
"Kamu Ica anak seni tunggal itu, kan?" tanya Nissa.
"Iya, Nis. Ini aku Ica yang pernah kamu bantu waktu itu," sahut Ica sambil menganggukkan kepalanya.
Kedua gadis itu kembali berpelukan. Mereka tampak seperti dua orang sahabat yang telah sekian lama tak berjumpa. Sementara Ardian dan Joko hanya bisa menatap mereka dengan tatapan penuh tanya.
"Kak, pindah tempat duduk, ya. Aku mau duduk disebelah Nissa," ucapnya mengusir Ardian.
"Loh, kok-,"
"Sudah, cepat pindah. Jangan banyak tanya," ucap Ica memotong perkataan Ardian.
Dengan wajah merengut Ardian berdiri dan pindah duduk di sebelah Joko. Kemudian Ica segera duduk di samping Nissa. Wajah keduanya tampak sumringah.
"Kalian berdua saling kenal?" tanya Ardian menyelidik, ia melirik Nissa dan Ica bergantian.
"Iya," Nissa dan Ica menjawab secara serempak.
"Bagaimana ceritanya sampai kalian bisa saling mengenal?" tanya Ardian lagi. Sementara Joko sudah seperti hantu, ada tapi tak ada.
"Sebenarnya," Ica mulai bercerita.
Beberapa tahun lalu diadakan pertandingan bela diri tingkat provinsi. Pertandingan tersebut diikuti oleh beberapa kabupaten. Setiap kabupaten mengirimkan perwakilan terbaik mereka.
Nissa dan Ica yang tergabung dalam satu kabupaten pun bertemu. Ica memang kalah melawan Nissa saat kelas Fighter. Namun ia masih memiliki kesempatan dalam kelas seni tunggal.
Mereka berdua digabung dalam satu kamar beserta dua perwakilan yang lain. Posisi Ica waktu itu bukanlah sebagai perwakilan karena memenangkan pertandingan di tingkat kabupaten. Ica hanya sebagai pengganti untuk perwakilan utama yang gagal mengikuti pertandingan tersebut karena mengalami kecelakaan.
Beberapa kabar tak sedap pun berhembus. Para atlet disana beramai-ramai menggunjingkan Ica. Mereka berasumsi jika Ica berhasil masuk karena kekayaan yang dimiliki keluarganya. Padahal Ica masuk karena menggantikan atlet yang gagal waktu itu.
Selama tinggal di asrama, Ica selalu di jauhi oleh rekan sesamanya. Hal itu membuat Ica menjadi stress dan berdampak pada latihan yang ia jalani. Setiap hari pelatih memarahinya. Ica dianggap tidak cocok berada di pertandingan besar seperti ini.
Sementara Nissa tidak pernah ikut bergunjing seperti yang lainnya. Bahkan berkumpul saja tidak pernah ia lakukan. Ia lebih fokus untuk berlatih dan terus berlatih. Jika ada waktu senggang Nissa akan menikmatinya dengan mendengarkan musik di taman belakang asrama tersebut.
Suatu hari Nissa melihat Ica dibawa kebelakang asrama. Beberapa anak perempuan yang membawanya memaksa Ica untuk mengakui jika ia menyuap panitia. Tentu saja Ica menolak karena ia memang tidak melakukannya.
Nissa yang melihat itu menjadi geram. Ia dengan gagah berani datang dan menegakkan keadilan. Dibelakang asrama itulah untuk pertama kalinya Nissa memperlihatkan sikap garangnya.
Ica yang melihatnya menjadi takjub, karena biasanya Nissa selalu menyendiri dan sangat pendiam. Para anak perempuan yang melakukan perundungan terhadap Ica pun mengancam akan melaporkan Nissa karena telah melakukan kekerasan.
__ADS_1
Namun Nissa lebih pintar. Rupanya sebelum ia mengamuk, Nissa lebih dulu merekam segala perbuatan mereka.
"Silahkan saja kalau kalian mau melaporkanku, kita lihat nanti aku atau kalian yang akan mendapat hukuman," ucap Nissa waktu itu.
Sejak kejadian itu Nissa dan Ica menjadi teman akrab. Kemanapun Nissa pergi maka Ica akan selalu mengikutinya. Ica bahkan sering mengajak Nissa jajan makanan enak tapi Nissa menolaknya.
Ica sangat bahagia karena bisa mendapatkan teman sebaik Nissa. Namun sayang, saat pertandingan final Nissa malah memgundurkan diri dengan alasan jika ilmu beladiri bukan untuk dipamerkan, tapi untuk melindungi diri sendiri.
Pada saat itu Ica juga sedang bertanding di tempat lain. Jadi saat Ica kembali ke asrama ia tidak bisa menemukan Nissa karena temannya itu sudah pulang kerumah. Nissa hanya menitipkan surat untuk Ica, isinya adalah Nissa meminta Ica untuk selalu berani membela diri jika memang tidak salah.
Ica sangat bersedih, bahkan saat keesokan harinya keluarganya menjemputnya di asrama ia tidak bisa menutupi kesedihannya. Tangis Ica kembali pecah di pelukan sang ibu.
