
Setelah membayar headphone dibelinya, Ardian segera keluar dari toko tersebut. Seperti tadi Nissa mengekor di belakangnya. Mereka berdua bergegas masuk ke mobil.
Ardian kembali melajukan mobilnya. Berhubung hari sudah siang dan juga sudah waktunya makan siang mereka singgah di sebuah restoran.
Para pelayan restoran tersebut terkejut saat melihat kedatangan Ardian yang tiba-tiba. Mereka tersenyum bahagia saat bisa bertemu secara langsung dengan sosok pria tampan yang menjadi pelanggan tetap di restoran ini.
Senyuman para pelayan itu surut saat melihat seorang gadis berjalan mengekor di belakang pujaan mereka. Aura persaingan seketika tampak di wajah para pelayan itu.
"Selamat siang, pak Ardian. Selamat datang di restoran ini. Silahkan, ini menunya," sapa seorang wanita dengan seragam yang berbeda dari ketiga pelayan yang sempat mereka berdua temui tadi.
"Aku minta menu yang biasa ku makan, dan untuk dia, tolong buatkan menu sehat seperti yang ku pesan selama dua minggu ini," ucapnya sambil menunjuk Nissa dengan dagunya.
"Baik, pak."
Pelayan wanita itu segera keluar dari ruangan VIP yang kini di tempati Ardian dan Nissa.
"Mbak, siapa sih perempuan yang bersama pak Ardian tadi?" tanya salah satu pelayan padanya.
"Aku nggak tahu juga dia siapa, tapi makanan sehat yang selama dua minggu ini di pesan oleh pak Ardian ternyata untuk perempuan itu," jawabnya.
"Iyakah?" tanya pelayan lainnya tak percaya.
"Iya," sahutnya menekankan.
"Apa perempuan tadi itu pacarnya pak Ardian, ya?" tanya pelayan pertama.
"Kayanya bukan, kalau pacar masa datang nggak gandengan," timpal pelayan lain.
"Atau mungkin adiknya?" pelayan lain mencoba menebak.
"Kalau adik kok nggak mirip," sahut pelayan pertama agak sewot.
"Terus siapa dong?"
"Ya mana aku tahu," ucap pelayan yang menerima pesanan Ardian tadi. Ia sangat kesal karena para juniornya ini terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain.
"Kalau kalian penasaran tanya sendiri sana, jangan tanya sama aku," sambungnya.
Pelayan tersebut meninggalkan tiga orang pelayan yang ternyata adalah juniornya. Ia bergegas pergi ke dapur dan menyerahkan catatan menu yang di pesan Ardian pada juru masak disana. Berlama-lama kumpul sama mereka bisa gila aku, batinnya.
Tak lama menunggu pesanan mereka tiba. Melihat menu yang tersaji membuat Nissa yakin jika selama ini Ardian memesan makanan dari restoran ini.
"Jadi selama ini tuan memesan makanan dari restoran ini?" tanya Nissa penasaran.
"He-em," sahut Ardian singkat.
__ADS_1
Melihat betapa singkatnya jawaban Ardian membuat Nissa memutar bola matanya jengah. Mereka kemudian menikmati sajian siangnya dalam keheningan. Tak ada yang bersuara sama sekali. Hanya sesekali terdengar suara dentingan sendok dan piring yang sedang beradu.
Selesai dengan acara makan siangnya mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Ardian kembali melajukan kendaraannya, namun lagi-lagi arahnya bukan menuju jalan pulang.
"Kita mau kemana lagi, tuan?"
"Ke suatu tempat," jawab Ardian singkat.
Nissa menatap Ardian, ada apa dengannya hari ini? Selama dua minggu ini Ardian selalu bersikap baik padanya, selalu mengajaknya berbincang saat mereka bersama. Namun hari ini berbeda, pria ini seperti memiliki masalah, ia tidak banyak bicara sejak kembali dari rumah sakit tadi.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah agen pengiriman barang. Ardian turun sambil menenteng paper bag berisi headphone yang baru saja di belinya tadi.
Nissa mengedarkan pandangannya, ia dapat melihat dengan jelas tulisan di kantor agen pengiriman barang tersebut. Menyadari keberadaannya saat ini membuat Nissa melemaskan bahunya.
Huft, ternyata tuan Ardian tidak membeli barang itu untukku, aku saja yang terlalu berharap. Sadar Nissa, sadar. Kamu itu cuma pelayan serbaguna saja.
Nissa menghela nafasnya perlahan, patah sudah harapannya. Ternyata ia salah sangka. Harapannya sudah melambung tinggi, dan sekarang seakan jatuh terhempas ke bawah.
