Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Malu


__ADS_3

Malam ini Nissa tidak bisa tidur, ia berguling kesana kemari di atas ranjangnya. Berulang kali ia memejamkan matanya namun tetap saja ia tak bisa terlelap.


Akhirnya Nissa beranjak ke ruang tamu, ia menghidupkan telivisi dan mulai menonton.


Kriiing kriiing


Ponsel Nissa berdering, ternyata Randy yang menghunbunginya.


"Halo, pak Randy," sapa Nissa.


"Halo, Nissa,"


Hening, tak ada lagi yang berbicara setelah mereka berdua saling sapa.


"Nissa?"


"Ya, pak Randy,"


"Bagaimana kabarmu?"


"Kabar saya baik, pak,"


"Syukurlah, Dinda bilang kamu pulang kampung?"


"Oh, iya. Saya pulang karena terlalu merindukan orang tua saya,"


"Mengapa tidak bilang padaku?"


"Haruskah?"


"Tidak juga, hanya saja kamu perginya mendadak. Padahal siangnya kita masih sempat pergi ke WAHANA,"


"Maaf,"


"Tidak perlu minta maaf. Ku pikir pak Ardian memecatmu,"


"Oh, tentu tidak, pak. Saya masih bekerja pada pak Ardian."


"Kapan kamu kembali bekerja lagi?"


"Mungkin minggu depan."


"Apa perlu aku jemput?"


"Tidak usah, nanti ada tetangga saya yang mengantar. Kebetulan beliau ada urusan di kota B."


"Kamu yakin tidak mau aku jemput?"


"Iya, pak Randy. Saya tidak mau merepotkan bapak. Perjalanan dari sini ke kota B itu memakan waktu 6 jam perjalanan."


"Aku tidak masalah jika yang merepotkanku itu kamu, Nis."


"Hahaha, pak Randy bisa saja bercandanya."


"Aku serius, Nis."


Nissa terdiam mendengar ucapan Randy tadi. Ia bingung harus bagaimanan menanggapinya.


"Nissa?"

__ADS_1


"Iya, pak,"


"Kalau kamu sudah kembali segera hubungi aku, ya."


"Oh, iya pak. Bapak pasti jadi orang kedua yang saya hubungi."


"Yang pertama siapa?"


"Tentu saja Dinda."


Randy terkekeh geli, ia baru sadar sekarang. Tentu saja Nissa akan menghubungi Dinda lebih dulu.


"Nissa?"


"Iya, pak."


"Bisakah kamu merubah panggilanmu padaku?"


"Dirubah bagaimana, pak?"


"Ya, panggil saja kak Randy, kalau pak Randy kesannya aku ini sudah tua. Umurku saja baru 25 tahun."


"Hahaha, iya pak, eh salah, kak Randy."


"Nah, begitu kan lebih enak di dengar."


"Iya, kak Randy."


"Sekarang apa yang sedang kamu lakukan?"


"Mau tidur."


"Oh, baiklah kalau begitu. Ingat ya, kalau kamu sudah kembali kesini segera hubungi aku."


"Selamat malam, Nissa."


"Selamat malam, kak."


Setelah itu Nissa meletakkan ponselnya ke atas meja kaca di depannya. Ia melirik jam dinding. Sudah jam sepuluh malam, pikirnya.


Nissa kembali melanjutkan kegiatan menontonnya. Ia sendirian di apartemen, karena Ardian pergi entah kemana setelah mengantarkannya pulang tadi.


Tak lama rasa kantuk mulai menyerang Nissa, namun karena drama Korea yang ia tonton sedang seru-serunya ia berusaha menahan kantuknya.


Kalau tadi ia berusaha agar segera terlelap kali ini ia berusaha untuk terjaga. Perlahan tapi pasti, Nissa memejamkan matanya, dan akhirnya gadis itu tertidur di atas sofa.


***


Ardian berbaring telentang di atas ranjang. Sementara Roli sang pemilik ranjang hanya bisa menatap Ardian dengan jengah.


"Pulang sana, Di. Jangan ganggu gue," usir Roli.


"Gue nggak bisa pulang, Rol," sahut Ardian sendu.


"Kalau loe nggak bisa pulang ya sewa hotel sono, jangan ganggu kenyamanan tidur gue," ucap Roli dengan jengkel.


Roli berjalan ke arah ranjangnya, kemudian ia menarik bantal yang berada di bawah kepala Ardian dengan kasar.


"Apa-apaan sih loe!" teriak Ardian saat bantal itu berhasil di tarik Roli.

__ADS_1


"Harusnya gue yang teriak kaya gitu," sahut Roli.


"Terus gue harus gimana, Rol?" tanya Ardian pasrah.


"Ya itu urusan loe. Makanya pikiran mesum loe itu harus disingkirkan," sarkas Roli.


