Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Pertemuan Thalita dan Verica


__ADS_3

Nissa duduk pada sebuah kursi di depan ruang poli bedah sebuah rumah sakit. Seminggu sudah ia menjalani perawatan di rumah dan hari ini adalah jadwal Nissa melakukan pemeriksaan lanjutan.


Nissa memandangi sekitarnya. Ada rasa iri melihat pasien lain ditemani oleh orang terdekat mereka. Sementara ia hanya seorang diri disini, tanpa ada seorang pun yang menemani. Sungguh miris, Nissa merasa kesepian di tengah ramainya pengunjung di rumah sakit ini.


"Annissa Nur Hafizah," seru salah seorang perawat dari balik pintu ruang pemeriksaan di depannya.


"Saya, suster,"


"Mari masuk, dokter sudah menunggu," ucap perawat itu dengan ramah.


Nissa melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Seorang pria paruh baya berkacamata duduk sambil tersenyum padanya.


"Annissa?"


"Benar, dok," jawabnya.


"Ada keluhan selama menjalani perawatan di rumah?" tanya sang dokter.


"Hanya terasa nyeri saat saya berjalan," jawabnya.


"Tentu saja, itu karena lukanya masih basah. Selama tidak ada perdarahan pada luka maka tidak jadi masalah," jelas sang dokter.


Nissa mengangguk pertanda ia memahaminya. Kemudian dokter tersebut meminta Nissa naik ke atas brankar. Ia lalu meminta asistennya untuk membantu Nissa naik dan berbaring di sana.


Dokter memeriksa jahitan di perut Nissa dengan teliti, apakah ada infeksi atau tidak.


"Ya, jahitannya sudah mulai kering. Kamu merawat lukamu dengan baik. Saya lihat tidak ada infeksi pada luka ini," jelas sang dokter.


Kemudian ia mengganti perban di luka tersebut setelah mengoleskan krim khusus untuk membantu proses penyembuhan dan menghindarkan dari resiko infeksi.


"Salepnya masih ada?" tanya sang dokter.


"Masih, dok. Masih ada sedikit," jawab Nissa.


"Kalau begitu nanti saya resepkan lagi," sahut dokter tersebut.


Setelah selesai Nissa turun dari atas brankar dibantu oleh asisten dokter. Nissa lalu duduk di kursi yang di sediakan untuk pasien tepat berseberangan dengan kursi dokter.


"Kamu kemari bersama siapa?"


"Hanya sendiri, dok," jawabnya.


Sang dokter tercengang mendengar jawaban Nissa. Ia terkejut mengetahui Nissa pergi melakukan pemeriksaan sendirian.


"Lalu bagaimana dengan suami kamu? Mengapa dia tidak menemanimu kemari?" tanya sang dokter, dari nada bicaranya ia tampak sedikit kesal sekaligus kasihan.


"Dokter salah, saya belum menikah," jawab Nissa. Ada rasa canggung saat ia mengatakannya.


"Lalu pria yang terlihat kacau itu siapa?"

__ADS_1


"Oh, Pak Ardian maksud dokter? Beliau majikan saya, dok," jawab Nissa jujur.


"Majikan? Saya kira dia suami kamu, karena saat saya menemuinya setelah operasi selesai ia terlihat sangat khawatir,"


Nissa mengerutkan keningnya. Khawatir? Apa tidak salah? Saat ini saja aku harus bersikap seperti hantu. Ck, sungguh menyebalkan.


"Kalau begitu, ini resep obat yang harus kamu minum. Ada pereda nyeri dan antibiotik untuk mengurangi resiko infeksi pada luka. Antibiotik ini harus kamu habiskan. Tapi jangan dihabiskan dalam sekali minum, lihat takarannya," jelas sang dokter sekaligus bergurau pada Nissa.


Nissa terkekeh. "Iya, dok,"


"Saya juga sudah meresepkan salep, gunakan sehari dua kali. Jangan lupa ganti perbannya secara rutin,"


"Baik, dok,"


"Apa ada yang mau kamu tanyakan lagi?"


"Tidak, dok. Saya sudah memahaminya," ucap Nissa sambil tersenyum.


"Silahkan pulang, tapi seminggu lagi datanglah kemari," perintah sang dokter.


"Terima kasih, dok. Kalau begitu saya permisi," ucap Nissa.


Nissa keluar dari ruangan tersebut lalu berjalan perlahan menuju apotik rumah sakit. Sementara di dalam sang dokter tak henti-hentinya memuji ketangguhan Nissa di depan asisten dan perawatnya.


***


Ardian menghela nafasnya kasar saat melihat tingkah adiknya. Verica Sanjaya, gadis manja itu kini berada diruangan sang kakak. Ia bergelayut pada lengan Ardian, meminta pria itu mempertemukannya dengan pengawal kakaknya yang rela terluka demi melindunginya.


"Jadi kamu meninggalkan kuliahmu di kota J hanya untuk bertemu dengan pengawalku?" tanya Ardian.


