
Setelah Ardian pergi meninggalkannya masuk ke kamar, Nissa pun masuk ke kamarnya sendiri. Ia melangkah menuju kamar mandi lalu segera membersihkan diri. Berulang kali ia menyabuni tubuhnya karena merasa kotor oleh ciuman Ardian tadi.
Perbuatan Ardian yang menciumnya secara tiba-tiba tadi membuatnya kembali teringat akan peristiwa kelam di masa remajanya. Peristiwa yang membuatnya merasa jijik dan terhina. Karena peristiwa itu pula ia mengalami trauma berkepanjangan bahkan hingga saat ini.
Selesai mandi dan berpakaian Nissa naik ke tempat tidur. Ia kembali terisak karena bayangan saat ia hampir diperkosa oleh orang terdekatnya menari-nari dalam pikirannya. Bahkan ia masih bisa mengingat semua kejadian menjijikkan itu dari awal sampai akhir.
Selama beberapa hari ini Nissa merasa bahagia walaupun Ardian selalu memberinya tugas yang melelahkan namun mimpi buruk itu tak pernah datang. Dan karena tingkah agresif Ardian tadi membuat mimpi itu datang lagi.
***
Pagi ini Ardian sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia melangkah menuruni tangga menuju ke lantai bawah. Ia terkejut saat mendapati Nissa menyiapkan sarapan di dapur.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Nissa.
Ardian mengerutkan keningnya heran dengan sikap Nissa yang terlihat biasa-biasa saja. Bukankah tadi malam ia menangis saat aku menciumnya. Kenapa pagi ini terlihat biasa saja? Apa kejadian tadi malam itu hanya mimpi? Tapi terasa begitu nyata.
"Tuan," panggil Nissa karena melihat Tuannya sedang melamun.
Seketika Ardian tersadar. "Bukankah aku sudah melarangmu untuk menyiapkan sarapan, aku tidak suka memakan masakanmu, rasanya sungguh menjijikkan," ucapnya menghina.
Nissa menatapnya nanar, kemudian tatapannya berubah sendu. Ia meletakkan secangkir minuman ke hadapan Ardian.
"Ini wedang jahe, bisa untuk menghangatkan tubuh lebih baik daripada minuman beralkohol seperti yang anda minum tadi malam," ucapnya menyindir, namun yang disindir malah pura-pura tidak tahu.
Ardian tampak ragu melihat minuman tersebut.
"Kau tidak menaruh racun dalam minuman ini, kan?" tanya Ardian penuh kecurigaan.
Nissa hanya diam tak menjawab karena hatinya sedang kesal saat ini. Nissa merasa geram pada Ardian karena berani menciumnya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata maaf sama sekali.
Apalagi melihat sikap cuek Ardian pagi ini, Nissa yakin bila Tuannya ini memang benar-benar pria br***sek. Dasar pria kurang ajar, bisa-bisanya dia bersikap santai setelah apa yang dilakukannya padaku tadi malam.
Melihat sikap diam Nissa membuat Ardian mengalah dan meraih cangkir tersebut lalu meminum cairan didalamnya hingga tandas.
__ADS_1
***
Keheningan terjadi di dalam mobil yang mereka berdua tumpangi saat ini. Nissa berdiam diri namun mengumpat habis-habisan perilaku Ardian tadi malam yang menurutnya sangat menjijikkan dan tak berperasaan.
Sementara Ardian menatap tajam ke arah Nissa yang duduk di posisi pengemudi. Otaknya bekerja keras memikirkan sikap Nissa yang terlihat biasa saja hingga ia berpikir jika yang dialaminya tadi malam itu hanya mimpi. Tapi mengapa aku mencium Nissa di mimpiku? Ah, ini sungguh membingungkan.
***
Satu Bulan Kemudian
Tak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya. Bahkan sudah sebulan sejak kejadian dimana bibir Ardian menyatu dengan bibir Nissa. Mereka berdua masih sama-sama diam. Berpura-pura melupakan bahkan merasa hal tersebut hanyalah mimpi belaka.
"Bagaimana dengan klien dari Kota C?" tanya Ardian pada Roli saat mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah hotel untuk melakukan pertemuan dengan salah satu klien.
"Klien tersebut setuju untuk menemui anda, tapi ia hanya memiliki waktu malam ini saja, pak," ucap Roli menjelaskan.
"Baiklah, segera atur tempat untuk melakukan meeting malam ini," perintah Ardian.
"Baik, pak," Roli mengangguk tanda siap menjalankan perintah Ardian.