Semua bermula dari kejadian siang tadi. Saat Ardian tertangkap basah ingin mencium bibir Nissa. Walaupun ia sudah mengelak dan Nissa percaya pada ucapannya namun ia masih merasa malu jika harus bertemu dengan gadis itu.


"Makanya, Di. Jangan terlalu jahat sama Nissa, jangan terlalu benci. Seseorang pernah bilang ke gue, benci itu singkatan dari benar-benar cinta," ucap Roli terkekeh geli.


Ardian menatap Roli yang sepertinya bahagia karena bisa melihatnya frustasi seperti ini.


"Ngaco, loe," sahut Ardian. "Bukannya ngasih solusi, malah bikin gue tambah emosi. Gue pecat juga, loe!" ancamnya kemudian.


"Pfftt hahahahahaha... Ancaman loe nggak ngaruh ke gue, karena pendukung gue lebih banyak," jawab Roli setelah ia tertawa terbahak-bahak.


"Aaarrgh! Tambah kesel gue sama loe," ucap Ardian.


Ardian berdiri dan pergi ke dapur. Ia membuka lemari pendingin makanan dan mengambil botol air minum yang tersisa setengah itu. Setelah ia menenggak langsung dari botolnya kemudian di masukkan kembali botol tersebut ke dalam lemari pendingin.


"Pakai gelas, Di! Loe ini jadi tamu gak ada akhlak sama sekali, ya," ucap Roli yang kesal melihat Ardian minum langsung dari botolnya.


Ardian terdiam. Ia seperti memikirkan sesuatu.


"Apa Nissa gue suruh pindah aja, ya?" tiba-tiba Ardian menemukan cara untuk mengurangi pertemuannya dengan Nissa.


"Terserah, tapi loe jangan siksa Nissa lagi," sahut Roli.


"Maksudnya?"


"Loe kaya gak tau sifat loe sendiri aja," jawab Roli kesal. "Kalau Nissa loe suruh pindah, loe jangan suruh dia berangkat buat jemput loe di pagi buta, nanti alasan loe dia harus masak lah, beresin apartemenlah. Dari pada Nissa tersiksa kaya gitu mendingan biarin aja dia di apartemen loe, lagipula masa kerjanya juga tinggal dua bulan lagi, kan?" sambung Roli panjang lebar.


Ardian terdiam meresapi ucapan Roli yang memang benar adanya itu.


"Makanya otak loe bersihin dulu, biar nggak mesum. Lihat bibir main sosor aja, noh kalau loe berani sosor bibirnya tetangga gue, mumpung lakinya lagi kerja jauh," ucap Roli mengejek Ardian.


"Loe pikir gue lelaki apaan? Gue akui gue memang br*****k, tapi gue bukan baji**an yang ngerusak hubungan rumah tangga orang. Biarpun bibir sama tangan gue nakal suka merayap kemana-mana tapi junior gur masih segelan, tau nggak?" sahut Ardian kesal karena tak terima dengan ledekan Roli tadi.


"Lah, malah ngegas ni anak, gue kan cuma ngasih saran loe buat nyosor bibir tetangga gue, bukan buat yang lain," sahut Roli, sepertinya ia sengaja membuat Ardian kesal.


"Ah, capek gue ngomong sama loe, yang ada malah bikin otak gue tambah error," ucap Ardian, kemudian ia meraih kunci mobil dari dalam saku celananya dan melangkah ke arah pintu.


"Mau kemana loe?"


"Mau pulang," sahut Ardian cepat.


Roli terkekeh, "katanya nggak mau ketemu sama Nissa?" ledeknya lagi.


Ardian menatap Roli dengan tajam. Sementara Roli semakin terkekeh melihat tingkah Ardian yang menurutnya sangat kekanakan.


***


Ardian tiba di apartemen sekitar pukul dua belas malam. Saat ia masuk matanya menangkap sosok Nissa yang kini tengah tertidur lelap di atas sofa panjang.


Ardian perlahan mendekati Nissa, ia berjalan dengan hati-hati agar tak berisik dan membangunkan gadis itu.


Ardian memandangi Nissa dengan lekat, ingatannya kembali pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat itu ia menyiram Nissa yang tertidur di sofa dengan segelas air dingin. Rasa bencinya yang mendalam membuatnya berperilaku seperti seorang penjahat.


Dan sebulan yang lalu, Nissa harus merasakan luka fisik karena rasa cemburu David yang begitu besar pada dirinya, namun Nissalah yang menjadi korban.

__ADS_1


Bukannya berterima kasih, ia malah menuduh Nissa tanpa bukti yang jelas dan kembali bersikap jahat pada gadis itu.


Ardian menghela nafasnya perlahan. Ia merapikan anak rambut Nissa yang mengganggu. Kini tampak jelas kecantikan gadis itu, gadis yang selalu ia buat menderita selama beberapa bulan ini.


__ADS_2