Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Mode Cemburu Berat


__ADS_3

Adegan demi adegan yang di tampilkan pada layar besar di depannya membuat Nissa risih. Adegan panas yang membuat panas dingin siapa saja yang menontonnya itu dianggap sebagai hal yang sangat menjijikkan untuk gadis polos seperti Nissa.


Nissa mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun yang ia dapati justru pemandangan yang tidak kalah panas dari yang ada di layar besar itu. Sepasang makhluk berakal yang saling me**mat dengan tak tahu malunya membuat akal sehat Nissa menggila.


Ingin rasanya Nissa keluar dari ruangan ini, tapi apalah daya. Ia tidak ingin Randy merasa tidak enak hati jika ia keluar sebelum film tersebut usai. Nissa menoleh kesamping dimana Randy duduk saat ini.


Mata pria itu fokus menatap adegan ranjang tersebut tanpa berkedip sama sekali. Hal yang membuat Nissa menyunggingkan seulas senyum karena merasa tingkah Randy sangat konyol. Dasar pria, batinnya.


Merasa ada seseorang yang memperhatikannya Randy pun menoleh dan memergoki Nissa yang masih memandang dirinya. Ia pun tersenyum pada Nissa, hingga Nissa terkejut dan mengerjabkan mata karena salah tingkah.


"Kenapa?" Randy berbisik.


Nissa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Randy kembali mengalihkan tatapannya pada layar di hadapan mereka. Nissa menghela nafas perlahan, kemudian ia memejamkan matanya. Ia harap dengan seperti ini akan mengurangi rasa tidak nyaman yang dirasakannya.


Lama Nissa terpejam hingga ia merasa ingin tertidur. Namun sesuatu yang menyentuh pahanya membuat kesadarannya kembali. Nissa tetap memejamkan matanya, ia berpikir mungkin tangan Randy tidak sengaja menyentuh pahanya.


Tangan Randy masih betah berada di atas paha Nissa, hingga akhirnya gadis itu berniat membuka matanya. Namun sebelum niatnya terlaksana ia merasa perlahan tangan Randy bergerak naik turun di atas pahanya yang masih tertutup dress.


Nissa segera membuka mata. Ia melihat dengan jelas tangan Randy yang mengelus pahanya sementara pria itu tersenyum menyeringai menatap bagian tubuh Nissa yang diusapnya.


Dengan cepat Nissa mencengkram tangan kiri Randy dan membaliknya hingga pria itu terkejut dan berteriak kesakitan.


"Aaarrgghh!! Lepas Nis, lepaskan, aku mohon," ucapnya menghiba.


Nissa enggan melepas cengkramannya sementara ia menatap Randy dengan tatapan membunuh. Sepertinya Randy telah membangunkan singa betina yang sedang tertidur nyenyak.


"Nis, Nissa, kumohon lepaskan tanganku. Ini sungguh sakit, Nis," ucap Randy kembali menghiba. Ia bahkan meringis kesakitan.


Para pengunjung yang sedang asik menonton pun merasa terganggu. Mereka menyuruh Nissa melepaskan tangan Randy dan meminta dua orang itu untuk keluar dan menyelesaikan permasalahan mereka.


Seorang petugas di studio ini pun masuk, ia meminta Nissa melepas tangan Randy dan menyuruh mereka berdua keluar. Akhirnya Nissa pun melepas tangan Randy dari cengkramannya, ia menghempas tangan Randy dengan kasar kemudian segera melangkahkan kaki keluar dari studio tersebut.


"Nissa! Tunggu dulu. Kamu salah paham," ucap Randy memanggil Nissa.


Nissa menghentikan langkahnya. Kini mereka berdua berada di depan sebuah resto ayam keju. Randy bergidik ngeri mendapat tatapan menghunus dari Nissa.


"Bagian mana yang salah paham, pak Randy?" tanya Nissa dengan menekankan kata 'Pak'.


"Aku tadi hanya ingin kita berdua menjadi lebih dekat saja," jawab Randy.


"Tapi tidak dengan cara seperti tadi, kan?" ujar Nissa.


Randy terkekeh geli mendengar ucapan Nissa, ia menatap gadis didepannya dengan tatapan mengejek.


"Jangan berlagak sok suci, Nis," ujarnya.


Nissa mengerutkan keningnya. "Apa maksud anda?" tanyanya heran.


"Kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya," ujar Randy lagi.


Nissa dibuat semakin heran, namun ia lebih memilih pergi dari tempat itu. Nissa membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menjauhi Randy.

__ADS_1


"Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu hanyalah sugar babynya pak Ardian!" teriakan Randy menghentikan langkah Nissa, ia pun berbalik menatap pria menyebalkan tersebut.


"Kamu hanya berpura-pura sebagai pelayannya dan tinggal bersama di apartemennya. Padahal itu hanyalah kedokmu agar tidak ada orang yang tahu jika kamu hanyalah seorang sugar baby yang mengincar harta para pria kaya," ucap Randy.


Nissa mengepalkan tangannya, nafasnya kini memburu sementara jantungnya sudah berdebar tak karuan. Ia benar-benar marah kali ini.


"Kupikir kamu gadis baik-baik. Ternyata kamu hanyalah perempuan murahan," ucap Randy lagi, ia tersenyum sinis.


Nissa melangkah maju, ia mendekati Randy. Dan BUGG, Nissa melayangkan tinjunya ke wajah Randy. Randy yang tak menyangka akan mendapat serangan mendadak itu tak bisa mengelak hingga ia jatuh terhuyung kebelakang.


