
Keheningan terjadi di dalam mobil yang Ardian dan Nissa tumpangi dalam perjalanan pulang. Setelah ucapan Ardian yang membuat Nissa geram di parkiran tadi, Randy langsung pamit meninggalkan mereka dengan wajah kaget sekaligus bingung.
Nissa mengendarai mobil dengan wajah cemberut, sesekali ia melirik bos tampan di sampingnya. Dasar aneh, buat apa coba ngomong seperti itu pada pak Randy.
Ardian mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil, sebenarnya ia sadar bila Nissa meliriknya terus dari tadi.
"Mata kamu kenapa? Sakit? Kenapa melirikku terus?" tanya Ardian tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tidak," sahut Nissa ketus.
"Perhatikan saja jalannya, tidak usah memperhatikan saya," ujar Ardian.
Ck, siapa juga yang memperhatikan anda, pak Ardian. Nissa hanya mencibir dalam hati.
Suasana kembali hening, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Kenapa juga aku tadi mengatakan kalau Nissa itu istriku, ah, dasar kau bo**h Ardian.
Mobil memasuki area parkir gedung apartemen setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit. Ardian langsung keluar tanpa berbicara sama sekali, meninggalkan Nissa dan barang belanjaan yang begitu banyak.
Setidaknya bantulah saya, pak. Mengapa anda main kabur begitu saja sih. Gerutu Nissa dalam hati sambil memandangi punggung Ardian yang hampir menghilang.
Sejenak Ardian menghentikan langkahnya, ia berbalik dan melihat Nissa yang kesusahan membawa barang belanjaan tersebut.
Ingin ia membantu Nissa, tapi egonya berbicara mengalahkan hati nuraninya. Buat apa kau menolongnya, itu kan memang sudah tugasnya, kau pun sudah membayarnya. Setelah itu ia kembali berbalik dan melangkah menuju unitnya.
"Wow, bersih sekali kamarku," gumamnya saat baru masuk ke dalam kamar.
Ardian mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. Ia tertegun melihat kondisi kamar yang sudah rapi, bersih dan wangi. Seulas senyum terbit, bangga akan hasil usaha Nissa.
"Tidak rugi aku menjadikannya pelayanku," ucapnya senang.
Ardian segera mandi dan menyegarkan diri, setelah itu ia bersiap-siap. Malam ini ia akan pergi ke klub. Entah sudah berapa lama ia tak mengunjungi tempat itu.
Di dapur, Nissa sedang beraksi menyiapkan makan malam untuk Ardian, untuk dirinya juga tentunya. Malam ini ia hanya memasak ayam lada hitam, karena hanya itu bahan mentah yang tersedia di dalam kulkas.
"Masak apa, Nis?" Ardian yang sudah rapi turun dan menemui Nissa di dapur.
Nissa tertegun seketika saat melihat Ardian. Entah mengapa tingkat ketampanan bos anehnya itu bertambah setiap hari menurutnya.
"Kamu kenapa, Nis?" pertanyaan Ardian menyadarkan Nissa.
"Makan dulu, pak," ucap Nissa mengalihkan perhatian. Tidak mungkin kan ia mengatakan jika tadi sempat mengagumi ketampanan orang aneh ini, bisa besar kepalanya.
Nissa meletakkan ayam yang sudah matang ke dalam piring saji. Ia kemudian mengambil piring Ardian dan mengisinya dengan nasi. Tak lupa ia menuang air putih ke dalam gelas dan di letakkan di dekat Ardian.
"Nah, silahkan dinikmati, Tuan," ucap Nissa sambil bergaya ala pelayan di restoran mewah.
__ADS_1
Ardian langsung melahap menu yang tersaji didepannya. Matanya berbinar kala suapan pertama masuk kedalam mulutnya.
"Wah, ini enak sekali. Ku akui kamu memang pintar masak, Nis," gumamnya.
Nissa tak mendengar ucapan Ardian karena kini ia berada di dalam kamar mandi sedang membersihkan diri.
"Apa begini rasanya kalau punya istri?" gumam Ardian lagi.
Pikirannya tiba-tiba mengkhayal, di masa depan saat ia pulang bekerja, anak-anak berhamburan berebut minta digendong, sementara istrinya menyambut dengan masakan yang nikmat.
Eh, kenapa istri dalam khayalanku berubah jadi Nissa, sih? Astaga, aku sudah gila sepertinya. Ardian memukul-mukul kepalanya.
"Kepala bapak sakit?" Nissa tiba-tiba sudah ada di depan Ardian.
"Uhuk uhuk," Ardian tersedak.
