
"Nissa, maukah kamu menjadi sahabatku?" tanya Ardian lagi.
JEDERR
Wajah Nissa berubah pias mendengar pertanyaan Ardian. Apa aku terlalu berharap tinggi pada pak Ardian?
Nissa tersenyum kecut. Seperti dikomando Nissa mengangguk lemah.
"Apa kamu serius mau menjadi sahabatku?" tanya Ardian, ia menatap Nissa mencari kejujuran di mata gadis itu.
"Iya, tuan." ucapnya dengan senyum yang di paksakan.
Ardian tersenyum puas. Ia sangat bahagia. Biarlah kali ini kami bersahabat dulu, akan aneh jika aku langsung menyatakan cintaku padanya. Batinnya sambil memandang Nissa yang mengalihkan tatapan ke arah taman.
Berbanding terbalik dengan Ardian. Hati Nissa perih saat mengetahui bosnya ternyata hanya menginginkannya menjadi sahabat. Ia salah sangka rupanya. Nissa bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang.
Tanpa terasa hari mulai petang. Ardian mengajak Nissa untuk pulang. Namun sebelumnya mereka menjemput asisten Roli terlebih dahulu di lokasi proyek pembangunan pusat perbelanjaan.
Sepanjang perjalanan Ardian mengajak Nissa berbicara. Bahkan ia sengaja memilih duduk di depan agar bisa lebih leluasa mengobrol bersama pemilik hatinya.
"Nis, kamu dari kapan jago beladiri?" tanya Ardian.
"Tidak tahu, tuan," jawab Nissa.
"Astaga, Nis. Kita kan sudah jadi sahabat. Kenapa cara bicaramu masih seperti itu?" tanya Ardian heran.
"Terus saya harus bicara seperti apa?" tanya Nissa.
"Ya, kalau bisa seperti kamu berbicara pada sahabatmu."
Asisten Roli yang duduk di belakang memgerutkan keningnya heran melihat interaksi yang terjalin antara Ardian dan Nissa. Diam-diam ia tersenyum sendiri. Rupanya kamu sudah melangkah lebih jauh, Di. Batinnya.
"Saya tidak bisa, tuan," sahut Nissa.
"Harus bisa, ini perintah," tukas Ardian.
"Kalau saya tidak mau, bagaimana?"
Ardian menoleh ke arah Nissa yang fokus mengendarai mobil. Apalagi di malam hari seperti ini pengendara harus lebih fokus dan berhati-hati.
"Kalau kamu tidak mau, gajimu aku potong," ancamnya, ia yakin jika Nissa pasti akan menurutinya.
"Ck, katanya sahabat. Memang ada orang yang memotong gaji sahabatnya sendiri?" tanya Nissa kesal, wajahnya sudah cemberut.
"Ada," sahut Ardian cepat.
"Siapa?"
"Aku," jawab Ardian bangga. Sedetik kemudian ia tertawa lepas. Sementara Nissa dan Asisten Roli hanya bisa menatap heran pada tingkah Ardian.
Melihat tak ada reaksi dari Nissa, Ardian menutup mulutnya seketika. Ia membuang pandangannya ke arah gelapnya hutan yang mereka lewati saat ini.
Nissa melirik Ardian, ia pikir Ardian marah sehingga Nissa pun akhirnya mengalah pada tuan yang hobi memaksa itu.
"Baiklah, tuan. Saya akan menuruti permintaan anda, tapi dengan satu syarat,"
"Apa syaratnya?" sahut Ardian cepat.
"Naikkan gaji saya," Nissa tersenyum kecil.
"Kamu ini, sahabat sendiri di peras seperti itu," sahut Ardian kesal.
"Ya sudah kalau tidak mau,"
__ADS_1
"Oke, oke. Gajimu kunaikkan," sahutnya cepat.
"Siap, bos. Mulai hari ini mari kita mengakrabkan diri," ucap Nissa.
"Dasar mata duitan," sahut Ardian, namun seulas senyum terbit di wajahnya.
***
Tanpa terasa satu minggu sudah Nissa dan Ardian resmi menjadi 'sahabat'. Sahabat dalam arti yang sebenarnya menurut Nissa, namun sahabat dalam tanda kutip bagi Ardian.
Ardian sedang memeriksa laporan keuangan ketika Verica sang adik masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan Ardian Sanjaya," panggilnya.
Ardian mendongak. "Kamu kenapa bisa ada disini?" tanya sang kakak heran, ia segera menutup laptopnya.
"Itu karena kakak."
"Kenapa memangnya denganku?" tanya Ardian.
Ica mengela nafasnya perlahan. "Kakak bilang mau menemui pacarku, tapi sampai sekarang tidak ada kabarnya,"
Ardian mengernyitkan keningnya. Ia baru ingat sekarang jika ia telah berjanji untuk bertemu dengan kekasih adiknya dan membicarakan hubungan mereka.
"Maaf, aku lupa,"
"Kebanyakan alasan," sahut Ica kesal.
