
Hening, begitulah kondisi di dalam mobil Randy. Nissa yang begitu kuat menolak akhirnya mau tidak mau menurut dan masuk ke dalam mobil.
"Ehmm, kamu tinggal dimana, Nis?" tanya Randy memecahkan kesunyian.
"Di komplek apartemen xxx, kak," jawabnya.
"Jadi selama ini kamu tinggal bersama pak Ardian?" tanya Randy.
"Iya, kak," jawabnya.
Suasana kembali hening, bahkan melebihi sunyinya sawah di malam hari. Mobil terus melaju membelah jalanan kota hingga akhirnya mereka telah sampai di gerbang masuk ke dalam komplek apartemen tersebut.
"Saya turun disini saja, kak," ucap Nissa menghentikan Randy yang ingin melewati gerbang tersebut.
"Tidak apa, Nis," sahutnya.
"Bukan saya tidak mau diantar, kak. Tapi hanya penghuni apartemen saja yang boleh masuk ke sini," ucap Nissa berbohong.
"Baiklah," akhirnya Randy menyerah.
Mobil berhenti tepat di depan gerbang. Nissa langsung turun lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu Randy kembali melajukan mobilnya kearah jalan pulang.
***
"Darimana saja kamu seharian ini?!" baru saja masuk Nissa sudah disambut dengan bentakan Ardian.
"Itu tadi ada urusan mendadak," ucap Nissa bohong.
"Lalu kenapa kamu tidak mengangkat telpon dariku?" tanya Ardian kesal.
Nissa terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Ardian berdiri dan menatapnya dengan tajam. Rahangnya mengeras menandakan jika ia sedang marah.
Ardian naik ke lantai atas, ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras hingga terdengar bunyi debuman yang nyaring.
Ardian sangat kesal dengan Nissa. Setelah setengah jam menanti di resto ayam goreng tadi ia mulai panik karena Nissa juga tak kunjung kembali. Ia mendatangi to*let dimana Nissa pergi namun ternyata toilet tersebut telah kosong.
Ardian mencoba untuk menghubungi Nissa namun beberapa kali panggilannya diabaikan. Hal itu membuat rasa khawatirnya bertambah.
Dibantu Ica dan Joko ia keluar mencari di area pusat perbelanjaan di lantai tiga tersebut. Mereka pikir Nissa tersesat. Sampai akhirnya Ardian meminta bantuan petugas keamanan untuk mencari gadis itu. Ia bahkan memaksa untuk memgecek cctv disana.
Mata Ardian membulat sempurna saat melihat rekaman cctv tersebut. Ternyata Nissa sudah pergi meninggalkan pusat perbelanjaan itu sejak lama.
Ardian kembali menghubungi Nissa. Namun rupanya sang pemilik nomor enggan untuk menerimanya. Dan dipanggilan yang kedua, nomor Nissa sudah tidak aktif. Akhirnya Ardian berinisiatif untuk menunggunya di apartemen.
__ADS_1
Ardian menghela nafas dengan kasar, ingin rasanya ia marah kepada Nissa. Namun ia sadar statusnya dimata Nissa. Ia hanyalah seorang majikan yang kini mencoba bersahabat dengannya.
Ah, andai saja dia jadi istriku sudah habis kumakan karena sudah membuatku panik dan kesal seperti ini. Batinnya menggerutu.
Sementara Nissa sendiri kini tengah bergelut dengan pikirannya sendiri di dalam kamar. Ia memikirkan perasaannya sekaligus bagaimana nasibnya kedepan jika terus bekerja bersama Ardian. Ia ingin sisa kerjanya yang tinggal beberapa bulan ini berjalan dengan cepat.
***
Pagi ini Nissa membuat roti goreng untuk menu sarapan pagi mereka. Roti dengan isian sosis, abon dan mayo serta dibalut dengan tepung roti itu sungguh nikmat kala disantap saat masih panas.
Nissa juga menyiapkan secangkir kopi kesukaan Ardian. Ia menata menu sarapan pagi itu diatas meja. Tak lama Ardian turun, ia telah siap dengan pakaian kerjanya.
"Selamat pagi," sapa Nissa.
"Pagi, Nissa," balas Ardian dengan senyuman ceria.
Jangan buat aku makin mencintaimu, tuan Ardian. Nissa mengalihkan pandangannya saat tatapan mata mereka bertemu.
"Apa ini, Ni?" tanya Ardian menunjuk roti goreng yang berjajar rapi di piring saji.
"Ini namanya roti goreng," jawab Nissa.
"Kamu buat ini sendiri?" tanya Ardian lagi. Ia mengambil satu buah roti dan mulai memasukkannya ke dalam mulut.
"Iya, saya buat sendiri tadi selepas sholat subuh," ujarnya.
