Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Pergi Ke Toko


__ADS_3

Nissa segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah itu ia keluar menemui Ardian di meja makan.


Seperti biasa di atas meja sudah tersaji berbagai macam hidangan dari restoran langganan Ardian. Sejak dua minggu yang lalu pria itu selalu memesan menu makanan sehat yang cocok untuk pasien pasca operasi sepertinya.


"Tuan, mulai besok biar saya masak sendiri saja, tidak usah memesan makanan lagi," pinta Nissa.


"Tidak boleh, kamu masih belum sembuh," ketus Ardian.


"Sudah, kok."


"Kata siapa?" tanya Ardian, matanya menatap Nissa dengan tajam.


Nissa hanya diam, ia segera duduk dan mulai menikmati sarapan paginya. Ardian tersenyum puas saat melihat wajah cemberut Nissa.


"Saat dokter sudah menyatakan jika kamu telah sehat maka aku akan mengizinkanmu masak lagi," ucap Ardian.


Seketika mata Nissa berbinar. Ia menatap wajah Ardian dengan tatapan penuh harap.


"Benar, tuan?"


"He-em," sahutnya sembari menganggukkan kepala.


"Tapi jangan masak untuk dirimu sendiri saja, aku juga sudah bosan dengan menu makanan dari restoran," tambah Ardian.


"Tuan mau saya memasak seperti waktu itu?" tanya Nissa meyakinkan, ia takut jika apa yang ia tangkap berbeda makna dengan Ardian.


"Iya," jawabnya singkat.


Nissa tersenyum, tampak raut kebahagiaan di wajahnya. Ia berharap dokter menyatakan ia telah sehat sehingga ia bisa melakukan semua keinginannya.


"Saya sudah tidak sabar ingin kembali bekerja, tuan," ucap Nissa.


"Kalau soal itu aku tidak janji," ucapan Ardian sontak membuat mata Nissa melotot.


"Kenapa, tuan?"


"Aku tidak yakin kau bisa kembali menjadi pengawalku atau tidak,"


"Kalau saya tidak bekerja bagaimana saya membayar hutang saya pada anda, tuan?" Nissa menatap Ardian dengan bingung.


"Kita lihat nanti," ucap Ardian. "Cepat selesaikan sarapanmu," tambahnya.


"Baik, tuan,"


Nissa menghela nafasnya perlahan. Kalau aku tidak bekerja bagaimana aku membayar hutangku, pikirnya.


***


"Bagaimana keadaannya, dok? Apa Nissa sudah sembuh?" tanya Ardian pada dokter yang kini memeriksa bekas jahitan Nissa.

__ADS_1


"Ya, keadaannya sudah 90 persen pulih. Hanya saja jangan melakukan pekerjaan berat selama beberapa bulan kedepan," jawab sang dokter.


"Pekerjaan berat seperti apa yang anda maksud, dok?" Ardian kembali bertanya untuk mendapatkan informasi secara lebih detail.


"Mengangkat beban berat, atau melakukan gerakan fisik yang melelahkan," jawab dokter itu.


Ardian menganggukan kepalanya, sedangkan Nissa hanya diam dan memasang wajah datarnya. Gadis itu benar-benar ingin kembali bekerja, tetapi rupanya ucapan dokter tadi mematahkan harapannya.


"Untuk perawatan Nissa bisa kita hentikan sampai disini, tapi saya ingin Nissa kembali bulan depan untuk pemeriksaan rutin. Dan tetap di jaga pola makan dan tidurnya," saran sang dokter.


"Baik, dok. Kami mengerti. Terima kasih atas untuk semuanya, dok," ucap Ardian.


Mereka berdua saling berjabat tangan, sementara Nissa bersalaman dengan dua orang perawat yang ada di dalam ruangan dokter tersebut. Setelah itu mereka segera meninggalkan rumah sakit.


"Mereka berdua serasi banget, ya?" bisik salah seorang perawat.


"Iya, sayangnya mereka bukan pasangan kekasih atau suami istri, padahal kalau mereka berdua seperti itu cocok loh," sahut temannya.


Ardian melajukan mobil yang di kendarainya kembali pulang, hanya saja ia melewati jalan yang berbeda dari biasanya.


"Loh, kita mau kemana, tuan?" tanya Nissa heran, ia menyadari jika tuannya ini mengambil arah jalan pulang yang tak seperti biasa.


"Ada sesuatu yang mau kubeli," jawabnya singkat.


Mata Ardian fokus menatap jalanan di depannya. Hal itu membuat kadar ketampanannya semakin bertambah. Nissa kini menatap wajah Ardian dengan seksama.


Ah, hanya melihat wajah datar pria ini saja sudah membuat jantungnya berdegup dengan begitu cepat. Nissa segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil di sampingnya. Ia tidak mau jatuh semakin dalam pada pesona si tuan menyebalkan yang kini menjadi tuan over protektif.


