Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Dasar BUCIN


__ADS_3

Tanpa terasa tiga hari sudah Nissa kembali ke kampungnya. Selama tiga hari ini pula Nissa diminta bercerita dengan kedua adiknya, Diki dan Dini, tentang pekerjaannya di kota B.


Nissa pun bercerita, tapi ia menceritakannya sesingkat mungkin. Adegan yang tidak perlu tidak ia ceritakan. Terutama dengan statusnya sebagai pelayan serbaguna, tentang dirinya yang tinggal bersama tuannya, saat ciuman pertamanya diambil oleh Ardian, juga saat ia ditikam hingga harus menjalani operasi di rumah sakit.


Setiap malam Nissa membantu adiknya mengerjakan tugas sekolah mereka. Dulu saat masih sekolah, Nissa adalah murid yang cerdas. Ia bisa memahami penjelasan guru dalam sekali, tanpa harus diulang. Namun kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membuatnya mengurungkan niat untuk melanjutkan studinya. Padahal Nissa bercita-cita menjadi desainer grafis.


Karena itulah kini Nissa sangat mengharapkan adiknya untuk menggapai cita-cita yang mereka inginkan. Ia akan berusaha mencarikan biaya kuliah mereka berdua. Pekerjaan apapun akan ia lakukan selama itu halal.


"Nis, apa kamu tahu siapa yang melunasi hutang di bank?" tanya Ibu.


"Nissa tidak tahu, Bu," jawabnya, ia menggeleng lemah.


"Kira-kira siapa orang yang sudah berbaik hati melakukannya?" gumam ibu lirih, namun masih terdengar di telinga Nissa.


"Hari ini Nissa akan pergi ke bank, Bu. Nissa mau bertanya tentang hal ini," ujar Nissa.


"Bagus, Nis. Ibu benar-benar penasaran tentang orang itu. Apa dia menginginkan sesuatu makanya dia membantu kita?" tanya Ibu.


"Maksudnya, Bu?" Nissa menatap ibunya penuh tanya.


"Ya, siapa tau aja seperti sinetron yang sering ibu tonton di tv, ada seseorang yang berbuat baik namun ternyata mengharap imbalan," jawab ibu dengan lugas.


"Memang apa yang mau dia harapkan dari kita," Nissa terkekeh geli dengan pemikiran sang Ibu.


"Kamu," sahut sang ibu.


Nissa menaikkan alisnya, kemudian tawanya meledak.


"Memang apa yang mau dia harapkan dari Nissa, Bu?" tanya Nissa, raut wajahnya seakan menahan tawa yang tadi sempat meledak itu.


"Siapa tahu, kamu mau dijadikan istrinya," jawab Ibu.


Sontak Nissa melongo. Ucapan ibu ada benarnya. Bagaimana jika orang itu ternyata menginginkan sesuatu dari kebaikannya. Bukankah tidak ada yang gratis di dunia ini.


Bagaimana jika yang ia inginkan adalah menjadikan Nissa istrinya. Hiii. Nissa bergidik ngeri, ia membayangkan jika sosok orang itu adalah pria paruh baya dengan kepala botak dan perut buncit. Oh, tidak mungkin! Nissa menggelengkan kepala mengusir pemikiran absurdnya tersebut.


"Bagaimana ini, Nis?" tanya ibu.


"Apanya yang bagaimana, Bu?" Nissa malah balik bertanya.


"Yang tadi itu. Bagaimana jika dia memang menginginkanmu menjadi istrinya, seperti yang di sinetron itu? Duh, Nissa. Ibu tidak bisa membayangkan dapat menantu yang umurnya melebihi ayahmu," ujar Ibu.

__ADS_1


Nissa menghela nafasnya perlahan, ternyata yang ada dipikiran ibu sama dengannya. Akhirnya setelah menyelesaikan sarapan paginya Nissa pamit kepada kedua orang tuanya. Tujuannya saat ini adalah bank tempat bibinya menggadaikan surat tanah Ayahnya pada waktu itu.


***


Nissa berjalan dengan langkah gontai, harapannya untuk mengetahui siapa orang 'baik hati' tersebut pupus sudah. Pegawai bank yang mengurus masalah pembayarannya tidak mengetahui siapa pria yang melunasi hutang tersebut. Yang ia ingat adalah pria itu datang membawa uang tunai.


Nissa berjalan di trotoar yang teduh karena rimbunnya pepohonan yang tumbuh berjejer di sepanjang jalan. Berbeda dengan kondisi jalanan yang sangat panas.


Nissa menghentikan langkahnya di depan sebuah Sekolah Menengah Pertama. Tak seberapa lama menunggu terdengar bunyi bel tanda jam pelajaran telah usai.


Dini keluar bersama dua orang temannya. Mereka tampak asyik bercengkrama. Melihat itu membuat Nissa tersenyum lebar. Ia bahagia, setidaknya Dini lebih pandai bergaul dibanding dirinya. Dan ia harap Dini tidak akan mengalami hal serupa dengan yang dialaminya.


"Dini!" panggilnya dengan sedikit berteriak.


