
Nissa masih berdiri dan menatap pintu yang telah tertutup rapat itu. Ia mengerutkan keningnya, mencoba untuk mengingat sesuatu.
Ulang tahun? Apa hari ini adalah hari ulang tahunku? Pikirnya. Nissa segera masuk kedalam kamarnya dan meraih ponsel di atas nakasnya.
Seketika mata Nissa membulat saat melihat tanggal yang tertera di layar ponselnya. Ia tertawa kecil karena menyadari kebodohannya sendiri.
"Astaga, bagaimana aku bisa lupa pada hari kelahiranku sendiri?" gumamnya.
Nissa merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia kembali mengingat saat Ardian dengan gagahnya mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Tiba-tiba jantungnya mulai berdebar dengan cepat.
Pak Ardian, ternyata dia mengingat hari ulang tahunku. Ternyata dia peduli padaku, dia bahkan mengucapkan selamat padaku. Pikirnya.
Nissa meraba dadanya, ia bisa merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat. Seulas senyum terbit di wajahnya. Wajah cantiknya kini merona. Nissa menangkup kedua pipinya yang telah bersemu merah itu.
Nissa kembali mengingat segala hal yang terjadi beberapa minggu ini. Sikap Ardian yang menjadi lebih baik padanya serta perhatian yang selalu ia berikan membuat Nissa mulai menduga bila ada sesuatu yang mungkin di rasakan tuannya itu.
"Apa Pak Ardian suka padaku?" gumamnya lirih.
Nissa kembali mengingat saat Ardian mengucapkan permintaan maaf atas semua perlakuan jahatnya selama ini. Kemudian ia bangun dari pembaringannya.
"Apa Pak Ardian memang suka padaku? Ah, itu tidak mungkin. Mungkin ia melakukan ini karena merasa bersalah," ucapnya meyakinkan diri sendiri.
"Tapi untuk apa juga dia mengucapkan kata selamat ulang tahun padaku? Apa memang ada seorang majikan yang peduli pada pelayannya sampai mengingat hari ulang tahunnya?" gumamnya lagi.
Nissa menggeleng, ia menepis segala pemikiran yang melintas di kepalanya. Jauh-jauh sana, jangan kotori otakku dengan pemikiran seperti itu, batinnya. Entah bagaimana bisa ia berbicara pada pikirannya sendiri.
Sementara itu Ardian merasa gelisah di kantornya. Berulang kali ia melihat jam yang melingkar di pergelangannya. Ia seperti menunggu sesuatu.
Seharusnya sudah sampai saat ini, batinnya. Ia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sampai tidak menyadari kehadiran Roli karena sibuk dengan urusannya sendiri.
"Mengapa anda terlihat gusar hari ini, pak?" tanya asisten Roli.
"Bukan urusanmu," sahutnya ketus.
"Mungkin memang bukan urusan saya, tetapi jika bapak bersikap seperti itu maka klien besar kita akan marah karena menunggu anda terlalu lama," ucap asisten Roli mengingatkan.
Ardian tersentak, ia baru sadar jika hari ini ada klien yang ingin bertemu secara mendadak dengannya. Beruntung hari ini jadwalnya tidak terlalu padat jadi ia bisa menyetujui permintaan klien tersebut.
"Baiklah, dimana mereka sekarang?" tanya Ardian.
"Mereka menunggu anda di ruang rapat, pak," jawab asisten Roli.
"Sudah berapa lama mereka ada di sini?" tanya Ardian lagi.
"Sudah sekitar 15 menit yang lalu, pak," jawab asisten Roli.
__ADS_1
"Mengapa baru kau katakan sekarang?" tanya Ardian kesal.
"Saya sudah mengingatkan anda dari tadi, pak," jawab asisten Roli mengingatkan Ardian.
"Kau ini," sahut Ardian kesal.
Ardian bergegas keluar ruangan dan melangkah menuju ruangan khusus rapat dengan klien. Ruangan ini berbeda dengan ruangan rapat khusus pegawai.
Asisten Roli mengikuti dari belakang, pria itu bahkan harus berlari kecil agar bisa mengiringi langkah kaki jenjang Ardian.
Triing
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Ardian. Sejenak ia menghentikan langkahnya lalu merogoh saku jasnya. Ia meraih ponselnya dan membuka pesan masuk tersebut.
Terima kasih.
Dua kata yang sarat akan makna, Ardian menyunggingkan seulas senyum. Ia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya dan kembali melanjutkan langkahnya di ruang rapat.
