
Randy berbaring telentang di atas tempat tidur. Ia tak berhenti mengulas senyuman sejak pulang kerumah hingga kedua orang tuanya di buat heran. Ia merasa sangat bahagia karena telah menghabiskan waktu seharian bersama gadis pujaan hatinya.
Randy kembali mengingat kejadian tadi pagi, saat ia melihat Nissa turun dari taksi depan di depan sebuah gang dimana rumah Ridho berada.
Flashback
Randy memarkirkan mobilnya di sebuah lahan parkir khusus untuk mobil. Hari ini ia akan mengunjungi Ridho, sahabatnya sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Rumah Ridho terletak di dalam sebuah gang. Gang tersebut sebenarnya tidak terlalu kecil karena bisa di lalui dua buah motor secara bersamaan, namun kalau untuk mobil memang tidak muat.
Begitu keluar dari area parkir Randy melihat sebuah taksi berwarna hijau berhenti tepat di depan gang. Netranya menangkap sosok gadis yang telah mencuri hatinya sejak tiga bulan lalu, saat gadis itu masih bekerja sebagai petugas keamanan di perusahaan Sanjaya Building.
Nissa berjalan masuk kedalam gang tanpa menyadari keberadaan Randy yang mengikuti langkahnya dari belakang.
Sebenarnya pria berparas tampan yang memiliki warna kulit sawo matang itu heran saat ini, mengapa Nissa bisa ada di sini, pikirnya.
Randy tersenyum saat melihat Nissa memasang earphone di telinganya. Setelah itu ia bisa mendengar Nissa bersenandung mengikuti irama lagu yang mungkin didengarkannya saat ini.
Langkah kaki Randy terhenti kala melihat Nissa berbelok menuju rumah seseorang yang saat ini akan di kunjunginya. Rumah Ridho.
Flashback off
Randy tidak menyangka jika ternyata gadis yang ia sukai adalah sahabat dari Dinda, istri dari sahabatnya. Ia yakin bisa dengan mudah menaklukkan Nissa, apalagi ia memiliki senjata sekarang. Ia bisa meminta Dinda membantunya mendapatkan hati Nissa.
"Nissa, sebentar lagi kamu akan jadi milikku," ucapnya dengan penuh keyakinan.
***
Nissa menatap Ardian dengan tajam sambil sesekali menyesap segelas jus jeruk di depannya. Tadi sore saat ia kembali ke unitnya, tuannya itu langsung menyeretnya keluar dan membawanya ke parkiran.
"Masuk," perintah Ardian, aura wajahnya sangat dingin.
Nissa menuruti perintah Ardian dan langsung masuk kedalam mobil. Kali ini Ardian sendiri yang mengemudikan mobilnya.
Dan disinilah mereka saat ini berada. Di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota B. Ardian mengajaknya memasuki sebuah restoran Jepang.
"Hentikan tatapan matamu itu, atau...." Ardian tidak melanjutkan ucapannya.
"Atau apa?" tanya Nissa sewot. Ia pikir Ardian memiliki kepentingan yang sangat memdesak tadi, ternyata hanya ingin makan saja.
Ardian terdiam, ia menatap wajah Nissa yang kini tampak sangat kesal. Apa dia marah karena percakapan kami tadi? Batinnya.
"Sudahlah, pokoknya berhenti menatapku seperti itu. Ingat, aku ini majikanmu, orang yang memerimu pekerjaan," sahut Ardian, kini ia kembali menikmati semangkuk ramen yang dipesannya tadi.
Nissa mengalihkan pandangannya dari bosnya yang menyebalkan ini. Netranya menelusuri secara perlahan suasana di dalam restoran ini. Pandangannya kini terpaku pada antrian panjang yang mengular di seberang restoran.
__ADS_1
Puluhan orang tampak berbaris di sebuah loket untuk pembelian tiket nonton bioskop. Nissa melihat film yang sedang tayang saat ini. Seketika matanya membulat dan tampak berbinar senang.
Ardian yang melihat ekspresi senang di wajah Nissa segera berbalik kebelakang dan melihat apa yang membuat Nissa bisa bersikap seperti itu.
"Film macam apa itu?" ucapnya bernada sinis.
"Film action, Tuan," sahut Nissa malas.
"Tidak seru," sahut Ardian cepat.
"Lalu film seperti apa yang menurut tuan lebih seru dari itu?" tanya Nissa sambil menunjuk antrian di sebrang restoran.
"Bl*e Film," ucapnya sambil terkekeh geli sementara Nissa hanya memutar bola matanya jengah dengan jawaban bosnya.
"Dasar mesum," sahut Nissa, sesaat kemudian ia menutup mulut dengan tangannya.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Ardian dengan wajah kesal yang di buat-buat.
"Tidak, anggap saja tadi ada pesawat lewat," ucap Nissa takut, jangan sampai gajiku di potong lagi gara-gara ini, dasar mulut laknat, umpat Nissa mengutuki dirinya sendiri.
Setelah menyelesaikan makan sorenya malamnya Ardian kini mengajak Nissa pergi ke sebuah tempat. Apalagi kalau bukan klub malam langganannya.
