
Setelah mobil yang dikendarainya terparkir dengan baik, Nissa segera turun dan membukakan pintu untuk Tuan Besar Ardian Sanjaya. Walaupun hatinya masih dongkol dengan segala hinaan yang dilontarkan pria ini tadi pagi.
Beberapa karyawan yang berkumpul di depan lift di lobby kantor segera menunduk hormat saat mengetahui kedatangan Ardian. Namun perhatian mereka teralihkan saat melihat keberadaan Nissa dibelakang Ardian.
Bisikan para karyawan mulai terdengar mempertanyakan maksud kedatangan Nissa di sini. Nissa yang diperhatikan hanya memasang wajah tembok tak memperdulikan tatapan para karyawan yang ia anggap memiliki tingkat kekepoan yang terlalu tinggi.
Ridho yang sudah kembali bekerja pun hanya bisa tercengang melihat penampilan sahabat istrinya itu. Nissa tampak berbeda dari biasanya. Kali ini ia terlihat lebih dewasa dengan setelan yang ia kenakan, namun tetap modis dan imut.
Dua orang karyawan wanita yang bertugas di bagian informasi menatap iri sekaligus sinis padanya. Bagaimana tidak iri, Nissa terlihat semakin cantik memggunakan setelan jas hitam, celana hitam dan kemeja putih. Jangan lupakan sepatu pantofel yang ia gunakan menambah kesan garang sebagai seorang pengawal.
Ding
Pintu lift khusus direksi terbuka. Ardian, Roli dan Nissa segera masuk kedalam. Suasana terasa hening, bahkan lebih hening dari malam hari.
"Roli, apa jadwalku hari ini?" tanya Ardian saat mereka sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Pukul sembilan pagi ini anda ada rapat dengan divisi desain interior dan divisi konstruksi. Setelah itu anda akan melakukan meeting di Hotel Nusa dengan klien dari PT Adijaya Fashion tentang rencana pembangunan gedung perusahaan yang baru," ucap Roli menjelaskan.
Ardian melirik jam tangannya, masih ada waktu lima belas menit sebelum melakukan rapat kerja pagi ini. Masih ada waktu untuk bermain, senyuman licik terbit diwajahnya.
"Nissa!" panggilnya. Nissa yang duduk kursi di dekat pintu pun berdiri dan masuk kedalam.
"Ada perlu apa Tuan memanggil saya?" tanya Nissa.
"Aku lapar, belikan aku bubur ayam yang terletak didekat halte bus.," perintahnya sambil memberikan selembar uang berwarna biru pada Nissa.
"Baik, Tuan. Perintah anda akan segera saya laksanakan," ucap Nissa lalu mengulurkan tangan meraih uang tersebut.
"Berikan kunci mobilku," pinta Ardian.
Nissa mengambil kunci mobil dari saku jasnya. Dengan ragu ia memberikan kunci itu pada Ardian. Keningnya berkerut menandakan otaknya yang saat ini bekerja keras. Apa lagi maunya orang ini, mengapa ia meminta kunci mobilnya? Apa jangan-jangan...?
"Jalan kaki saja, kita harus menghemat bahan bakar, lagipula berjalan bagus untuk menjaga kesehatan," ucap Ardian santai.
Tak tahukah Ardian ucapannya tadi sudah membuat Nissa geram. Benar dugaanku, ia pasti akan menyiksaku dengan cara seperti ini. Berjalan kaki dari sini ke halte memakan waktu lima belas menit. Gila!
Nissa berbalik dan segera pergi untuk menunaikan perintah dari tuannya. Namun Ardian kembali memghentikan langkahnya.
"Nissa, waktumu hanya lima belas menit. Bila lebih dari itu maka aku akan memotong gajimu satu bulan," ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang didudukinya.
__ADS_1
Nissa melotot mendengar permintaan Ardian yang sudah pasti susah untuk dilakukan. Dasar maniak, mana aku sanggup kalau hanya diberi waktu sesingkat itu. Memang aku ini punya kekuatan seperti Barry Allen?
Setelah keluar dari ruangan Ardian, Nissa segera berlari secepat yang ia bisa. Untung saja ia tidak dalam keadaan lapar, karena tadi pagi Nissa sempat sarapan sebelum Ardian selesai bersiap dikamarnya.
Hosh hosh hosh
Nissa mencoba mengatur nafasnya saat ia tiba didepan kedai bubur ayam yang di minta Ardian.
"Bang, bubur ayamnya satu, kuahnya dipisah, ya. Cepetan bang," cecar Nissa pada penjual bubur ayam yang lumayan tampan itu.
"Ahsiyaaap, neng," ucap si abang.
