
Nissa berjalan mondar-mandir di depan kamar VVIP sebuah rumah sakit. Berulang kali ia mengibaskan tangannya karena merasa gugup. Telapak tangannya kini sangat dingin, bukti dari betapa gugup dirinya.
Nissa mengintip dari luar kaca pintu kamar ini. Terlihat dengan jelas jika Ardian baik-baik saja. Bahkan selang infus pun tak terpasang di tangannya. Hanya sebuah luka gores di tangan dan dahinya.
Nissa ingin mengumpat Roli sekarang. Tadi sore ia mengatakan jika kondisi Ardian tidak baik. Gara-gara ucapannya itulah Nissa nekad meminta pada dokter yang merawatnya untuk melepas selang infus di tangannya.
Kini Nissa dapat bernafas lega, karena apa yang ia khawatirkan tak menjadi kenyataan. Ardian tampak bahagia sekali, terlihat jelas di wajah tampannya.
Ardian tampak tersenyum ceria ditemani oleh keluarga besarnya. Ada Ayah dan Ibunya, Hendri dan istrinya, lalu Ica juga ikut hadir bersama Joko.
Selama hampir satu jam keluarga besar itu berkumpul di ruang rawat Ardian. Setelah puas berbincang dengan Ardian mereka pun keluar agar anggota keluarga mereka bisa beristirahat dengan baik.
Nissa yang dari tadi berdiri di luar kamar segera berlari ketika mengetahui keluarga Ardian akan keluar. Ia bersembunyi di balik pos perawat jaga. Beberapa perawat menatapnya aneh namun ada juga yang merasa lucu melihat tingkah Nissa.
Setelah seluruh keluarga pulang Nissa kembali ke depan kamar Ardian. Ia bingung untuk memilih antara masuk atau tidak. Akhirnya setelah cukup lama berpikir Nissa pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, Ardian yang sedang berkirim pesan dengan Edi pun menghentikan aktivitasnya. Ia melihat ke arah pintu, penasaran dengan siapa yang masuk ke kamarnya.
DEGG
Tatapannya bertemu dengan tatapan sendu milik Nissa. Kerinduan yang begitu besar terpancar jelas dari wajah keduanya.
"Bagaimana kabar, tuan?" tanya Nissa, canggung. Mati-matian ia berusaha menetralkan detak jantungnya.
"Seperti yang kamu lihat, kabarku baik," jawab Ardian. Sama-sama canggung.
Nissa berjalan secara perlahan mendekati ranjang Ardian. Netranya menelisik tubuh Ardian dari atas ke bawah.
"Ada yang sakit?" tanyanya.
"Tidak ada, hanya luka gores saja," jawab Ardian.
"Ada tulang yang patah tidak, tuan?" tanyanya lagi.
Ardian mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan pertanyaan Nissa tadi.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu berharap hal buruk terjadi padaku?" tanya Ardian dengan perasaan kesal.
Nissa menghela nafasnya perlahan. Dasar angkuh, tinggal jawab saja apa susahnya, sih?
"Jawab saja dengan jujur, ada tulang yang patah tidak?" tanya Nissa lagi.
Ardian berdecak. "Tidak ada, Nona."
"Baguslah," sahut Nissa.
"Apanya yang bagus?" tanya Ardian heran.
__ADS_1
"Kalau tidak ada tulang yang patah maka aku bisa melakukan ini."
Perlahan Nissa menarik bantal yang menjadi sandaran Ardian. Tentu saja Ardian menjadi semakin heran. Namun melihat mimik wajah Nissa yang tak terbaca membuatnya merasa ngeri.
Buk buk buk
Nissa memukul Ardian dengan bantal, ia memukulnya berkali-kali hingga pria itu kewalahan. Pukulan Nissa yang bertubi-tubi sungguh membuatnya tak bisa berkutik. Ia pasrah dibawah kendali Nissa.
"Dasar bre**sek, aku pikir kau sudah mati, aku pikir kau akan meninggalkanku. Kau bilang menunggu jawabanku, tapi kenapa kau malah menghilang? Apa kau ingin mempermainkanku? Apa kau pikir aku ini tidak punya perasaan? Kau bilang ingin menjadi suamiku, kau tahukan tugas suami itu melindungi keluarganya, tapi mengapa melindungi dirimu sendiri saja kau tidak becus? Apa kau tidak tahu betapa takutnya aku saat mendengar berita kecelakaanmu? Aku merasa bersalah karena kupikir aku tak bisa mengabulkan permintaanmu, dasar Roli bre**sek, kau dan dia sama saja. Dia bilang kondisimu tidak baik, ternyata kau bisa tertawa seperti tadi. Apa kalian bekerja sama dan ingin membuatku gila?"
Nissa tanpa henti berbicara mengeluarkan uneg-unegnya sambil sesekali memukuli Ardian dengan bantal. Ia melampiaskan semua perasaannya. Perasaan takut, kesal, marah, serta perasaan lega menjadi satu.
Dan kini air matanya kembali luruh membasahi pipinya. Ia tidak tahu mengapa bisa segila ini, mengapa ia bisa sepolos ini dan mengungkapkan segalanya.
