
Setelah malam itu, tidak ada hal istimewa yang terjadi. Aku bahkan berpikir jika adegan itu berasal dari mimpiku, toh Nissa terlihat santai-santai saja.
Namun semakin hari senyuman Nissa semakin tampak menawan di mataku. Jantungku selalu berdetak tak karuan saat di dekatnya. Getaran aneh juga selalu menghampiriku hanya karena menatap matanya.
Hingga suatu hari aku mengutarakan semua yang kurasakan pada dua orang sahabatku, siapa lagi kalau bukan Roli dan Edi. Bukannya mendapat solusi, mereka berdua malah meledekku habis-habisan malam itu.
"Kan gue udah pernah bilang ke loe, Di. Jangan sampai loe terjebak dalam permainan loe sendiri," ujar Roli padaku.
Mereka berdua kembali tertawa terbahak-bahak. Ck, segitu bahagianya mereka melihatku menderita seperti ini.
Mereka bilang aku sudah jatuh cinta. Kalian tahu, aku ingin tertawa rasanya. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada gadis seperti Nissa. Dalam segala hal dia tidak masuk dalam kriteria tipe wanita idamanku. Tinggi, langsing, cantik, seksi, dan pastinya menggoda.
Sedangkan Nissa, tidak ada apa-apanya. Jadi bagaimana mungkin aku jatuh cinta pada gadis titisan nenek lampir itu. Mulai saat itu aku menjaga jarak darinya. Aku takut jika ucapan Roli menjadi kenyataan.
Hingga malam naas itu terjadi. Hatiku perih melihatnya terluka. Aku tidak bisa memikirkan yang lain lagi, yang ada dalam pikiranku saat itu hanya Nissa. Aku bahkan lupa untuk makan dan minum jika Roli tak mengingatkanku.
Perlahan aku menyadari perasaanku. Perasaan sakit melihat orang yang kau sayang terluka. Aku pun mengalaminya saat itu. Rasa sakitnya hampir sama seperti saat ibu terbaring di rumah sakit.
Pernyataan polisi keesokan harinya membuatku tercengang. Tidak ada kecelakaan yang terjadi malam itu, jadi tidak mungkin jalan ditutup. Berbanding terbalik dengan apa yang di ucapkan Nissa.
Aku mulai menaruh curiga pada Nissa. Beginilah jika kalian pernah di khianati seseorang, maka akan sulit mempercayai orang lain lagi.
Penyelidikan yang kulakukan menunjukkan Nissa memiliki hutang di bank dan telah dibayar lunas oleh seseorang satu hari setelah pembegalan itu. Dari situ aku menjadi semakin curiga pada Nissa.
Untuk apa dia melakukan ini? Apa dia dendam padaku? Kalau tidak mengapa melakukan hal setega ini? Mengapa ia yang terluka? Apa ini caranya mencari simpati dariku?
Berbagai macam pertanyaan melintas di kepalaku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Kutanyakan semua yang ada dalam kepalaku, namun Nissa membantahnya.
Nissa meyakinkanku jika ia tak terlibat, namun tak ada satu bukti yang mendukung pernyataannya. Mulai hari itu aku mencabut segala kemewahan yang kuberikan. Perasaan khawatir yang kurasa sebelumnya sirna dan berganti dengan perasaan benci, marah, dan kesal menjadi satu.
Walau begitu aku selalu menanyakan kabarnya diam-diam. Sebenci apapun padanya hatiku tetap terluka saat melihatnya berjuang sendiri, apalagi jika ia ingin pergi ke kamar mandi. Aku bahkan membayar salah satu kerabat pasien yang berada dalam satu ruangan dengan Nissa agar selalu membantu gadis itu.
Penderitaannya bertambah saat ia kupaksa untuk bersikap seperti hantu, aku sadar yang kulakukan padanya salah, namun keegoisan dan kebencian telah membekukan hatiku. Bahkan saat aku melihatnya berdiri di halte bus, bukannya memberinya tumpangan aku malah mengabaikannya.
Kemudian segalanya terungkap, pelakunya memang menargetkanku. Saat itulah aku menyadari kesalahanku. Nissa adalah korban, korban dari kebencianku dan kebencian seseorang padaku.
__ADS_1
Dalam hati aku berjanji, akan memperlakukannya dengan baik. Anggap saja membayar segala perlakuan kasarku selama ini.