"Uh, jangan marah dong adikku yang cantik dan imut, nanti jeleknya hilang loh," candanya.
"Kakak apaan, sih," ucap Ica kesal.
"Kakak benar-benar sibuk beberapa minggu ini. Besok deh, kita ketemuan. Sekalian kakak mau memperkenalkan kamu dengan pengawal yang kakak bicarakan waktu itu, bukankah kamu ingin bertemu dengannya?"
"Benarkah?"
"Iya, benar," ucap Ardian meyakinkan adiknya.
"Kakak tidak berbohong, kan?" tanya Ica penuh selidik.
"Tidak," sahutnya.
"Janji, ya," Ica mengarahkan jari kelingkingnya ke hadapan Ardian.
"Ck, seperti anak kecil saja," sahut sang kakak.
Ardian menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ica. Hal seperti ini memang biasa mereka lakukan sejak mereka masih kecil.
"Malam ini kamu tidur dimana?" tanya Ardian.
"Aku tidur di hotel, kak,"
"Kenapa tidak menginap di apartemenmu sendiri saja. Seingatku kamu memiliki apartemen di daerah Cempaka," ujar Ardian.
"Sudah aku jual," sahutnya santai.
"Loh, kok bisa?" Ardian melotot setelah mendengarnya.
"Ya, bisalah."
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?"
"Malas," sahut Ica.
__ADS_1
"Alasannya?" tanya Ardian lagi.
"Kalau aku bilang pasti kakak yang membelinya, kalau harganya sesuai sih tidak masalah. Masalahnya kakak selalu menawar harga barang terlalu murah," jawab Ica akhirnya.
Ardian terkekeh dengan penuturan Ica. Adiknya ini kalau berbicara memang terlalu jujur.
***
Hari ini Ardian membawa Nissa pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Disana mereka akan bertemu dengan Ica dan sang kekasih.
"Kak Ardian!" Ica melambaikan tangan saat Ardian memasuki salah satu resto ayam goreng di pusat perbelanjaan tersebut.
Ardian melambaikan tangannya juga. Ia menoleh ke arah Nissa dan memberinya kode agar segera mengikutinya.
"Kalian sudah lama tiba disini?" tanya Ardian. Ia mengambil duduk tepat di depan pacar Ica sementara Nissa duduk tepat di depan Ica.
"Tidak, kami baru saja tiba," jawab Ica seadanya.
Pria yang duduk di samping Ica mengulurkan tangannya kepada Ardian.
"Perkenalkan, nama saya Joko," sapanya sopan.
"Saya Ardian Sanjaya, kakaknya Ica, pacar kamu," balas Ardian, ia menyambut uluran tangan Joko dengan hangat.
"Hai, aku Ica adiknya kak Ardi," kali ini Ica mengulurkan tangannya kepada Nissa.
Nissa memang sudah diberitahu oleh Ardian tadi jika mereka akan menemui Ica dan pacarnya hari ini.
"Hai, aku Nissa," balas Nissa seadanya.
"Kalian pacaran?" tanya Ica tiba-tiba.
Seketika Ardian menjadi kikuk, wajahnya memerah. Nissa mengetahui gelagat Ardian langsung menyambar pertanyaan Ica.
"Bukan, kami bukan pasangan kekasih seperti kalian," sahut Nissa, ia tidak mau orang lain salah paham.
"Oh, aku kira kalian ini pacaran. Jadi ini pengawal yang kak Ardi ceritakan waktu itu?" tanya Ica.
"Iya, gimana menurutmu? Dia keren, kan?" tanya Ardian.
Ica mengacungkan jempolnya. Kemudian ia memperhatikan wajah Nissa dengan lekat.
"Sepertinya aku mengenalmu," ucap Ica kemudian. "Aku rasa kita pernah bertemu, tapi dimana?"
Nissa juga ikut berpikir dimana kira-kira ia bertemu dengan Ica, karena ia pun merasa familiar dengan wajah adik Ardian itu.
"Astaga! Kamu Annissa dari kecamatan LJ, ya?" tanya Ica kemudian. Ia mulai ingat.
"Iya," sahut Nissa.
"Kamu yang pernah ikut pertandingan beladiri tingkat provinsi itu, kan? Yang nyerah sebelum kamu bertanding, kan?" tanya Ica bertubi-tubi.
"Iya, benar. Bagaimana kamu bisa memgetahuinya?" tanya Nissa heran.
Ica bangun dan mendekati Nissa. Kemudian ia memeluk Nissa dengan erat. Nissa dan Ardian dibuat bingung dengan tingkah Ica yang begitu tiba-tiba.
"Nissa, aku kangen sama kamu. Apa kamu sudah lupa padaku?" tanya Ica sambil terisak.
Nissa semakin dibuat bingung dengan Ica. Ardian juga kaget melihat adiknya tiba-tiba menangis sambil memeluk Nissa.
Seketika Nissa membulatkan matanya, ia seperti mengingat sesuatu.
"Kamu...?"
__ADS_1