Cukup lama Ardian berada di dalam sana, hingga Nissa merasa bosan dan akhirnya tertidur. Selain itu rasa kantuk memang menyerangnya setelah ia meminum obat yang di berikan dokter tadi.
Tak lama Ardian keluar dari dalam kantor tersebut dan segera kembali ke mobil. Seketika Ardian tersenyum melihat wajah teduh nan ayu gadis yang kini telah terlelap itu.
Lama ia memandangi wajah Nissa, dan bagaikan magnet kini wajahnya perlahan tertarik semakin mendekat ke wajah Nissa. Ardian bahkan bisa mendengar dengkuran halus gadis itu. Ia memandangi wajah Nissa dengan lekat. Mulai dari alis, mata, hidung, hingga akhirnya penglihatannya turun ke bibir ranum menggoda milik Nissa.
Ingatannya kembali melayang pada malam saat ia mencium bibir Nissa. Sampai sekarang ia masih berpikir apakah saat itu nyata ataukah hanya mimpi. Apalagi Nissa tidak pernah mengungkitnya. Ia jadi tidak bisa mengetahui apakah malam itu nyata atau hanya mimpi.
Entah setan darimana, Ardian semakin mendekatkan bibirnya merapat ke bibir Nissa. Ia sungguh ingin merasakan sekali lagi nikmatnya kecupan yang ia pikir hanya mimpi itu.
"Apa yang ingin anda lakukan, tuan?" tiba-tiba mata Nissa terbuka.
Ardian terkejut bukan kepalang, ia memundurkan tubuhnya segera. Nissa menatapnya dengan tajam.
"Apa yang ingin anda lakukan tadi, tuan?" tanya Nissa lagi.
"Aku hanya ingin mengecek, kau masih bernafas atau tidak. Tidak lucu rasanya jika kau pinsan di dalam mobilku," jawabnya asal.
"Kalau saya pingsan kan masih bernafas, tuan. Buat apa di cek seperti itu?" tanya Nissa lagi.
Ardian terdiam. Ia jadi salah tingkah di depan Nissa.
"Tuan kan bisa meletakkan jari tuan di depan hidung saya seperti ini," ujar Nissa sambil memperagakan gerakan yang dimaksud.
Ardian masih terdiam tak ingin menanggapi gadis di sampingnya ini. Ia memilih melajukan kendaraannya kearah jalan pulang.
"Apa jangan-jangan tuan mau mencium saya, ya?" tanya Nissa asal menebak.
__ADS_1
CIIIIITTT
Ardian menginjak rem mobilnya mendadak hingga mobilpun berhenti seketika. Wajah Ardian kini memerah saking malunya, ia seperti maling yang tertangkap basah.
"Hei, apa kau bilang tadi? Aku ingin menciummu? Jangan berharap terlalu tinggi Nona Nissa. Jangankan di dunia nyata, dalam mimpi saja aku tidak mau walaupun kau bertelan**ng bulat di depanku," ucap Ardian dengan kasar. Sungguh ia tidak ingin bersikap seperti itu namun rasa malu telah menggerogotinya.
Ardian kembali melajukan mobilnya. Ia kembali memasang wajah datarnya. Sesekali ia melirik gadis yang kini sedang cemberut di sampingnya.
Melihat Nissa seperti itu membuat Ardian mengerutkan keningnya. Apa aku terlalu kasar padanya?
"Ekhemm," Ardian berdehem, namun Nissa tak bergeming. Ia masih setia memandangi jalanan melalui jendela kaca di sampingnya.
"Nissa!"
"Heem," sahut Nissa.
"Maaf," ujarnya.
"Untuk apa?"
"Karena telah berkata kasar seperti tadi padamu," ucap Ardian dengan lembut.
Nissa menoleh, kemudian ia tersenyum. "Tuan tidak salah, saya memang pantas di perlakukan seperti itu, lagipula yang tuan ucapkan semua benar. Dan saya juga minta maaf karena candaan saya yang berlebihan."
Ardian terpaku mendengarnya, dan entah mengapa hatinya seperti teriris saat Nissa berkata seperti tadi. Maafkan aku, Nis.
***
Ini loh Tuan Ardian yang nyebelin tingkat dewa 😁 Lihat kan mukanya datar banget
Taraaaaa 😍😍
Nissa yang selalu tegar dan kuat walaupun permasalahan hidupnya datang silih berganti 😘
BERSAMBUNG
Terima kasih untuk semua readers yang sudah sudi membaca karya saya
Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan like, komen, poin, serta koinnya.
Love you all 😘😘
__ADS_1
See u next chapter gengss