Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Makanan Aneh


__ADS_3

"Yang menabrakkan mobil ini ke tong sampah memang saya, pak. Tapi kan bapak yang memaksa saya tadi," ucap Nissa polos.


Ardian menatap Nissa dengan geram. "Kau!!" senyum devil Ardian terbit.


"Aku tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab atas kerusakan ini,"


"Lah, kok saya, pak?"


"Aku memang memaksamu, tapi kau juga menurutinya, kan. Seharusnya kau menolak lebih keras lagi tadi, jadi ini salahmu," sahut Ardian, ia tersenyum tipis, sangat tipis hingga Nissa tak menyadarinya.


Nissa melongo mendengar ucapan Ardian tadi. Fiks, setelah ini bakal tambah susah hidupku.


"Gajimu dipotong satu bulan untuk biaya perbaikan mobilku yang tergores. Jadi kau harus bekerja selama 7 bulan agar setara dengan gaji yang sudah kau ambil lebih dulu," sambung Ardian.


Setelah mengatakan itu ia kembali ke mobil, hanya saja kali ini ia menuju kursi pengemudi. Nissa mengikuti langkahnya sambil menundukkan kepala.


Sial sekali hidupku ini, apa dosaku dimasa lalu hingga aku bisa bertemu laki-laki resek seperti ini?


Ardian melajukan kendaraannya menuju apartemennya. Keheningan terjadi di dalam sini, hingga Ardian penasaran dan melirik Nissa lewat sudut matanya.


"Kenapa kau diam?" tanya Ardian.


Nissa menoleh, ia menatap Ardian yang fokus menatap jalanan di depan mereka. Nissa menghela nafasnya perlahan.


"Kau tuli, bukankah tadi aku bertanya padamu? Kemana hilangnya mulut cerewet itu?"


"Saya lebih suka seperti ini, berdiam diri menikmati suasana sore hari di jalan seperti saat ini," jawab Nissa jujur.


Ada apa dengannya? Ah, kalau dia seperti ini kan jadi tidak seru. Harusnya aku melihat ekspresi marah di wajahnya. Batin Ardian.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit akhirnya mereka sampai di parkiran gedung alartemen mewah tersebut.


Nissa segera turun, ia membawa tas berisi bahan makanan yang dibeli di swalayan tadi.


Ardian memasukkan password apartemennya. Segera ia masuk di ikuti Nissa. Ardian melepas sepatunya dan melemparkannya secara asal. Lalu ia melepas jas silver yang di pakainya dan melemparkannya tepat ke wajah Nissa.


Buukk


Nissa terkejut bukan main saat jas itu mendarat diwajahnya. Ia fokus menata sepatu Ardian hingga tak melihat jika pria pemilik apartemen ini melemparkannya.


"Masakkan aku makanan yang enak, kalau tidak sesuai dengan lidahku gajimu kupotong dua bulan," ucap Ardian bernada mengancam.


Apa? Dipotong lagi?


"Baik, pak," ucap Nissa.


"Jangan lupa cuci semua pakaian kotor di kamarku, lalu bersihkan semua ruangan ini," ucapnya sambil menunjuk seluruh ruangan apartemen dua lantai tersebut.


"Kamarku diatas, sedangkan kamarmu di situ," ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah kamar berukuran kecil tepat di samping dapur.


"Baik, pak,"


"Sekarang cepat masak, aku sudah tidak sabar untuk memotong gajimu lagi," ucap Ardian, ia terkekeh.


"Pak, bapak bisa memakan masakan pedas tidak?" tanya Nissa.


"Semua bisa kumakan, asal bukan kopi campur sianida," sahutnya asal.


Setelah itu ia bergegas naik ke lantai dua dan menyegarkan diri. Sementara Nissa langsung menyibukkan dirinya di dapur.

__ADS_1


Sekitar satu jam acara memasak Nissa akhirnya selesai. Ia naik ke lantai atas berniat memanggil Ardian.


"Pak," ucap Nissa setelah mengetuk pintu kamar. Ada dua kamar di lantai atas, ia mengetuk pintu yang berada tepat di dekat tangga.


Karena tidak ada jawaban Nissa kembali mengetuk pintu kamar itu.


Ceklek


Pintu lain terbuka. Ardian keluar kamar mengenakan kaos hitam dan celana pendek selutut. Rambutnya masih sedikit basah.


Glek.


Nissa menelan air liurnya, ia terpana melihat keindahan di depannya. Tapi sedetik kemudian ia sadar.


Ah, sadar Nissa. Dia memang tampan, tapi dia br*****k dan gila.


"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Ardian, ia bersandar pada pintu di belakangnya dengan tangan terlipat di dada.


"Saya mau memanggil bapak, karena makanan sudah siap,"


Ardian melirik jam dinding. Baru pukul 6 sore tapi masakannya sudah selesai, cepat sekali dia, batinnya.


"Baiklah," Ardian turun ke lantai bawah lalu menuju meja makan.


Astaga, makanan apa ini? Mengapa warnanya hitam? Dia itu bisa masak apa tidak, sih?


