
Dinginnya udara malam tak menyurutkan langkah Nissa untuk segera tiba di lokasi kecelakaan tersebut. Tampak mobil Ardian yang terperosok ke dalam jurang, entah bagaimana nasib penumpang di dalamnya.
Walaupun jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari namun para tim penyelamat masih bekerja keras barusaha menyelamatkan sang pengendara.
Seorang ketua tim penyelamat menerima panggilan melalui radionya. Wajahnya seketika menegang, ia menatap wajah pak Hendra yang sudah hadir disana. Kemudian ia menyampaikan berita yang baru saja ia dapatkan dari anggotanya di dasar jurang kepada Pak Hendra.
Wajah Pak Hendra seketika ikut menegang, hal itu membuat Nissa menjadi penasaran. Ia mulai berasumsi negatif. Bagaimana jika yang di sampaikan adalah kabar buruk? Pikirnya.
Tanpa pikir panjang Nissa meraih tali yang dipakai untuk para penyelamat turun ke dasar jurang dan memakainya. Kemudian dengan sigap Nissa turun ke dasar jurang. Beberapa orang yang melihat pun berteriak melarang Nissa.
Nissa tak menghiraukan segala teriakan orang-orang tadi. Ia tetap melanjutkan aksinya dan semakin turun ke bawah. Ia ingin melihat sendiri kondisi dibawah.
Sepanjang ia menuruni jurang itu, otaknya tak berhenti memutar memori kebersamaannya dengan si bos gilanya.
"Nissa!" teriak Roli.
Nissa tetap bergerak turun ke dasar jurang. Dan kini luka bekas operasinya pun ikut berdenyut nyeri. Ia hanya meringis sambil menahan sakitnya.
"Siapa gadis itu?" tanya Pak Hendra.
"Dia pengawal pribadi Ardian, pak," jawab Roli tegas.
"Pengawal pribadi?"
"Iya, benar pak."
"Apa dia adalah pengawal yang tertusuk waktu itu?"
"Benar, pak. Dialah pengawal yang terkena tusukan saat berusaha melindungi Ardian, pak," jawab Roli menjelaskan.
Pak Hendra terdiam, ia menatap Nissa dari atas. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Sementara itu Edi yang juga ikut ke lokasi kecelakaan hanya bisa menggelengkan kepala melihat aksi Nissa.
"Kenapa saat dia telah tiada kamu baru menyadarinya, Nissa?" gumamnya lirih.
Nissa segera melepas tali yang melilit tubuhnya. Ia berlari ke arah mobil Ardian yang terbalik dibdasar jurang tersebut. Beberapa tim penyelamat yang berjaga berteriak memanggilnya, namun Nissa tetap kekeh dan tak menghiraukan panggilan dari tim berseragam oranye tersebut.
Nissa menerjang semak belukar agar bisa sampai disana, bahkan luka sayatan semak belukar dan luka bekas operasinya yang berdenyut nyeri tak dihiraukannya lagi. Saat tiba Nissa melongokkan kepalanya mencari keberadaan Ardian di dalam mobil.
KOSONG!!
Mobil Ardian rusak parah, namun penumpangnya menghilang. Ada rasa lega mengetahui orang yang ia cari tak berada di dalam mobil.
Nissa melihat kesekelilingnya. Jantungnya kembali berpacu dengan cepat. Kekhawatiran kembali menyelimutinya.
Bagaimana jika ia terlempar dan malah jatuh ke sungai. Nissa melihat para penyelamat yang berada di air untuk melakukan pencarian.
Tubuhnya luruh seketika. Air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya turun tak terbendung. Nissa menangis histeris. Ketakutan terbesarnya terjadi. Tadi ia sudah berharap mungkin Ardian sempat mengeluarkan dirinya saat kecelakaan terjadi. Namun melihat betapa kusutnya wajah para penyelamat yang berada di air membuat pertahanannya runtuh.
"Ardiaaaan!!" Nissa berteriak di samping mobil yang terbalik tersebut.
"Ardiaaaan!!" teriaknya lagi.
__ADS_1
"Keluar kau! Jangan bersembunyi!"
"Kau bilang akan pulang dan mendengarkan jawabanku, kalau begitu pulanglah bre**sek!!"
"Jangan mempermainkan perasaanku seperti ini, dasar bos gilaaaa!!" teriak Nissa lagi.
"Ardiaaaan!!" Nissa kembali berteriak hingga suaranya serak.
Tes tes tes
Hujan turun dengan tiba-tiba. Kini air matanya sudah bercampur dengan air hujan. Para tim penyelamat mengajaknya untuk naik ke berteduh.
"Saya disini saja, pak," tolaknya.
"Dek, kalau kamu disini terus malah akan menyusahkan kami mencari korban. Jadi sekarang lebih baik kamu kembali dulu. Berdoa saja semoga ada keajaiban," ucap seorang tim penyelamat.