Dini menoleh, ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, mencari sosok yang memanggilnya tadi. Dari suaranya Dini hafal betul itu adalah suara Nissa.


"Kak Nissa," gumamnya lirih, kemudian sebuah senyum terbit di wajahnya.


Dini berlari kearah kakaknya, meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa melongo karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ralat, ditinggal begitu saja tanpa kata-kata perpisahan.


"Kakak dari kapan ada disini?" tanya gadis berambut panjang itu.


"Kakak dari mana?" tanya Dini lagi.


"Kakak tadi pergi ke bank, ada urusan sedikit," ucapnya.


"Kak, ayo kita pulang sekarang, Dini lapar," ujar Dini.


Nissa terkekeh. Adiknya ini benar-benar kebalikannya, jika ia selalu menutupi apa yang ia rasakan, maka Dini akan mengatakannya secara blak-blakan. Apalagi dalam hal makanan. Gadis itu tidak bisa diam jika perutnya sudah konser.


"Sekalian kita jemput Diki, yuk," ajak Nissa.


"Kak Diki hari ini pulang jam empat sore kak, dia kan ada kelas tambahan untuk persiapan ujian," sahut Dini.


"Terus makan siang dimana dia?"


"Biasanya kak Diki gak makan, kalau makan palingan cuma ind*mie, itu juga ngutang di warung. Nanti bayarnya pakai tenaga," ujar Dini.


"Maksudnya gimana, Din?"


"Kak Diki bantu suaminya pemilik warung itu, kak. Dia biasanya bantu jaga kebunnya seminggu sekali, setiap hari minggu."

__ADS_1


Nissa merasa trenyuh memdengarnya. Ia pikir hanya ia saja yang kesulitan. Ternyata kondisi Diki pun sama. Namun anak itu tidak pernah memgeluh sama sekali. Ia malah bisa menyembunyikan semua masalahnya dengan rapat. Persis seperti dirinya.


"Yasudah, kalau begitu kita pulang saja, nanti malam kakak akan belikan makanan enak buat kita semua," ucap Nissa.


Ucapannya disambut senyum sumringah Dini. Gadis polos yang belum mengetahui rumitnya kehidupan. Gadis polos yang belum mengetahui pahit getirnya menjalani hidup.


***


"Di, ayolah. Loe jangan kaya anak kecil gini," ucap Roli sambil menyeret Ardian keluar kamarnya.


"Nggak, gue nggak mau kerja kalau Nissa belum balik kesini," sahutnya menolak ajakan Roli untuk keluar kamar.


"Astaga, bisa stress gue kalau kaya gini. Mikir dong, Di. Loe itu bos di perusahaan besar. Perusahaan bisa bangkrut kalau loe males-malesan kaya gini," ucap Roli kesal. Ingin rasanya ia menampar wajah Ardian agar ia sadar akan posisinya.


"Nggak, pokoknya kalau gue bilang nggak ya nggak, titik."


"Eh, b*go! Kan loe sendiri yang ngasih dia izin buat pulang ke kampungnya. Kenapa loe yang jadi gini? Loe nyesel sama keputusan loe?"


Ardian mengangguk.


"Makanya, jangan terlalu jahat sama Nissa. Sakit kan rasanya merindu itu gimana?" ejek Roli, ia tersenyum sinis menatap wajah memelas Ardian.


"Apa Nissa gue suruh balik sekarang aja, ya? Jangankan buat kerja, buat makan aja gue nggak selera, Rol," ucap Ardian.


"Loe jangan egois, Di. Loe tuh udah terlalu banyak berbuat jahat sama dia, kalau loe maksa dan ngekang dia, bukannya tambah deket malah lari tu gebetan loe," ucap Roli.


"Terus gue harus gimana, Rol?" Ardian bertanya dengan raut wajah memelas.


"SABAR. Cuma itu yang bisa loe lakukan sekarang. Cewek itu semakin dikejar malah semakin lari, tapi kalau loe ngasih dia kebebasan sama kepercayaan dijamin si Nissa bakal klepek-klepek dengan sendirinya. Tapi inget, mulut loe dijaga, jangan kelewat lemes," ucap Roli panjang lebar.


"Tapi gue sudah kangen banget sama Nissa, Rol," ucapnya menghiba.


"Ya sabar, kan baru tiga hari, masih ada waktu empat hari lagi buat dia menghabiskan waktu disana," sahut Roli, sebisa mungkin ia berusaha sabar menghadapi tingkah Ardian.


Ardian terduduk lemas di ranjang, empat hari lagi, aku harus bisa bertahan selama empat hari lagi, pikirnya.


"Mendingan loe mandi sana, badan loe bau banget. Kalau Nissa tahu bentuk loe sekarang gue nggak yakin dia mau sama loe, apalagi Nissa itu pribadi yang mandiri dan pekerja keras banget. Mana mau dia sama cowok males kaya loe," ucap Roli bernada ancaman.


Namun kata-katanya sukses membuat Ardian bangkit. Benar juga, batinnya. Ia pun segera berlari ke kamar mandi.


"Dasar BUCIN PARAH," gumam Roli.

__ADS_1


__ADS_2