"Nissa!!" Ardian berteriak. Nissa yang kala itu sudah masuk kamar ingin mandi akhirnya mengurungkan niatnya dan keluar.


Kenapa lagi dia? Teriak-teriak saja kerjanya, umpat Nissa.


"Ya, pak,"


Nissa menghela nafas perlahan mencoba agar tak tersulut emosinya. Ia berjalan dengan santai ke arah meja makan.


"Apa bapak tidak pernah makan masakan ini?"


"Tentu saja tidak pernah, memang siapa yang mau makan masakan gosong," jawab Ardian kesal.


"Isshh, bapak ini katanya orang kaya, tapi sepertinya bapak kurang pergaulan," sahut Nissa.


"Apa maksudmu?" Ardian heran.


"Bapak kurang pergaulan sama emak-emak. Coba kalau bapak sering berkumpul bersama mereka, pasti tahu ini masakan apa,"


"Nissa! Aku serius!" bentak Ardian membuat Nissa tersentak.


"Iya, maafkan saya, pak" ucapnya sambil memundukkan badan sedikit.


"Ini tumis cumi pedas tinta hitam," ucap Nissa menjelaskan.


"Makanan apa itu? Dari namanya saja sudah aneh?" tanya Ardian heran, matanya menatap nanar makanan berwarna hitam itu.


"Itu cumi yang tadi saya beli, ditumis pedas, dicampurkan tintanya,"


"Aman tidak?" tanya Ardian.


"Yang pasti enak, dijamin bapak tidak akan menyesal. Saya akan pertaruhkan gaji saya selama tiga bulan," ucap Nissa percaya diri.


"Memang kau pernah masak ini sebelumnya?" tanya Ardian memastikan.

__ADS_1


"Tidak pernah," jawab Nissa dengan menggelengkan kepala.


"Lalu bagaimana kau bisa yakin kalau masakan ini enak?" Ardian kembali kesal dengan tingkah gadis di depannya ini.


"Karena saya sudah mencicipinya lebih dulu tadi, peace," Nissa tersenyum sambil mengangkat dua jarinya ke udara.


Ardian mulai memasukkan nasi kedalam piring dan meraih tumis cumi di depannya. Nissa memperhatikan dengan lekat semua yang dilakukan Ardian.


Ardian pun memulai makannya, Nissa semakin penasaran dengan reaksi Ardian terhadap makanannya.


Melihat wajah penasaran milik Nissa membuat ide jahil Ardian kembali melintas di otaknya.


Saat Ardian memasukkan nasi ke mulutnya ia terkejut. Enak sekali, bagaimana ini? Rencanaku tadi adalah memuntahkan makanan ini, tapi mengapa rasanya bisa seenak ini?


Nissa menyipitkan mata melihat Ardian mengunyah makanannya secara perlahan. Gadis itu sungguh penasaran.


Telan, ayo telan. Jangan sampai aku rugi tiga bulan, uang semua itu. Ayo ditelan pak.


Ardian menelan makanannya, melihat itu sontak membuat Nissa berteriak kegirangan.


"Yeay!"


"Kenapa kau berteriak?" keheranan Ardian melihat tingkah pelayannya.


"Gaji saya tidak jadi dipotong, karena bapak menelan makanan yang bapak bilang gosong itu," jawabnya senang dengan mata yang berbinar.


"Kutelan karena terpaksa. Masakanmu tidak enak," Ardian langsung berdiri dan melangkah menuju tangga.


Nissa yang sudah bahagia seperti menang lotere langsung menurunkan bahunya, ia menghela nafas kasar melihat makanan yang di tinggal Ardian begitu saja.


Sia-sia sudah, hilanglah sudah gaji tiga bulanku, hiks hiks.


Nissa lalu membereskan piring bekas makanan Ardian.


"Letakkan saja disitu, biar nanti kuberikan pada kucing tetangga," tiba-tiba Ardian kembali ke meja makan.


Nissa hanya menurut dan kembali meletakkan piring itu di atas meja.


"Cepatlah kau membersihkan diri, melihatmu seperti itu membuatku ingin memotong gajimu lagi,"


Mendengar itu Nissa segera berlari ke kamarnya. Sungguh, kalimat ancaman Ardian tadi sepertinya sudah menjadi kalimat keramat baginya.


Ardian terkekeh melihat tingkah Nissa. Setelah pintu kamar Nissa tertutup segera Ardian meraih piring tersebut, mengisinya dengan nasi putih lagi lalu menambah tumis cumi hitam itu.


Ardian makan dengan tergesa-gesa seperti dikejar seseorang. Dalam hati ia tertawa karena berhasil membodohi gadis itu.


Ceklek


Ardian terkejut mendengar suara pintu kamar Nissa terbuka kembali. Ia menoleh ke pintu kamar tersebut.


Tampak Nissa berdiri dibelakang pintu kamar sambil tersenyum, senyuman penuh kemenangan sekaligus mengejek Ardian.


Oh, shit!!


*********


BERSAMBUNG


Jangan lupa like and comment ya genggs, supaya mbak tika tambah semangat nulisnya. Terima kasih 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2