Mendengar kisah itu membuat hati Ardian serasa tercubit. Perasaan bersalah kembali menderanya kala mengingat kebodohannya melakukan hal yang sangat jahat pada Nissa. Bahkan tanpa ia tahu Nissa telah menjadi sosok pelindung untuk adiknya.
"Wah, ternyata ini Nissa yang pernah kamu ceritakan ke aku, sayang?" tanya Joko.
"Iya, sayangku. Kalau tidak ada Nissa mungkin selama sisa hidupku aku akan menjadi perempuan cengeng," jawabnya, jemari mereka saling bertautan, tak mempedulikan tatapan sinis yang dilayangkan Ardian.
"Dasar tidak tahu malu," ucapnya.
"Iri, bilang bos," sahut Ica mengikuti ucapan yang ramai diucapkan oleh teman kuliahnya.
"Idihh, siapa juga yang iri. Asal kamu tahu ya, kakak itu bukan cuma pegangan, tapi sudah itu," Ardian menirukan gerakan ciuman melalui gerakan tangannya.
"Biasa aja itu," balas Ardian bernada sombong.
"Sama siapa?" tanya Ica penasaran.
"Ya dengan pacarku, lah," jawab Ardian.
"Siapa? Nissa maksudnya?" tanya Ica dengan senyum mengejek.
"Ngawur, Nissa bukan pacarku, titik," sahutnya.
"Memang kenapa kalau Nissa jadi pacar kakak, Nissa cantik kok," ucap Ica sambil menelisik Nissa dari atas kebawah.
"Hahaha, dia ini gak bakal cocok sama aku, bukan tipeku juga," jawab Ardian asal.
Nissa yang dari tadi hanya menjadi pendengar merasakan panas pada telinganya. Kalau hatinya jangan di tanya lagi, terbakar. Nissa mencoba bersabar menghadapi ucapan Ardian barusan.
__ADS_1
Nissa menghela nafasnya perlahan. Ia sudah tak sanggup berlama-lama berada disana. Apalagi Ardian dan sang adik sepertinya tidak ada keinginan untuk berhenti.
"Aku permisi ke toilet dulu, ya" ucapnya pada kedua orang itu.
Ardian mengibaskan tangannya. Kemudian Nissa segera beranjak pergi.
"Sudah berapa lama kalian menjalin kasih?" tanya Ardian sesaat setelah Nissa menghilang dari pandangannya.
"Sudah sekitar satu tahun," jawab Joko tegas.
"Apa yang kamu lihat dari Ica saat itu, bukankah dia berpenampilan culun, bagaimana kamu bisa terpikat padanya?" tanya Ardian. Ia sudah seperti seorang detektif yang menginterogasi tersangka.
"Jujur, saya jatuh cinta pada pandangan pertama, saat semua gadis disana sibuk dengan penampilan, Ica malah sibuk dengan kegiatannya belajar dan terus belajar. Saya dulu suka mengikuti Ica belajar di perpustakaan sampai sore. Saya juga sering melihat Ica di bully teman sekampus karena penampilannya, tapi saya senang saat ternyata Ica adalah gadis pemberani."
"Pertahankan hubungan kalian, dan ingat jangan kamu sakiti adikku," ucap Ardian mengancam.
"Kakak yakin tidak memiliki hubungan serius dengan Nissa?" tanya Ica tiba-tiba.
Glek, Ardian meneguk air liurnya sendiri. Ia bingung harus menjawab apa, karena ia takut jika mengatakan yang sebenarnya maka adiknya akan semakin mengejeknya.
"Tidak, memang kenapa?" tanya Ardian.
"Tidak, hanya saja aku pikir kak Ardian menyukai Nissa. Aku bisa mengetahuinya dari caramu menatapnya tadi," ucap Ica berterus terang.
Apa-apaan anak ini? Bagaimana dia bisa tahu jika aku memang jatuh cinta pada Nissa? Ini tidak bisa dibiarkan, apa tanggapan Nissa jika ia sampai tahu. Gadis itu pasti akan menjauh dariku. Lagipula siapa yang mau menerima cinta bos jahat sepertiku, batinnya bermonolog.
Ardian menatap Ica dengan tatapan kesal. Ia harus secepatnya membungkam mulut ember adiknya ini.
"Kamu dengar ya, Icaku sayang. Aku dan Nissa itu kami berbeda level. Gadis sepertinya tidak akan pantas bersanding dengan pria sepertiku, lagipula dia itu hanya pem ban tu. Apa kata dunia jika Ardian Sanjaya terlibat hubungan dengan ba-bu," ucap Ardian dengan penuh penekanan di beberapa kata tertentu.
DEGG
Nissa menghentikan langkahnya. Hatinya serasa teriris sembilu mendengar ungkapan Ardian barusan. Hancur sudah perasaannya.
Apakah aku memang tak pantas mencintaimu, apakah aku memang tak pantas bersanding denganmu.
BERSAMBUNG
See u next chapter gengss
__ADS_1
Luv u all 😘😘
Jangan lupa BAHAGIA 🥰