***
Kesibukan terjadi di dapur sebuah apartemen sore hari ini. Nissa tampak sangat menikmati kegiatan memasaknya. Ia memasak beberapa macam masakan yang baru saja ia pelajari resepnya dari sebuah situs memasak online.
Aroma wangi menyeruak memenuhi ruangan dapur. Hmm, wangi. Nissa menghirup aroma tersebut. Nissa memasukkan masakannya dalam piring dan menyajikannya di atas meja makan. Nissa menatanya dengan sangat rapi dan elegan.
Setelah selesai ia kembali menatap hasilnya, Nissa tersenyum puas. Kemudian ia masuk kekamar dan segera membersihkan diri di kamar mandi.
"Tuan, baru pulang?" tanya Nissa.
"Heem, aku baru saja masuk," jawab Ardian. "Apa ini?" sambungnya sambil menunjuk ke atas meja dengan dagunya.
"Oh, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada tuan," jawab Nissa.
"Untuk apa?" tanya Ardian.
"Untuk hadiah yang tuan kirimkan tadi," jawab Nissa.
Flashback
Kriing kriing
Telepon khusus apartemen berdering, Nissa yang sedang berbaring santai terbangun dan mengangkatnya.
"Halo," sapa Nissa.
"Halo, selamat pagi. Benarkah ini Annissa dari unit 12C?"
__ADS_1
"Iya, benar. Saya Annissa,"
"Bisakah anda turun ke lobby, bu? Seorang kurir mengirim sebuah paket untuk anda,"
"Kurir?"
"Iya, benar bu. Bisakah anda turun dan mengambil paketnya segera?"
Nissa berpikir sejenak, terlintas di kepalanya tentang siapa yang mengirim paket untuknya dan dari mana si pengirim tahu jika ia tinggal di apartemen unit 12C.
"Baiklah, pak. Saya akan segera turun,"
Nissa meraih jaket dari dalam lemari dan segera memakainya, setelah itu ia keluar dan turun ke lobby.
"Pak, saya Nissa dari unit 12C," ucap Nissa begitu ia tiba di meja resepsionis.
"Oh, ini bu. Tadi ada seorang kurir yang mengirimkan paket ini untuk anda, namun karena beberapa hari yang lalu terjadi pencurian di gedung sebelah maka kami melarang siapapun yang tidak memiliki akses untuk masuk kedalam. Jadi saya mohon maaf jika anda harus turun dan mengambil paketnya sendiri kesini," ucap pegawai resepsionis tersebut menjelaskan.
"Tidak apa, pak," sahut Nissa dengan sopan.
Petugas itu memberikan sebuah kotak yang di balut dengan lakban berwarna coklat muda. Nissa membolak balikkan paket tersebut. Ia mencari nama pengirimnya namun ia tak menemukannya.
"Siapa tadi yang mengirimkannya, pak?" tanya Nissa.
"Seorang kurir dari perusahaan JPE, bu," jawabnya.
"Perusahaan JPE?"
"Iya, benar bu. Perusahaan JPE," jawab petugas itu berusaha meyakinkan Nissa.
Nissa mengingat beberapa hari yang lalu saat Ardian singgah ke sebuah agen pengiriman barang, namun bukan JPE agen yang didatangi Ardian saat itu.
Nissa kembali ke apartemen setelah mengucapkan terima kasih dengan petugas. Ia segera masuk kekamar dan membuka paket tersebut.
"Aaaaaaa!" pekiknya.
Nissa melompat kegirangan di atas ranjang. Ia sampai lupa jika ia tetap harus berhati-hati walaupun sudah dinyatakan sembuh.
Mata Nissa berbinar memandang headphone di depannya. Ia tersenyum sumringah, ia yakin headphone yang dikirimkan padanya saat ini adalah barang yang saat itu di beli Ardian.
"Ternyata pak Ardian membelinya untukku. Kenapa tidak memberikannya langsung padaku?" wajah Nissa kini bersemu merah, jantungnya berdebar dengan cepat.
Sepertinya aku jatuh cinta padamu tuan, batinnya.
Flasback end
__ADS_1
Nissa tersenyum memandang Ardian, ia menatap dengan tatapan bahagia. Sementara Ardian malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia merasakan jantungnya mulai berdetak tak karuan saat melihat senyuman Nissa saat ini.
Astaga, jangan sampai aku jatuh cinta padanya. Kumohon Nissa, berhentilah tersenyum. Seyumanmu sungguh menyeramkan.