Ardian memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko elektronik yang begitu besar. Toko ini adalah yang terbesar dan terlengkap di kota B. Selain itu barang yang diperjual belikan adalah barang asli, bukan barang imitasi yang banyak beredar di pasaran.


"Ayo masuk," ajak Ardian.


Nissa mengikuti Ardian masuk ke dalam toko berlantai tiga tersebut. Sesampainya di dalam Ardian menemui seorang pegawai toko, entah apa yang mereka bicarakan karena Nissa berhenti tepat di depan etalase berisi jajaran ponsel canggih keluaran terbaru.


"Kamu suka handphone itu?" tanya Ardian yang tiba-tiba sudah berada di samping Nissa.


"Eh, tidak tuan," Nissa menggeleng, ia segera menggeser posisinya agar tidak terlalu dekat dengan Ardian.


"Kalau kamu suka aku akan membelinya untukmu," sahut Ardian. Matanya menatap jajaran ponsel mahal itu.


"Haha, tidak perlu tuan. Saya tidak menyukainya, lagipula saya juga tidak memerlukannya," ucap Nissa menimpali.


"Ehm, ya sudah kalau begitu," jawabnya datar. "Ayo, ikut aku," sambungnya.


Tanpa menunggu jawaban Nissa, Ardian bergegas melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke lantai dua. Nissa pun segera mengekor di belakang.


Tampak jajaran etalase memenuhi ruangan di lantai dua ini. Papan penanda di dinding menunjukkan kata MUSIC, sudah bisa dipastikan jika disini tersedia semua barang elektronik yang berhubungan dengan musik.


Nissa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia sangat takjub hingga tak menyadari jika kini mulutnya telah terbuka lebar. Mata gadis itu juga berbinar, apalagi Nissa memang sangat suka sekali mendengarkan musik.

__ADS_1


Pemutar DVD, MP3, MP4, sound sistem ukuran mini maupun jumbo, earphone, headphone, dan semua barang yang berhubungan dengan kata Musik tersusun rapi di lantai dua ini.


Mata Nissa seketika membulat saat melihat sebuah headphone incarannya ternyata ada disana. Ia pun melangkah mendekati etalase tersebut. Nissa sampai membungkukkan tubuhnya sedikit agar ia bisa dengan mudah melihat barang berbentuk setengah lingkaran itu.


"Mas, bisa lihat yang ini?" Ardian meminta seorang pegawai toko itu untuk mengambilkan barang yang saat ini sedang di perhatikan Nissa.


"Baik, pak," kemudian pegawai tersebut mengambil barang itu dari dalam etalase dan menyerahkannya pada Ardian.


"Nis, tolong bantu aku," pinta Ardian.


"Bantu apa, tuan?" tanya Nissa.


"Apa kelebihan benda ini?" tanya Ardian sambil menunjukkan headphone mahal incaran Nissa tadi.


"Suaranya jernih, bassnya besar, ada fitur bluetoth jadi tidak perlu pakai kabel seperti headphone yang lain. Isi dayanya cepat, ada radio juga. Itu kelebihannya, tuan," jawab Nissa cepat.


"Kamu sepertinya sangat mengerti dengan benda ini?" tanya Ardian. Matanya fokus memperhatikan headphone yang kini berada di tangannya.


"Sudah pernag cek di gugel apa kelebihan dan kekurangannya," jawab Nissa jujur.


"Apa kekurangannya?" tanya Ardian. Matanya kini beralih menatap Nissa.


"MAHAL," ucap Nissa penuh penekanan.


Beberapa pengunjung dan pegawai toko yang mendengarnya tersenyum lucu. Nissa jadi malu sendiri dengan sikap polosnya, sementara Ardian terkekeh geli dengan kejujuran Nissa tadi.


"Tuan mau beli itu?" tanya Nissa penasaran.


"Iya," sahutnya singkat.


"Untuk siapa, tuan?" tanya gadis itu lagi.


"Untuk seseorang," sahut Ardian datar.


"Siapa, tuan?" tanya Nissa lagi.


"Bukan urusanmu," sahut Ardian jengah.


Apa dia mau belikan headphone ini untukku? Ah, meleleh hatiku tuan, hehehe. Nissa senyum-senyum sendiri karena mengira tuannya membeli barang tersebut untuk dirinya.


"Kenapa kamu senyum seperti itu?"


"Ah, tidak apa-apa tuan. Hanya sedang ingin saja," jawabnya.


"Hentikan seringaimu, terlihat menyeramkan bagiku," sahut Ardian.


Seketika Nissa memasang wajah datarnya. Memang dasar bos menyebalkan, senyum cantik begini di bilang seram, aneh banget sih.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2