
"Bagaimana jika saya menolaknya, tuan?" tanya Nissa, ia bersiap menerima caci maki Ardian.
"Baiklah, maaf jika aku terkesan memaksa," ucap Ardian.
Ardian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang pria jatuh. Tatapan menghiba dan penuh harap itu kini berganti dengan tatapan sedingin es.
"Anda mau kemana tuan?" tanya Nissa.
Ardian mendesah dengan kasar. Ia berbalik dan menatap Nissa.
"Apa kamu ingin mengujiku, Nis? Apa kamu pikir aku tidak punya harga diri hingga masih mau bertahan disini walaupun kamu telah menolakku? Apa kamu menghinaku, Nis?" tanya Ardian dengan sengit. Ia kini menatap Nissa dengan amarah yang membara.
Nissa menghela nafasnya, ia sadar jika pria ini sedang menahan amarah. Sebesar itukah keinginanmu untuk menjadikanku istrimu, tuan?
"Jika anda ingin melamar saya, maka lakukan dengan benar," ucapnya dengan lembut. Seulas senyum terbit di wajah cantiknya.
Ardian melongo, ia menatap Nissa dengan tatapan tidak percaya. Apakah ini nyata?
"Jadi, kamu menerima lamaranku, Nis?" tanya Ardian, dengan cepat ia melangkah kembali ke meja makan.
"Tergantung," jawab Nissa singkat.
"Tergantung apa?" tanya Ardian bingung.
"Anda pikirkan saja sendiri," jawab Nissa lagi.
Ardian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menatap Nissa dengan sebuah cengiran khas orang bingung. Sementara Nissa terus tersenyum, ada binar kebahagiaan di matanya.
Sepertinya sekarang giliranku yang menderita. Astaga, mengapa sesulit ini hanya untuk mendapatkanmu, Nissa? Ardian menjerit dalam hati.
***
Ardian kini merasa frustasi karena memikirkan lamaran yang benar menurut Nissa seperti apa. Bahkan sejak mereka pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu ia masih belum menemukan jawabannya sampai saat ini.
Sementara Nissa bersikap sangat profesional. Ia tetap melakukan pekerjaannya seperti biasa walaupun Ardian sudah melarangnya.
"Saya sudah menanda tangani perjanjian kontrak dengan anda, tuan. Jadi saya wajib melaksanakannya apapun yang terjadi," begitulah alasan gadis itu.
Hal itu membuat pria tampan itu semakin frustasi memikirkan apa sebenarnya kemauan gadis pujaannya itu.
"Rol, loe bantuin gue dong," ucapnya memelas.
Siang ini Ardian sengaja memundurkan jadwal rapat dengan klien dari luar negeri karena otaknya tak bisa di ajak kompromi. Yang ada di dalam pikirannya hanya satu, bagaimana cara melakukan lamaran yang benar menurut Nissa.
"Loe kan pernah ngelamar seseorang sebelum ini, kenapa sekarang loe pusing, sih?" Roli menatap Ardian dengan heran.
"Iya, tapi gak sesulit ini. Kalau dulu gue bisa nebak keinginan mantan dengan tepat, tapi si Nissa beda. Itu cewek bener-bener gak bisa ditebak maunya apa," ucap Ardian.
Roli menghela nafasnya kasar. "Loe tahu, Di. Loe itu orang paling be*o yang pernah gue kenal. Masa loe gak tahu maunya si Nissa apaan. Padahal dia sudah ngasih tahu loe, tapi otak loe tu sangkut dimana, Di?" ucap Roli kesal.
"Loe kok malah ngatain gue, sih? Loe tu mau minta tolong sama loe, bukan di hina kaya gini."
"Dan kalau gue sebodoh yang loe kira, terus yang bikin perusahaan ini maju itu siapa kalau bukan gue," ucapnya berapi-api.
"Dasar sombong loe, Di. Loe lupa dibalik kesuksesan loe membangun perusahaan ini ada karyawan loe yang rela kerja lembur bagai kuda tiap hari, masa loe lupa?" tukas Roli, ia tidak terima Ardian berbicara seperti itu.
"Iya, sorry, gue khilaf," ucap Ardian sendu.
Roli hanya mendengus kesal. "Terus gimana dong, kasih gue ide. Gue kusut banget, nih," ucap Ardian kembali memelas.
"Belajar sama mbah gugel sono!" sahut Roli. Setelah mengucapkan itu ia melenggang pergi meninggalkan Ardian di ruangannya seorang diri.
