aku yang antri tiketnya," ujar Randy.
Nissa menganggukkan kepala. Kini ia duduk di depan sebuah kedai minuman kekinian. Nissa kemudian membeli Es Boba, minuman yang kini sedang naik daun. Nissa memilih varian carabian nut dengan tambahan cream cheese diatasnya. Nissa membeli dua gelas. Satu untuknya dan satu untuk Randy.
Ponselny berdering. Nissa melihat nama bosnya tertera pada layar ponselnya. Tanpa menunggu lagi Nissa segera menerima panggilan tersebut daripada pria itu marah-marah.
"Halo, tuan."
"Halo, Nis. Kamu dimana?"
"Saya lagi di Mall XX, tuan."
"Apa yang kamu lakukan disana?"
"Kencan."
"Apa?! Kencan?!" Saking nyaringnya Nissa sampai harus menjauhkan ponsel tersebut dari telinganya.
"Iya, kencan."
"Kamu kencan bersama siapa?"
"Seseorang."
"Hahaha, memang siapa yang mau berkencan denganmu?" Nissa mendengus sebal mendengarnya, selalu saja menghina.
"Tentu saja ada, tuan tidak perlu tahu siapa orangnya."
"Hah, kamu pikir aku percaya?"
__ADS_1
"Itu terserah tuan, saya tidak akan memaksa anda mau percaya atau tidak."
Bertepatan dengan itu Randy datang, ia memegang dua buah tiket nonton di tangannya.
"Ayo, Nissa," ucap Randy sambil memunjukkan kedua tiket tersebut pada Nissa.
Suara Randy dapat terdengar jelas oleh Ardian melalui panggilan teleponnya yang masih tersambung.
"Nissa, siapa itu?"
"Teman kencan saya, tuan."
"Nissa, pulang sekarang!"
"Maaf, tuan. Film yang akan kami tonton sudah mulai diputar. Saya tutup dulu." dan tanpa aba-aba Nissa segera memutuskan panggilannya.
"Siapa?" tanya Randy.
"Oh, pak Ardian," jawabnya singkat.
"Ini," Randy menyerahkan selembar tiket pada Nissa.
"Terima kasih," ucapnya.
Mereka berdua sekarang memasuki studio nomor empat. Awalnya Nissa berpikir jika Randy akan membeli tiket untuk menonton film yang penuh adegan kekerasan, seperti Avegent, Matic, Mission Possible, dan sejenisnya. Ternyata dugaannya salah. Randy memilih untuk menonton film dengan adegan kekerasan di atas ranjang. Nissa memang belum pernah menontonnya namun ia pernah mencari informasi mengenai film tersebut melalui internet. Hal ini membuat Nissa merasa risih dan tidak nyaman.
Sementara itu Ardian kini merasa kesal sendiri di dalam kamar apartemen Roli. Setelah Nissa memutus sambungan teleponnya tadi ia kemudian pergi ke apartemen sahabatnya itu.
"Gue udah ngikuti saran loe, dan hasilnya Nissa malah jalan sama cowok lain," ucap Ardian geram, ia kini menatap kedua netra Roli dengan tajam.
"Itu salah loe sendiri, kenapa punya mulut kelewat lemes," jawab Roli.
"Mulut gue tu lemes dibagian mananya coba?" tanya Ardian heran, karena ia merasa tak melakukan kesalahan apapun pada Nissa sejak gadis itu kembali ke kota B.
"Loe tuh beg* atau gob*ok, Di? Coba loe ingat apa yang loe omongin dipantai waktu itu?" Roli benar-benar geram pada sahabatnya ini. Ingin rasanya ia membagi sebagian otaknya.
Ardian yang terlalu bodoh dalam urusan percintaan itu hanya bisa melongo. Ia mencoba mengingat apa yang ia katakan pada Nissa di pantai waktu itu.
"Perasaan gue cuma nyuruh dia balik kok," ujarnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
Roli menghela nafasnya kasar. Sungguh ingin rasanya ia menjitak kepala si tuan muda anehnya ini.
"Loe emang nyuruh dia buat cepetan balik kerja, tapi cara loe yang salah, Di," ucapnya dengan sabar.
"Gue ngomong gitu juga karena ngikuti saran loe, kan," sahut Ardian.
"Saran yang mana?" tanya Roli heran.
"Loe bilang kalau perempuan itu gak usah dikejar, kalau dikejar malah dia bisa lari. Makanya gue ngomong gitu biar Nissa gak lari dari gue karena merasa kalau gue ngejar dia," ucapnya menjelaskan.
"Tapi gak gitu juga, B E G O !!!"
BERSAMBUNG
See u next chapter gengss
luv u all 😘😘
__ADS_1
Jangan lupa BAHAGIA 😍😍