Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Dia ISTRI Saya


__ADS_3

"Kenapa kau ini? Senyum-senyum sendiri, seperti orang g*l* saja," ucap Ardian keheranan.


Setelah Nissa menyelesaikan pelatihan singkatnya tadi, ia langsung pergi menemui Ardian di perusahaan. Nissa sangat bahagia karena mampu mengendarai mobil hanya dalam waktu beberapa jam, selain itu ia kini mempunyai bahan ledekan yang bisa digunakan bila Ardian mengusiknya.


"Tidak ada apa-apa, pak. Saya hanya merasa bahagia," ucapnya jujur.


"Aku pikir kau terpana dengan ketampananku ini," sahut Ardian menyombongkan diri.


Issh, pak Ardian kepede-an. Ganteng sih, iya ganteng, tapi kalau dilihat pakai sedotan dari atas Monas.


Nissa kembali tersenyum karena pemikiran absurdnya tadi. Hal ini membuat Ardian semakin percaya diri.


"Nah, itu kau tersenyum lagi. Pasti benar kau ini terpana melihatku. Sudahlah akui saja, aku ini memang tampan dan jenius," tambah Ardian.


Nissa menghela nafas mendengar ucapan Ardian barusan. Ia pun memutar bola matanya jengah dengan tingkah narsis bosnya.


"Iya, pak. Terserah anda saja,"


"Bagaimana pelatihanmu tadi, kau tidak menabrak tong sampah lagi, kan?" ejek Ardian.


"Tentu tidak, saya kan bukan seseorang yang akan melakukan kesalahan yang sama," ucap Nissa menyindir Ardian.


Ardian yang disinggung hanya menganggukkan kepala. Ia sendiri tidak tahu bila maksud Nissa berbicara seperti itu adalah menyindir dirinya. Ralat, bukan tidak tahu, tapi belum tahu.


Ardian segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah itu berniat untuk langsung pulang. Selain itu tidak ada jadwal meeting dengan klien sehingga Ardian bisa pulang lebih awal kali ini.


"Ini, bawa mobilnya. Aku mau tahu bagaimana hasil pelatihanmu," ucap Ardian sambil melemparkan kunci mobil pada Nissa.


"Siap, bos," sahutnya.


Saat tiba diparkiran Nissa langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk kaca jendela mobil. Nissa menoleh dan mendapati Ardian berdiri di samping mobil.


"Ada apa, pak? Kenapa bapak masih di luar?" tanya Nissa setelah ia keluar dari mobil.


"Kamu lupa dengan tugasmu?"


"Tugas yang mana lagi, pak?" tampak raut wajah Nissa kebingungan.


Ardian menghela nafas kasar, ia menatap Nissa dengan tajam. Dasar pelayan b*d*h.


"Sebagai seorang pelayan yang baik bukankah seharusnya kamu membukakan pintu mobil untuk majikanmu, Nona Nissa?" Ardian nampak kesal dengan kebo**han Nissa.


Nissa langsung menyadari kebo**hannya dan segera membukakan pintu mobil untuk Ardian.


"Silahkan, pak," ucap Nissa seramah mungkin.


Bukannya masuk Ardian malah membuka pintu bagian depan dan masuk lalu duduk di kursi penumpang di samping pengemudi. Ia duduk sambil melipat tangan didada. Netranya menyorot tajam ke arah depan.


Maunya apa sih orang ini? Tadi minta diperlakukan bak raja, kalau tau begini buat apa aku repot-repot membukakan pintu untuknya.


Dengan wajah cemberut Nissa kembali memutari mobil. Ia lalu kembali duduk di kursi pengemudi.


"Cepat jalankan mobil ini," perintah Ardian ketus.

__ADS_1


"Mau langsung pulang, atau bapak mau pergi ke suatu tempat dahulu?" Nissa memberikan pilihan pada orang disampingnya ini.


"Jalankan saja mobil ini, nanti aku akan mengarahkanmu," ucap Ardian, masih dengan aura dinginnya.


Nissa merasa agak takut melihat Ardian seperti ini, namun ia tetap menuruti perintah Ardian dan segera menjalankan mobil.


"Lumayan," ucap Ardian tiba-tiba ditengah keheningan yang terjadi di dalam sini.


"Ha!! Apanya yang lumayan, pak?" tanya Nissa heran.


"Kamu," sahut Ardian singkat.


"Saya?"


"Iya kamu," ucap Ardian sambil menunjuk kemudi.


"Ooh," Nissa mulai paham. "Kata pak Heru, saya termasuk salah satu murid yang cepat menangkap materi dan berlatih di lapangan," tambahnya.


"Heh, sombong sekali. Kamu tahu, aku adalah muridnya yang paling hebat sepanjang karir pak Heru," ucap Ardian.


"Heem, saya percaya. Pak Heru sudah cerita tadi," sahut Nissa santai.


"Benarkah? Memang apa yang di katakan pria tua itu?" tanya Ardian penasaran.


"Pak Heru bercerita jika bapak adalah muridnya yang paling jenius," jawab Nissa.


"Tentu saja aku jenius, kalau tidak mana mungkin aku mampu mengendarai mobil hanya dalam waktu satu jam," ucap Ardian bangga, ia bahkan tersenyum sumringah saat mengatakannya.


"Heem, saking jeniusnya hingga orang tua bapak harus merugi dan mengeluarkan banyak biaya untuk memperbaiki pagar rumah tetangga yang bapak tabrak dan harus mencari pengganti untuk pohon mangga tetangga yang bapak tabrak hingga roboh," sahut Nissa panjang lebar.