"Dengarkan saya, tuan Randy yang terhormat. Saya bukanlah perempuan murahan seperti yang anda pikirkan. Jika anda tidak mengetahui yang sebenarnya lebih baik anda diam," ucap Nissa di depan Randy.


Beberapa pengunjung di pusat perbelanjaan yang melintas pun berhenti sejenak untuk melihat drama yang terjadi antara Randy dan Nissa. Nissa tampak seperti wanita yang memutuskan pasangannya.


Nissa berdiri di depan Randy yang kini hanya bisa terduduk. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit.


"Saya pikir anda pria baik-baik, tuan Randy. Ternyata anda sama dan bahkan lebih menjijikkan," ucapnya.


Nissa kembali mengangkat tubuhnya. Ia berbalik dan melangkah. Baru beberapa langkah ia kembali berhenti dan menatap Randy lagi.


"Oh, iya. Saya hanya mau mengingatkan. Jika saya ingin memelihara hewan peliharaan, maka anda adalah hewan pertama yang saya pelihara," ucap Nissa dengan senyum menghina, kemudian ia kembali melangkah meninggalkan Randy yang kini hanya bisa melongo.


Para pengunjung yang berkumpul tadi mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi antara mereka berdua. Ada yang menatap kasihan namun ada pula yang mengejek Randy.


Randy berdiri dan mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Ia menghela nafasnya kasar. Bre**sek!! Rutuknya.


***


Pada saat itu Ardian juga memasuki lobby, hingga akhirnya mereka berdua bertemu di depan pintu lift.


Mereka berdua tidak saling bertegur sapa dan saling larut dalam pikiran masing-masing. Nissa yang memikirkan betapa bre**seknya Randy sedangkan Ardian kini sedang galau karena ia pikir Nissa telah mendapat tambatan hati.


Ding


Pintu lift terbuka, mereka berdua masuk bersamaan. Nissa menekan tombol yang menunjukkan angka 12, dimana unit mereka berdua berada. Ardian melirik Nissa melalui ekor matanya. Keningnya berkerut karena melihat wajah Nissa yang kini cemberut.


"Ingat pulang juga rupanya," celetuk Ardian.


Nissa menoleh kesamping, kemudian gadis itu mendengus sebal.


"Siapa teman kencanmu tadi?" tanya Ardian penasaran.


"Pak Randy," jawabnya jujur.


Ardian menganggukkan kepala, sedetik kemudian ia membelalakkan matanya. Ia menatap Nissa.


"Siapa tadi? Randy?" tanyanya memastikan yang ia dengar tadi.


"Iya, Pak Randy," jawab Nissa lagi.


"Randy karyawan di kantorku?" tanya Ardian.

__ADS_1


Nissa menghela nafasnya, sejujurnya ia malas membahas si Randy karena akan mengingatkan kejadian tadi siang.


"Iya, tuan," jawabnya.


"Katakan, sudah berapa kali kamu pergi kencan dengan orang itu?" tanya Ardian, lagaknya sudah seperti seorang detektif yang menginterogasi tersangka.


Ding


Pintu lift kembali terbuka. Dengan tergesa Nissa melangkahkan kakinya keluar dari lift sementara Ardian mengekor di belakangnya.


Nissa langsung menuju unitnya dan segera membuka pintunya, setelah itu ia masuk tanpa menyadari jika ternyata Ardian juga ikut nasuk ke dalam unitnya.


"Tuan kenapa malah masuk ke tempat saya?" tanya Nissa, ia kesal karena Ardian tidak bisa membiarkannya sendiri walaupun hanya sebentar saja.


"Unit ini aku yang menyewanya, jadi apa hakmu melarangku masuk kesini?" Ardian malah balas bertanya pada Nissa.


Mana bisa aku melupakannya jika dia seenaknya masuk seperti ini, kalau begini kami akan bertemu sepanjang waktu. Batin Nissa.


"Iya, saya mengalah," ujar Nissa pasrah.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi," ucap Ardian.


"Yang mana?" tanya Nissa pura-pura tidak tahu.


"Sudah berapa kali kamu pergi kencan dengan orang itu?" tanya Ardian cemburu.


"Siapa?" tanya Nissa lagi.


"Siapa lagi kalau bukan Randy, memang ada lagi selain dia?" tanya Ardian kesal.


"Tidak ada," jawab Nissa jujur.


"Kalau begitu katakan sudah berapa kali kamu pergi bersamanya?"


Nissa tampak berpikir, ia mengerutkan keningnya.


"Tiga kali," jawabnya.


"Apa?! Tiga kali?!"


"Iya, tiga kali," jawab Nissa sekali lagi memastikan.


Ardian menyugar rambutnya kebelakang. Ia merasa hampir gila saat ini. Rupanya ia sudah kecolongan, ternyata tidak hanya sekali Nissa pergi bersama Randy, tapi sudah tiga kali!


"Mengapa kamu mau pergi dengannya? Apa yang kamu lihat darinya?" tanya Ardian. Ia dalam mode cemburu berat sepertinya, namun gadis yang diajak bicara malah tidak tahu apa-apa.


Nissa mengedikkan bahunya. "Entahlah," jawabnya.


Ardian mendelik. "Aku akan memecatnya besok," ucapnya sambil menahan emosi.


Kini giliran Nissa yang mendelik. What, dasar bos gila!!

__ADS_1


__ADS_2