Dasar asem, mudahan kamu merasakan hal yang lebih dari yang kualami sekarang. Batin Ardian.
***
Tiga minggu berlalu sejak lamaran yang menggantung di rumah sakit itu. Kini Nissa yang merasa kebingungan dengan sikap Ardian yang terkesan santai, tidak ada raut wajah panik atau frustasi seperti sebelumnya. Nissa pun berpikir jika Ardian hanya bermain dengan perasaannya saja.
"Nis, kamu sudah ada persiapan untuk acara besok?" tanya Ardian saat mereka dalam perjalanan pulang dari kantor.
"Acara apa, tuan?" tanya Nissa heran.
"Kamu lupa, besok kan acara ulang tahun perusahaan yang ke empat," ujar Ardian.
"Ah, iya. Maaf, tuan. Saya lupa," sahut Nissa dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa melupakan acara penting seperti ini, Nissa?" Ardian bertanya selembut mungkin.
"Mungkin penting untuk anda, tuan. Tapi tidak bagi saya, lagipula saya kan bukan salah satu pegawai di perusahaan anda," ucap Nissa mencoba mengelak.
"Kehadiranmu adalah yang terpenting bagiku di sana," ucap Ardian tegas.
Nissa tersipu. Mendengar kalimat sederhana seperti itu membuat hatinya membuncah. Irama jantungnya mulai terdengar tak beraturan. Astaga, Nissa terpesona!
Ardian meminta Nissa untuk mengarahkan mobilnya menuju sebuah butik. Di sana Nissa diminta untuk mencoba berbagai macam gaun. Nissa hanya bisa pasrah saat dirinya harus lelah berulang kali mengganti pakaian di ruang ganti.
Nissa sampai pada gaun terakhir. Gaun panjang berwarna peach dengan aksen pita di pinggangnya sebagai pemanis. Gaun berbahan sifon itu memiliki kerah berbentuk V. Memandang pantulan dirinya di cermin Nissa pun berdecak kagum.
Nissa keluar dari ruang ganti. Matanya melihat Ardian duduk tepat menghadap ruang ganti tersebut. Setelah beberapa saat saling tatap Ardian memutus kontak mata mereka terlebih dahulu. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah jendela di sampingnya.
"Bagaimana menurut anda, tuan? Cantik, kan?" seorang wanita yang Nissa yakini sebagai pemilik butik bertanya pada Ardian.
Nissa berdiri dengan rasa canggung, terlebih saat Ardian kembali mengalihkan pandangan dan menatapnya. Malu. Ingin rasanya Nissa menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Aku ambil gaun yang ini," ucapnya datar, sedatar wajahnya.
Nissa kembali masuk ke ruang ganti dan melepas gaun tersebut lalu kembali memakai pakaiannya sendiri. Seorang pegawai butik mengambilnya dan memasukkan gaun itu ke dalam paper bag.
"Pakai ini nanti malam, jangan lupa rias wajahmu. Aku ingin kamu tampil mempesona malam ini."
Setelah mengatakan itu Ardian meninggalkan Nissa yang berdiri terpaku di depan butik. Ardian lalu masuk ke dalam sebuah mobil asing. Entahlah mobil siapa, namun saat ini otak Nissa masih berputar tentang tiga hal. Gaun, rias wajah, mempesona.
Nissa memegang kedua pipinya yang merona tiba-tiba. Ia tersenyum malu-malu bak anak remaja yang baru mengenal perasaan suka pada lawan jenis. Ingatannya kembali melayang pada permintaannya agar Ardian melamar dengan cara yang benar tempo hari.
Mungkinkah ia akan melakukannya malam ini?
Memikirkan hal itu membuat Nissa kembali tersipu, ia mengulum senyumnya. Beberapa orang yang menatap heran padanya tak ia pedulikan. Dengan hati berbunga ia melangkah menuju mobil di parkiran.
***
"Ya ampun, baru kali ini aku bertemu pelanggan yang cantiknya natural sepertimu," ujar seorang perias wajah.
Nissa hanya tersenyum menanggapi pujian dari pria kemayu itu. Nissa mengingat kejadian tadi sore. Nissa baru saja selesai mandi ketika dua orang pria dengan riasan menor memencet bel pintu apartemennya.
