Love Of A Crazy Boss

Love Of A Crazy Boss
Terungkap


__ADS_3

Ardian terpaku menatap pria yang kini tengah tersenyum menyeringai padanya. Ardian sungguh tak percaya. Bagaimana bisa seorang David Prasetyo adalah dalang dari pembegalan terselubung pada malam itu.


"Apa kabar, sobat?" David tersenyum mengejek Ardian.


"David? Bagaimana mungkin?" Ardian menatap detektif yang menemaninya menemui David.


Otak Ardian masih mencerna keadaan yang terjadi saat ini. Ia masih belum percaya sepenuhnya dengan kenyataan bahwa Davidlah otak dari kejadian naas pada malam itu.


Ardian diarahkan untuk duduk berhadapan dengan David.


"David, katakan pada mereka jika kau tidak bersalah," ucap Ardian.


Tentu saja Ardian berkata seperti itu. Selama dua tahun mereka bekerja sama tidak pernah ada masalah internal maupun eksternal. Kerja sama terjalin dengan sangat baik bahkan sampai mereka berdua menjadi sahabat.


"Heh, kau pikir siapa dirimu hingga membelaku?" David tersenyum getir.


Ardian mengerutkan keningnya. Ia bahkan memiringkan kepalanya.


"Apa maksudmu?" tanya Ardian kemudian.


"Jangan berlagak baik di depanku," ucap David, ia nampak mulai kesal saat ini.


"Kapan aku berlagak baik di depanmu? Selama ini aku tidak pernah berpura-pura, kebaikanku padamu karena kita bersahabat," ujar Ardian.


"Cih, kalau aku tahu Ana adalah mantan kekasihmu, aku mungkin tidak akan pernah mengundangmu pada hari itu," ucap David.


Ardian mulai paham. Jadi inilah yang dimaksud ketua tim tadi jika motif penyerangan itu adalah cemburu.


"Kalau saja kau tidak hadir saat itu, mungkin kami akan berbahagia saat ini. Tapi karena kehadiranmu, Ana membatalkan rencana pernikahan kami!" teriak David.


Ardian menegang mendengar pernyataan David. Apa mungkin Ana masih belum bisa melupakannya, pikirnya. Tapi waktu itu jelas sekali jika Ana tampak sangat bahagia.


Ardian menghela nafasnya perlahan untuk mengendalikan emosinya.

__ADS_1


"Maaf, tapi sepertinya ada kesalah pahaman disini," ujar Ardian.


"Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun padanya. Pintu hatiku sudah tertutup untuk dirinya. Lagipula aku tidak tahu jika gadis yang akan kau pinang adalah Ana," jelas Ardian.


"Bohong! Aku melihat dengan jelas saat itu kau pun terpana melihat kedatangannya," ujar David berteriak.


Ardian mengusap wajahnya. "Ya, sejujurnya aku terpana saat itu. Tapi aku hanya kagum, tidak lebih dari itu," ucap Ardian.


"Hah! Kau pikir aku akan percaya pada ucapan seorang laki-laki yang pernah hampir menjadi suami dari wanitaku? Jangan mimpi!" ucap David dengan sengit.


Ardian tersenyum sinis dihadapan David. "Apa kau tahu alasan kami berpisah? Apa dia pernah menceritakan padamu mengapa aku meninggalkannya pada saat hari pernikahan kami?"


David tersentak mendengar pertanyaan Ardian yang dilontarkan padanya.


"Apa maksudmu?" tanya David heran.


Ardian tertawa lantang, ia bahkan sampai meneteskan air mata. Kemudian ia meletakkan paha kirinya diatas paha kanannya. Lalu bersandar kebelakang, dengan tangan terlipat di depan dada.


"Kau tahu, David. Aku memiliki prinsip. Aku tidak akan mengambil bekas orang lain," ucap Ardian sinis, kini ia menyeringai pada David, menunjukkan betapa angkuhnya pria itu.


"Sekarang giliranku bertanya padamu, apa hubunganmu dengan gadis ini?" tanya Ardian sambil meletakkan selembar foto dengan gambar wajah Nissa di hadapan David.


David meraihnya, kemudian ia tersenyum sinis. Matanya menatap Ardian dengan tajam.


"Kau tahu, Ardian. Setelah aku bebas dari sini, maka gadis ini yang akan pertama kali aku kejar. Karena dia telah menggagalkan rencanaku untuk melukaimu," ucap David.