Selama dua minggu kami menjadi semakin dekat. Semakin hari aku merasa kecantikannya semakin bertambah. Detak jantungku juga semakin cepat, belum lagi saat pandanganku tertuju pada bibirnya. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri. Kalian bisa menyebutku mesum atau apalah, aku sendiri tidak tahu mengapa reaksiku seperti ini bila berada di dekatnya.
Aku bertanya pada Roli, apa yang harus kuberikan pada seorang gadis yang berulang tahun. Dia tertawa dan mengatakan jika aku ini bodoh. Namun ia tetap memberikan saran yang berguna.
Aku mulai mengingat, Nissa senang mendengarkan musik, aku sering mendengarnya bersenandung saat ia mengemudikan mobil. Malam itu aku mencari informasi melalui internet, headphone apa yang paling canggih saat ini.
Aku berhasil membelinya, namun untuk memberikannya secara langsung rasanya sangat memalukan. Aku takut Nissa akan mentertawakan sikapku padanya nanti. Akhirnya aku mengirim melalui agen pengiriman barang.
Namun aku menyadari, Nissa menunggu di mobil. Jika ia menerima barang tersebut melalui agen ini ia pasti menyadari jika akulah pengirimnya. Akhirnya aku menemukan ide yang membuat petugas disana melongo tak percaya.
Aku membayar mereka agar mengirimkan paket ke JPE, salah satu agen saingan mereka. Awalnya mereka menolak, namun aku menjelaskan posisiku saat itu. Mereka pun mengerti. Aku meminta agar barang tersebut harus sampai di tangan Nissa pukul sepuluh pagi esok hari.
Esoknya Nissa mempersiapkan makanan yang menggugah selera, dari aromanya saja sudah pasti sangat enak. Ia berkali-kali menanyakan alasanku mengapa tidak memberikannnya secara langsung.
Aku bingung bagaimana harus menjawabnya, karena sebenarnya niatku adalah memberinya tanpa diketahui siapa pengirimnya. Namun aku baru ingat jika Nissa ada bersamaku saat aku membelinya.
Hari ini Nissa kembali menjadi supirku. Sepanjang perjalanan aku mengabaikannya. Pikiranku melayang memikirkan hal lain. Tentang perasaan yang ku tahu semakin kuat bercokol dalam hati.
Setelah selesai mengecek semua proyek yang sedang berjalan, aku membawa Nissa berjalan ke sebuah taman. Aku sudah memantapkan hatiku, hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.
"Nissa," panggilku.
"Iya, tuan,"
"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu,"
Hening, sementara jantungku sudah berlompatan kesana kemari.
"Nissa,"
"Iya, tuan,"
"Aku suka kamu,"
__ADS_1
Nissa terkejut, ia membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arahku.
"Tuan ini bicara apa?" Ia menatapku bingung.
"Aku suka kamu. Maukah kamu menjadi...?"
Wajah Nissa berubah tegang, ada keraguan muncul tiba-tiba. Aku takut Nissa menolakku.
"Maukah kamu menjadi...?" aku tak sanggup melanjutkannya
"Menjadi apa, tuan?" tanya Nissa tak sabaran.
Aku terdiam. Kemudian menatap wajahnya dengan tatapan sendu.
"Sudahlah, lupakan saja," ucapku.
Wajah Nissa berubah menjadi cemberut. Aku terkekeh melihatnya. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah taman bunga. Menatapnya lebih lama lagi bisa membuatku gila.
Aku kembali memikirkan rencanaku, apa ini saat yang tepat untuk mengungkapkannya. Bagaimana jika Nissa malah menganggapku mempermainkannya dengan mengatakan perasaanku secara tiba-tiba. Apalagi kedekatan kami baru terjalin selama beberapa minggu kebelakang. Sepertinya aku harus mengubah rencana.
"Nissa," panggilku lagi.
Nissa menoleh, "Tuan itu mau bicara apa, sih?" dari nada bicaranya ia seperti sedang kesal. Tapi mengapa?
"Aku suka kamu. Aku ingin kita memulai hubungan yang lebih baik lagi,"
"Nissa, maukah kamu menjadi SAHABATKU?"
POV Ardian berakhir.
BERSAMBUNG
Sudah tahu kan isi hati seorang Ardian gimana?
Jadi Ardian tu suka sama Nissa gengss, tapi doi terlalu gengsi dan takut ditolak sama Nissa.
__ADS_1
See u next chapter ya gengss
Luv u all 😘😘