Ica mengangguk. "Kalau bukan karena ibu yang maksa, mana mungkin aku rela meninggalkan kuliahku,"


"Benarkah, biasanya kalau ibu menyuruhmu melakukan sesuatu kamu selalu membantahnya. Mengapa kali ini kamu mau menurutinya?" tanya Ardian.


Ia yakin ada yang maksud tertentu dibalik kedatangannya kemari. Karena dengan sikap keras kepalanya tidak mungkin Ica mau meninggalkan kuliah jika tidak ada sesuatu. Apalagi ia sangat ingin menjadi seorang pengacara, dulu saja ia sampai nekat kabur saat keinginannya melanjutkan studi di kota J di tolak Ayah dan Ibunya.


"Ayo katakan, apa maksudmu datang kemari?" tanya Ardian menyelidik, ia melirik tajam menatap gadis di sampingnya ini.


"Aku mau minta tolong sama kakakku yang paling ganteng ini," jawabnya manja sambil mengerlingkan matanya.


Ardian terkekeh geli, kali ini apa yang diinginkan adiknya itu.


"Adikku yang imut ini mau minta tolong apa?" tanya Ardian dengan lembut, ia pun menoel pipi Ica.


"Pacarku ingin aku memperkenalkannya pada keluarga kita, tapi aku masih belum siap," ucap Ica lirih.


"Belum siap kenapa? Bukankah bagus jika ada seseorang yang mau mengenal keluargamu lebih dekat. Itu artinya dia serius," ucap Ardian sambil mengetok jidat Ica.


"Pacarku jelek, kak. Aku takut nanti dia di tolak sama ayah dan ibu," ucap Ica lagi, kini ia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kalau dia jelek kenapa kamu mau pacaran sama dia?" tanya Ardian heran.


"Karena aku cinta sama dia, kak. Kakak kan tau, aku disana selalu berpenampilan culun, bahkan aku suka pura-pura kelihatan miskin di depan temanku. Tapi dia selalu menemaniku, membantuku. Bahkan dia yang merawatku saat aku sakit, dia rela membelikanku makanan mahal di restoran supaya aku senang. Sedangkan temanku yang lain hanya mau mendekatiku jika ada tugas kuliah saja," jelas Ica.


Ardian mengelus kepala adiknya. "Itu berarti dia benar-benar mencintaimu. Pria seperti itu sudah sangat langka. Kakak jadi ingin segera bertemu dengannya,"


"Tapi, kak. Aku masih belum siap,"


"Jangan bersikap seperti itu. Kalau kamu memang mencintai dia juga, maka perkenalkan dia pada ayah dan ibu. Kakak yakin mereka akan menerima siapapun pilihanmu asalkan kamu bahagia," Ardian menatap adiknya dengan intens.


Ica menghambur kedalam pelukan Ardian. Ia sangat bahagia bisa mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Sangat menyenangkan memiliki seorang kakak yang bisa melindungi dan mengayomi seperti Ardian.


Ceklek


Pintu ruangannya terbuka. Tampak seorang wanita berpakaian seksi masuk kedalam tanpa permisi terlebih dahulu.


"Sayang!" Thalita berseru hingga sepasang kakak beradik yang sedang berpelukan itu terkejut.


Mata Thalita membulat sempurna melihat pemandangan di depannya. Niat hati ingin memberikan kejutan, tetapi malah dia yang kini terkejut.


"Sayang, jelaskan padaku. Siapa perempuan ini? Apa dia wanita ja*angmu yang lain?" tanya Thalita sambil menunjuk Ica. Wajahnya kini memerah menahan amarah.


Kening Ica berkerut. Sayang? Apa perempuan norak ini pacarnya kak Ardi? Batin Ica menerka-nerka.


Ica memandangi Thalita dengan lekat. Ia memperhatikan dari atas kebawah. Tiba-tiba matanya membulat. Mulutnya bahkan kini menganga.


Astaga, ini kan si nenek sihir tadi? Mau apa dia kesini? Atau? Ica beralih menatap Ardian.


Sementara Thalita juga melakukan hal yang sama. Ini perempuan laknat itu. Apa yang di lakukannya disini? Apa dia selingkuhan Ardian?


Thalita menatap Ica dan Ardian bergantian, ia menatap dengan geram.


Huh, ada apa dengan mereka berdua? Apa akan ada badai sesaat lagi? Kini giliran Ardian yang menerka-nerka.


BERSAMBUNG


Ayo, ada apa dengan Thalita dan Verica?


Sambil nungguin kelanjutannya, mendingan baca karya author keren ini yuk. Ini salah satu bacaan Mbak Tika di kala senggang.


Maaf ya kakak, sudah melampirkan tanpa izin.





Masih ada lagi gengss, tapi untuk part berikutnya aja ya 😁

__ADS_1


See u next chapter gengss, luv u all 😍


__ADS_2