Nissa tetap menolak, ia tetap bersikukuh ingin tetap disanna sampai Ardian di temukan. Para penyelamat bingung harus berbuat apa. Mereka melihat Nissa sudah menggigil kedinginan, bibirnya membiru dan wajahnya memucat.
Beberapa kali tim penyelamat memergoki Nissa yang meringis kesakitan. Sampai akhirnya salah satu dari mereka nekad menggendong Nissa dan memaksanya untuk kembali ke atas.
Karena hujan semakin deras pencarian pun dihentikan sementara. Mereka kembali ke atas melalui jalur yang lainnya. Karena tidak memungkinkan untuk naik memanjat di tali.
"Nis, keringkan tubuhmu dulu," ujar Edi sambil memberikan handuk kering yang ia dapatkan dari salah satu relawan.
Nissa diam tak bergeming, tatapannya kosong. Air mata terlihat kembali mengalir dipipinya.
"Mengapa takdir begitu kejam padaku?" gumamnya lirih.
Tubuh Nissa bergetar dengan hebatnya. Ia merasa bersalah pada Ardian. Seharusnya ia menerima tawaran Ardian, seharusnya ia bisa bahagia dengan pria yang telah mencuri ciuman pertamanya. Seandainya saja...
Edi menghela nafasnya perlahan melihat kondisi Nissa seperti ini. Kini ia yakin, Ardian dan Nissa sama-sama saling mencintai. Namun jika Ardian sudah berani berterus terang dengan perasaannya maka berbeda dengan Nissa. Gadis itu tak pernah menunjukkan perasaannya pada siapapun.
Perlahan getaran di tubuh Nissa berkurang, bersamaan dengan itu tubuhnya terjatuh ke samping. Beruntung Edi dengan sigap menangkapnya hingga ia tidak jadi terjatuh dari atas kursi.
"Nis, Nissa!" ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Nissa.
Berulang kali ia memanggil namun Nissa tak kunjung terbangun. Akhirnya ia memanggil paramedis. Setelah dokter memeriksanya Nissa di bawa kerumah sakit menggunakan ambulans.
***
Nissa terbangun, entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri. Ia mengerjabkan matanya sesaat. Kemudian matanya melirik ke kiri dan kekanan, kemudian menelusuri seluruh ruangan tempatnya terbaring saat ini.
Nissa tersentak saat menyadari dimana keberadaannya saat ini.Ruangan serba putih dengan bau alkohol menyeruak memenuhi seluruh ruangan.
Rumah sakit? Bagaimana aku bisa berada disini?
Nissa kembali mengingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri. Matanya membulat sempurna.
Ardian! Ardian! Ardian!
Nama Ardian terus terulang di benaknya. Nissa segera bangkit dari tidurnya. Ia tidak boleh terus berada disini, ia harus mencari tahu kabar terbaru Ardian.
__ADS_1
Ah, sakitnya.
Nissa memegang luka bekas operasinya. Sepertinya seseorang memasangkan perban yang baru untuknya. Mungkin karena aksinya tadi membuat lukanya kembali terbuka.
Ceklek
Pintu kamar itu terbuka, tampak Edi dan Roli masuk bersamaan.
"Bagaimana keadaanmu, Nis?" tanya Roli.
"Saya baik-baik saja, pak. Hanya nyeri sedikit pada luka bekas operasinya," jawab Nissa jujur.
"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu," ujar Edi.
"Tidak perlu, pak. Saya sungguh tidak apa-apa," ucap Nissa.
Edi kembali duduk di kursi khusus pembesuk. Nissa menatap mereka berdua dengan tatapan sendu.
"Bagaimana kabar pak Ardian, apakah sudah ditemukan? Dia baik-baik saja, kan?" Nissa memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
"Lebih baik kamu beristirahat saja dulu. Nanti setelah ada kabar maka kamu adalah orang pertama yang kuberitahu," perintah Roli.
Roli benar, kondisinya sendiri tidak memungkinkan untuk kembali mencari Ardian.
***
Hari sudah sore, setelah makan siang tadi Nissa kembali beristirahat. Ia bertekad untuk melanjutkan pencarian, oleh karena itu ia harus sehat.
Kini kondisi Nissa sudah lebih baik. Dokter pun sudah mencabut jarum infus yang tertanam ditangannya. Roli masuk ke dalam dengan wajah yang tak bisa di artikan.
"Selamat sore, Nissa."
"Selamat sore, pak Roli."
"Aku membawakan kabar tentang Ardian, Nis," ucap Roli.
Seketika tubuh Nissa menegang, ia berharap akan mendapat kabar baik hari ini.
"Ada apa dengan pak Ardian?"
"Ardian... Di-dia," ucapannya terpotong.
"Pak Ardian kenapa, pak?"
"Dia sudah di tenukan, kondisinya tidak baik. Dan kini ia sedang berada di rumah sakit ditangani oleh para dokter profesional."
DEGG
Nissa terkejut sekaligus bahagia. Dia pulang, dia benar-benar pulang. Terima kasih, Tuhan.
BERSAMBUNG
__ADS_1