Nissa menanggapinya dengan senyuman. Senyuman yang sangat dipaksakan. Sungguh sangat sulit rasanya berhadapan langsung dengan orang yang telah mencuri hatinya sekaligus menghancurkan perasaannya.
"Saya mau minta izin," ucap Nissa setelah Ardian menyelesaikan sarapannya. Kini pria itu sedang menikmati secangkir kopi buatan Nissa tadi.
"Minta izin untuk apa?" tanya Ardian, matanya menatap layar tablet didepannya.
"Saya mau mengunjungi orang tua saya. Sudah empat bulan saya tidak mengunjungi mereka," jawab Nissa.
Benar jika ia merindukan orang tuanya. Namun Nissa juga ingin memulihkan luka hatinya. Setidaknya tidak bertemu dengan Ardian untuk beberapa lama mungkin bisa menyembuhkan perasaannya yang terluka.
"Apa tadi? Aku tidak salah dengar, kan?" tanya Ardian.
"Tidak, saya merindukan mereka. Izinkan saya pergi sebentar," pintanya menghiba.
Kening Ardian berkerut, pria itu nampak berpikir keras. Kenapa tiba-tiba dia ingin pulang? Apa ada masalah di keluarganya? Batinnya.
"Berapa lama?" tanya Ardian, wajahnya tampak datar.
__ADS_1
"Seminggu, mungkin," jawab Nissa.
"Apa?! Seminggu?" Ardian tampak terkejut mendengarnya, ia bahkan sampai membulatkan kedua matanya.
"Iya, seminggu," jawab Nissa dengan nada cuek. Ia tak peduli dengan raut wajah Ardian yang tak terima jika ia pergi meninggalkannya.
"Kamu mau kabur?" tanya Ardian sinis.
"Tidak," jawab Nissa.
"Boleh, tapi ingat, jangan kabur. Hutang kerja kamu masih ada sekitar 3 bulan lagi. Awas kalau kabur, aku akan mengejarmu kemanapun kamu pergi," ucap Ardian dengan Nada mengancam.
"Iya, siapa juga yang mau kabur," sahut Nissa sengit.
Aku pergi karena mau menenangkan diri, bukan mau kabur. Aku begini juga karena mulut lemesmu itu, tuan Ardian. Batin Nissa kesal.
"Baiklah, kau boleh pergi. Ingat pesanku, JANGAN KABUR," ucap Ardian.
Ardian melangkah keluar meninggalkan Nissa. Ia berjalan dengan langkah gontai. Bagaimana jadinya hari-hariku tanpa kamu, Nis. Batinnya.
Hari ini Ardian terpaksa mengendarai mobilnya sendiri ke kantor karena Nissa akan pergi ke terminal bus pukul 9 pagi, tidak akan ada waktu jika harus mengantarnya lebih dulu.
Sebenarnya berat bagi Ardian mengizinkan Nissa pergi, namun ia tidak boleh egois. Apalagi ia dalam mode mendekati Nissa secara perlahan. Ia takut jika melarangnya gadis itu malah akan semakin menjauhinya.
Tak lama kemudian senyumnya mengembang sempurna. Ia mendapat sebuah ide dari kepulangan Nissa.
Aku akan menjemputnya nanti, sekaligus bertemu dengan kedua orang tuanya. Siapa tahu aku bisa mencuri perhatian dari kedua orang tua Nissa.
Ardian tersenyum bahagia dengan pemikiran yang muncul di kepalanya. Ia bahkan sudah membayangkan pertemuannya dengan kedua orang tua Nissa nanti.
***
Hari sudah sore, beberapa jam yang lalu Nissa telah tiba dirumahnya dengan selamat. Kedua orang tuanya tampak bahagia dengan kepulangan Nissa. Begitu juga dengan kedua adiknya.
Kondisi ayah semakin membaik setelah operasi yang dilakukan beberapa bulan lalu. Kini beliau sudah bisa berjalan, walaupun harus sambil berpegangan. Bicaranya pun sudah mulai lancar.
Nissa terharu melihat perubahan ayahnya yang begitu signifikan. Ia bahkan menitikkan air mata karena rasa bahagia yang dirasakannya. Kalau dipikir-pikir, rasa sakit yang dialami Nissa kemarin ada hikmahnya. Ia jadi terpikir untuk pulang hanya demi menghindari Ardian untuk sementara.
Nissa berharap setelah dari sini ia bisa melupakan semuanya, melupakan rasa cintanya pada Ardian Sanjaya. Tuan angkuh yang telah menjadi pemilik hatinya.
BERSAMBUNG
See u next chapter gengss
__ADS_1
Luv u all 😘😘
Jangan Lupa BAHAGIA 🥰