
Ardian menelusupkan tangannya di bawah kepala Nissa, sedang tangan satunya ditelusupkan di bawah kedua lutut gadis yang tengah terlelap itu.
Perlahan tapi pasti ia mengangkat tubuh Nissa. Tubuhnya ringan sekali, hal pertama yang melintas di kepalanya. Ia melangkah menuju kamar Nissa dengan hati-hati.
Tanpa Ardian sadari, Nissa membuka matanya karena merasa tubuhnya melayang di udara. Matanya terbelalak seketika menyadari jika ia saat ini berada dalam gendongan seseorang.
Sekelebat bayangan kejadian beberapa tahun lalu tiba-tiba muncul. Dengan gerakann cepat Nissa menjatuhkan tubuhnya lalu berputar dan menarik tangan Ardian. Kini Ardian berada dalam kuncian lengan Nissa. Pria itu tak bisa berkutik dan hanya berteriak kesakitan.
"Aarrggh, Nis!! Nissa!!" teriak Ardian.
Mendengar teriakan seseorang yang ia kenal membuatnya tersadar. Seketika Nissa melepas kuncian yang bermaksud untuk mematahkan lengan musuh itu.
"Astaga, tuan. Maaf, saya tidak sengaja," ucap Nissa sambil mengusap siku tangan Ardian.
"Kalau mau balas dendam sama aku ya jangan seperti ini juga," sahut Ardian kesal.
"Saya tidak bermaksud untuk balas dendam, tuan," balas Nissa sambil terus mengusap siku Ardian.
Ardian menarik tangannya dengan kasar hingga tangan Nissa ikut terhempas.
"Kalau tanganku patah bagaimana? Apa kau bisa menggantinya?" tukas Ardian. Kini ia mengusap tangannya sendiri.
"Kalau patah ya tinggal di operasi saja tuan, teman saya pernah kok engsel tangannya sampai hampir lepas saat pertandingan," ujar Nissa.
"Tapi kan aku bukan temanmu, Nissa. Aku ini-."
"Iya, tuan adalah majikan saya, orang yang mempekerjakan saya dan menggaji saya," sahut Nissa cepat memotong perkataan Ardian.
Ardian tercengang mendengar ucapan yang keluar dari bibir Nissa. Gadis itu terlalu polos dalam menanggapi semua sikap Ardian.
"Lagipula untuk apa tuan mengangkat saya seperti tadi?" tanya Nissa.
"Aku kasihan melihatmu tertidur di sofa, jadi ku pindahkan. Bukannya berterima kasih tapi kamu malah menyerangku," jawab Ardian bernada sewot.
"Maaf, tuan. Saya kira tuan tadi-," Nissa berhenti dan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Apa? Kamu kira aku apa?" tanya Ardian ketus.
"Saya kira anda tadi pencuri, haha," jawab Nissa sambil tertawa hambar.
"Lain kali aku tidak akan mengangkatmu lagi jika aku melihatmu tertidur di sofa seperti tadi," sahut Ardian.
Kemudian ia berlalu meninggalkan Nissa dan berjalan menaiki tangga. Ardian masuk ke kamarnya dan segera mencuci wajah, kaki serta tangannya. Setelah itu ia mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek.
Ardian merebahkan tubuhnya di kasur. Ia kembali mengingat wajah terlelap Nissa saat ia memperhatikannya di sofa.
"Cantik," gumamnya lirih, Ardian tersenyum.
Beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah saat ia mengingat tangannya di putar Nissa dan di kunci hingga ia berteriak kesakitan. Ardian menghela nafasnya kasar. Sial! Batinnya.
__ADS_1
Pagi menjelang, matahari sudah mulai menampakkan keberadaannya dari ufuk timur. Ardian terbanngun saat mencium aroma wangi masakan dari arah luar kamarnya.
Ardian segera duduk, matanya menyipit menyesuaikan cahaya matahari yang masuk kekamarnya. Lagipula ia masih merasa ngantuk. Diliriknya jam weker di atas nakas, masih jam setengah tujuh pagi, pikirnya.
Hari ini memang tidak ada jadwal rapat di perusahaan atau dengan klien manapun hingga Ardian memilih untuk berangkat agak siang. Namun aroma masakan ini mengganggu tidurnya.
Ardian segera mencuci wajahnya, menggosok gigi kemudian memakai celana panjang. Ia melangkah menuruni tangga menuju ke arah dapur.
Nissa bersenandung lirih seperti biasa, dengan earphone terpasang di telinganya. Ia sangat menikmati kegiatannya memasak di dapur hingga tak menyadari keberadaan Ardian yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Ardian bersedekap dan menyandarkan bahunya pada dinding. Ia menatap punggung Nissa. Sesekali ia tersenyum saat mendengar nada fals di suarakan penyanyi asal-asalan itu.
"Astaga, tuan!" Nissa terkejut melihat Ardian yang kini sudah berada di belakangnya.
"Kenapa baru kaget sekarang?" tanya Ardian sambil menampilkan senyuman manisnya.