Nissa menyerahkan segelas air. "Minum dulu, pak," ucapnya.
Ardian meraih gelas itu dan segera meneguk airnya hingga tandas. Ia menatap Nissa yang kini duduk di depannya.
"Bapak kenapa? Kepalanya sakit?" cecar Nissa.
Ardian tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya.
"Cepat sekali mandimu," ucap Ardian.
Ardian segera menyelesaikan kegiatannya, setelah itu ia kembali ke kamar dan meraih kunci mobiil dari dalam laci lemarinya. Mobil yang akan digunakannya berbeda dengan mobil yang ia gunakan untuk bekerja.
"Kamu sudah makan,Nis?" tanya Ardian.
"Belum, pak,"
"Cepatlah makan, jangan sampai sakit. Saya tidak mau direpotkan merawat orang sakit," sahutnya dingin.
"Malam ini saya ada urusan, mungkin besok pagi baru pulang," tambahnya.
Nissa hanya menganggukkan kepala.
"Kemari," ucap Ardian sambil melambaikan tangannya.
"Saya, pak?"
"Iya, kamu. Memang ada orang lain selain kita berdua disini?"
Dengan ragu Nissa melangkah mendekati Ardian. Ardian kini terpaku memandangi Nissa. Netranya menyorot tepat di mata Nissa.
Nissa yang dipandangi seperti itu menjadi salah tingkah. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak tentang Ardian.
__ADS_1
Ini pak Ardian ngapain sih mandangi aku sampai segitunya, apa jangan-jangan pak Ardian naksir aku. Waduh, gawat ini. Pak Ardian memang ganteng, tapi aku menolak kalau orang ini suka sama aku, aku gak mau disukai sama manusia teraneh tergila kaya dia. Hiiii...
"Tolong, pak. Tolong jangan memandangi saya seperti itu. Saya tidak terima bila bapak mulai suka pada saya," ucap Nissa lirih.
Ardian tersenyum mendengarnya, ia malah mendekati Nissa. Perlahan Ardian membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi badan Nissa.
Detak jantung Nissa semakin tak karuan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit kebelakang saat Ardian mendekatkan wajahnya.
Hembusan nafas Ardian kini terasa hangat menerpa wajah Nissa, Nissa yang sudah membeku hanya bisa menutup matanya. Ia bahkan menahan nafasnya.
"Buka matamu," bisik Ardian, bahkan bisikannya terdengar seksi di telinga Nissa.
Bagai kerbau dicocok hidungnya, Nissa menuruti perintah pria tampan di hadapannya.
Nissa mulai membuka mata secara perlahan, matanya kini bersitatap dengan netra hitam pekat milik Ardian.
Ardian mengarahkan jarinya pipi Nissa. Ia mengelus, bukan. Bukan mengelus. Ibu jari dan telunjuknya menyatu, mengambil sebuah benda kecil yang menempel di pipi Nissa.
Ardian lalu meraih telapak tangan Nissa dan meletakkan benda yang ia ambil tadi. Nissa terkejut melihat benda itu. BULU MATA.
"Kamu pikir aku mau ngapain tadi? Semua yang kamu katakan tadi gak akan pernah terjadi, jangan mimpi," ucap Ardian mengejek Nissa.
Wajah Nissa memerah karena malu atas sikapnya tadi. Ia seperti kena prank. Ia bahkan sudah berpikir bila Ardian menyukainya.
Ardian segera menuju pintu dan membukanya, tetapi sesaat kemudian ia menutupnya lagi. Lalu ia melangkah mendekati Nissa.
"Berlutut," ucapnya.
"Maksudnya, pak?" tanya Nissa heran.
"Berlutut didepanku," perintah Ardian.
Dan sekali lagi, bagai orang yang terhipnotis Nissa menuruti perintah Ardian. Ia menjatuhkan kedua lututnya tepat di depan pria bertubuh atletis tersebut.
"Anak pintar," ucap Ardian sambil mengusap rambutnya.
Nissa mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Sesaat kemudian ia mulai menyadari perbuatan Ardian.
Nissa berdiri seketika dengan mata melotot serta wajah yang merah karena geram. Ardian langsung berlari secepat kilat menuju pintu, membukanya dan keluar. Huft, selamat. Ia pun tertawa karena sudah berhasil mengerjai Nissa.
Sementara didalam Nissa hanya bisa berteriak kesal.
"Dasar Ardian br*****k!!"
πΏπΏπΏπΏπΏ
Jangan lupa like n comment ya gengs
__ADS_1
Terima kasih π