"Ayo, turun," perintah Ardian.
"Turun, atau saya potong gaji kamu," ancamnya yang sukses membuat Nissa patuh.
Mereka berdua masuk dan segera disambut dengan suara musik yang kencang. Beberapa wanita dengan riasan mencolok dan pakaian kekurangan bahan langsung datang dan berkumpul mengelilingi Ardian.
"Hai, ganteng. Lama gak kesini, aku kangen sama kamu," ucap wanita berambut merah, Nissa menatap mereka dengan risih.
"Siapa itu, pacar kamu, ya?" tanya wanita yang memakai dres pendek berwarna hitam.
"Iya, itu pacar baruku. Kalian gak marah, kan, kalau aku membawanya kemari?" tanya Ardian sambil mer**as b*kong wanita berambut merah.
Nissa yang mendengar ucapan Ardian menjadi meradang, apalagi saat lelaki itu dengan terang-terangan mer**as bagian bulat wanita tadi. Nissa menjadi semakin kesal.
Kedua wanita yang sedang bergelayut manja di lengan Ardian seketika menatap Nissa dengan tatapan sinis, benci, sekaligus marah. Apa yang dilihat pria ini dari diri gadis itu, begitulah pikiran mereka saat ini.
Setelah puas menatap Nissa mereka berdua pergi meninggalkan dua orang yang memiliki hubungan antara majikan dan pelayan tersebut.
"Mengapa tuan berkata seperti itu pada mereka?" tanya Nissa dengan wajah kesal.
"Aku sudah bosan pada mereka berdua, wanita seperti mereka itu tidak ada puasnya terhadap diriku," jawab Ardian santai, lalu ia menyesap minuman yang diberikan oleh bartender.
"Ya, tapi kenapa harus saya yang jadi korbannya. Kenapa tuan tidak mencari perempuan lain yang bisa dijadikan pacar bohongan saja?" cecar Nissa, gadis itu dibuat semakin kesal dengan sikap Ardian.
__ADS_1
"Buat apa aku mencari perempuan lain jika ada dirimu," sahut Ardian santai. Ia melirik gadis yang sedang emosi itu.
"Tapi saya tidak mau, saya tidak terima di perlakukan seperti ini, lagipula saya bekerja sebagai pelayan serba guna untuk Tuan, bukan sebagai kekasih bayaran," ucap Nissa.
"Baiklah, kalau begitu jadi pacarku dalam arti yang sebenarnya, kamu mau?" tanya Ardian, melihat kekesalan Nisssa tadi seketika ide jahilnya muncul.
"Issh, enggak ya. Saya gak sudi punya pacar kaya tuan," ucap Nissa seketika hingga ia melupakan cara berbicara yang sopan di depan Ardian.
"Mana sopan santunmu? Mau gajimu kupotong tiga bulan?" ancam Ardian. Ia tersenyum tipis hingga Nissa tak menyadarinya.
Seketika Nissa sadar akan kesalahannya dan segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Maafkan sikap saya yang tidak sopan tadi, tuan," ucap Nissa kemudian.
Ardian kembali menyesap minuman di dalam gelas tadi hingga tandas. Setelah itu ia turun dan berbaur bersama pengunjung lain untuk menari. Ia menari dengan bersemangat. Beberapa wanita ikut bergabung dengannya dan mereka menari bersama sambil tertawa gembira.
Nissa menghela nafas kasar karena merasa jengah dengan sikap Ardian yang semaunya. Kemudian Edi datang menghampiri Nissa.
"Hai," sapanya.
"Oh, hai juga," balas Nissa. Gadis itu melemparkan senyuman kecil pada Edi.
"Lagi jagain bos kamu, ya?" tanya Edi.
"He-em,"
"Sudah lama kerja jadi pengawal Ardian?" tanya Edi lagi.
"Baru beberapa bulan," jawabnya.
"Aku harap kamu bisa bersabar menghadapi sikap keras kepalanya," ucap Edi kemudian sambil menunjuk Ardian dengan dagunya.
"Terima kasih sarannya,"
"Aku memang baru bersahabat dengan Ardian selama beberapa tahun, berbeda dengan Roli yang mengenal Ardian belasan tahun," ucap Edi.
Nissa mengerutkan keningnya. "Maksudnya Pak Roli asistennya Tuan Ardian?"
"Iya, mereka berdua adalah sahabat. Menurut Roli, Ardian sebenarnya sangat baik. Hanya saja dendam pribadinya membuatnya jadi seperti itu," sambungnya.
Dendam? Apakah yang dimaksud tadi adalah dendamnya padaku, setahuku selama ini dia selalu menyalahkanku atas perselingkuhan mantan kekasihnya. Batin Nissa menerka-nerka.
"Jadi, aku harap kamu mau bersabar mengahadapi manusia kepala batu sepertinya, aku berharap suatu hari ada seseorang yang bisa merubah sifatnya kembali," ucap Edi dengan tulus.
Nissa tersenyum, dalam hati ia mengamini ucapan Edi barusan. Aku juga berharap ia bisa berubah, entah kapan.
__ADS_1