
Ardian menggerakkan tubuhnya meliuk kesana kemari mengikuti setiap hentakan musik di dalam klub malam ini. Ia sangat menikmati alunan musik hingga tak menyadari seorang wanita memeluknya dari belakang dan ikut bergerak sepertinya.
Tangan wanita itu mulai berjalan menyusuri perut kotak Ardian dari luar kemeja yang dikenakannya. Hingga saat tangannya merayap kebawah barulah Ardian menghentikan tariannya.
"Sudah mulai nakal, ya?" ucap Ardian setelah ia menangkap tangan jahil wanita tadi dan memutar tubuhnya hingga ia berhadapan dan langsung meraih tubuh wanita itu dalam pelukannya.
"Aku kangen," bisik wanita itu manja ditelinga Ardian.
Tubuh Ardian meremang saat mendapat perlakuan seperti tadi. Ia tersenyum menyeringai lalu menarik tangan wanita berpakaian kurang bahan itu memecah kerumunan pengunjung di lantai dansa klub ini.
"Aku suka wangi tubuhmu," ucap wanita itu lag.
Saat ini mereka sudah berada dalam ruangan khusus pelanggan VIP. Wanita itu mulai merangkak naik ke pangkuan Ardian yang kini duduk bersandar di sofa.
Tanpa aba-aba wanita itu menyergap bibir Ardian, ia me****t, me*****p, dan mengh***p bibir seksi pria itu. Ardian tak mau kalah, ia membalas perlakuan wanita yang kini duduk di atas pangkuannya, sementara tangannya sibuk me****s salah satu bukit kembar wanita itu dan tangan lainnya melingkar di pinggang wanitanya.
Suasana semakin panas, bibir Ardian kini menyusuri leher jenjang wanita itu. Ia memberikan gigitan kecil disana, lalu beralih ke telinga wanita itu.
Des***n dan le*****n keluar dari bibir merah si pemilik leher. Ardian semakin bersemangat saat mendengar suara yang dianggapnya merdu itu.
"Aku mau ini," ucap wanita itu sambil menunjuk junior Ardian yang tercetak jelas.
"Tidak, sayang. Aku bisa memberikanmu kenikmatan dengan cara lain," ucap Ardian. Ia menatap wanita didepannya yang sudah berwajah masam.
Wanita itu menghela nafasnya, lalu mengangguk. Ardian kemudian meraba p**anya, jemarinya menyusur turun dan semakin turun, hingga sampai di tempat yang ia tuju. Sang wanita kini mulai memejamkan matanya, bersiap menikmati sensasi yang diberikan Ardian.
BRAKK
Pintu ruangan itu terbuka dengan tiba-tiba. Mereka berdua terkejut dibuatnya.
"Upss, sorry bro, gue kira loe sendirian disini," ucap Roli sang asisten pribadi.
"Ya sudah, gue keluar lagi," tambahnya, ia jadi salah tingkah sendiri melihat wajah masam wanita tersebut, sedang Ardian hanya memasang wajah datar.
"Siapa yang suruh loe keluar?" tanya Ardian ketus, ia mengambil minuman di depannya.
"Tapi, kan-?"
"Dahlah, masuk aja. Gue udah gak nafsu," sahut Ardian cepat.
Ardian memberi kode pada wanita itu untuk segera pergi dari hadapannya melalui tatapan mata serta gerakan dagunya. Wanita tadi langsung merengut dan berdiri, ia menghentakkan kakinya kelantai karena kesal.
Tatapan wanita tadi bertemu dengan tatapan Roli yang masih berada di depan pintu, ia menatap tajam menusuk hingga Roli segera masuk karena takut.
"Ngapain loe kemari?" tanya Ardian.
"Memang gue harus kerja terus, jadi asisten loe terus selama 24 jam, bisa gila gue, bro," sahut Roli santai.
__ADS_1
Ardian dan Roli akan bersikap santai dan berbicara tidak formal saat mereka berada diluar jam kerja. Bahkan sekarang cara berbicara mereka pun berubah setelah beberapa tahun tinggal di kota ini.
"Siapa cewek tadi?" tanya Roli penasaran.
"Bukan siapa-siapa, cuma salah satu penggemar ini," jawab Ardian sambil mengangkat tangannya dan menggerakkan jarinya.
"Gila, Loe. Kalo Bu Marissa tau kelakuan anaknya disini kaya gimana, pasti langsung kena serangan jantung," ucap Roli.
"Kan ada loe," ucap Ardian santai.
""Maksudnya?"
"Tugas loe memastikan supaya emak gue gak tau kelakuan anaknya disini," sahut Ardian.
"Sorry, bro. Loe bayar gue buat jadi asisten pribadi, buat ngatur jadwal kerja loe, sama buat bantu loe dalam hal pekerjaan," sahut Roli kesal.
"Ah, Rol. Gak asik loe," ucap Ardian sambil mendorong bahu Roli.
"Nih, mumpung loe ada disini," Roli memberikan sesuatu.
"Apaan ini?" tanya Ardian heran, ia membolak-balikkan kertas terbungkus plastik bening dan terikat pita berwarna pink tersebut.
"Undangan pertunangan, siapa tau loe mau datang," jawab Roli.
"Pertunangan siapa?"
Ardian mengeluarkan kertas undangan tersebut dari bungkusnya. Ia mulai mengeja kata demi kata dalam kartu undangan tersebut.
Ana? Ardian mengernyitkan keningnya, ia menatap Roli meminta penjelasan.
