
Seminggu sudah lamanya sejak kejadian pembegalan tersebut. Selama itu pula Nissa dirawat di rumah sakit. Kini Nissa tengah berbenah merapikan barang-barangnya untuk dibawa pulang.
Ardian sudah tak pernah datang mengunjungi Nissa sejak perseteruannya beberapa hari yang lalu. Semenjak itu pula ia menarik semua fasilitas mewah yang diberikannya. Nissa dipindahkan dari ruang VVIP ke ruang rawat kelas tiga. Perawat yang dipekerjakan Ardian saat itu pun di bebas tugaskan. Alhasil Nissa melakukan semuanya seorang diri. Kadang ada beberapa keluarga pasien lain yang membantunya.
Kini Nissa bingung harus kemana setelah keluar dari rumah sakit. Ia tidak mungkin meminta bantuan pada Dinda, apalagi dengan sifat lebay sahabatnya itu membuatnya merasa sungkan. Tapi ia tidak mungkin kembali ke apartemen, terlebih saat ini Ardian sedang menaruh curiga padanya.
Seorang perawat datang dengan mendorong sebuah kursi roda yang kosong.
"Mari, Nis. Saya bantu," ucap perawat tersebut.
Nissa terkejut mendengarnya. "Saya maksudnya?" tanya Nissa ragu.
"Iya, kamu. Memang siapa lagi," ujar perawat itu sambil tersenyum.
"Ah, saya bisa jalan kaki sampai ke depan, suster," ucap Nissa menolak dengan sopan.
"Sudah, duduklah. Kalau kamu tidak mau nanti malah saya yang dimarahi sama suami kamu," ucapnya.
Nissa melongo. "Suami? Suster salah orang, nih. Saya belum punya suami," ucap Nissa terkekeh.
"Loh, pak Ardian bukan suamimu toh?" tanya perawat itu heran.
"Bukan, saya bukan istrinya, dan dia bukan suami saya," jawab Nissa tegas dan penuh penekanan.
"Saya pikir pak Ardian itu suamimu. Karena setiap hari dia menanyakan keadaanmu pada kami," ujar perawat itu.
Nissa tertegun mendengar penuturan perawat didepannya ini. Apa benar tuan Ardian menanyakan kabarku setiap hari? Bukankah dia marah padaku karena mengira aku terlibat dalam kasus pembegalan tersebut?
Akhirnya Nissa mengikuti permintaan perawat untuk duduk di kursi roda yang telah disediakan. Setelah Nissa duduk perawat tersebut kemudian mendorong kursi roda itu dengan perlahan.
"Bagaimana dengan barang-barang saya?" tanya Nissa khawatir.
"Tenang saja, nanti akan ada orang yang membawanya ke bawah," ucap perawat itu.
Perawat tersebut membawa Nissa menuju parkiran khusus mobil yang disediakan pihak rumah sakit. Sesampainya disana sebuah mobil sedan hitam sedang menunggu mereka.
Tampak asisten Roli keluar dari depan. Ia bergegas membukakan pintu mobil untuk Nissa.
"Silahkan masuk, Nis," ucapnya.
__ADS_1
"Saya bisa pulang sendiri, pak Roli. Tidak perlu menjemput saya seperti ini," ucap Nissa, ia merasa tidak nyaman di perlakukan seperti ini.
"Kamu mau mempermalukan saya? Apa kata orang nanti jika aku membiarkanmu pulang dari rumah sakit sendirian," tiba-tiba kaca jendela mobil bagian belakang terbuka.
Tampak Ardian menatap Nissa dengan tajam. Nissa pun bingung harus mengikuti atau tidak. Akhirnya Nissa hanya diam dan menundukkan kepala.
Ardian yang tak sabar dengan sikap Nissa pun keluar dari mobil. Ia berdiri tepat di depan Nissa dengan wajah kesal.
"Sekarang pilih salah satu. Mau masuk sendiri atau kuseret kedalam secara paksa?" dari nada bicaranya saja Ardian tampak menahan amarahnya.
Nissa segera berdiri dan berjalan perlahan memasuki mobil. Roli bersiap membantu namun Ardian melarangnya.
"Biarkan saja dia masuk sendiri, tak usah dibantu," ucapnya dengan ketus.
Tak lama seorang pegawai kebersihan di rumah sakit keluar dengan membawa barang-barang milik Nissa. Roli membuka bagasi belakang mobil dan memintanya untuk memasukkan semua barang tersebut kedalam sana.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Suasana terasa hening karena tak ada satu orangpun yang berbicara. Hanya terdengar suara nafas masing-masing.
"Bolehkah saya mencari tempat tinggal lainnya untuk sementara?" Nissa bertanya dengan ragu.