DEG


Jantung Ardian tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya saat mengetahui David akan membalas dendam pada gadis itu jika ia bebas nanti. Apa selama ini aku salah? Apa Nissa memang tidak terlibat dalam penyerangan ini?


"Aku pikir dia hanyalah seorang pelayan biasa, ternyata aku salah. Gadis itu ternyata lebih hebat dari dugaanku. Kau harusnya berterima kasih padanya. Aku memerintahkan tiga orang bodoh itu untuk melukaimu, tapi gadis itu malah rela mengorbankan dirinya sendiri. Benar-benar pelayan yang setia," jelas David panjang lebar.


Emosi Ardian seketika tersulut saat mendengarnya. Ia berdiri dan menarik kerah baju David, membuat detektif yang menemaninya menjadi kelabakan.

__ADS_1


"Jawab pertanyaanku, apa kau mengenalnya?" tanya Ardian dengan geram.


"Mengapa tidak kau tanyakan sendiri saja padanya?" ujar David dengan seringai kemenangannya.


"Br*****k!" ucap Ardian. Seketika tinjunya melayang ke wajah tampan David yang berkulit eksotis.


David tersentak kebelakang dan terjatuh akibat pukulan yang Ardian layangkan pada wajahnya. Ia berdiri dibantu oleh detektif yang tadi menemani mereka.


Pintu ruang investigasi itu terbuka lebar. Beberapa orang masuk dan segera menyeret Ardian untuk keluar dari sana.


Asisten Roli memberikan sebotol air mineral padanya. Ia menatap heran pada sahabat sekaligus bosnya itu.


"Loe kenapa sih, Di?" tanya Roli. "Nggak biasanya loe mukul orang karena hal sepele," sambungnya.


Ardian menatap Roli dengan kesal. Matanya membulat sementara mulutnya sudah bersungut-sungut tak karuan.


"Sepele? Ini bukan masalah sepele lagi. Asal loe tahu, Rol. Gara-gara dia Nissa terluka. Gara-gara dia juga gue harus salah paham sama Nissa. Gue nggak tahu gimana ngadepin Nissa sekarang!" Ardian berteriak melampiaskan emosinya di depan Asisten Roli.


"Bukannya loe sendiri yang nggak mau percaya sama ucapan Nissa. Loe gak pernah berterima kasih sama dia, loe juga sudah bikin dia sengsara lahir batin saat seharusnya dia dirawat karena lukanya, Nissa sudah berkali-kali bilang kalau dia nggak terlibat tapi loe yang nekat. Loe tuduh dia saat dalang sebenarnya belum ketangkap. Jadi nggak usah lempar kesalahan loe ke orang lain," akhirnya Asisten Roli mengungkapkan semua uneg-unegnya selama dua minggu ini.


Ardian terdiam, ia baru menyadari kesalahannya terhadap Nissa selama ini. Seharusnya Nissa mendapatkan perawatan terbaik karena telah rela berkorban demi melindunginya. Namun kenyataannya ia malah dituduh melakukan sesuatu yang ia sendiri tak pernah berfikir untuk melakukannya.


Perasaan bersalah menyelimuti Ardian. Ia kembali mengingat saat ia melihat Nissa berdiri di halte bis. Darimana dia? Apa dia pergi melakukan pemeriksaan lanjutan sendirian?


Perasaan bersalah semakin menyerangnya saat ia teringat kantong plastik berisi mie instan yang dibawa Nissa. Apa selama ini dia makan dengan baik? Apa selama ini dia hanya memakan mie instan?


Ardian terduduk di kursi. Bodoh, ia merasa sangat bodoh. Seharusnya tanpa bertanya pada David ia bisa mengetahuinya. Tidak mungkin Nissa melakukan hal seperti yang di tuduhkannya. Untuk apa David mengancam akan mengejarnya jika Nissa terlibat dalam kasus ini.


Ardian meminta pada asisten Roli untuk menyerahkan kunci mobilnya dan memaksanya untuk tetap berada di kantor polisi memantau keadaan disana.


Tujuannya hanya satu, PULANG. Ia ingin segera meminta maaf pada Nissa karena telah menuduhnya. Karena telah mencabut segala fasilitas penunjang kesehatannya. Seharusnya ia memberikan perawatan maksimal pada orang yang rela terluka demi melindunginya. Tapi ia malah memberikan Nissa siksaan mental seperti memintanya bersikap seperti hantu.


Ah, bodohnya dirimu Ardian.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Sabar ya gengss, chapter berikutnya masih diketik 🤗


__ADS_2