"Iya, loe gak salah. Itu undangan pertunangan Ana sama David Prasetyo," sahutnya.
Ardian terdiam, David adalah rekan bisnisnya. Beberapa hari yang lalu ia pernah bercerita akan melangsungkan pertunangan. Ardian sungguh tak menyangka jika David akan bertunangan dengan mantan calon istrinya.
"Loe harus datang, gak enak sama David kalo kita gak hadir," ucap Roli lagi.
Ardian menghela nafas kasar. Jika saja ia tak pergi meninggalkan Ana di hari pernikahannya mungkin saat ini ia sudah bahagia. Ada rasa sesal pada diri Ardian mengingat kebodohannya meninggalkan gadis yang sangat ia cintai.
Beberapa saat kemudian Ardian mengingat alasannya meninggalkan Ana, bahkan sampai saat ini ia masih bisa mengingat saat Ana berc***an dengan pria lain. Ingatan itu sangat jelas dan selalu menyiksanya.
Ia pun kembali mengingat alasan Ana berselingkuh. Ana merasa diabaikan olehnya, padahal saat itu Ardian sedang berjuang mengembalikan nama baik Hotel yang sempat jatuh karena berita perseteruannya dengan seorang gadis remaja menjadi headline di beberapa koran ternama di kotanya.
Nissa, ini semua gara-gara Nissa. Seandainya saja ia tak menyulut emosiku mungkin aku sekarang sudah bahagia bersama Ana dan anak-anak kami.
Ardian mengepalkan tangannya. Ia meraih kunci mobil diatas meja kaca lalu beranjak keluar.
"Loe mau kemana, bro?" tanya Roli setengah berteriak. Namun tak digubris oleh Ardian.
__ADS_1
Ardian melajukan mobilnya menuju apartemen. Ia merutuki kebodohannya sendiri karena melupakan alasannya menjadikan Nissa sebagai seorang pelayan.
Bisa-bisanya aku lupa pada misiku sendiri. Lihat saja, Nissa. Aku tak akan membuat hidupmu tenang. Ardian menyeringai. Auranya sekarang terlihat menakutkan.
Sementara itu setelah Ardian pergi, Nissa segera membereskan dapur setelah sebelumnya ia memakan sajian malamnya. Setelah selesai dengan pekerjaannya segera Nissa masuk kekamar dan melakukan sholat 'isya.
Kini Nissa berada ruang depan menonton televisi. Ia melakukannya karena suntuk dan tidak bisa memejamkan matanya di kamar tadi.
Nissa bahkan sempat menghubungi ibunya untuk menanyakan kabar ayahnya. Rupanya ayah Nissa kini sudah siuman, namun masih belum bisa terlepas dari peralatan medis yang menempel di tubuhnya.
Entah sudah berapa lama Nissa menonton televisi, hingga akhirnya televisi itu yang sekarang berbalik menonton Nissa yang kini sedang tertidur di sofa.
BYUURR
Nissa terlonjak dari tidurnya saat seseorang menyiram wajahnya. Nissa mengelap wajahnya yang kini basah sambil mengumpulkan kesadarannya karena terbangun tiba-tiba.
"Siapa yang mengizinkanmu tertidur disini!" bentakan Ardian mengejutkan Nissa.
Nissa menyipitkan matanya, ia melihat Ardian berdiri didepannya memegang sebuah gelas kosong. Nissa mendongakkan kepala.
Ardian terlihat sangat marah, dimatanya nampak kebencian yang sangat dalam. Nissa sendiri bingung dengan perubahan sikap Ardian, karena beberapa jam yang lalu ia bahkan sempat mengerjai Nissa.
Ada apa lagi dengan pria ini, mengapa sikapnya berubah-ubah seperti ini? Bukankah tadi ia terlihat sangat bahagia karena berhasil mengerjaiku.
"Cepat kau bereskan kekacauan ini!" teriak Ardian hingga Nissa terlonjak kaget dan berdiri.
Nissa segera mengambil kain pel dan mulai mengelap lantai yang basah karena ulah Ardian. Ardian masih berdiri dengan tatapan tajam menusuknya dan tangan yang memegang gelas kosong lalu tangan lainnya ia masukkan ke saku celananya.
Nissa selesai melakukan tugasnya dan kini berdiri mematung bersiap menunggu perintah Ardian yang sedang dalam keadaan angry mode on.
Melihat Nissa mematung dan menunduk seperti itu membuat Ardian menghela nafas kasar. Ia semakin membenci gadis didepannya ini. Ia bahkan tak habis pikir bagaimana ia bisa berbuat baik pada gadis yang ia anggap biang keladi dari semua penderitaannya selama ini.
Ardian meletakkan gelas kosong di atas meja dengan kasar, hingga menimbulkan bunyi retak pada gelas tersebut.
Ia menatap Nissa sinis. "Dasar sampah menjijikkan," ucapnya.
Jleb, entah mengapa mendengar itu membuat hati Nissa berdenyut nyeri, astaga, cobaan apalagi ini, pikirnya.
Nissa menatap Ardian, mencari petunjuk jika majikannya ini hanya mengerjainya seperti tadi. Tapi ia hanya mendapati Ardian yang memandangnya dengan tatapan menghina, merendah, marah, dan benci.
Sungguh sangat menyakitkan hati Nissa, entah mengapa. Mengapa sesakit ini, batinnya.
*********
BERSAMBUNG
Jangan lupa like and comment ya genggss, biar Mbak Tika makin semangat nulisnya 🥰
__ADS_1