Tanpa di persilahkan kedua pria yang bernama Tiwi dan Tini itu masuk ke dalam. Mereka segera membuka peralatan riasnya dan mulai memoles wajah Nissa. Namun duo menor itu seketika kagum saat melihat wajah ayu Nissa.
Nissa menatap pantulan wajahnya, ia terpukau dengan kecantikannya sendiri. Ia sungguh tak percaya jika wanita jadi-jadian itu sanggup membuat penampilannya secantik ini.
Kriing Kriing
Tiwi mengangkat panggilan yang masuk di ponselnya.
"Halo sayang."
"Iya, kamu harus percaya sama kemampuan kami berdua. Dia terlihat seperti inces tau gak, kalah deh inces barbie hahaha," Tiwi tertawa terbahak-bahak.
Nissa yang mendengarnya malah ngeri. Saat tertawa musnah sudah keimutan pria itu. Kini Tiwi telah selesai dengan panggilannya. Ia berjalan mendekat ke arah Nissa.
"Ayo, tuan putri. Kamu sudah siap sekarang," ujarnya.
Nissa kembali mematut tubuhnya di depan cermin. Ia tersenyum sedikit. Ternyata perempuan bar-bar sepertinya bisa tampil seanggun ini.
Nissa turun ke lobby di temani Tiwi dan Tini. Di depan gedung sebuah mobil mewah berwarna hitam menunggu. Edi keluar dari dalam mobil, ia berputar dan membukakan pintu untuk sang pemeran utama.
"Silahkan masuk, Nona Nissa," ujar Edi mempersilahkan.
Seulas senyum terbit di wajah gadis itu. Tanpa menunggu lama lagi ia pun segera masuk ke dalam mobil.
Mobil berjalan perlahan melintasi jalanan kota malam ini. Nissa menatap keluar, di mana jalanan diterangi dengan lampu yang berjajar rapi di sepanjang jalan.
Jantungnya berdebar-debar menanti kejutan apa yang akan ia terima malam ini. Tangannya terasa dingin menandakan rasa gugup yang menerpa. Entah lamaran seperti apa yang akan di lakukan Ardian, pikirnya.
Tak lama mereka pun tiba. Nissa turun di bantu oleh Edi. Mereka berdua masuk bersamaan ke dalam aula sebuah hotel mewah. Tampak para tamu sudah hadir memenuhi gedung tempat dilaksanakannya perayaan ulang tahun perusahaan. Bukan hanya klien saja yang hadir, namun seluruh pegawai pun turut meramaikan acara penting ini.
Mata Nissa menelusuri setiap jengkal ruangan ini, mencari keberadaan pria yang selalu membuat jantungnya berdebar tak menentu. Hingga ia menangkap sosok itu berdiri di atas podium sedang memberikan sambutan.
Jantungnya kembali berdetak tak seirama. Hatinya membuncah melihat kadar ketampanan pria itu yang entah mengapa semakin bertambah. Ingin rasanya Nissa melompat ke dalam pelukan pria itu, namun akalnya masih ada. Tidak mungkin ia memeluk pria itu, apalagi permintaannya belum terpenuhi.
"Selamat malam saya ucapkan untuk semua undangan. Saya mengucapkan terima kasih banyak untuk semuanya karena telah sudi menghadiri acara kecil ini. Walaupun sederhana, namun hari ini adalah hari yang sangat penting. Empat tahun lalu, di tanggal dan bulan yang sama saya mulai membangun perusahaan ini. Saya tidak sendiri, saya dibantu oleh para pegawai setia yang rela meluangkan waktu dan pikirannya untuk memajukan perusahaan.
Terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan atas pengorbanan kalian yang begitu besar. Dan saya mohon maaf jika selama bekerja saya selalu menumpahkan kata-kata kasar dan menyayat hati kalian.
__ADS_1
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih."
Sambutan di lanjut dengan menceritakan suka duka perjalanan perusahaan ini. Beberapa karyawan senior sempat menitikkan air mata kala mengingat perjuangan mereka bersama. Walaupun sempat jatuh bangun namun dengan kerja keras merekalah perusahaan akhirnya bisa sukses dalam waktu singkat.
Setelah mengucapkan sambutan, Ardian turun dari atas podium. Matanya sempat berkontak langsung dengan mata Nissa. Namun ia hanya berekspresi datar, hingga Nissa menjadi heran.
Rasa herannya semakin bertambah saat Nissa melihat Ardian tak membalas senyumannya. Pria itu malah pergi menemui para koleganya tanpa mempedulikan Nissa yang menatapnya dengan sedih.