"Malam ini kamu harus lembur, Nis. Aku ada jadwal di luar, seperti biasa tugasmu adalah mengawalku disana," ucap Ardian pada Nissa.
"Baik, Tuan," sahutnya singkat.
Ardian meraih tabletnya dan mulai memeriksa harga saham terbaru saat ini. Ia biasa melakukannya untuk mengisi waktu sekaligus menghindari perasaan aneh yang selalu hadir bila ia di berada di dekat Nissa.
Selain itu selama satu bulan ini ia merasa canggung bila berbicara pada gadis pengawalnya. Nissa pun selalu menghindari tuannya sebisa mungkin karena ia takut hal serupa terjadi lagi sementara hubungan mereka hanyalah sebatas majikan dan pelayan.
***
Malam ini Ardian menjadi semakin tampan karena penampilannya yang terlihat sangat menarik. Ia memenuhi permintaan klien dari Kota C untuk mengadakan pertemuan malam ini.
Asisten Roli telah memesan sebuah ruangan khusus meeting di sebuah restoran berbintang. Restoran yang menyediakan menu Nusantara itu dipilih karena klien yang akan mereka temui adalah seseorang pemimpin sebuah perusahaan rekaman yang sangat mencintai makanan khas dari berbagai daerah di negara ini.
__ADS_1
Seketika semua pasang mata pengunjung ini beralih menatap Ardian saat pria itu baru saja memasuki bangunan restoran. Para kaum hawa tak terkecuali pelayan menatap Ardian dengan rasa kagum.
Sementara Nissa yang berjalan mengikutinya dibelakang hanya mampu memcibir tingkah para wanita ini. *Ck, seperti melihat artis saja. Ingin rasanya kucucuk mata mere*ka. Batinnya geram.
Kini mereka berdua masuk kedalam ruangan yang telah dipesan oleh Roli. Mereka terkejut saat melihat seorang pria paruh baya dan beberapa orang pengawalnya.
"Selamat datang, Bapak Ardian Sanjaya," pria paruh baya itu berdiri dan menyapanya.
"Terima kasih, pak. Maafkan kedatangan saya yang terlambat ini," ucap Ardian dengan tulus.
"Ah, tidak apa-apa. Lagipula sayalah yang terlalu cepat tiba disini," sahut pria itu.
"Bapak terlalu merendah, saya yang lebih muda harus belajar sikap rendah diri anda, pak," ucap Ardian, niatnya memuji tetapi Nissa menganggap Tuannya itu sedang 'menjilat' kliennya.
Pria itu mengalihkan pandangannya pada Nissa. Ia menatap lekat wajah gadis berpenampilan ala agen rahasia dalam film terkenal seperti Mission Imposible.
"Siapa gerangan nona cantik ini?"
"Dia Annissa, pengawal pribadi saya," jawab Ardian. Ada rasa tidak rela melihat Nissa diperhatikan oleh pria tadi.
"Saya pikir gadis manis ini adalah kekasih anda, karena kabarnya anda belum menikah sampai sekarang," ujar pria itu dengan diselingi tawa kecil.
"Tidak, pak. Selera saya terlalu tinggi dalam hal mencari pasangan hidup, dan pengawal saya ini tidak masuk dalam daftar kriteria gadis idaman saya," balas Ardian sambil terkekeh. Memang benar, kan. Lagipula siapa yang mau melirik titisan nenek lampir ini?
Mereka berdua tertawa bersama menanggapi ucapan Ardian barusan. Sementara Nissa wajahnya kini merah karena malu. Ia merasa tertampar mendapat kalimat penghinaan yang keluar dari mulut Ardian.
Tidak bisakah kau menghargaiku walaupun sedikit saja, Tuan Ardian. Betapa hinanya diriku ini hingga kau mengatakan hal seperti itu secara terang-terangan di sini. Lalu mengapa kau menciumku jika aku bukan tipe gadis idamanmu.
Ingin rasanya Nissa berteriak, tidak, bukan hanya berteriak tapi melampiaskan amarahnya dengan cara memukul si pembuat onar berparas rupawan ini.
Tapi Nissa tidak bisa melakukannya karena ia masih ingat dengan perjanjian surat perjanjian yang ditanda tanganinya waktu itu. Disana tertulis bahwa ia dilarang menyentuh Ardian begitu pun sebaliknya.
Lalu apa gunanya surat perjanjian itu saat pria gila itu menciumku. Ah, dasar br***sek!!
__ADS_1
BERSAMBUNG
Hai readers, jangan lupa like and comment ya 🥰 supaya Mbak Tika semakin semangat berkarya 😍