Beruntung saat itu keadaan sedang sepi, maklum saja Nissa datang bukan di jam sarapan atau makan siang apalagi makan malam. Hanya dalam waktu beberapa menit si abang penjual bubur ayam berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
"Berapa, bang?"
"Lima belas ribu, neng,"
Nissa menyerahkan uang yang tadi diberi oleh Ardian. Setelah mendapatkan kembalian ia bergegas kembali ke kantor. Nissa ingin berlari seperti tadi tapi bungkusan bubur ayam yang ia bawa membuatnya mengurungkan niatnya.
"Nissa," ucap seseorang mengejutkan Nissa.
"Eh, pak Randy" Nissa menoleh melihat sosok pria yang dikenalnya sedang berada di atas motornya dan berhenti didekatnya.
"Mau balik ke kantor, pak," jawab Nissa jujur.
"Kekantor? Buat apa?" tanya Randy heran.
"Bisa tolong antarkan saya kekantor, pak?" tanya Nissa penuh harap.
"Buat apa kamu ke kantor? Bukannya kamu sudah berhenti kerja disana, ya? Lalu, ada apa dengan pakaian yang kamu kenakan ini?" tanya Randy lagi, masih dengan raut wajah kebingungan.
"Susah untuk dijelaskan saat ini, yang penting saya harus segera kembali ke kantor secepatnya," jawab Nissa.
Randy memperhatikan Nissa sesaat, gadis ini terlihat sangat membutuhkan pertolongan.
"Baiklah, ayo naik," ucapnya.
Tanpa aba-aba Nissa naik dan duduk di jok motor Randy. Ia memegang bungkusan bubur ayam pesanan Ardian ditangan kiri sementara tangan kanannya berpegangan pada baju Randy.
__ADS_1
"Bukannya kamu ini istrinya Pak Ardian, kenapa malah berjalan kaki dan tidak meminta Pak Ardian mengantarkanmu, atau meminta supir kalian yang mengantarmu?" tanya Randy. Saat ini mereka berada diperjalanan menuju kantor.
"Pak Randy salah paham, saya bukan istrinya Pak Ardian," sahut Nissa. Saya ini cuma pesuruhnya saja, batinnya.
Seulas senyum terbit diwajah Randy, ada rasa lega dihatinya saat mengetahui bila ternyata ia salah.
"Oh, aku kira kamu beneran istrinya pak Ardian, soalnya pak Ardian sendiri yang bilang waktu kita tak sengaja bertemu di parkiran swalayan waktu itu," ucap Randy berusaha santai, padahal saat ini ia sangat ingin meloncat kegirangan.
"Bukan, pak Ardian mungkin waktu itu lagi error otaknya," sahut Nissa. Saya saja bingung mengapa waktu itu dia mengakui saya sebagai istrinya.
Randy menghentikan kendaraannya tepat di depan lobby sesuai permintaan Nissa.
"Nissa, kamu memiliki hutang penjelasan kepadaku," ucap Randy.
"Saya akan cerita, tapi tidak sekarang. Terima kasih tumpangannya," Nissa segera berlalu meninggalkan Randy yang menatapnya dengan raut wajah bahagia.
Nissa kembali berlari, ia tidak punya banyak waktu saat ini. Nissa mengatur nafasnya sejenak saat ia berada didepan pintu ruangan Ardian.
Setelah mengetuk pintu ia masuk kedalam. Ardian yang sedang fokus mengecek laporan kerja karyawan terkejut melihat kedatangan Nissa yang lebih cepat dari perkiraannya.
"Ini pesanan anda, Tuan," ucap Nissa, lalu meletakkan bungkusan tersebut ke atas meja.
Ardian melirik jam yang melingkar indah di tangan kekarnya. Masih ada waktu tersisa dua menit dari yang ia tentukan.
"Berikan saja pada pak Soleh," sahut Ardian ketus. Pak Soleh adalah OB senior di sini.
What the... Okey, calm down Nissa. Jangan terpancing, jangan emosi. Dasar vangke kau Ardian!!
********
PERCAKAPAN UNFAEDAH
Nissa: Mbak, jangan jahat-jahat dong. Masa iya aku harus menderita lagi.
Mbak Tika: Sabar ya, Nis. Mbak Tika hanya ingin pembaca bahagia.
Nissa: Ya, tapi kenapa harus aku yang menderita sih. Kenapa bukan Ardian aja?
Ardian: Dahlah, Nis. Loe gak usah cerewet, ikuti aja maunya Mbak Tika. Terima aja nasib loe wkwkwkwk.
__ADS_1
Nissa: Diem gak loe! Gue sumpahin ya, saat Mbak Tika bikin loe bucin ama gue, gue bakal tolak semua kebucinan loe.
BERSAMBUNG