GREP
Ardian menarik tangan Nissa hingga gadis itu terjatuh dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan erat, diciuminya pucuk kepala Nissa, kemudian keningnya. Nissa tak menolak, namun juga tak membalas. Sementara itu bantal yang ia pegang terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai. Tubuhnya kaku karena ini adalah pertama kalinya seorang pria memeluknya.
Tubuh Nissa masih saja bergetar, isakannya masih terdengar, setelah semua kekesalan sekaligus rasa khawatir ia ungkapkan semua, Nissa tak sanggup lagi untuk berbicara. Hanya tangisanlah yang mewakili perasaannya saat ini.
"Kau bre**sek, tuan. Hiks hiks," ucapnya sambil terus sesenggukan.
"Iya, aku memang bre**sek," sahut Ardian, pria itu mengusap kepala Nissa dengan lemah lembut.
"Apa kau ingin mempermainkanku, tuan?" tanya Nissa, tubuhnya masih berada dalam pelukan Ardian.
"Lalu mengapa kau menghilang dari sana, aku pikir kau terlempar lalu jatuh kesungai."
"Aku tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi saat sadar aku sudah berada dirumah warga," ucap Ardian menjelaskan.
Nissa kembali menangis histeris. Ardian dibuat bingung sendiri. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain hanya diam dan terus mengusap punggung Nissa. Mungkin dengan cara ini gadis itu bisa tenang.
Namun Ardian bahagia, gadis pujaannya ternyata sangat takut kehilangannya. Apa ia sudah mulai menerimaku, batin Ardian.
***
Nissa menundukkan kepala, ia begitu malu saat ini. Sementara itu Ardian malah menatapnya dengan intens. Ditatap seperti itu membuat Nissa semakin malu, wajahnya bahkan sudah seperti kepiting rebus.
"Masih marah?" tanya Ardian.
Nissa menggeleng. Ia masih setia menundukkan kepala. Matanya fokus menatap kedua kakinya yang menjuntai dari atas ranjang.
"Nissa, lihat aku," perintah Ardian.
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Malu," jawab Nissa singkat.
__ADS_1
Ardian terkekeh geli. "Malu tapi waktu kupeluk diam saja."
Nissa mengangkat kepalanya, ia menatap Ardian dengan tatapan kesal dan mengerucutkan bibirnya. Jantung Ardian kembali berdetak dengan kencang saat mata mereka saling tatap.
Ardian mengalihkan pandangannya ke luar jendela kamarnya. Kini malah ia yang salah tingkah. Entah mengapa hanya dengan menatap matanya selalu membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, tuan?" tanya Nissa, ia melakukan itu untuk menghilangkan rasa canggung yang melanda mereka berdua.
"Ada kucing menyeberang tiba-tiba. Mungkin karena kurang fokus aku terkejut lalu membanting kemudi ke kiri. Setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Dan saat terbangun aku sudah berada di rumah warga," jelasnya.
"Tapi tidak ada pemukiman di daerah tersebut," sahut Nissa.
"Benar, warga yang menolongku adalah warga dari kampung sebelah yang berjarak 5 kilometer dari lokasi kecelakaan. Ia melihatku pingsan di pinggir jalan saat pulang dari kebun. Lalu ia membawaku pulang dibantu oleh anaknya," jelas Ardian lagi.
"Mengapa anda jadi kurang fokus, tuan?"
"Karena aku memikirkanmu," jawab Ardian. Ia meraih tangan Nissa dan menggenggamnya dengan erat.
"Lain kali jangan memikirkanku, aku takut kejadian seperti ini terulang lagi," ucap Nissa.
"Aku akan selalu memikirkanmu, bahkan saat tidur pun aku akan memimpikanmu."
Nissa tersipu, ia merasa senang sekali karena ucapan tersebut keluar dari bibir pria yang ia cintai.
"Nissa," panggil Ardian.
"Iya, tuan."
"Bagaimana dengan pertanyaanku tempo hari, kamu belum menjawabnya," ucap Ardian.
Wajah Nissa memerah seketika. Ia kembali teringat dengan pertanyaan Ardian sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Pertanyaan yang mana, tuan?" tanya Nissa pura-pura tidak tahu.
"Yang itu."
"Yang mana, tuan?" tanya Nissa dengan sikap sok polosnya.
"Apa kamu sudah lupa dengan pertanyaanku yang terakhir itu?" tanya Ardian heran.
"Tuan, jangan bertele-tele. Anda terlalu banyak memberikan saya pertanyaan sehingga saya lupa yang mana yang anda maksud," Ucap Nissa lagi.
Ardian berdecak pelan. "Baiklah, aku akan mengulanginya lagi. Dengarkan aku baik-baik."
Jantung Nissa mulai berdebar dengan kencang. Ia menatap wajah Ardian dengan serius.
"Nissa, maukah kamu menjadi ISTRIKU? Maukah kamu mengizinkanku menjadi suamimu?"
BERSAMBUNG
__ADS_1