Glek.


Astaga, tahu darimana dia? Apa mungkin pak Heru yang menceritakan padanya? Dasar pria tua!!


"Pak Heru yang mengatakannya?" tanya Ardian.


"Heem," sahut Nissa.


"Ck, jangan dipercaya. Pria tua itu hanya sedang membual," ucap Ardian menutupi kebo**han di masa lalunya.


"Heem," sahut Nissa.


Dasar pembohong, dia kira aku tidak lihat ekspresi terkejutnya tadi. Ck ck ck, akui sajalah, pak Ardian.


"Pergi ke swalayan," perintah Ardian lagi.


Nissa mengikuti perintah Ardian tanpa bertanya. Setelah sampai Ardian keluar sendiri dan hanya meminta Nissa menunggu di dalam mobil.


Cukup lama Nissa menunggu, hingga ia merasa bosan. Entah apa saja yang dilakukan Ardian disana, pikirnya. Untuk mengurangi penat yang kini melanda Nissa keluar dari mobil dan merenggangkan badannya.


"Nissa?"


Nissa menoleh ke samping guna mencari siapa yang telah menegurnya tadi.


"Pak Randy,"


"Aku benar, ternyata ini memang kamu, Nis," ternyata orang yang menegur Nissa tadi adalah Randy, salah satu karyawan di perusahaan Ardian.

__ADS_1


"Apa kabar, pak?" sapa Nissa.


"Baik, bagaimana denganmu, apakah sudah dapat pekerjaan di tempat lain? Setahuku kamu mengundurkan diri dari perusahaan," cecar Randy.


"Oh, iya benar, pak. Saya memang mengundurkan diri. Tapi saya sudah mendapat pekerjaan lainnya," jawab Nissa.


"Syukurlah kalau begitu. Aku minta maaf, Nissa," ucap Randy sambil menghela nafas perlahan.


"Untuk apa bapak minta maaf pada saya?" tanya Nissa bingung, seingatnya Randy tak pernah melakukan kesalahan apapun padanya.


"Aku minta maaf karena pernah ikut mengucilkanmu saat itu," ucap Randy.


Tampak raut penyesalan menyelimuti wajahnya. Nissa seketika terdiam saat mengingat saat itu. Saat ia dijauhi oleh semua karyawan perusahaan bahkan oleh Randy, pria yang selalu memberikan gombalan receh padanya.


"Maafkan aku, Nis. Sebenarnya aku tidak mau melakukan itu. Tapi ancaman pak Ardian membuatku ciut," ucap Randy lagi.


"Sudahlah, pak. Tidak usah di ingat lagi. Saya saja sudah lupa dengan hal tersebut," ucap Nissa.


Nissa memaksakan senyumnya di depan Randy. Pria yang sepertinya baru pulang kerja itu jadi tidak enak hati melihat senyuman Nissa yang terkesan dipaksakan.


Dari kejauhan Ardian melihat interaksi Nissa dan Randy, salah satu karyawannya.


"Wah, berani sekali dia. Kuperintahkan untuk menunggu di dalam mobil, tapi malah berkencan disini. Dasar pasangan tak tahu aturan," gumamnya.


Dengan mendorong troli berisi barang belanjaan Ardian melangkah mendekati Nissa dan Randy yang sedang asyik mengobrol.


Plok plok plok


Ardian bertepuk tangan. "Hebat sekali kamu, bukannya mengikuti perintahku tapi kau malah berkencan dengannya," ucap Ardian sinis.


Nissa terkejut dengan kedatangan Ardian yang tiba-tiba. Begitu juga Randy yang terkejut bertemu dengan bosnya di sini.


"Selamat sore Pak Ardian," sapa Randy, ia berusaha menutup rasa gugupnya melihat tatapan tajam Ardian.


"Nissa, masukkan semua barang ini kedalam mobil," perintahnya pada Nissa.


Nissa segera beranjak meraih troli yang sedang dipegang Ardian. Ia lalu membuka pintu bagasi mobil dan mulai memasukkan semua barang belajaan tersebut ke dalam troli.


Sementara itu Randy memperhatikan Nissa dengan tatapan heran. Ia bingung dengan pemandangan di depannya ini. Bagaimana bisa pak Ardian memerintah Nissa begitu saja, bukankah Nissa sudah mengundurkan diri, pikirnya.


"Tolong perhatikan matamu," ucap Ardian sewot. Entah kenapa ia merasa kesal melihat Randy memperhatikan Nissa.


Ucapan Ardian tadi mengalihkan perhatian Randy dari Nissa.


"Maaf, pak," ucapnya.


"Jangan pernah melihat Nissa dengan tatapan seperti itu," ucap Ardian.


Nissa yang sibuk memasukkan barang-barang itu hanya bisa mendengarkan tanpa ikut bicara.


"Memang kenapa, pak? Dia bukan karyawan bapak lagi, jadi tidak ada salahnya kan saya dekat dan memperhatikan Nissa," ucap Randy tegas.


Senyuman licik terbit di wajah Ardian saat mendengar ucapan karyawannya.


"Dia memang bukan karyawan saya lagi," ucapnya sambil menoleh ke arah Nissa.


"Tapi ISTRI saya,"

__ADS_1


Mendengar itu sontak Nissa membelalakkan matanya, wajahnya memerah saking malunya.


WHAT!!! Dasar bos gen**ng, kop**k, g**a, br*****k!!!!!


__ADS_2