Sakit, perih, dan terasing. Itulah yang gadis itu rasakan saat ini. Beberapa wanita yang ia yakin sebagai karyawan di perusahaan menatapnya dengan sinis. Nissa menghela nafas.
Aku baru menyadari, Pak Ardian benar. Aku tidak akan pernah bisa bersanding dengannya. Kami tidak cocok dalam hal apapun.
Semakin lama berada di tempat ini malah membuatnya merasa semakin sesak. Nissa pun melangkahkan kaki keluar gedung. Ia melihat sebuah taman di dekat gedung. Dengan langkah gontai ia melangkah kesana. Udara dingin sudah tak dirasa lagi, masih lebih dingin tatapan Ardian, batinnya.
"Mau kabur?" sebuah suara bariton yang ia kenal menegurnya dari belakang.
DEGG
Dia datang, dengan buket bunga di tangan, senyuman pria itu terlukis jelas di wajah tampannya.
"Mau kabur?" tanya Ardian lagi.
Nissa menggeleng. "Kenapa tuan ada disini? Kembalilah, para rekan kerjamu menunggu. Apa kata mereka jika tuan rumah malah tak ada di tempat acara," ucapnya ketus.
Ardian semakin mengembangkan senyumnya.
"Kamu cemburu?"
"Tidak."
"Lalu, mengapa kamu marah?"
"Kata siapa saya marah?" Nissa bertanya dengan sengit.
"Lalu mengapa keluar dari aula?"
"Saya... Saya tidak betah berada disana," jawab Nissa jujur. Ia memang tidak betah, tapi penyebabnya karena sikap dingin Ardian tadi.
GREPP
Ardian meraih tangannya lalu menggenggamnya. Nissa terpaksa mengikuti langkah kaki Ardian. Mereka masuk ke taman itu.
Tiba-tiba taman menjadi terang benderang. Di tengah taman terdapat air mancur. Beberapa orang tampak berkumpul di sana. Mereka semua berbalik saat Nissa dan Ardian tiba.
Nissa terperanjat melihat siapa yang ia lihat. Ayah, Ibu, Diki dan Dini ada disana. Mereka memakai pakaian seragam batik berwarna silver.
Disisi lain tampak pula beberapa orang yang tak dikenali Nissa sebelumnya. Hanya satu orang saja yang ia tahu, Ica dan Joko. Melihat dua orang itu berada disana Nissa yakin, mereka adalah kedua orang tua Ardian. Hendri turut hadir bersama istri dan kedua anak mereka.
Nissa menoleh ke samping. Ia kembali terkejut karena Ardian kini telah berlutut dengan satu kaki di depannya. Ia menyerahkan buket bunga yang ia bawa tadi. Setelah Nissa menyambutnya ia mulai berbicara.
"Nissa, aku tahu kesalahnku terlalu besar padamu. Aku terlalu jahat, selalu membuatmu menderita saat bersamaku. Selalu membuatmu kesal sepanjang waktu.
Tapi tahukah dirimu?
Kesalahan terbesarku adalah saat aku terlambat menyadari perasaanku padamu. Aku terlambat menyadari jika gadis pemarah yang kutemui di lampu merah lima tahun lalu ternyata cinta sejatiku.
Dan sekarang, haruskah kujelaskan lagi padamu? Kamu adalah wanita pertama yang mampu membuatku bersikap bodoh didepan orang lain, karena dirimu aku menjadi gila, karena dirimu pula aku menemukan kebahagiaanku.
Annissa Nur Hafizah. Di depan semua keluarga kita berdua, kutanyakan lagi padamu.
Maukah kamu menikah denganku, menjadi istriku, menjadi orang yang kulihat pertama kali saat aku bangun dari tidurku.
Izinkan aku menjadi suamimu, menjadi pria satu-satunya yang mengisi hidupmu, akan kuberikan seluruh jiwa dan ragaku untukmu.
Jadi Nissa, Maukah kamu menerimaku?"
Nissa tertegun mendengar semua ucapan Ardian tadi. Ditatapnya kedua bola mata Ardian dengan tajam. Apakah ini akhirnya?
Dengan tegas dan mantap Nissa mengangguk.
"Yes, my crazy boss. AKU MAU."
TAMAT
Mau ditamatin apa lanjut?
__ADS_1
🤭🤭😁😎