Pipi Nissa memerah seketika, dan jantungnya langsung berdebar tak karuan hanya karena melihat senyuman Ardian. Sebagai wanita ia sadar jika hal ini terjadi karena ia memiliki rasa pada tuannya itu.
Nissa membalikkan tubuhnya kembali menghadapi kompor yang sudah ia matikan. Ia tidak mau Ardian melihatnya seperti itu.
"Masak apa, Nis?" tanya Ardian.
"Oh, ini tuan. Saya masak sup ayam," jawabnya.
Nissa meraih mangkuk dari dalam lemari dan menuang sup ayam tersebut ke dalamnya. Ia masukkan beberapa potong daging ayam dan beberapa potong sayuran beserta kuahnya.
"Kapan kamu belanja?" tanya Ardian yang heran karena seingatnya selama ini mereka memesan makanan dari restoran dan belum ada berbelanja sama sekali.
Nissa meletakkan mangkuk yang ia pegang di depan Ardian yang kini tengah duduk bersiap menikmati sarapannya.
Ardian mencium aroma masakan tersebut, wangi, batinnya. Ia menatap Nissa.
"Punyamu mana? Kenapa tidak ada?"
"Oh, saya nanti saja sarapannya, tuan," ucapnya sopan.
Ardian berdiri, ia melangkah menuju lemari dan mengambil mangkuk lalu mengisinya dengan sup ayam buatan Nissa.
"Ayo makan," perintahnya sambil meletakkan semangkuk sup ayam tersebut ke atas meja.
Nissa melongo, "saya, tuan?" tanya Nissa heran.
"Iya, kamu. Memang siapa lagi," sahut Ardian.
Ardian kembali duduk dan mulai menikmati sarapannya. Melihat itu Nissa pun segera duduk dan ikut menikmati sup ayam yang di sajikan Ardian untuknya.
Mereka makan dalam keheningan. Sesekali Nissa melirik pria di depannya ini. Seulas senyum terbit menghiasi wajah cantiknya. Ada perasaan bahagia sekaligus haru saat melihat Ardian yang tak lagi bersikap kasar seperti dulu.
"Tuan, kapan saya boleh kembali bekerja?" tanya Nissa setelah mereka menyelesaikan sarapan paginya.
__ADS_1
Ardian kini telah rapi dengan pakaian kerjanya. Setelah sarapan tadi ia langsung kembali ke kamar dan membersihkan diri lalu bersiap. Dan kini ia berada di ruang tamu menikmati secangkir kopi buatan Nissa.
"Kamu yakin mau kembali bekerja secepatnya?" tanya Ardian penasaran.
"Iya, tuan. Saya sudah bosan di apartemen terus. Sudah rindu memegang kemudi mobil," jawab Nissa jujur.
"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Ardian lagi, ia merasa khawatir dengan keadaan Nissa sekarang.
"Luka saya sudah sembuh, tuan. Saya saja tadi sudah bisa melakukan gerakan dasar seperti tendangan A, B, C, dan T. Bahkan tadi malam saja saya bisa membuat tuan kesakitan," jawab Nissa dengan polosnya.
Mendengar itu membuat Ardian cemberut, ia jadi mengingat kesialannya tadi malam. Nissa tahu betul bagaimana membuatnya terpojok.
"Baiklah, tapi jangan sekarang. Seminggu ini aku tidak terlalu sibuk jadi masih bisa membawa mobil sendiri. Kalau mau minggu depan saja," ucap Ardian.
"Baiklah, tuan," sahut Nissa.
Setelah menghabiskan kopinya Ardian segera berangkat ke kantor sekaligus perusahaannya. Namun saat ia telah membuka pintu ia kembali menutupnya.
Ardian mendekati Nissa yang kini berdiri di dekat sofa. Nissa jadi teringat saat Ardian mengerjainya dulu, kemudian ia mundur beberapa langkah.
"Kenapa kamu mundur? Mau menghindariku?" tanya Ardian heran.
"Ah, tidak tuan," jawab Nissa dengan senyum yang dipaksakan.
Ardian menatap Nissa dengan intens. Nissa semakin salah tingkah jika seperti ini.
"Nissa, apa kamu melupakan sesuatu?" tanya Ardian tiba-tiba.
"Ha?"
"Apakah kamu melupakan sesuatu hari ini?" tanya Ardian lagi.
Nissa memutar bola matanya mencoba mengingat hal apa yang mungkin dilupakannya hari ini. Tapi ia merasa tidak melupakan sesuatu hari ini.
"Tidak ada, tuan," jawabnya.
Ardian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian ia menghela nafasnya perlahan. Ditatapnya kedua bola mata Nissa dalam-dalam.
"Nissa," panggilnya.
"Iya, tuan,"
"SELAMAT ULANG TAHUN."
Setelah mengucapkan itu Ardian bergegas keluar dan meninggalkan Nissa yang kini hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.
BERSAMBUNG
Hai gengss, terima kasih sudah mau menyempatkan membaca karya ini. Mbak Tika ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua 😍😍
__ADS_1
See u next chapter gengss
Luv u all 😘😘