"Mengapa? Kamu mau kabur?" tanya Ardian, matanya melirik kesamping dimana Nissa duduk saat ini.
"Tidak, buat apa saya melarikan diri, tuan. Saya hanya ingin fokus pada proses penyembuhan luka saya saja," jawab Nissa jujur, selain itu ia merasa enggan untuk berada dalam satu atap dengan orang yang curiga terhadap dirinya.
"Tapi, tuan. Saya-,"
"Tidak ada alasan. Kau akan tinggal disana , bila terbukti kau bersalah dan terlibat didalamnya, aku akan lebih mudah menyiksamu," ucapnya dengan senyum licik di bibirnya.
Nissa diam dan kembali menundukkan kepala. Pria di sampingnya ini benar-benar tidak bisa dibantah. Ia hanya bisa pasrah menerima semua ini.
Mobil yang mereka tumpangi kini memasuki basement apartemen. Ardian keluar lebih dulu dan berlalu begitu saja, meninggalkan asisten Roli dan Nissa.
"Pelan-pelan jalannya, Nis," ucap Roli mengkhawatirkan Nissa.
"Tidak apa-apa, pak Roli. Lagipula luka saya sudah tidak sakit lagi," sahut Nissa.
Asisten Roli tahu jika Nissa sedang berbohong. Ia sempat memergoki Nissa meringis kesakitan saat ia mengeluarkan barang-barang Nissa.
"Biar saya bawa sendiri, pak," pinta Nissa. Ia tidak enak hati melihat asisten Roli membawa barang-barangnya.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak usah sungkan padaku. Biar aku yang membawa barangmu, kamu berpeganganlah pada lenganku," perintahnya pada Nissa.
"Tidak usah, pak. Saya bisa berjalan sendiri," ucap Nissa menolak bantuan dari asisten Roli.
"Jangan menolak, aku tahu saat ini kau sedang kesusahan berjalan," ucap asisten Roli sedikit memaksa, ia memberikan lengan kirinya untuk Nissa.
Akhirnya dengan rasa terpaksa Nissa menerima bantuan asisten Roli. Mereka berjalan perlahan menuju unit apartemen Ardian.
Ardian duduk bersandar di sofa saat Nissa dan Roli masuk ke dalam. Ia menyorot Nissa dengan tajam.
"Duduklah," perintahnya.
Nissa segera duduk, ia memilih sofa tunggal di dekat Ardian.
"Selama belum ada bukti jika kau tidak terlibat dalam kasus ini, bersikaplah seperti hantu," ucap Ardian sinis.
"Maksudnya, tuan?" Nissa bingung, ia menatap Ardian dengan wajah penuh tanya.
"Bersikaplah seperti hantu, kau tahu apa itu hantu, kan?" ia tersenyum mengejek.
Nissa menggeleng, sementara asisten Roli hanya bisa menghela nafas perlahan, ia merasa iba melihat Nissa diperlakukan seperti itu oleh Ardian.
"Dasar bodoh, apa kau tidak tahu hantu itu apa?" tanya Ardian setengah membentak.
Nissa menundukkan kepala. Ia benar-benar tidak tahu dengan maksud Ardian. Apa ia ingin aku mati lalu menjadi hantu? Sungguh menyeramkan.
"Jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapanku. Aku tidak ingin melihatmu, bahkan hanya mendengar suara nafasmu saja aku tidak mau," ucap Ardian.
Nissa hanya terdiam tak menanggapi ucapan Ardian. Tangan gadis itu mengepal. Ia sungguh membenci pria br*****k di hadapannya ini. Biarlah untuk saat ini bertahan dulu di sini, pikirnya.
Ardian berdiri, ia merapikan jas yang dipakainya lalu beranjak keluar. Langkahnya terhenti saat ia mencapai di depan pintu.
"Ingat ucapanku tadi, bersikaplah seperti hantu, dan jangan pernah melarikan diri dari sini. Aku akan menhancurkanmu dan keluargamu jika kau nekat melakukan itu," ancamnya, setelah itu ia keluar, meninggalkan Nissa sendiri yang kini terpejam sambil menggigit bibirnya, Menahan anarah yang telah siap meledak dari tadi.
BERSAMBUNG
Hai gengss, mbak tika mengucapkan terima kasih teruntuk kalian semua yang sudah rela menyediakan waktunya untuk membaca karya receh saya ini.
Ungkapan terima kasih terdalam juga saya berikan untuk kalian yang telah memberikan like dan komentar, serta untuk kalian yang dengan ikhlas menyumbangkan poin.
__ADS_1
Teruntuk siapapun kalian yang telah memberikan koin untuk karya ini saya ucapkan luv luv luv very much.
sampai jumpa di next chapter ya 🥰🥰